Indonesia
NovelToon NovelToon
My AVN

My AVN

Status: tamat
Genre:Ketos / Badboy / Patahhati / Dosen / Chicklit / Tamat
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Shintya Dewi

Arinda selalu saja mengurung diri sendiri dengan porsi otak di bawah rata-rata, namun mindset itu di ubah ketika menemukan dua orang dalam menerima apa adanya, tanpa menuntut nilai sempurna di sekolah.

AVN. Tiga nama dari panggilan nama masing-masing, Arinda, Vlo, dan Nazira. Tulus dalam merangkul sikap amarah kadang meledak kepunyaan gadis itu sendiri.

"Rin, tidak ada namanya mantan sahabat. Yang ada hanya mantan pacar, istri, kita tetap sahabat." Vlo bertutur kata, sangat lembut.

Terjadi lagi, sebuah prahara menghantam AVN, hanya perkara di balik motif cantik selalu terbesit cemburu oleh sahabat sendiri, Nazira. Padahal Arinda tidak permasalahkan ikatan di dasarkan fisik melainkan hati.

Gensi, tidak mau memulai obrolan lebih dulu sampai persahabatan itu hanya bisa di putar ulang lewat aksara, semoga dengan diksi penuh pelangi dapat memulangkan kembali AVN kala hati memeluk pelik dengan kasih. []
.
Selamat membaca guys ..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Shintya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aksara adalah Potensiku?

“Apa benar nafsi memiliki potensi membanggakan bahkan bisa juga membawa pulang prestasi seperti anak pintar di sekolah?”

🌻🌻🌻

Flash back, O2SN SMK YPKP,

Arinda tidak bisa masuk ke dalam lomba apa pun termasuk debat Bahasa Indonesia selain bulu tangkis, non akademis. Saat pengumuman dari kepala sekolah mengenai event yang sangat langka tidak pernah ada di SMK.

Lagi, Arinda hanya meneguk ludah, “yey, menang! Kamu bisa masuk final.” Saat masuk semi final saja harus lempar indocock ke sebelah net tanpa ada lawan sama sekali.

Karena memang lawannya berhalangan hadir, pas masuk semi final tidak di bangunkan sama neneknya, karena hari itu mengeluh sakit, badan semua remuk.

Nenek begitu khawatir kalau cucunya jatuh sakit, jadi di biarkan saja istirahat sampai bangun kesiangan.

Gagal bawa pulang prestasi dengan memegang piala di rumah. Miris sekali hidup Arinda.

Apalagi mendengar kabar kalau Hamaz, mantan kekasihnya ikut lomba debat Bahasa Indonesia dengan calon pacarnya, Arinda Arista.

Menyebalkan memang. Nama sama yang memunculkan banyak cemburu dalam hati, kenapa bisa Hamaz pacaran dengan adik kelas hanya sekedar buat Arinda patah berulang?

Waktu sebelum masuk semi final, ada lawan tanding di lapangan. Bahkan melirik ke samping lapangan, sama sekali tidak ada yang dukung.

Tapi, bentar...

“Ayo, Rin! Ko bisa, ayo!” Suara Anha, menyemangati dengan teriakan penuh keyakinan.

Ada senyum miring. Hanya satu orang? Padahal banyaknya lagi penonton di sana, tapi kenapa ada sorot mengintimidasi penuh tidak layak berdiri di lapangan bulu tangkis yang bukan di dapatkan dalam rumah saja.

Kalah. Tapi bisa masuk semi final, masih ada point terhitung dari juri, mendapatkan kesempatan lagi untuk menunjukkan kemampuannya nanti di lapangan hanya begitu pas hari di tunggu justru tidak di bangunkan sama sekali sama neneknya.

Pas kembali ke kantin, melihat ada teman-teman Multimedia tapi tidak di tanya karena memang saat pertandingan bulu tangkis Arinda, mereka justru berada di lantai dua kelas Keperawatan, nonton Hamaz lomba debat Bahasa Indonesia.

Sendiri saja. Karena kedua sahabatnya masih ada lomba debat Bahasa Inggris di kelas sebelah lomba debat Bahasa Indonesia.

Saat tadi Arinda main ke atas, tidak sadar ada rasa berkecamuk cemburu tahu adik kelasnya yang akan menjadi kekasih menggantikan dirinya di hati Hamaz, pintar.

Sudahlah. Pulang membawa sekantong gagal tadi tidak bisa kejar lawannya punya skor.

Ralat. Tadi memang kesiangan hanya bisa di kasih kesempatan buat ikut tanding di lapangan.

Biar lagi di kasih tempat kedua, tetap gagal, kan?

Apa lagi yang mau di harapkan dari Arinda yang selalu mengecewakan diri sendiri?

“Rin?!” Seru Nazira.

Arinda yang sudah mau turun dari tangga, tetiba berhenti dan menoleh ke belakang mendapati kedua sahabatnya yang keluar dari lomba debat Bahasa Inggris dengan wajah bersinar, berbanding terbalik dengan gadis itu, sedih, patah, kacau, gagal.

“Ya? Sudah selesai kah, bagaimana?” Sederet pertanyaan di lempari Arinda.

Untuk sekedar menutupi luka dari hasil kegagalannya tadi di lapangan. Mau menyembunyikan raketnya, percuma, kan? Mereka sudah lihat.

Dengan antusias menghampiri gadis itu dan pulang dulu ganti baju, hanya Nazira saja. Kalau Vlo pakai seragam putih abu-abu saja, karena isi rumahnya sangat berantakan.

“Besok pengumuman pemenang, sa sama Vlo mau ke Bu Astri dulu, konsultasi hasil selisih point yang di ambil sama lawannya kita tadi di dalam kelas.” Seru Nazira.

Sambil menunggu guru Bahasa Inggrisnya keluar, mereka bertiga mengambil foto dulu. Dengan wajah lesu mereka berdua yang habis di hantam dengan materi lomba tadi dalam ruangan terpaksa ikut foto. Kenang-kenangan.

Beberapa menit mengobrol dengan beliau, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Karena sudah terlalu capek dengan lomba seharian tadi. Jadi tidak ada pikiran buat singgah makan di mana.

Tadi sudah puas selfie juga sih di sekolah sebelum ke rumah ibu gurunya, sambil melihat kembali materi yang mana menjadi selisih point dengan lawannya, jadi buat kelompoknya juara dua.

Harusnya bisa juara satu. Memang Nazira itu sangat ambisius soal pendidikan biar lagi sekedar lomba antar-kelas begini.

Karena dengan begitu bisa mengukur porsi otaknya sudah sejauh mana, kalau masih belum puas, tetap mengejar sesuatu yang buat ia berkembang lebih berkualitas dari sebelumnya.

Pengumuman pun tiba, sambil menemani mereka berdua menerima juara dua, ada rasa berdesir sangat sakit.

Arinda melihat jejeran piala yang akan di berikan kepada sang juara masing-masing kategori, Animasi, Debat Bahasa Inggris, Debat Bahasa Indonesia, Bulu tangkis, Tenis Meja, Kimia, Fisika, dan Akuntansi.

Melihat Nazira mewakili kelompok mereka ambil piala kejuaraan, ada rasa iri.

“Enak eh, ko bisa menang juara dua. Lah? Sa mana bahkan hobiku sendiri tidak bisa juara.” Arinda meringis, saat melihat sahabatnya sudah duduk kembali di sampingnya.

Nazira mengulum senyum, “Rin jangan terlalu terpaku sama lomba ini. Potensi tersembunyimu jauh lebih membanggakan.” Bisiknya, menyemangati.

Potensi tersembunyi? Pikir Arinda dengan bingung.

“Tidak semua orang bisa seperti ko, Rin. Tulisanmu itu suatu hari akan jadi prestasi. Bahkan kalah jauh dengan piala yang sa dapat hari ini.” Lagi, Nazira berbisik.

Karena melihat sahabatnya tidak menanggapi sedikit pun. Jadi Nazira memberitahui kalau aksara adalah potensi tersembunyi yang akan menjadi prestasi.

Sedangkan Arinda bengong sendiri, aksara adalah potensiku? Bisiknya dalam hati, penuh tidak percaya diri.

Kenapa ada rasa kesal, saat kembali teringat dengan ucapan Hamaz, saat itu tiba-tiba sekali memanggilnya di depan kelas, hanya berdua saat yang lain sibuk dengan urusan masing-masing saat usai lomba.

Di depan kelas, wajar Hamaz sangat berseri-seri, “saya menang, Rin! Senang sekali, bisa juara dua Debat Bahasa Indonesia. Itu pun yang menangkan kita punya kelompok Arinda Arista. Adik kelasnya kita. Ternyata dia pintar ya, Rin?!” Serunya sambil memeluk kedua tangan Arinda tanpa sadar.

Arinda hanya menanggapi dengan datar penuh terluka.

Buat apa sebuah informasi yang sangat tidak di butuhkan gadis itu sendiri? Rayakan saja keberhasilan mereka tanpa perlu patah ulang, cemburu begitu berasal dari Arinda.

Jadi buat apa membicarakan sebuah potensi tersembunyi yang bahkan bayang-bayang porsi kepintaran Arista saja cukup mencuri semua perhatiannya buat berhenti bermimpi lewat karya yang sudah di motivasikan oleh Nazira.

End flash back O2SN.

🌻🌻🌻🌻

Masih terekam jelas saat pagi-pagi sekali Nazira datang ke kelas Multimedia untuk bertemu Arinda, mengira mau di ajak ke kanjang jajan sate atau bakso.

Ternyata, “Rin, sa ada mau kasih ko formulir tes masuk kuliah.”

Buar! Pecah sudah rasa nyaman Arinda pagi-pagi itu yang tidak bakal mendengarkan sebuah masa depan namun masih keras kepala di desak tanpa menyerah dari Nazira bahkan Vlo.

“Ah, sa malas!” Yang langsung di tolak dengan penolakan tegas dari Arinda.

Sekarang pagi ini mereka tidak belajar, hanya apel pagi di lapangan sekolah mendengarkan pengumuman dari kepsek mengenai Ujian Nasional.

Kenapa Arinda merasakan hal lain saat sudah mau lulus begini?

Benar. Sudah tidak bisa kumpul bareng AVN lagi seperti biasa di lalui suka-duka-pertengkaran-gengsi-tawa yang di mana SMK YPKP menjadi saksi bisu persahabatan mereka penuh pelik namun bisa di peluk dengan kasih kepunyaan hati mereka berdua begitu luas dalam menerima-memaafkan berulang kali.

Lalu membicarakan sebuah hubungan yang di lalui bersama mereka berdua, tidak sadar ada rasa sesal dalam diri saat tidak merasakan moment-moment hangat dengan family Multimedia yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah.

“Mereka itu humble dan peduli sama ko, Rin. Hanya saja ko terlalu menutupi diri dari mereka.”

Kalimat yang sudah lama di dengar dari mulut Nazira, kini kembali mengusik isi kepalanya saat mendengarkan arahan dari kepala sekolah.

Menyebalkan. Kenapa rasa penyesalan baru datang di akhir saat akan meninggalkan SMK YPKP sih?

Apa tidak bisa Arinda merasakan dulu kehangatan teman Multimedianya sebelum merayakan pelepasan nanti?

“Sa sudah isi formulir itu, Nai. Kalau ko sudah kah belum? Biar nanti kita sama-sama ke sana untuk kasih di sa kakak.” Seru Vlo.

Mereka sudah selesai apel pagi. Yang sekarang duduk sama-sama di depan parkiran sekolah.

Arinda yang sibuk main dengan HP-nya merasa ada sesuatu yang janggal—tidak lagi di paksa mengenai selembar yang selalu buat mereka bertengkar.

Sisi lain sangat meronta hebat juga mau masuk dalam topik pembicaraan mereka. Hanya bingung mau memulainya dari mana? Sedangkan selama sekolah saja di bantu terus.

“Ko pasti bisa kuliah, Rin, terus formulir itu bagaimana, ko sudah isi kah?” Eh, mendadak salah tingkah saat Nazira peka dengan suasana hati gadis itu sendiri.

“Sa belum isi sama sekali dan sa tidak tahu sekarang kertas formulir itu ke mana, mungkin Mamaku buang kali?” Arinda membalasnya dengan santai.

“Rin?! Ko tahu kah tidak, kertas itu sa berjuang sekali buat kita bertiga! Kenapa ko ceroboh begini kah, kalau memang ko trada niat untuk kuliah, bilang supaya kertas itu sa kasih ke siapa kah yang lebih membutuhkan.” Vlo langsung sembur amarahnya saat mendengar penuturan begitu santai dari mulut Arinda.

Yang bahkan Arinda sendiri tidak tahu tanggapan sahabatnya akan separah ini, apalagi itu cuma selembar kertas apa sih yang harus di peributkan begini?

Lebay sekali. Pikir Arinda.

“Kalau memang kalian serius kejar cita sa bisa apa? Selain nulis itu pun masih absurt haha.” Celetuh Arinda.

Menulis pun sekedar menghilangkan rasa beban di kepala saat di rumah tidak memiliki tempat leluasa bercerita ya walau pun ada kedua sahabatnya siap mendengarkan semua kelu kesahnya, setidaknya, kan, Arinda membutuhkan lebih privasi yang tidak akan menembak saat ada masalah—mencibir, mengungkit lebih tepatnya.

“Kejar sudah ko prestasi tersembunyi itu, Rin. Tapi sa kasih tahu ko ilmu dan title tra bakal datang dua kali.” Tambah Nazira dengan stok kesabaran yang tak ada batasnya.

Setelah kemarin mendebatkan sebuah lembar kertas itu, sekarang melihat kedua sahabatnya yang tumben sekali bawa baju ganti dari rumah.

“Kalian mau ke mana nih? Rajin apa bawa baju ganti di tas.” Ada sambutan yang begitu penasaran dari mulut Arinda.

“Mau antar formulir buat masuk tes nanti di UNCEN toh. Kenapa, mau ikut?” Kata Vlo.

Oh sudah di suruh pengumpulan ya, padahal belum Ujian Nasional tapi sudah di buka secepat itu ya?

“Malas ah bosan ya, kalau su datang ke sana, tunggu kam lagi.” Balas Arinda cuek.

Walau sebenarnya sangat ingin ikut ke sana, sambil melihat suasana kampus seperti apa.

“Trapp ikut saja mo. Hanya antar formulir ini terus kita cus pulang sekalian ke Jayapura.” Mulai deh, Nazira memancing buat keliling bebas di Jayapura nanti.

“Tra lama nih, yakin? Soalnya kalau pulang ke rumah bosan juga ya langsung tidur, pengen cari hiburan sebelum Ujian Nasional.” Ujar Arinda.

Oke. Arinda putuskan buat ikut mereka sekalian jalan-jalan. Selalu saja Nazira punya alasan untuk lihat sahabatnya tersenyum bukan mengurung diri di kamar—sedih lebih tepatnya.

“Sa nanti pakai tas ransel eh?” Seru Arinda langsung.

“Serah. Asal nanti kalau ko capek jan over ke sa eh?” Nazira sudah mengingatkan.

“Tenang, kan, ada Vlo yang baik hati tidak mudah ngeluh di mintai tolong. Apalagi sahabat sendiri.” Arinda cengir lebar ke arah sahabat berdarah Papuanya itu.

“Malas! Sa mau urus formulirku bukan mau sibuk angkat ko ransel yang berat itu!” Dengan tegas menolak.

Ya. Berarti tidak bisa beli banyak novel deh.

“Ais sa pakai ini sudah.” Mengenakan tas slim bag.

“Kalau mau beli novel jan titip di sa tas cup!” Kata Nazira malas tahu.

Fiuh. Sudahlah. Pasrah, tidak jajan novel buat banyak-banyak hari ini, nanti kena marah dan jatah jajan di potong sama Mama kalau ketahuan.

Oh pernah, “Vlo enak eh jadi Arinda, cantik, banyak cogan yang naksir sama dia. Lah apa kabar sa yang gaya kampungan tidak ada yang mau.” Saling menceritakan kelebihan masing-masing hanya di Vlo saja.

Bukan ke orangnya langsung, gengsi di selimuti malu.

“Nai ko itu sudah cantik dari hati. Dan ingat satu hal ini Arinda main sama kita bukan karena wajah tapi niat baikmu mau sahabatan dengan dia.” Lalu di balas dengan bijak oleh Vlo, tidak menjatuhkan.

Sisi lain, “Vey enak ya jadi Nai, su pintar, dapat ranking terus bisa menang lomba debat juga.” Arinda mengeluhkan soal porsi otaknya di bawah rata-rata tidak seperti Nazira yang pintar.

Habis.

Tadi sebelum pulang ke rumah Arinda, di sekolah duduk dulu di banku panggung sekolah.

“Nanti kalau su lulus kam bakal kangen duduk di bangku ini kah tra?” Nazira bersuara.

Arinda bahkan tidak menanggapi takut nanti kesedihan itu malas beranjak saat melihat kepergian mereka kejar cita masing-masing.

Sekarang, mereka sudah sampai di Gramedia Jayapura, “katanya besok su pada pembagian kartu Ujian Nasional. Ko jurusan yang duluan di bagi tuh, Rin.” Nazira menginfokan.

“Dengar dari mana kalau besok su pembagian kartu ujian?” Bingung Arinda.

“Jih makanya dengar pengumuman pas apel beberapa hari yang lalu kah! Ada juga di MADING sekolah, makanya jan hanya pintar baca novel tapi pintar-pintar baca informasi mengenai ujian di MADING sekolah.”

Kenapa Nazira ngomong jahat seperti ini? Bukan kah ia sendiri yang mendukung aksara adalah potensi tersembunyi Arinda yang akan membawakan sebuah prestasi, lantas kata-kata paling menggoreskan luka serta merobohkan pondasi kesepian penuh intimidasi dari orang rumah di sembunyikan lewat tawa, justru hancur begitu saja. []

Notes :

Kanjang \= Kantin Panjang

1
rrvln_
haiii
Adinda~
like
IF
3 serangkai ini. Keren Kak👌
Adinda~: Maciw
total 1 replies
moon struck traveller
Keluarkan semua babmu Thor! Mata ini masih kuad membacanya!
Adinda~: Siyap
total 1 replies
writer in box
salam hangat dari iya dia istriku
Tukang Kritik dan saran
ini jg Kak Thor, bnyk yg perlu di revisi katanya seperti absurt, rifleks dan masih bnyk lgi.
dan bagian bahas cowok Julio ini memang di singkat/potong tiba-tiba kok pembahasan jadi berbeda atau kah Adinda yang mengalihkan pembicaraannya atau siapa kah? terasa sangat singkat ceritanya di situ saya kira bakal ada plot twist disitu hehe
Adinda~: hallo, maaf baru respon, cerita My AVN sudah selesai revisi, makasih buat kritik dan sarannya ya🙂
total 2 replies
Tukang Kritik dan saran
kalau menurut saya bagusnya di angka nominal uang nya itu di tulis Rp. 255.000-, tapi itu terlalu detail jg sih
Tukang Kritik dan saran
paragraf ke-16-17 firman Allah nya yang bagian "Innama Kana qaulal-mu" di bagian bawahnya font-nya berubah jadi kecil & berwarna biru. Tolong di koreksi, makasih :)
Tukang Kritik dan saran: Sama-sama Kak hehe ^_^
total 2 replies
iNdahh
suka sama bahasanya 😂 lanjut thor
Kitoiyahi Toshi
Adinda nya keras kepala sekali sih jdi mau tidak mau harus di turuti keinginannya sama Ayunda nya
Adinda~: 😂🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Kitoiyahi Toshi
ayok lanjutin sampai TAMAT
Adinda~: uuuunnccchhhhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!