Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Informasi
Demi Tuhan, hari ini sungguh melelahkan. Ibra menghempaskan tubuhnya di ranjang. Berusaha meminta Kakek menarik kata-katanya adalah hal terburuk sebab ia kembali mendapatkan pukulan di lengannya.
Sungguh, rasanya lebih buruk ketimbang di cambuk.
Menghela napas beratnya, Ibra bangkit, melepas kemeja kerjanya. Kini ia tengah bertelanjang dada, memperlihatkan otot perut serta lengannya. Namun, perhatiannya pada cermin besar teralih pada bekas kemerahan dari tongkat sihir kakeknya.
Mengerang rendah, Ibra menghadap ke kiri, bahkan punggungnya juga mulai membiru. Ck, Kakek dengan segala kuasanya memang tidak bisa diajak berkompromi.
Padahal, yang membuat kepalanya pusing bukan hanya soal pukulan tadi. Ada satu hal lain yang jauh lebih sulit untuk dihadapi.
Naya.
Perempuan itu bahkan belum menyetujui pernikahan mereka, sementara Kakek sudah memerintahkannya untuk menyiapkan mahar.
Ibra mengusap wajahnya kasar.
"Sial..."
Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Kemudian menghela napas panjang.
Kalau saja masalahnya hanya soal dirinya, mungkin Ibra masih bisa memikirkan jalan keluarnya sendiri. Namun sekarang ada Naya, keluarganya, keluarga Naya, bahkan seorang bayi yang belum bisa melakukan apa-apa.
Dan yang paling membuatnya pusing, ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Baiklah, sekarang Ibra harus pergi mandi. Hari ini sangat kacau, dan besok adalah kekacauan yang sebenarnya.
Namun sebelum itu Ibra mengetikkan sesuatu, pada kontak tak bernama, hanya nomor saja. Ingat waktu dia akan mencari tahu siapa yang membuat Naya ada di hotel malam itu? Ya, Ibra melakukannya. Namun sudah satu bulan, tidak ada perkembangan juga.
^^^|Ibra:^^^
^^^Bagaimana CCTV-nya? Ketemu?^^^
Menyibak rambut kebelakang, Ibra pun melangkah meraih handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Jujur saja perasaannya semakin tidak menentu sekarang.
***
Balkon kamar terbuka lebar, sudah hampir tengah malam dan Ibra berdiri memandangi langit, tak lupa dengan sebatang rokok yang terapit di kedua jarinya.
Persetan dengan kesehatan, dirinya pusing setengah mampus sekarang.
Ibra beralih memandangi ponselnya. Mau tidak mau harus memberitahu Naya, tentang lamaran yang Kakek katakan beberapa saat lalu.
Mengirim pesan bahwa ia dan keluarganya akan datang melamar besok--setelah penolakan mentah-mentah dari Naya di kafe siang tadi--sama saja menyerahkan diri untuk dimaki. Tapi membiarkan Naya terkejut besok malam saat rombongan Kakek mendadak muncul di depan rumahnya justru jauh lebih berbahaya. Gadis itu bisa nekat kabur atau malah bertindak di luar kendali.
Ibra mematikan rokoknya di asbak batu, menjepit ponselnya dengan jemari yang dingin, lalu mulai mengetik dengan rahang mengeras.
^^^|Ibra:^^^
^^^Naya, tolong jangan panik pas baca ini.^^^
^^^Sebagai informasi, besok malam saya dan keluarga akan ke rumah kamu.^^^
^^^Kakek saya menuntut ini dan saya enggak punya kuasa buat nolak beliau.^^^
Ibra menahan napas sejenak sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Dua centang abu-abu langsung berubah menjadi biru dalam hitungan detik.
Rupanya, Naya belum tidur.
Satu detik... tiga detik... lima detik... tidak ada balasan. Hanya status typing... yang muncul dan hilang di bawah nama Naya, menggambarkan betapa panik dan marahnya gadis itu di seberang sana.
Ponsel Ibra mendadak bergetar. Bukan pesan balasan yang ia dapat, melainkan panggilan masuk dari Naya.
Ibra menghembuskan napas panjang yang terasa membakar dadanya. Pria itu menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya tanpa bersuara.
"Bapak gila, ya?!" Suara Naya meledak dari seberang sambungan, bergetar hebat antara emosi, ketakutan, dan deru napas yang memburu. "Saya sudah bilang saya enggak mau, Pak! Kenapa Bapak malah makin ngelakuin hal gila begini?!"
Ibra memejamkan matanya erat-erat, menyandarkan punggungnya pada pembatas balkon yang dingin.
"Naya, dengarkan saya dulu—"
"Enggak mau! Saya enggak mau dengar apa-apa!" potong Naya histeris, suaranya ditahan sedemikian rupa agar tak terdengar oleh orangtuanya di kamar bawah. "Bapak pikir Bunda saya enggak kaget? Bapak mau bikin Bunda saya serangan jantung, hah?! Jangan datang! Saya mohon, Pak... jangan datang..."
Isak tangis yang pecah dari ujung telepon menghantam dada Ibra dengan hantaman yang jauh lebih menyakitkan daripada pukulan tongkat Kakeknya.
"Saya enggak punya pilihan, Naya," potong Ibra rendah, suaranya berat dan penuh keputusasaan yang tak mampu ia tutupi lagi. "Kakek saya sudah tahu. Beliau yang pegang kendali sekarang. Kalau saya gak bawa keluarga saya ke rumah kamu besok, Kakek yang akan turun tangan sendiri dengan cara yang jauh lebih keras. Saya cukup di marahi, saya... saya akan jelaskan ke orangtuamu lebih dulu."
Hening seketika merayap di seberang sana. Hanya tersisa hembusan napas Naya yang patah-patah dan tangisnya yang makin tersengal.
"Saya cuma mau minta satu hal malam ini," lanjut Ibra, suaranya melunak, memohon. "Kondisikan Bunda kamu. Bilang kalau besok ada tamu dari kantor yang mau silaturahmi. Jangan buat diri kamu makin tertekan, Naya. Biar besok... saya dan keluarga saya yang tanggung semuanya di depan orangtua kamu."
"Saya benci banget sama Bapak..." bisik Naya serak, begitu pelan namun menusuk dada Ibra. "Saya benci!"
Tut... tut... tut...
Sambungan diputus sepihak.
Ibra perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Ia berdiri kaku di balkon kamar, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang, kontras dengan dirinya yang malang.
***
Mata Naya menatap kosong ke arah layar ponsel yang baru saja ia banting pelan di atas kasur. Sambungan telepon sudah terputus, tapi gemuruh di dadanya justru makin besar, seperti meremas paru-parunya hingga ia kesulitan bernapas.
"Aku benci banget sama Bapak..."
Kalimat itu masih bergema di dalam kamarnya yang remang. Kamarnya mendadak terasa menyempit dan mengekang. Naya menarik kedua lututnya mendekati dada, memeluknya erat-erat, lalu menyembunyikan wajahnya di sana. Sementara tubuhnya berguncang hebat oleh bisikan tangis yang ditahannya setengah mati agar tidak terdengar siapapun.
Besok malam. Rombongan keluarga Ibra akan benar-benar datang. Bagaimana ini?
Otaknya dipaksa berputar cepat di tengah guncangan panik yang melumpuhkan. Bagaimana ia harus menghadapi Ayah dan Bundanya? Ayah yang keras namun selalu membanggakannya, dan Bunda yang begitu lembut sepenuh hati. Bagaimana jika besok malam keluarga Ibra langsung membeberkan segalanya tanpa kompromi?
Naya membayangkan raut kekecewaan di wajah Ayah, dan air mata hancur dari Bunda. Bagaimana jika Ayah mengusirnya? Bagaimana jika jantung Bunda tak sanggup menanggung kebohongan dan kehancuran putri tunggal mereka yang selama ini dianggap anak baik-baik?
Dahulu sudah cukup Bunda stres dan hancur karena kakaknya yang meninggal. Bunda di rawat lama, sebab serangan jantung yang menimpanya, tak kuasa dengan kabar kakaknya yang berpulang. Bayangan itu muncul, memenuhi kepala, sampai Naya ingat betapa tidak terurusnya dirinya sebab Bunda yang lama mendekam di rumah sakit.
Rasa bersalah dan gambaran kehancuran keluarga itu membuat rasa mual di ulu hatinya kembali menyayat.
Naya beranjak cepat dari tempat tidur, berlari kecil menuju kamar mandi kamar dengan telapak tangan membungkam mulut. Ia berlutut di depan kloset, meraup napas patah-patah sebelum akhirnya memuntahkan cairan bening dan sisa-sisa asam lambung. Perutnya yang kosong sejak siang terkocok hebat hingga dadanya terasa terbakar.
Ia menyandarkan dahinya yang bersimbah keringat dingin pada keramik dinding. Air matanya menetes, jemari tangannya bergetar dan tanpa sadar turun meraba perutnya sendiri yang masih terasa rata—perut tempat di mana kehidupan baru yang sama sekali tak ia duga sedang tumbuh disana.
"Kenapa..." cicit Naya serak pada keheningan malam. "Kenapa harus begini..."
Naya memutar kran air, membasuh wajahnya berulang kali untuk menghilangkan jejak muntah dan rasa pahit di mulutnya. Saat menatap cermin di atas wastafel, bayangan dirinya terlihat begitu menyedihkan.
Ia melangkah keluar kamar mandi dengan lunglai, meraih ponselnya kembali. Kontak Ibra masih terpampang di sana, tapi ia enggan mengetik sepatah kata pun lagi. Percuma. Pria itu sama terjepitnya, atau setidaknya itulah yang coba Ibra sampaikan padanya.
Ponselnya bergetar pelan di telapak tangan. Bukan, bukan dari Ibra.
Satu pesan masuk dari Bian.
|Bian:
Nay, sorry malam-malam chat. Kamu besok masuk kantor kan? Tadi ada laporan dari Kak Lady belum beres, kalau ada yang perlu aku bantu kelarin besok kasih tahu aja ya.
Naya menatap pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Perhatian kecil yang tulus dari Bian--teman kantor yang selalu siap mengulurkan tangan--justru terasa menamparnya.
Semua orang di kantor menganggapnya sebagai Naya yang rajin dan berdedikasi. Kalau mereka tahu--Tidak! Jangan pernah tahu!
Naya hanya membalas pesan Bian dengan singkat. Mengetik kata 'aman' sebelum akhirnya mematikan daya ponselnya, meletakkannya di atas nakas, lalu berjalan pelan keluar kamar dan menuruni tangga.
Rumah itu sudah gelap. Dari celah bawah pintu kamar utama, pendar cahaya lampu tidur Ayah dan Bunda masih terlihat samar. Naya berdiri kaku di depan pintu itu untuk waktu yang lama, memegang gagang pintu dengan jemari yang gemetaran dan ketakutan setengah mati.
Ia tahu, ia tidak punya jalan keluar. Suka atau tidak, ia harus menyiapkan kata-kata pertamanya sebelum esok malam tiba.
Makasih thor lanjut up ya