Judul: Winter, lost at snow.
Blackend.
Lee Min Ho pemilik Cheonsang grup nemiliki kehidupan yang terikat oleh Winter Choi. keduanya bersahabat bahkan banyak orang menyangka kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Namun, kejadian tak terduga membuat keduanya saling bergantung, orang tua Winter ditemukan gantung diri bersamaan dengan hilangnya supir pribadi ayah Minho, Lee Hansol.
Bertahun-tahun berlalu hingga Winter bertemu dengan Chan Kim, keduanya jatuh cinta dan menghadapi banyak polemik. tanpa sepengetahuan Winter, Chan Kim bertujuan untuk balas dendam.
Apakah Chan betul-betul mencintai Winter?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BLACKend077, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romance
Toko dipersimpangan jalan menuju Yeouidong sangat ramai oleh pelanggan dan pengunjung yang menikmati hari libur mereka, taman Yeouidong Hangang Park juga dipadati pengunjung yang menikmati Weekend bersama teman, keluarga atau sekedar duduk-duduk santai.
Tak lebih dengan toko lauk Jia yang ramai, Jisung yang sibuk di kasir sedangkan Jia menata tempat lauk yang kosong menggantinya dengan lauk baru. Paman Han sibuk di dapur bersama istrinya mempersiapkan lauk pauk lainnya, terkecuali Winter yang sibuk mengunyah japchae, mangkok besar dan sumpit tak lepas dari kedua tangannya.
"Eonni! Berhenti makan dan lakukan pekerjaan," protes Jia sembari menyerahkan sebaki semur tahu kepda Winter.
Winter segera mengambilnya. "Baik, sajangnim."
Ia menuang semur tahu tersebut ke dalam wadah yang berisi semur tahu juga, tiba-tiba Jia menepuk bokong Winter dengan keras.
"Aw."
"Aigo, bagaimana pembeli tertarik dengan tampilan berantakan seperti ini? Ck, ck, kurasa, kau harus belajar memasak dari Chan oppa."
"Aku?"
Jia mencibir.
Winter mendesah keras, kesal dengan gerutuan Jia yang membuatnya terlihat sangat buruk di depan Jisung. "Ya, Han Jia! Kau tidak akan bisa masuk ke universitas seni."
Jia hanya mengangkat alis masa bodo.
"Noona, lebih baik habiskan makanannya dan tunggu kami di bastment. Mungkin mereka akan segera datang."
"Aku bisa membantu apapun disini," tolak Winter.
"Tidak perlu."
Paman Han menggelengkan kepalanya melihat Winter yang dengan berat hati membawa mangkok japchae-nya menuju basment.
"Dimana, Oppa, menemukan gadis bodoh itu?" ketus Jia.
Ibunya menepuk pundak Jia.
"A, sakit."
"Dia itu perempuan hebat."
"His, hebat apannya, masak saja tidak bisa. Ibu selalu mengirim lauk pauk ke rumah oppa Chan."
"Jia-ya, Tidak ada wanita yang sempurna. Setidaknya dia pintar, berpenghasilan, terkenal walau tidak handal dalam urusan rumah."
Jia tetap mencibir.
Basment yang cukup luas dengan segala peralatan hacker milik Jisung, papan acrilyc yang penuh dengan coretan dari setiap strategi Chan dan yang lainnya. Winter melihat tumpukan dokumen diatas meja lalu membukanya.
"Aku sama sekali tidak mengerti kenapa, Pak Han memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen waktu itu. Bukankah, polisi juga menyelidikinya dan saat itu, Ibu tiri Minho masih menjadi penanggung jawabnya."
"Nuna, apa kau akan tahan jika muridmu menertawakan saat kelas dimulai dan waktu itu Jia masih dalam kandungan ibuku. Kami takut, presdir juga mengancamnya."
Winter menggigit bibir.
"Tidak perlu dipikirkan dan itu sudah berlalu."
"Ya."
"Lalu, kau sendiri, apakah baik-baik saja?"
"Apanya yang baik-baik saja," Winter menarik napas panjang, "itu sulit, terlebih semuanya karena aku memilih, Chan."
Jisung hanya mengangguk.
"Kau tahu, Jisung. Apa yang lebih menyulitkanku, kehilangan seseorang yang sebelumnya ada, itu membuat seseorang menjadi gila. Minho-pun pasti seperti itu juga."
Jisung memberikan tisu kepada Winter.
"Ah, sorry," ucapnya sembari mengusap air matanya.
Jisung tidak berkomentar apapun.
"Apa toko ini juga sengaja dekat dengan gedung Cheonsang grup?"
"Tidak. Itu jauh."
"Tapi, sama-sama di Yeouidong."
"Studio dan toko CK juga dekat dengan toko Jia."
"Kebetulan macam apa yang seperti ini?"
"Takdir bukan kebetulan."
Winter mengangguk seakan membiarkan apapun argumen Jisung tentang semuanya, beberapa saat Woobin datang di ikuti Sun kyu dan laki-laki berambut blonde.
"Hay," sapanya kepada Winter.
"Oh, hay."
"Sepertinya aku tahu siapa dirimu."
"Dan aku juga bisa menebak siapa dirimu."
Anton Kim mengangkat bahu, tidak perlu berkenalan hanya saja keadaan menjadi canggung begitu Woobin meletakan foto Minho.
"Em," Jisung kembali meraih foto tersebut.
"Ah, bagaimana dengan, Chan hyung?"
Anton Kim men-scrol ponselnya, "aku akan menelponnya."
"Kalian kenapa?" tanya Winter, "aku hanya ingin bertemu kalian, kalau kalian merasa canggung aku akan pergi." Winter meraih parka dan bangun dari duduknya.
"Nuna."
"Jisung, bukankah lebih baik ini berjalan tanpanya?" tanya Woobin tanpa menoleh kearah Jisung ataupun Winter, ia masih memerhatikan setiap poto di tangannya.
"Hyung."
Woobin tidak menjawab.
"Woobin, sepertinya kau tidak menyukaiku? Benarkan?" Winter kembali duduk.
Woobin menatap Winter lalu mengangguk, "hem, ya."
"Tapi, ini bukan wilayahmu, detektif."
Jisung tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Nuna, kau pikir kita sedang main polisi polisian. Ini lebih dari itu, kemungkinan salah satu diantara kita akan terluka."
Sun kyu dan Tae chul saling tatap.
"Benarkan?"
"Bukankah semuanya sudah selesai?" kini Anton angkat bicara dengan mimik wajah kebingungan.
Pasalnya, yang ia tahu Chan hanya ingin membuat dirinya cukup terpengaruh di Cheonsang grup setelah ia membangun karirnya sendiri sebagai direktur CK jewelry. setelah semuanya tercapai, bukankah sudah selesai?
Woobin tertawa kecil melirik Anton. "kalian tidak mengenal, Chan. Ah, bukan tapi direktur Chan Kim."
Winter hanya mendengarkan apa yang akan diocehkan oleh Woobin.
Woobin berdiri menuju papan acrilyc, ia membuat lingakaran cukup besar dan beberapa lingkaran kecil didalamnya. Ia juga memberi nama disetiap lingkaran kecil dan lingkaran besar tersebut adalah Chan.
"Kita semua adalah bidak dari papan catur, Chan."
"Woobin, kau sedang membuat novel?" Tae chul geram dengan tingkah Woobin yang sok tahu.
"Tidak. Pikirkan kembali saat kalian bertemu pertama kali dengan Chan, bukankah Chan berkata apa cheonsang benar-benar bisa dihancurkan? Itu bisa, kalau kita bersama. Tujuan Chan adalah balas dendam untuk dirinya sendiri."
Anton Kim segera menarik jaket bomber Woobin, "dia tidak selicik itu, kau siapa? Menilainya seperti itu."
"Choi sajang-nim, bukankah kau juga merasa seperti yang kukatakan?"
Winter tetap terdiam.
Jisung menggeret Woobin keluar dari bastment, "Woobin! Apa maksudmu?"
"Apa kau tidak merasakan hal yang sama?"
"Tidak."
"Aish, shit."
"Apa ada yang menganggumu?"
Woobin menatap Jisung, "Presdir Minho, kemarin mendatangi ketua kepala kepolisian."
"Kau tahu sesuatu?"
Woobin menggeleng.
"lalu, kenapa kau menyerang, Chan?"
"Andai dia tidak egois dengan kekasihnya, atau sedari awal dia tidak mendekati, Winter. kau juga tidak semenderita itu, Jisung. Paman, bibi dan Jia masih bisa hidup dengan baik, bahkan Paman."
"Aku baik-baik saja, Cang Woo," ucap Jisung sembari menepuk pundak Woobin.
"Apa tadi? Ah, sudahlah. Aku kembali ke markas."
Jisung menghela napas berat.
"Sampaikan maafku untuk Winter."
"Yes, sir!" jawabnya dengan memberi hormat kepada Woobin.
"Oppa!" panggil Jia yang berlari menghampiri Woobin yang berjalan ke arah mobilnya terparkir. "antar aku sampai ke halte bus."
"Tidak."
"Oppa, ku mohon, oke?"
"Aish, ku peringatkan Han Ji A, jangan menyukaiku."
"Wae? Aku menyukai, Oppa. Bahkan sebelum ibu melahirkanku."
"Ah, aku tidak mendengarnya," Woobin menutup kedua telinganya sambil masuk kedalam mobilnya diikuti Jia.
"Han Ji A, selamat berkencan dengan detektif arogan, ya?" Teriak Jisung sambil melambaikan tangan.
Namun, Woobin mengeluarkan jari tengahnya dari jendela ditunjukan kearah Jisung.
"Wah, benar-benar arogan," gumamnya.
"Ya, bagaimana bisa dia jadi polisi?"
Jisung menoleh kearah suara,"Nuna, kau mau pergi?"
Winter mengangguk sambil merapikan parkanya.
"Jangan diambil hati perkataan,Woobin, tadi."
"Em, sebetulnya aku juga merasa seperti itu sedikit."
"..."
"Tapi, aku tidak peduli," jawab Winter. Ia menghela napas berat, "aku pergi."
"Hati-hati," ujar Jisung yang terus melihat Winter hingga hilang dari pandangannya.
...****************...
Tae chul memainkan ponselnya malas, ia juga berkali-kali mendesah seperti menunggu pesan dari seseorang. Sun kyu menghampirinya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kau punya pacar?"
"Tidak. Aku hanya takut karena ragu-ragu dalam hatiku."
"Em, Seo Ari?" tebaknya.
"Wah, apa karena kita saudara kembar kau bahkan tahu isi hati dan pikiranku?"
Sun kyu menggeleng-geleng tidak percaya dengan keluguan kembarannya.
"Apa aku sudah menceritakannya?"
"Belum."
"Aku takut terlalu peduli padanya."
Tae chul menatap langit-langit apartemennya yang berwarna putih, lampu yang terang membawanya ke pandangan samar-samar hingga membawa pikirannya pada momen lampau.
Suara desiran air sungai han yang tertiup angin malam itu membuat pikiran dan mata fokus pada wanita disampingnya, matanya sama sekali tidak basah dengan air mata, bibirnya yang bercerita tentang masa lalu pahit sangat ringan seakan itu semua hanya karangan.
Namun, ia bisa merasakan getar dalam intonasi suara dan helaan napas. Rambut sebahunya yang selalu bergelombang membuat dirinya ingin menyelipkan rambut tersebut disela daun telinganya.
Bibir yang menyunggingkan senyuman nakal malah terlihat menyedihkan sekarang.
"presdir? Dia penolongku."
"Ah."
"Waktu aku memutuskan untuk menjadi permen karetnya karena aku menyukainya dan tidak ingin serakah untuk memilikinya. Tapi, Tae chul. setiap kali dia berbuat baik padaku itu serasa istimewa, berkali-kali aku meyakinkan diriku bahwa aku istimewa di matanya, ya aku sangat istimewa."
matanya menatap pantulan lampu di air sungai. "Ibuku pernah memukul dengan sabuk dibagian yang bahkan sangat aku sukai dari tubuhku, karena aku tidak mau melayani tamu yang dibawanya. Ya, ibuku berusaha menjualku saat umurku 14 tahun kepada laki-laki seumur ayahku." menghela napas panjang dan tersenyum, "aku berhasil kabur dari sana setelah dipukul, aku berlari di malam badai salju turun karena takut untuk menoleh kemanapun, saat menyebrang jalan aku tertabrak mobil. Beruntungnya, mobil yang menabrakku adalah mobil dari pangeran yang sama sekali tidak tahu keadaan dunia yang kejam."
Tae chul mengkerutkan dahi.
"Tangan halusnya menepuk pipiku, aku bertanya dalam hatiku, begini kah rasa hangat tangan manusia, begini kah wangi dari kekayaan, apa dia akan menolongku? Apa dia akan membawaku? Saat sadar, aku berada di rumah sakit. kau tahu, kata-kata pertama kali yang ku katakan saat sadar, pemandangan dari jendela rumah sakit lebih indah dari pada pemandangan jendela rumahku."
Matanya sama sekali tidak menunjukan kesedihan, apakah ini sungguh cerita hidupnya?
"Aku tidak kembali pada ibuku dan memilih untuk tinggal sendiri dengan uang yang ditinggalkan oleh orang yang menabrakku. aku bersekolah mencari keberadaan pangeran itu, aku bertahan dengan melihat fotonya tersebar di koran, aku bekerja paruh waktu, hari-hari ku berat tapi, dengannya yang seringkali muncul di halaman berita membuatku menjalani hari-hari yang normal, hingga kuliah ibuku kembali menemukanku dan beberapa orang mulai menagih utang yang diambil ibuku dengan jaminan namaku. Minho, mulai menolongku dengan melunasi semuanya bahkan meminta ibuku untuk tidak menemuiku lagi."
"..."
"Aku mulai serakah saat itu."
"Pernahkah kau berpikir kalau presdir hanya menolongmu karena nasib yang sama?"
"Kami sama-sama kesepian?"
"Ya."
"Karena itu aku selalu menempel seperti permen karet."
"Kau bisa mencari orang lain untuk."
"mencintaiku? Aku tidak percaya orang selain dia."
"Kau bisa percaya padaku."
Senyum Seo Ari mengakhiri kisahnya begitu juga dengan Tae chul yang menghela napas dan menepuk kepala Ari.
Sun kyu bertepuk tangan keras, ia mengacungkan jempol dan memberi Tae chul sekaleng bir.
"Kau sudah masuk dalam perangkap, hyung."
"Ya!"
"Itu jelas. Kau mulai simpatik."
"Rahasiakan ini dari, Chan. Oke?"
"..."
"Aku tidak ingin dia terluka karena masalalu dan Minho, aku akan ambil bagian untuk ceritanya."
"Hyung, kau tau apa yang menyakitkan dari cerita romance. Kau tahu perasaannya tidak untukmu tapi, kau simpatik dan menumpahkan segala perasaanmu. Kau akan menjadi satu-satunya orang gila dalam cerita romance itu."
Tae chul menenggak bir-nya.
...****************...
Dari author •~• Terimakasih atas dukungannya, nantikan kelanjutan kisah mereka.
Hug me
btw semangat selalu kak
saling dukung yuk
salam dari karya aku "Pelukis Buta Itu Suamiku" xixi