Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Malam telah turun ketika Indri akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Dokter kembali mengingatkan agar ia banyak beristirahat, menjaga pola makan, serta menghindari aktivitas berat. Kehamilannya masih sangat awal sehingga kondisi tubuhnya perlu mendapat perhatian khusus.
Haris mendengarkan semua penjelasan itu dengan saksama.
“Baik, Dok. Saya akan memastikan dia cukup istirahat.”
Indri hanya mengangguk pelan. Sejak hasil pemeriksaan lanjutan memastikan dirinya hamil, pikirannya belum mampu menerima kenyataan tersebut. Di dalam tubuhnya ada kehidupan kecil. Anaknya.
Dan hanya satu nama yang terus memenuhi kepalanya. Evan.
Sepanjang perjalanan pulang, Indri lebih banyak diam. Ia duduk di kursi belakang sambil memandang keluar jendela.
Lampu-lampu jalan bergerak melewati kaca, tetapi pikirannya justru tertinggal pada beberapa minggu terakhir.
Mual. Pusing. Tubuh yang mudah lelah. Ia selalu menganggap semuanya hanya akibat pekerjaan dan kurang istirahat. Ternyata bukan.
Tangannya perlahan menyentuh perut. “Evan...” Ia mengucap nama itu tanpa suara.
Haris yang sedang menyetir sempat melirik melalui kaca spion. Ia melihat mata putrinya kembali berkaca-kaca. Namun ia tidak bertanya. Haris sendiri masih sangat terguncang dengan kabar kehamilan tersebut. Dadanya sempat terasa sesak ketika dokter menyampaikannya. Ia ingin mengetahui siapa ayah dari anak itu. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan Indri. Namun melihat kondisi putrinya, Haris sadar bahwa bukan sekarang waktunya untuk mendesak.
Indri baru saja mengalami tekanan berat. Tubuhnya juga belum sepenuhnya pulih. Karena itu, Haris mengambil keputusan untuk sementara menyimpan kabar kehamilan tersebut dari Cinta dan anggota keluarga lainnya.
Bukan untuk menyembunyikannya selamanya. Ia hanya ingin memberikan Indri waktu. Waktu untuk menerima kenyataan. Waktu untuk menenangkan diri. Dan waktu sampai Indri sendiri siap menceritakan semuanya.
Sesampainya di rumah, Haris langsung meminta Indri beristirahat. “Jangan pikirkan pekerjaan dulu.”
“Tapi aku masih punya beberapa urusan yang harus diselesaikan, Pa.”
“Tidak.” Nada suara Haris tegas. “Kali ini Papa tidak mau mendengarnya.”
Indri menatap papanya. “Papa...”
“Dokter sudah bilang kamu harus banyak istirahat.” Nada Haris kemudian melembut. “Papa akan menangani pekerjaan yang bisa ditangani. Kamu fokus pada kesehatanmu.”
Indri akhirnya mengangguk. “Iya, Pa.”
Sebelum keluar dari kamar, Haris berhenti sejenak. “Indri.”
“Ya, Pa?”
“Kalau kamu sudah siap bercerita kepada Papa, Papa akan mendengarkan.”
Mata Indri kembali berkaca-kaca. “Terima kasih, Pa.”
Haris mengangguk lalu meninggalkan kamar. Begitu pintu tertutup, Indri kembali menunduk. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Seandainya papanya tahu semuanya. Seandainya Haris mengetahui bahwa ayah dari bayi itu adalah Evan. Seandainya Haris mengetahui bahwa kematian lelaki tersebut berkaitan dengan keputusan mengerikan yang pernah dibuat Indri. Ia tidak tahu apakah ayahnya akan sanggup menerimanya.
Indri memejamkan mata.
“Aku akan menceritakannya nanti, Pa.” Namun belum sekarang. Ia sendiri bahkan belum mampu menerima semuanya.
...
Pagi berikutnya, suasana rumah berjalan seperti biasa.
Cinta sedang berada di ruang keluarga sambil membantu Laura kecil menyelesaikan gambar. Sementara Brian duduk di sofa, sibuk dengan urusannya sendiri.
Begitu Indri keluar dari kamar, Laura kecil langsung menoleh.
“Tante!”
Indri tersenyum. “Hai.”
Laura kecil berlari menghampirinya. Indri membungkuk dan memeluknya.
“Sudah sarapan?”
“Sudah.”
“Tidak nakal?”
Laura kecil menggeleng cepat. “Tidak.”
Dari sofa, Cinta langsung tertawa. “Kalau soal tidak nakal, jangan terlalu percaya.”
Indri menoleh. “Kenapa?”
“Lima menit lalu dia membuat ruang keluarga berantakan.”
Laura kecil langsung membela diri. “Laura cuma gambar.”
“Gambarnya sampai ke lantai.”
Indri tertawa kecil. Untuk sesaat, suasana terasa normal. Namun Cinta memperhatikan wajah adiknya.
“Kamu masih pucat.”
Indri mengangguk. “Cuma sedikit lelah.”
“Kamu benar-benar tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, Kak.”
Cinta mendekat. “Kalau memang belum sehat, jangan memaksakan diri untuk bekerja.”
“Iya, Kak.”
Cinta kemudian menyentuh dahi Indri. “Tidak demam.”
Indri tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
Cinta akhirnya mengangguk. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa adiknya sedang mengandung.
Haris yang melihat percakapan itu dari kejauhan memilih diam. Ia belum ingin membuka rahasia tersebut. Bukan karena tidak mempercayai Cinta. Ia hanya ingin menghormati kondisi Indri.
Laura kecil kemudian kembali mendekati Indri. “Tante, lihat!” Ia menunjukkan gambar yang baru dibuatnya.
Indri mengambil kertas tersebut.
“Bagus sekali.”
“Ini Tante.”
Indri melihat gambar seorang perempuan dengan tangan yang sangat besar. “Kenapa tangannya besar?”
“Supaya Tante bisa peluk Laura.”
Indri terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sakit. Ia menarik Laura kecil ke dalam pelukannya. “Tante akan selalu peluk Laura.”
Laura kecil tersenyum. Cinta yang melihatnya ikut tersenyum.
Namun Indri justru memejamkan mata. Tangannya tanpa sadar menyentuh perut. Di dalam sana ada kehidupan lain yang belum diketahui siapa pun di rumah ini selain dirinya dan Haris. Seorang anak yang kelak mungkin akan bertanya tentang ayahnya. Dan Indri belum tahu bagaimana menjawabnya.
Siang hari, ketika rumah mulai tenang, Indri duduk seorang diri di kamar. Ia kembali merasakan mual ringan. Indri mengambil air putih dan meminumnya perlahan.
Kini ia tidak lagi menganggap rasa mual itu sebagai gangguan biasa. Ia tahu penyebabnya. Kehamilan.
Indri menatap pantulan dirinya di cermin. “Jadi selama ini kamu ada di sini...”
Tangannya kembali berada di perut. Air matanya menggenang. “Maafkan Mama.” Ia duduk di tepi tempat tidur. “Bahkan sebelum tahu kamu ada, Ibu sudah membuat keputusan yang mungkin akan membuat hidupmu berbeda.”
Indri terdiam. Nama Evan kembali muncul di pikirannya. Ia mengira lelaki itu telah mati. Ia telah melihat pemakaman. Telah melihat pusara. Telah menangisi kematian Evan dalam diam. Ia tidak mengetahui bahwa semua itu hanyalah sandiwara.
...
Di tempat lain, Rio masih menjalankan tugas yang diberikan Evan. Kerja sama dengan Haris Group tetap berjalan.
Di hadapan semua orang, Rio bertindak seolah hanya menggantikan Evan karena kepergian atasannya. Tidak ada yang mengetahui bahwa Evan masih hidup.
Sementara diam-diam Rio terus mencari siapa yang telah menyabotase kendaraan tersebut. Ia juga tetap memperhatikan kondisi Indri dari jauh sesuai permintaan Evan. Namun sejak mengetahui kehamilan Indri, tugas itu terasa semakin berat.
Beberapa kali Rio membuka percakapannya dengan Evan. Ia bisa saja mengatakan semuanya. Tetapi selalu mengurungkan niat.
Evan ingin Indri hidup tenang. Dan untuk sementara, Rio memilih menghormati keputusan tersebut. Ia belum tahu apakah keputusan itu benar. Namun satu hal yang ia tahu, rahasia ini semakin berat untuk dipikul.
Malam kembali tiba.
Indri duduk di tempat tidur. Tangannya berada di atas perut.
“Evan...”
Air matanya jatuh. “Anakmu ada di sini.” Ia tersenyum pahit. “Dulu aku ingin terbebas dari semua yang berkaitan denganmu.” Ia menarik napas panjang. “Tapi sekarang aku membawa bagian dari dirimu di dalam tubuhku.”
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian. Evan telah dimakamkan. Setidaknya itulah yang diyakini Indri. Ia tidak tahu bahwa di suatu tempat, lelaki itu masih hidup dan sedang menjalani pemulihan.
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔