Tiara, gadis desa berparas cantik jelita yang sebenarnya anak dari orang berkecukupan tiba-tiba dipaksa menikah dengan lelaki yang dikenal memiliki banyak istri. Ternyata hal itu karena orang tua Tiara memiliki hutang piutang yang cukup besar yang tidak diketahui oleh Tiara.
Padahal saat itu Tiara sedang menjalin hubungan asmara bersama pemuda tampan dari desa sebelah, akan tetapi kehidupan pemuda itu yang memang dibawah rata-rata membuat orang tua Tiara menentang hubungan itu.
Hingga pada akhirnya pernikahan itu pun terjadi. Bersamaan dengan itu pemuda yang menjadi kekasih Tiara mendapatkan penganiayaan yang sengaja dilakukan oleh orang suruhan suami Tiara.
Hingga beberapa tahun kemudian, roda kehidupan mereka berputar. Bagaimanakah jalan cerita Tiara bersama suaminya, bersama pemuda itu, setelah beberapa tahun tak bertemu?
Notes: Budayakan like dan komentar ya guys 👍 Yang tak suka boleh langsung skip, jangan menghujat. Dilarang plagiat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAY.s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kedatangan Angga ke rumah Bahar langsung disambut oleh seorang bodyguard yang sengaja menunggu Angga di teras rumah. Pria berkulit gelap itu langsung membawa Angga untuk menemui Bahar di ruang kerjanya. Jika sudah begini itu artinya akan ada sesuatu yang sangat penting yang akan Bahar bicarakan kepada Angga.
Angga berpikir mungkin Bahar mengajaknya bicara urusan jodoh, karena Dika saja sempat menyinggungnya kemarin. Akan tetapi begitu Angga sudah masuk ke dalam ruang kerja itu mimik wajah Bahar sangat tidak bersahabat, kentara sekali jika sedang menyimpan amarah di benaknya.
"Papi," sapa Angga yang kemudian duduk berhadapan dengan Bahar.
Bahar tidak menjawab, justru pria itu menyorot tajam pada Angga. Angga yang ditatap seperti itu mulai gelisah, jangan-jangan apa yang selama ini diam-diam Angga lakukan terhadap Tiara diketahui oleh Bahar. Ah, seharusnya Angga tahu sedang berhadapan dengan siapa. Mengapa selama ini ia abai hanya karena terobsesi ingin membebaskan wanita yang diam-diam telah mencuri hatinya. Padahal Angga sangat tahu, siapapun yang pernah berurusan dengan Sarwo akan menjadi musuh Bahar juga.
"Mm... Ada apa, Pi?" tanya Angga memberanikan diri.
Bahar berdiri dari tempatnya duduk, melangkah ke arah jendela, menatap nanar pada pemandangan luar jendela sambil melipat tangannya di belakang punggungnya.
"Bawa dia ke hadapanku!" ucap Bahar dengan nada dingin, namun mampu membuat perasaan Angga berdegup gelisah.
Angga bergeming saja. Ia sudah paham siapa yang disuruh Bahar untuk dibawa ke hadapannya.
"Aku memberimu waktu sampai besok. Kalau kamu tidak membawanya, seseorang yang saat ini berada di sana tidak akan segan-segan untuk membunuhnya!" ucap Bahar, tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Lalu Bahar keluar dari ruangan itu, meninggalkan Angga yang termenung seorang diri memikirkan nasib apa lagi yang akan menimpa Tiara. Semestinya Angga harus siap dengan resikonya telah ikut campur dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari Sarwo, musuh bebuyutan Bahar. Akan tetapi, salahkah rasa cinta yang ia miliki kepada wanita malang itu?
Sebenarnya sudah sering Bahar ingin menjodohkan Angga dengan wanita-wanita pilihan Bahar, yang dari kalangan orang sepadan dengan Bahar. Akan tetapi setelah kejadian laknat itu membuat perasaan Angga sering merasa insecure. Memiliki masa lalu yang kelam, yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan, membuat Angga selalu minder jika berdekatan dengan wanita dari kelas atas.
Angga memiliki trauma yang terpendam jika melihat wanita-wanita yang berpenampilan mewah dan seksi. Pikirannya selalu membayangkan wanita-wanita itu adalah Liana. Kelakuan wanita-wanita itu Angga menyamaratakan mirip dengan kelakuan Liana. Sudah pernah Angga berusaha berobat pada dokter psikolog untuk menghilangkan rasa traumanya. Akan tetapi memori kelam itu masih saja melekat di benak Angga.
Hingga akhirnya Angga memutuskan untuk tinggal di apartemen itu demi ingin menyembuhkan jiwanya yang mengalami trauma. Demi menghindari Liana juga. Pada kenyataannya, tak semudah itu Angga bisa melupakan kejadian menjijikkan itu.
Kejadian pelecehan itu terjadi ketika Angga berusia dua puluh lima tahun, tepatnya setelah ia pulang karena selesai menempuh pendidikannya sebagai akpol. Entah setan apa yang merasuki Liana kala itu, sehingga Liana dengan liarnya melecehkan Angga dengan berusaha mengajak bercinta, sikap yang semestinya dilakukan oleh lelaki biadab, tetapi di sini Liana lah yang biadab.
Angga bisa saja melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. Akan tetapi Angga tidak mau mencoreng nama baik Bahar jika akhirnya istrinya diketahui mempunyai kasus yang menjijikkan itu. Kejadian itu akhirnya diketahui oleh Bahar, yang pada akhirnya Liana mendapatkan siksaan raga dan bathin dari Bahar sebagai balasannya.
Angga keluar dari ruang kerja Bahar dengan langkah gontai. Dika yang melihat Angga datang langsung menyapa.
"Kak, lemes amat?" sapa Dika sambil mendekati Angga yang akan keluar.
Angga hanya tersenyum singkat.
"Mau ke mana? Nggak jadi nginep sini?" tanya Dika melihat tas jinjing yang dipegang Angga dibawa lagi.
Angga menggeleng saja.
"Kakak ada urusan, lain kali saja kakak menginap di sini," kata Angga sambil menepuk pundak Dika dan kemudian keluar.
Dika melihat ada yang berbeda dari Angga, seperti sedang memikirkan sesuatu yang mungkin rumit untuknya. Akan tetapi Dika sangat menghargai privacy seseorang. Bisa jadi urusan pekerjaan yang sedang dipikirkan Angga saat ini.
Angga kembali ke apartemennya. Di sana ia melihat dua orang suruhan Bahar sedang berjaga-jaga tepat di depan pintu apartemen. Angga menghela nafas beratnya, sebelum kemudian masuk ke dalam apartemennya.
Di dalam apartemen Angga tidak melihat Tiara, membuat Angga seketika cemas takut telah terjadi sesuatu pada wanita itu karena dua orang yang berjaga di depan. Segera Angga mencari ke seluruh ruangan apartemennya, hingga akhirnya Angga masuk ke kamar tidur dan langsung disuguhkan dengan pemandangan kulit mulus Tiara yang hanya berbalut handuk. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi. Seketika berteriak kaget setelah netra mereka saling beradu pandang.
*
Fajar untuk Embun hadist