Indonesia
NovelToon NovelToon
Holding Until The End

Holding Until The End

Status: tamat
Genre:Ketos / Teen Angst / Keluarga & Kasih Sayang / Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agnettasybilla

Kebenaran itu sulit dibuktikan. Orang-orang lebih percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Selain itu semuanya tentang kebenaran hanya semu belakang dan kebohongan. Sienna tidak pernah menyangka kalau kehilangan ibu akan mengubah hidupnya begitu drastis. Ia pikir hidup akan berjalan seperti yang ia mau. Sienna dituduh sebagai penyebab kematian sang ibu oleh ayahnya sendiri. Beranjak remaja, penderitaan itu pun enggan menjauh dari dirinya, seolah dirinya memang ditakdirkan menderita sampai sisa hidupnya yang begitu mengenaskan. Mencoba untuk bertahan, ia kembali dikecewakan. Siapa yang harus dipercaya? Siapa yang bisa menolongnya agar kuat bertahan menghadapi hidup? Hingga waktu itu berada di genggamannya, Sienna memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnettasybilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Holding Until The End - 4

...Happy reading...

...°°°°°...

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak perginya Sienna mengikuti keputusan sang ayah untuk tinggal di Bandung, meninggalkan semua kenangan di kota Jakarta yang penuh dengan luka pahit.

Malam ini tepat pada pukul sembilan lewat tiga puluh, Bibi Grace selaku pengasuh Sienna sejak kecil melangkah menaiki deretan anak tangga menuju kamar di lantai dua baris pertama sebelah kiri. Tangan renta berkeriput itu terangkat mengetuk pintu di hadapannya.

"Non, ini Bibi bawakan makan malamnya. Mulai dari tadi pagi non belum sarapan apa-apa, kan?"

Perempuan yang berada di dalam kamar, duduk bersilang di kursi belajar hanya bisa menghela napas berat berulang kali. Sienna dengan malas beranjak dan membuka pintu kamar.

Ia menatap wajah wanita itu beberapa saat lalu setelahnya manik hitam tersebut turun pada nampan berisikan nasi putih, sepotong daging ayam bagian dada, sayur brokoli rebus dan segelas susu putih.

Di usianya menginjak tujuh belas tahun, Sienna tumbuh menjadi gadis remaja cantik dengan tubuh semampai, hidung mancung dengan bibir tipis berwarna merah muda. Semua ciptaan yang nyaris sempurna itu benar-benar turunan dari Laura, bundanya.

"Kenapa repot-repot sih Bi siapin ini semua? Sienna kan bisa ambil sendiri. Harusnya Bibi banyak istirahat."

"Bibi tidak bisa tidur kalau non belum makan. Non tau kan non sangat gampang sakit akhir-akhir ini. Bahkan Bibi lihat juga non sudah satu bulan ini terus belajar sampai malam. Bibi kasian sama non."

"Sienna belum lapar. Bibi ajah yang makan ya," ucapnya dengan wajah tersenyum tipis. Berusaha meluluhkan hati Bibi Grace agar tidak memaksanya lagi.

Sienna yang hendak menutup pintu kamar tertahan karena tangan Bibi Grace dengan cepat menahan pintu dan membuat gadis itu meringis pelan.

"Bibi gak akan pergi kalau makanan ini belum habis non. Biarkan saja Bibi capek berdiri disini."

Sienna memutar bola matanya malas. Sungguh menjengkelkan. Setelah menimbang beberapa saat, ia pun membuka lebar pintu kamar dan meraih nampan dari tangan wanita itu.

"Kalau begitu Bibi masuk saja dan temani Sienna makan."

Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala. Sienna berjalan lebih dulu memasuki kamar disusul Bibi Grace dari belakang—memasuki kamar dengan nuansa hitam tersebut. Tidak ada sudut kamar yang tidak berwarna hitam. Setiap sudut didominasi warna dan corak berwarna hitam bahkan hiasan kamar sekalipun, membuat Bibi Grace sedikit resah dengan nona mudanya itu.

Dulu kamar itu bercat biru putih dengan banyak boneka memenuhi kamar, tapi sejak ayahnya berubah sikap kepada gadis itu, ia bersikeras merubah desain kamar dan membakar semua pemberian ayahnya. Banyak hiasan yang terbuat dari kertas origami tertempel di dinding dan menggantung di langit-langit kamar. Dua rak buku juga berjejer di sebelah kanan dari tempat tidur.

Bibi Grace menatap serius tangan kecil Sienna memasukkan satu suapan nasi dalam mulut dan begitu berulang kali hingga piring dan semangkok brokoli bersih tak bersisa.

"Kalau non tiap hari belajar tapi lupa untuk isi perut semua akan percuma non. Belajar pun butuh tenaga."

"Maafin Sienna Bi kalau nyusahin Bibi terus. Dari kecil Bibi udah cape jagain Sienna sampai sekarang pun sama."

"Gak ada yang namanya nyusahin Non. Ini sudah tugas Bibi merawat dan menjaga non seperti janji Bibi sama mendiang Bundanya Non dulu."

"Bibi memang terbaik. Oh iya, kapan katanya ayah pulang Bi?" tanyanya pada Bibi Grace yang meraih nampan di atas pahanya.

"Kalau tidak salah bapak bilangnya pulang besok siang atau lusa non. Memangnya non tidak dapat telepon dari bapak, ya?"

Sienna menggeleng kecil. Sudah lama Sienna tidak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Bukan tidak sempat, tapi pria itu memilih tidak mau melakukannya.

"Sienna bisa tanya sesuatu?"

Bibi Grace terdiam sesaat dan tak lama ia mengangguk mengiyakan.

"Bunda sebenarnya sudah meninggal, kan? Semua yang ayah bilang dari dulu itu hanya kebohongan biar Sienna nurut dengan apa yang ayah katakan."

Bibi Grace terkejut. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada anak dari majikannya itu, mengingat majikannya sudah melarangnya berkata kebenaran itu semua sejak lama.

"Non Sienna ngomong apa sih non. Bunda non kan sedang urusan bisnis di luar negeri seperti yang ayah non sampaikan."

"Bohong, Bibi bohong." Sienna menatap lekat. "Semuanya Sienna ingat kok. Bunda sudah meninggal. Sienna yang buat Bunda meninggal. Itu sebabnya ayah jadi seperti itu padaku. Semuanya gara-gara Sienna. Sienna ikut ayah dulu karena Sienna juga ngga mau larut bersedih setelah kematian Bunda. Kalau Sienna tetap disana Sienna akan terus menderita."

Hening.

Bibi Grace tidak bisa berkata apa-apa. Seandainya saja mereka tidak pergi ke pasar malam itu mungkin Laura masih hidup hingga sekarang, tapi nasib berkata lain. Sienna harus kehilangan sosok ibu di hidupnya.

"Sudahlah non, jangan dipikirkan terus. Sekarang non istirahat saja. Ini sudah tengah malam. Kalau begitu bibi permisi ya, selamat malam non Sienna."

Bibi Grace beranjak dari kamarnya. Sienna hanya bisa membisu terduduk di pinggir tempat tidur.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bunda sebelum meninggal?"

1
Nenden Nuranisa
please sienna pergi jauh aja dia harus bahagia 😭❤️
RiiaNii Khaulah
sedih beut..
RiiaNii Khaulah
br arti ayahnya blom tau pnyakitnya ya..trus knapa kake nya nggk mau punya cucu prempuan ya
RiiaNii Khaulah
sedih banget 😭kasih happy end ya otor kasian
RiiaNii Khaulah
lanjut ka
IdDesiRswt
semangat nulisnya Thor, kalau boleh mampir juga yu dinovel karya aku 🥰
dayanirann
penulisannya tapi banget Thor, keren😍💗
Agnettasybilla: thank you
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!