Sinopsis Global
"Hati-hati dengan ambisimu, karena dia bisa menumbuhkan taring di punggungmu."
Di dunia di mana Obsesi bukan lagi sekadar perasaan, manusia harus menghadapi kenyataan pahit: keinginan yang terlalu kuat akan bermutasi menjadi monster mengerikan yang memakan kewarasan mereka sendiri.
Satria, seorang pemuda yang terjebak di antara puing-puing peradaban, harus menelusuri misteri 7 Pilar Nusantara. Di setiap pilar, ada rahasia gelap dan ancaman mutasi yang siap merenggut kemanusiaannya.
Akankah Satria berhasil mengungkap kebenaran di balik pilar-pilar tersebut, atau justru dia yang akan menjadi monster berikutnya akibat obsesinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Gerbang Kelupaan
Tangga batu menuju puncak Anomali-02 tidak lagi terasa seperti pijakan bumi. Semakin tinggi kami mendaki, anak tangga itu mulai tertutup oleh lapisan keramik putih susu yang halus—teknologi Saptapala yang menyatu secara paksa dengan batuan purba. Di kanan dan kiri jalan, kabel-kabel serat optik transparan menjalar seperti akar parasit, berdenyut dengan cahaya ungu yang ritmis, seirama dengan napasku yang kian memburu.
"Jangan menoleh ke belakang, Satria," suara Mbah Gembong terdengar berat, gema tongkatnya kini terdengar diredam oleh udara yang semakin padat oleh muatan statis. "Kabut di bawah sana bukan lagi uap air. Itu adalah residu memori yang dibuang oleh mesin Kirana. Sekali kau menoleh, kau akan tersedot ke dalam penyesalan orang lain yang gagal melintasi gerbang ini."
Aku tidak menoleh. Tapi telingaku tidak bisa berbohong. Di balik deru angin pegunungan, aku mendengar jutaan bisikan yang tumpang tindih. Suara tawa anak-anak, tangisan bayi, hingga janji-janji setia yang tak pernah terpenuhi. Semuanya bercampur menjadi satu bising putih (white noise) yang menyakitkan, mencoba mencari celah di sirkuit sarafku yang sudah mulai retak.
“Tekan titik di belakang telingamu, Satria...” Suara Saras muncul, kali ini getarannya terasa seperti aliran air dingin yang membasuh otakku yang panas. “Gunakan energiku untuk menciptakan kesunyian. Kirana sedang mencoba melakukan 'Data Dumping' ke dalam sarafmu. Dia ingin otakmu penuh sesak oleh duka orang lain hingga kau tidak bisa lagi mengenali dirimu sendiri.”
Aku melakukan apa yang dikatakan Saras. Aku menekan saraf di balik telinga dengan jari obsidianku yang keras. Seketika, kebisingan itu mereda, digantikan oleh kesunyian yang hampa. Namun, di depanku, gerbang raksasa itu kini sudah berdiri tegak. Sebuah Candi Bentar yang telah dimodifikasi menjadi pemindai bio-metrik raksasa dengan laser ungu yang menyapu setiap inci tubuh kami.
"Subjek Terverifikasi: Satria (Unit 07 - Defector). Status: Terkontaminasi Residu Anomali-01," suara sistem keamanan bergema dari dinding tebing, dingin dan tanpa jiwa. "Protokol 'Re-Edukasi' Dimulai. Membuka Akses Zona Nadir."
Gerbang itu terbuka perlahan, mengeluarkan hembusan udara dingin yang berbau ozon. Di baliknya, bukan pelataran pura yang penuh sesajen, melainkan sebuah ruangan luas dengan lantai kaca transparan. Di bawah kaki kami, terlihat ribuan manusia yang sedang tidur di dalam kapsul-kapsul cairan ungu—Unit Harmonis yang sesungguhnya. Mereka bukan lagi warga desa; mereka adalah otak-otak yang dipanen untuk menjadi prosesor organik bagi pilar White Void.
Dan di tengah ruangan itu, duduk sesosok wanita di atas singgasana perak yang terhubung dengan ribuan kabel. Direktur Kirana.
"Selamat datang di pusat kesadaran, Satria," Kirana berdiri, langkah kakinya berdentang tajam di atas kaca. Dia tidak membawa senjata api. Dia hanya membawa sebuah bola kristal kecil yang berisi rekaman hologram yang berputar-putar. "Kau terlihat... berantakan. Obsidian itu mulai memakan dagingmu, bukan? Sayang sekali, padahal kau adalah prototipe yang paling indah."
"Hentikan semua ini, Kirana," geramku. Lengan obsidianku mulai berpendar emas, memicu protes dari Dirga yang ingin segera menerjang dan menghancurkan wajah perak itu. "Kau mengubah manusia menjadi komponen mesin. Kau mencuri memori mereka hanya untuk menjaga pilar sialan ini tetap tegak!"
Kirana tertawa kecil, suara tawanya begitu merdu hingga membuat pertahananku goyah sejenak. "Mencuri? Tidak, Satria. Aku menyimpannya. Manusia adalah makhluk yang rapuh karena mereka mudah lupa. Aku memberikan mereka keabadian. Di dalam sistemku, tidak ada rasa sakit karena kehilangan. Tidak ada duka karena kematian. Semuanya tersimpan abadi dalam frekuensi ini."
Dia melemparkan bola kristal itu ke arahku. Bola itu berhenti melayang tepat di depan wajahku dan memancarkan gambar seorang wanita yang sedang duduk di kursi goyang, menjahit sebuah baju kecil. Ibu.
"Ibuku bukan bagian dari sistemmu!" teriakku, tanganku menghantam bola itu hingga pecah menjadi ribuan serpihan cahaya.
"Oh, dia adalah arsitek dari sistem ini, Satria," kalimat Kirana membuat jantungku yang jarang berdetak mendadak berhenti. "Siapa menurutmu yang menciptakan algoritma sinkronisasi jiwa ini? Saptapala hanyalah penyandang dana. Ibumu... dia adalah orang yang menemukan cara agar manusia bisa 'hidup' di dalam pilar. Dia tidak mati karena eksperimen gagal. Dia mati karena dia memilih untuk menjadi 'Nyawa' bagi Anomali-02."
“DIA BOHONG!” Dirga meraung hebat di kepalaku. “HANCURKAN DIA SEKARANG! JANGAN BIARKAN LIDAHNYA MERACUNIMU!”
Tapi Saras terdiam. Keheningan Saras jauh lebih menakutkan daripada amarah Dirga. Seolah-olah dia sedang mengakui sebuah kenyataan yang selama ini dia sembunyikan dariku.
"Kau ingin bukti?" Kirana menjentikkan jarinya.
Dinding di belakangnya terbuka, menampakkan sebuah tabung besar berisi cahaya perak yang sangat murni—jauh lebih murni dari energi Saras yang selama ini membimbingku. Di dalam tabung itu, samar-samar terlihat wajah seorang wanita yang sedang memejamkan mata dalam kedamaian abadi.
"Itu adalah Core dari pilar ini. Itu adalah Ibumu," ucap Kirana dingin. "Dan jika kau menghancurkan pilar ini, kau tidak hanya menghancurkan Saptapala. Kau akan menghapus keberadaan Ibumu dari semesta ini untuk selamanya. Kau akan menjadi yatim piatu untuk kedua kalinya, Satria."
Aku terpaku. Tanganku yang obsidian perlahan turun. Rasa dingin yang menjalar dari lengan kiriku kini mencapai ulu hati. Untuk pertama kalinya, aku merasa obsidian ini mulai merambat ke jiwaku, membekukan setiap keinginan untuk melawan.
"Satria! Jangan dengarkan dia!" Mbah Gembong mencoba maju, namun sebuah dinding frekuensi ungu muncul dan melemparkannya kembali ke gerbang. "Itu adalah jerat Nafsu! Dia menyerang titik terlemahmu!"
Aku menatap tabung perak itu, lalu menatap tanganku sendiri yang sudah menghitam. Jika aku memukul pilar ini, aku membunuh Ibu. Jika aku membiarkannya, seluruh Nusantara akan menjadi penjara mimpi milik Kirana.
“Satria... lihatlah ke dalam retakan obsidianmu,” suara Saras kembali, sangat lirih hingga nyaris tak terdengar. “Kebenaran tidak berada dalam tabung itu. Kebenaran... berada dalam apa yang telah kau relakan.”
kamu punya penulisan yang bagus ya, semangat. jangan lupa mampir ya kalau ada waktu😹
keren luu🤟
semangat trs bang
setelah baca sampai chapter 6 ceritanya okeh cuma agak perlu effort lebih berfikir untuk memahami alur yang admin buat, berhubung gua sendiri suka anime overload jadi berasa special aja karena ada versi lokal.
semangat🔛🔥
ini komentar setelah baca sampai chapter 7
walau chapter 1 sampai 3 agak berat karena banyak informasi tapi setelah chapter 6 dan 7 cerita semakin okeh pembawa yang jelas dan nggak berat kek sebelumnya, mungkin di chapter awal nggak punya editor yah Kak😅, setelah punya editor terlalu malas revisi yang sudah di upload. 😂 kalau benar balas komen kak😂.