*TAHAP REVISI* 😌
Assalamu'alaykum,
Selamat datang di novel ku yang biasa aja.
Terimakasih sudah mampir dan mau membaca ceritaku
🌺
Senja mengingatkanku pada seseorang yang sudah mencuri hati dan fikiranku, mengisi relung jiwa yang hampa dan kering karna cinta~Adhit
Seperti senja yang menanti matahari menepi, seperti itulah Aku menantimu kembali~Adhit
🌺
Padahal aku sudah menguburnya dalam-dalam, tetapi masih juga terbayang dengan kejadian itu.
Kenapa kamu kembali lagi? jika kamu hadir hanya untuk membuatku tersakiti lebih baik kamu tidak pernah datang dalam kehidupan aku.
Tapi apa betul itu kamu? kenapa jantungku berdetak lebih kencang ketika berada di dekatnya ~ Ayunda
bagaimana kisah selanjutnya??
pantengin terus cerita ku yaa
Trimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Setelah kepergian Ayu, Adhit di hampiri oleh beberapa mahasiswi.
"hai Adhit" ucap wulan
"oh hai" ucap Adhit sambil berlalu dari sana
"eh Adhit tunggu" ucap wulan sambil memegang tangan Adhit. Laki-laki itu kaget dan langsung menghempaskan tangannya.
"lepas" bentak Adhit
"kok lo jadi marah sih?"
"haram bagi lo nyentuh gue paham lo" bentak Adhit lagi
Begitulah kira-kira sifat yang ditunjukkan Adhit kepada perempuan-perempuan yang mendekatinya.
Bagi Adhit hanya Ayu yang bisa menyentuhnya. Dia mengharamkan orang lain walau hanya tak sengaja bersinggungan.
"eh kok kasar?" ucap Tuti teman dari Wulan
"makanya kalau gak mau gue kasarin jangan pegang-pegang" wanti Adhit
"Dhit lo kenapa sih gak mau madang gue sedikitpun" ucap Wulan kesal
"emang lo siapa harus gue pandang-pandang?"ucap Adhit dingin
"gue suka sama lo Dhit, bahkan dari awal kita ketemu!"
"ooo, sorry tapi gue udah tunangan jadi jangan pernah berharap lebih, permisi" ucap Adhit dan berlalu dari sana
"ini semua pasti gara-gara si cacat itu, dia udah ngerebut Adhit Dari gue, awas lo cacat" ucap Wulan kesal
Adhit berjalan menuju mobilnya dan memilih untuk melihat perkembangan pekerjaannya. Setibanya disana ia di sambut oleh mandor yang mengawasi pekerjaan para pekerja.
"pagi menjelang siang pak Adhit"
"pagi pak, bagaimana perkembangan pekerjaan proyek ini?"
"semuanya berjalan dengan baik pak, kemaren sempat ada sedikit trouble, alhamdulillah sudah bisa di atasi, silakan dilihat pak" ucap bapak mandor dan memperlihatkan laporan perkembangan proyek yang sedang ia awasi
Adhit melihat dengan seksama laporan tersebut. Ia cukup detail dalam segala hal, sesuatu yang kecilpun juga ia perhatikan.
"bagaimana dengan rumah saya pak?"
"pembangunan rumah bapak sudah selesai 75%, apa bapak mau melihat kesana?"
"iya tolong antarkan saya pak"
"silahkan pak"
Adhit membuat sebuah rumah yang akan ia huni bersama Ayu dan anak-anaknya nanti. Jikapun Ia tidak berjodoh dengan Ayu, maka rumah itu akan di berikan kepada dia secara cuma-cuma, karna rumah itu memang atas nama Ayu. Namun Adhit sengaja tidak memberitahunya agar ini bisa menjadi surprize ketika mereka menikah nanti.
Rumah tingkat dua dengan gaya minimalis modern terlihat berbeda dengan rumah yang lain, karna ini di design sendiri oleh Adhit.
Ia melihat dengan takjub dan senyum yang mengembang. Ia melangkah menuju halaman belakang yang akan ia jadikan taman bermain yang aman untuk anak-anaknya nanti.
Membayangkan saja ia sudah merasa senang, bagaimana jika itu menjadi kenyataan. Pasti ia akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.
Semoga kita berjodoh sayang, aku sudah gak sabar menemani anak-anak kita berlarian di halaman ini. bathin Adhit tersenyum membayangkannya
"bagaimana pak? apa sesuai dengan yang bapak inginkan?"
"iya alhamdulillah sejauh ini semuanya sesuai dengan apa yang saya inginkan, hanya saja nanti saya ingin melakukan perubahan sedikit, pada bagian halaman ini, saya ingin atap ini dilapis dengan atap kaca yang cukup kuat dan bisa dibuka tutup otomatis, jadi nanti ini lantainya diberi rumput buatan dengan kualitas premium, agar nanti tidak repot untuk membersihkannya. untuk detail nya nanti saya kirim ke email bapak"
"itu bisa di atur nanti pak, semua nya akan kami atur sesuai dengan ke inginkan bapak"
Adhit membuat rumah sederhanya dengan gaya modern yang menggunakan sistem smart technology yang hanya menggunakan smartphone saja. Ia tak ingin Ayu terlalu kelelahan dalam mengurus rumah tangga nanti.
Mulai dari lampu, listrik, dapur, atap, dan lain sebagainya. Ia sudah merencanakan ini dengan matang, Agar Ayu nyaman nanti tinggal disana bersamanya.
Di tangga untuk masuk kedalaman rumah, ia sengaja membuat tanjakan yang tidak curam, agar nanti ayu bisa menaikkan kursi rodanya dengan mudah.
"saya percayakan proyek ini kepada bapak, jika ada terjadi trouble, jangan sungkan untuk menghubungi saya atau menghubungi kantor."
"iya terimakasih banyak karna sudah mempercayakan proyek ini kepada saya, insya Allah amanat bapak kami jaga dengan baik"
"baik lah kalau begitu saya permisi dulu pak"
"iya pak silahkan mari saya antar"
Adhit melakukan mobilnya menuju apartemen untuk beristirahat.
🌺🌺🌺
"hai ketemu lagi kita" sapa dokter tersebut
"dokter ngapain kesini?" tanya ayu
"saya praktik disini Ayu"
"dokter ngikutin saya?"
"apa saya kurang kerjakan sampai mengikuti kamu kemana-mana"
Ayu menatap dokter yang berada di hadapannya dengan tatapan dingin
apa yang di inginkan dokter ini?, gak mungkin ini hanya kebetulan kan? atau aku cari dokter yang lain aja ya, agak risih juga lama-lama melihat dia mandangin aku. bathin Ayu
"oh iya Ayu, perkenalkan ini Redivo Aditama, Dia dokter muda yang baru di angkat oleh rumah sakit ini, insyaa allah dia juga yang akan membantu dalam pengobatan Ayu"
huh sepertinya betul aku harus cari dokter tulang lagi, kalau Adhit tau nih dokter kayak gini ngejar aku, pasti bakalan ribet urusannya. Bathin Ayu.
Ia memang tau kalau Adhit sangat pencemburu. Maka dari itu ia lebih memilih untuk mencegah dari pada harus menyembuhkan.
"silakan Ayu kita cek dulu keadaan kakinya ya"
Dokter perempuan yang bernama dr.Ririn itu mencek keadaan kaki Ayu, apakah sudah bisa untuk di terapi atau belum.
"oke Ayu, dari hasil pemeriksaan kaki kamu masih belum kuat untuk melakukan terapi. karna di kaki bagian kanan yang patah masih rentan dan belum kuat. Jadi sepertinya kita masih membutuhkan waktu sekitar satu atau dua bulan lagi. Jangan patah semangat ya Ayu"
"iya dokter" Ayu memang sudah pasrah dengan keadaannya, ia sudah bisa menerima adapun yang terjadi dan selalu bersyukur dengan apa yang ia miliki.
Di luar sana bahkan banyak orang yang tidak memiliki kaki atau tangan, atau bahkan kehilangan salah satu indranya. Tetapi mereka tetap semangat untuk menjalani hidup. Bahkan kebanyakan dari mereka bisa sukses dengan menjadikan kekurangan sebagai kelebihan untuk mereka
Ada yang menjadi motivator, konten kreator, ilmuan, Artis dan lain sebagainya
Bagaimana Ayu yang masih memiliki harapan untuk normal kembali malah terpuruk. Hal itu yang membuat nya kembali bersemangat walaupun harus menggunakan kursi roda untuk bepergian.
"ya sudah kalau begitu kami pamit dulu dokter, terima kasih sudah merawat saya dengan baik" ucap Ayu sopan
"sama-sama Ayu, itu sudah kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai seorang dokter"
"kami permisi dulu dokter, selamat siang"
"iya selamat siang, silahkan"
Ayu berjalan menuju lobi bersama bunda dan disana sudah di tunggu oleh Farhan yang mengendarai mobilnya. Namun ketika sedang berjalan Ayu di hampiri oleh seseorang.
"Ayu, Ayu, Ayu tunggu, Ayu" ucapnya
"bunda kayaknya ada yang manggil deh"
"iya ya"
Ayu dan Bunda melihat kearah belakang dan terkejut dengan kehadiran seseorang yang sangat tidak diinginkan oleh Ayu.
"Ayu huh,, huh,, huh,, tunggu" ucap Divo sambil ngos-ngosan
"ngapain" ucap Ayu ketus
"aku boleh minta nomor telvon kamu?"
"untuk apa?"
"ya biar bisa kenal gitu" ucapnya cengengesan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"yaudah 0822********" ucap Ayu
"nanti aku hubungi ya"
"iya"
Ayu dan bunda berlalu dan ia tersenyum menatap bunda
"kamu kenapa kak?"
"gak apa bunda"
"kamu yakin mau dekat sama dokter itu? Adhit gimana?"
"hihi gak lah bunda, aku gak mau dekat sama dokter seperti dia. huh aku merasa di lecehkan kalau dia natap aku bunda. Tadi kakak kasih nomor Adhit ke dia bund, haha" ucap Ayu terkekeh
"ishh dasar kamu, nanti kalian malah berantem lagi"
"gak lah bund, paling Adhit bakalan hantam tu orang mesum"
"gimana kamu ini kak, tapi udah bikin Adhit janji gak berantem lagi kan?"
"ya kalau terdesak gak apa kan bunda"
"ih kamu, yaudah deh terserah kamu aja kak"
"hahaha"
Mampus kamu, dasar orang mesum, dikira aku bakalan masih nomor ku gitu aja? sorry-sorry to say yes, hahaha. bathin Ayu sambil menahan senyumnya
gimana reaksi Adhit nanti ya, haha. sambung nya lagi
sesampainya di mobil, ia dan bunda disambut oleh abang kesayangannya.
"hai sayangnya abang, maaf ya tadi abang gak bisa antar" ucap Farhan sambil menggendong Ayu
"gak apa bang, aku kan juga udah bisa sendiri, lagian ada bunda juga kan" ucap Ayu cemberut karna masih di gendong oleh Abangnya.
"selama Abang masih kuat sayang, abang akan gendong kamu terus selama kamu seperti ini"
"iya deh abangku sayang"
Bunda yang melihat mereka merasa senang dan bahagia melihat anak-anaknya saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Sehingga Ia tidak lagi risau ketika ia dan suaminya tidak ada lagi di dunia ini.
"bang aku gak mau cek up disini lagi" ucap Ayu
"eh kenapa sayang? dokternya kan lebih bagus dari yang sebelumnya" ucap Farhan
"abang ingat gak dokter mesum anaknya dr. Melati?"
"iya abang ingat kenapa sayang? apa dia juga kerja di sini?"
"iya bang, kesal aku jadinya, serasa di gentayangin aku, malah tadi minta nomor ponsel pula" ucap Ayu kesal
"terus kamu kasih?"
"gak lah, tapi aku kasih nomor Adhit, biar di maki tuh dokter"
"ih kamu yaa, haha"
"habisnya aku risih kalau di tatap sama dia bang, aku merasa mau di terkam aja gitu, kan ngeri juga bang
"gimana bunda? kakak mau ganti dokter lagi"
"bunda gak masalah, selama kakak nyaman berobat, Bunda selalu dukung" ucap Bunda
"yaudah besok abang cari lagi dokter tulang yang bagus untuk kamu kak"
"makasih abangku yang paling ganteng"
"sama-sama sayang"
Mereka melanjutkan pulang menuju kediaman Keluarga Mahendra.
💖💖💖
To Be Continue
jangan lupa
loke, koment, vote dan hadiahnya gais
terimakasih
maaf tolong maafkan saya...
kasih sayang jangan terlalu karna kita tidak tau kedepannya klo masih pacaran. kasih sayang untuk lawan jenis jangan sampai mengalahkan kasih sayang dan cinta kita kepada Allah..karna itu bisa mengakibatkan fatal seperti Ayu dalam cerita ini.
ingat TAKDIR siapa yang tahu...
semangat author...
Adit dan Ayu sama sama salah... tetapi Adit kesalahannya fatal...
1. tidak jujur dan berterus terang dari awal.
2. menunda menyelesaikan masalah terlalu lama. masalah seperti itu seharusnya secepatnya diselesaikan. beri waktu sehari itu sudah cukup untuk menekan emosi lawan.
semangat author...
sayangnya cerita ini monoton dan datar seperti kita belajar disekolah, klo belajar matematika ya itu itu aja, pasti bosan kannn??? saya tidak bisa membaca berpuluh puluh bab sekali buka karna kalau dipaksakan otak saya jadi tumpul dan makna juga rasa yang terkandung dalam cerita tidak bisa saya pahami. jadi percuma dan sia sia buang waktu.. itu kenapa dulu masih sekolah saya belajar paling lama setengah jam. klo disekolah kan lama, itu tergantung gurunya, asyik ga cara penyampainya. sama aja dengan kalian author, bagaimana caranya biar pembaca merasa ketagihan membaca karya kalian. itu kunci utamanya seorang penulis akan sukses. belajar dan terus belajar...
saya maklum ini cerita author yang pertama