Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Cekcok Pagi Hari

Cahaya matahari pagi menyusup menembus celah gorden, membelai kelopak mata Aira yang terpejam.

Aira perlahan membuka matanya. Pandangannya makin jelas menatap langit-langit kamar. Ia menghela napas panjang, merenggangkan kedua tangannya ke atas.

Aneh. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding kemarin sore. Suhu badannya udah berangsur normal, meskipun sejujurnya... pening yang cukup berat masih tertinggal, ngerayap pelan di bagian belakang kepalanya tiap kali ia mencoba menggerakkan leher.

"Ugh..." Aira memegangi pelipisnya sambil mendudukkan diri di tepi kasur.

Pandangan Aira tertuju pada meja di samping tempat tidurnya. Di sana, ada baskom berisi air yang udah dingin, handuk kecil yang terlipat rapi, gelas kosong, dan strip obat penurun panas yang udah berkurang dua butir.

Aira terpaku. Ingatannya tentang semalam samar-samar kembali merayap di kepalanya.

Ingatan tentang sentuhan tangan yang mengusap pelipisnya, sentuhan bibir di dahinya, dan... sensasi pelukan yang mendekapnya erat sepanjang malam.

Jantung Aira berdesir pelan.

Devan? Jadi semalam... dia yang jagain gue?

Aira menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran itu.

"Enggak, enggak. Mending gue siap-siap kerja daripada berlama-lama di rumah ini," gumam Aira pada dirinya sendiri.

Tanpa membuang waktu, Aira memaksakan tubuhnya yang masih agak lemas untuk berdiri, melangkah ke kamar mandi, dan membasuh diri dengan air hangat.

Setengah jam kemudian, ia sudah tampil rapi dengan kemejanya. Walau polesan makeup tipis di wajahnya belum sepenuhnya sanggup menutupi rona pucat di sekitar matanya, Aira bertekad tetap harus berangkat ke kantor hari ini.

Aira menyambar tas kerjanya, memutar kunci pintu kamar, lalu melangkah keluar menuju ruang tengah.

Aroma gurih yang sangat familiar menyambut hidung Aira begitu ia baru melangkah di koridor. Bau kaldu ayam, bawang goreng, dan irisan seledri menyengat di udara, seketika membangkitkan cacing-cacing di perut Aira yang udah kosong sejak kemarin.

Aira menoleh ke arah dapur.

Di sana, Devan sedang berdiri membelakanginya di depan kompor. Pria itu memakai kaus polos dan celana jeans santai. Lengan kausnya tergulung sedikit, memperlihatkan otot tangannya yang bergerak luwes mengaduk sesuatu di dalam panci kecil.

Begitu mendengar langkah ketukan sepatu Aira. Pria itu mematikan kompor, berbalik, dan pandangan mata mereka bertemu.

Matanya yang agak merah gara-gara begadang semalaman seketika mengernyit saat melihat Aira sudah siap dengan baju kantor lengkap dengan tas di tangannya.

"Mau ke mana lu?" suara Devan meluncur.

Aira memasang muka judes seperti biasa. "Ya mau kerja lah! Pake nanya segala. Dikira gue mau kondangan pagi-pagi gini?"

Devan meletakkan sendok kayunya di tatakan. Pria itu menyapu rambut depannya ke belakang, lalu melangkah mendekati Aira.

Sebelum Aira sempat menghindar, Devan sudah memotong jalannya, berdiri tepat di depan Aira. Tanpa aba-aba, Devan mengulurkan tangannya, menempelkan punggung tangannya di atas dahi Aira.

"Devan! Lepasin gak!" sembur Aira kaget, mencoba menepis tangan Devan dengan kasar. Tapi Devan menahan posisinya selama beberapa detik, mengecek suhu tubuh Aira.

"Masih hangat gini badan lu, Ra," kata Devan. "Gak usah kerja hari ini. Lu di rumah aja, istirahat."

Aira memutar matanya malas, mengibaskan tangan Devan. "Gue udah mendingan ya! Cuma pusing dikit doang, gak usah lebay deh lu! Gue ada rapat penting jam sepuluh pagi ini, gak bisa main bolos gitu aja!"

"Gue gak peduli lu ada rapat sama Presiden sekalipun," potong Devan cepat, tatapan matanya tajam menatap Aira. "Muka lu masih pucat kayak mayat gitu, jalan aja masih sempoyongan. Lu mikir gak sih kalau lu pingsan di kantor atau di jalan gimana?!"

"Itu urusan gue! Kenapa lu yang pusing sih?!" bentak Aira emosi, dadanya mulai naik-turun. "Gue bukan anak kecil yang harus lu atur-atur jam kerjanya! Mending lu ngurusin bisnis lu sendiri sana, gak usah sok perhatian sama gue!"

"Aira!" Devan menaikkan nada suaranya, raut mukanya makin tegang. "Gue ini suami lu! Lu sakit gara-gara ulah lu sendiri yang seminggu ini keluyuran malam-malam gak jelas! Sekarang pas badan lu belum pulih, lu malah mau gaya-gayaan ngantor?!"

Kata 'suami' dan 'ulah lu sendiri' memicu pemantik api di dalam dada Aira.

"Gue keluyuran malam-malam juga gara-gara siapa, hah?!" sembur Aira balik, memajukan tubuhnya sambil menunjuk dada Devan dengan telunjuknya. "Gara-gara lu juga! Lu yang bikin gue malas di rumah ini! Jangan sok merasa jadi pahlawan ya, Devan! Semalam lu ngobatin gue juga paling cuma karena takut disalahin Papi kalau gue kenapa-napa kan?!"

Jleg!

Satu kalimat pedas dari Aira itu sukses membakar kesabaran Devan yang sudah menipis gara-gara kurang tidur. Pria itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap Aira dengan raut frustrasi.

"Lu bener-bener gak bisa ya bedain mana orang yang murni khawatir sama mana orang yang cuma cari muka?!" suara Devan terdengar berat. "Terserah lu mau mikir apa soal gue, Ra! Mau lu nuduh gue cuma takut sama Papi Surya, mau lu mikir gue jahat, terserah! Tapi buat hari ini, lu GAK BOLEH keluar dari pintu rumah ini satu senti pun!"

"Siapa lu berani ngatur-ngatur gue?!" jerit Aira gak mau kalah. "Gue tetep mau berangkat!"

Aira mencoba menerobos dari samping tubuh Devan dengan melangkah lebar. Tapi gerakan Devan jauh lebih cepat.

Pria itu langsung mencengkeram kedua bahu Aira, memutar tubuh cewek itu secara paksa, lalu menarik tas kerja di tangan Aira dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa ruang tengah.

Bruk!

"Devan! Tas gue!" pekik Aira histeris.

"Duduk!" bentak Devan tegas, menunjuk ke arah kursi meja makan dengan tatapan mata yang bener-bener gak bisa diajak kompromi. "Duduk sekarang atau gue gendong lu paksa masuk ke kamar dan gue kunci dari luar!"

Aira membelalakkan matanya tak percaya. "Lu berani ancam gue?!"

"Gue gak main-main, Aira. Coba aja kalau berani keluar," ancam Devan dengan nada suara yang begitu dingin dan serius, membuat bulu kuduk Aira meremang pelan.

Aira mengepalkan kedua tangannya. Napasnya memburu cepat, matanya menatap Devan dengan jengkel. Ia mau melawan, mau menendang kaki Devan, mau berteriak lebih kencang... tapi begitu ia mau menghentakkan kakinya, rasa pening di kepala bagian belakangnya berdenyut hebat.

Sret!

Aira memegangi kepalanya, pandangannya sedikit bergoyang.

Melihat Aira yang mendadak meringis sambil memegangi kepala, raut tegang di wajah Devan berganti dengan rasa panik.

"Kan! Dibilang apa!" Devan dengan sigap menyanggah siku Aira, menuntun cewek itu agar tidak jatuh. "Gak usah sok tegar deh! Kepala lu masih muter gitu!"

Aira menarik napas panjang, memejamkan matanya mencoba menetralkan rasa pening yang berputar.

Ia menarik kursi lalu menjatuhkan dirinya di sana, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil membuang muka ke samping.

"Puas lu?!" cetus Aira. "Puas bikin gue makin pusing?!"

Devan menghela napas panjang begitu melihat Aira akhirnya mau menurut. Pria itu menyapu wajahnya dengan telapak tangan, mengusir sisa-sisa rasa paniknya.

"Bagus kalau lu masih punya otak buat nurut," sahut Devan.

Devan berbalik menuju kompor, menyambar mangkuk, lalu menuangkan bubur ayam yang baru saja matang. Pria itu menambahkan irisan daging ayam suwir yang melimpah, taburan Bawang goreng, keripik pangsit, dan sedikit kecap asin—persis sesuai dengan racikan bubur favorit Aira kalau lagi sakit sejak zaman sekolah dulu.

Klek.

Devan meletakkan semangkuk bubur ayam itu di depan Aira, lengkap dengan sendok dan segelas air hangat.

"Makan," suruh Devan pendek, menyandarkan pinggulnya di tepi meja makan sambil bersedekap dada, mengawasi Aira. "Habisin. Setelah ini minum obat yang udah gue siapin."

Aira melirik mangkuk bubur ayam itu lewat sudut matanya. Aroma gurih kaldu dan topping ayamnya bener-bener menggoda selera makan Aira yang sempat hilang. Bau bubur ini... persis sama seperti bubur buatan Devan dulu saat Aira kena demam di rumah pohon zaman SMA.

Aira menelan ludah, tapi gengsinya masih mencoba bertahan.

"Gue gak minta lu buatin bubur ya," cicit Aira pelan, masih memasang muka judesnya.

"Gak ada yang bilang lu minta," balas Devan santai, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menyebalkan di mata Aira. "Gue yang mau buatin. Cepatan makan sebelum dingin, atau mau gue suapin paksa kayak semalam?"

Mendengar kata 'suapin paksa kayak semalam', pipi Aira yang pucat seketika merona merah padam gara-gara malu!

"Gak usah lebay! Gue punya tangan sendiri!" sembur Aira.

Aira menyambar sendoknya, lalu mulai menyuapkan sendok pertama bubur ayam itu ke dalam mulutnya. Rasa gurih hangat dari kaldu ayam dan tekstur bubur yang lembut menjalar di lidahnya. Masakan Devan... bener-bener gak pernah gagal terasa enak.

Aira mengunyah pelan, menundukkan kepalanya agar Devan gak melihat ekspresi puas di wajahnya.

Di seberangnya, Devan yang memperhatikan cara makan Aira yang mulai lahap, menyunggingkan senyuman tipis nan lega.

Pria itu menyapu rambutnya ke belakang, mengusir rasa lelah gara-gara tak tidur semalaman. Biar bagaimanapun juga, meski harus lewat adu mulut dan sedikit paksaan, setidaknya pagi ini cewek di depannya ini sudah lebih baik.

1
Fazira
lucu mereka 🤭
Fazira
🤣🤣
Fazira
semangat upnya kak😍😍
Fazira
😍
Fazira
Nadia istrinya marah loo
Skyline Scribe
cemburu niee🤭
Fazira
sepertinya love language nya mereka ini bertengkar yaa
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍
Reni Anjarwani
kapan damainya bertengkar terus
Ael
semangat kak👍👍
Fazira
Devan yang jujur kamu
Skyline Scribe: cowok gengsi tinggi dia kak😄
total 1 replies
Fazira
jangan tengkar/Sob//Sob/
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!