Indonesia
NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. "Aku mau menemui, mas Zaid!"

Matahari siang merambat naik, memancarkan kehangatan yang membiaskan bayangan dedaunan di halaman belakang. Di dalam rumah yang tenang itu, Nara baru saja terbangun dari tidur siangnya yang cukup lelap.

Efek dari malam sebelumnya, ketika badai dan ketakutannya menguras energi. Membuat rasa kantuk itu datang lebih cepat usai makan siang.

Nara beranjak dari tempat tidur, mengusap matanya pelan, lalu merapikan gaun santai serta kerudung instannya.

Ketika ia melangkah keluar kamar, suasana rumah terasa teramat lengang. Keheningan itu begitu kontras dengan kehangatan yang mengisi area dapur pagi tadi.

Nara menuruni anak tangga satu per satu, matanya bergulir mencari sosok pria yang semalam memberikan rasa aman luar biasa baginya.

Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Zaid di ruang tengah maupun area kerja. Hanya ada Mbok Tini, asisten rumah tangga senior yang sedang telaten menyapu dan menyapu debu halus di atas meja kayu ruang tamu.

"Selamat siang, Mbok," sapa Nara lembut, suaranya memecah keheningan rumah.

Mbok Tini menghentikan kegiatannya, lantas menoleh dengan senyum hangat khas seorang ibu.

 "Eh, Mbak Nara sudah bangun? Selamat siang, Mbak. Maaf ya, Mbok bikin bising atau gimana sampai Mbak Nara terbangun?"

"Enggak kok, Mbok. Nara memang sudah bangun sendiri," jawab Nara seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Pipinya agak memerah mendadak ketika mengingat bagaimana tadi pagi ia menyapa Zaid. Dengan sedikit ragu, ia akhirnya bertanya, "Emm... Mas Zaid... ke mana ya, Mbok? Dari tadi rumah sepi sekali."

Mbok Tini terkekeh pelan, seolah memahami arah pikiran pengantin baru di hadapannya.

"Oalah, mencari Mas Zaid toh? Mas Zaid itu kalau akhir pekan begini biasanya sudah pamit dari jam satu siang tadi, Mbak. Beliau pergi ke panti asuhan."

"Panti asuhan?" Dahi Nara berkerut halus, memancarkan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Iya, Mbak. Panti asuhan 'Kasih Ananda'. Itu panti yang didirikan sama Mas Zaid dan beberapa teman kuliahnya dulu. Nah, Si Mbok ini juga sebenarnya tinggal di area sana...

 ... Rumah Si Mbok yang sekarang itu dibantu dibangunkan sama Mas Zaid di lingkungan panti. Makanya Si Mbok juga ikut bantu-bantu bersih-bersih di sana kalau sedang tidak di sini."

Penjelasan Mbok Tini sukses mengetuk rasa penasaran di dada Nara. Bayangan Zaid yang selama ini dinilai kaku, dingin, dan amat logis oleh orang-orang di dunia bisnis, mendadak bergeser.

Pria itu ternyata menyimpan kepedulian yang amat dalam terhadap sesama, jauh dari kesan kaku yang kerap melekat padanya.

Nara selalu menyukai anak-anak. Setiap kali melihat senyum polos bocah kecil, ada kerinduan terpendam yang timbul di benaknya.

Sebagai anak tunggal, Nara selalu mendambakan kehadiran seorang saudara kandung untuk berbagi tawa dan cerita. Namun, takdir menentukan lain. Sebuah vonis dokter puluhan tahun lalu menegaskan bahwa Bunda Maya tidak bisa lagi mengandung setelah mengalami keguguran hebat tatkala Nara baru berusia lima tahun.

Keinginan memiliki adik pun terkubur bersama waktu, membuat cinta Nara pada anak-anak mengendap menjadi rasa kasih yang selalu haus akan ruang untuk disalurkan.

"Mbok... kalau boleh, Nara ikut Mbok ke panti sekarang bisa?" tanya Nara dengan mata berbinar penuh harap.

Mbok Tini tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar. "Tentu saja boleh, Mbak Nara! Tapi apa Mbak tidak capek?"

"Sama sekali tidak, Mbok! Tapi tunggu sebentar ya... Nara mau buatkan sesuatu dulu. Rasanya kurang pas kalau datang ke rumah anak-anak tanpa membawa oleh-oleh," ujar Nara antusias. "Gimana kalau Nara buatkan brownies panggang? Anak-anak pasti suka, kan?"

"Wah, pasti seneng banget itu mereka, Mbak! Ya sudah, mari Si Mbok bantu siapkan bahan-bahannya di dapur," jawab Mbok Tini tak kalah bersemangat.

Atmosfer dapur yang semula sepi mendadak riuh rendah oleh suara denting alat masak dan tawa renyah. Nara bergerak gesit memotong mentega dan cokelat batang untuk dilelehkan, sementara Mbok Tini dengan telaten membantunya menimbang tepung, gula, dan mengocok telur.

Aroma manis cokelat kaya yang pekat perlahan-lahan memenuhi seluruh penjuru dapur, menciptakan kehangatan yang makin melingkupi hati keduanya.

Tak butuh waktu terlalu lama, emapt loyang brownies dengan taburan keju dan almond selesai dipanggang. Warnanya cokelat keemasan yang menggoda, meredam rasa lapar siapa saja yang mencium aromanya.

Setelah membiarkannya agak dingin, Nara memotong-motongnya dengan rapi dan mengemasnya dalam wadah-wadah cantik.

"Selesai! Ayo Mbok, kita berangkat sekarang," pamit Nara seraya membawa dua tas kemasan berisi kotak bekal berikutnya panjang untuk membawa brownies.

.

.

.

Mereka berdua lantas memesan taksi online. Sepanjang perjalanan menembus lalu lintas kota yang lumayan lengang di siang menjelang sore itu, Mbok Tini banyak bercerita tentang kebaikan Zaid.

"Mas Zaid itu bagai malaikat penolong buat keluarga Si Mbok, Mbak Nara," ujar Mbok Tini dengan nada suara yang bergetar haru, menatap keluar jendela taksi.

"Dulu, rumah Si Mbok di kampung kena sengketa tanah sama pihak-pihak nakal yang tidak bertanggung jawab. Rumah Si Mbok digusur begitu saja, harta benda tidak ada yang tersisa. Kami sekeluarga terlunta-lunta."

Nara menyimak dengan takjub, tangannya meremas pelan jemari Mbok Tini yang keriput.

"Lalu, Mas Zaid yang waktu itu masih mahasiswa akhir dengar kabar soal musibah kami. Tanpa pusing-pusing, beliau memboyong keluarga Si Mbok ke kota. Beliau tidak cuma kasih Si Mbok pekerjaan, tapi juga buatkan rumah sederhana di dekat panti supaya suami dan anak Si Mbok punya tempat beralat tidur yang aman. Mas Zaid itu... dari luar memang kelihatannya tidak banyak bicara, dingin bagai es. Tapi hatinya, Mbak... hangat sekali."

Mendengar penuturan jujur dari Mbok Tini, dada Nara berdesir hebat. Senyum samar terukir di bibirnya. Sosok Zaid yang ada di pikirannya perlahan runtuh, berganti dengan gambaran seorang pria yang begitu tulus, penuh tanggung jawab, dan menyembunyikan kebaikannya rapat-rapat di balik sikap formalnya.

Nara merasa ada dorongan kuat di dalam dadanya, sebuah keinginan yang membuncah untuk bisa mengenal Zaid lebih jauh, bukan sekadar sebagai suami dalam ikatan perjodohan, melainkan sebagai seorang manusia berhati mulia.

Taksi online akhirnya berhenti di depan sebuah pagar hijau yang terbuka lebar. Sebuah papan kayu berukir rapi bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Ananda" menyambut kedatangan mereka.

Suara gelak tawa dan riuh gembira anak-anak langsung terdengar riuh memanjakan telinga begitu Nara menginjakkan kaki di halaman panti yang asri. Dedaunan pohon mangga yang rindang menaungi area bermain yang cukup luas.

Di tengah halaman rumput tersebut, pandangan Nara langsung terkunci pada satu sosok.

Zaid di sana. Pria itu menanggalkan kemeja rapinya dan hanya mengenakan kaus polos hitam dengan celana kain santai yang bagian bawahnya sedikit tergulung. Tidak ada raut kaku, tidak ada tatapan dingin berwibawa yang biasa ia perlihatkan di depan para kolega bisnisnya.

Di sana, Zaid sedang tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang belum pernah Nara lihat sebelumnya, sembari menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun di pundaknya.

Beberapa anak lainnya berlarian mengelilingi Zaid, menarik-narik ujung kausnya, memperebutkan perhatian dari pria yang mereka panggil 'Kak Zaid' itu.

Nara terpaku di tepi halaman. Sinar matahari sore yang condong membiaskan cahaya keemasan menerpa wajah Zaid, memancarkan pesona ketulusan yang luar biasa menawan.

Dada Nara bergemuruh pelan. Pemandangan di hadapannya terasa begitu hangat, melumerkan sisa-sisa rasa canggung dan ragu yang tersisa di hatinya.

"Kak Zaid! Ada Mbok Tini datang!" teriak salah seorang anak perempuan berambut kuncir dua sambil menunjuk ke arah gerbang.

Zaid menghentikan langkahnya, menoleh ke arah pintu masuk. Seketika itu juga, tawanya terhenti sejenak.

Matanya membelalak tipis saat mendapati Nara berdiri di samping Mbok Tini, memegang dua tas berisi brownies buatan tangan, lengkap dengan senyuman manis yang terkembang hangat di bibirnya.

Zaid perlahan menurunkan anak di pundaknya, lalu melangkah mendekat dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keterkejutan, namun juga ada pendar hangat yang merekah indah di matanya.

"Nara?" panggil Zaid pelan, suaranya sarat dengan rasa tidak percaya. "Kamu... kenapa ada di sini?"

Nara melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Senyumnya kian melengkung indah, menatap langsung ke dalam manik mata pria yang kini resmi menjadi pelindungnya.

"Aku mau bertemu Mas Zaid," bisik Nara lembut namun mantap. "Dan aku membawa sesuatu untuk adik-adik di sini."

1
Apriyanti
Alhamdulillah sdh bersama
lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga Nara jg jatuh cinta pd zaid
Apriyanti
wah so sweet bgt si🤭
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah semoga mereka cepat jatuh cinta🙏
Apriyanti
wah sampe ikutan nahan nafas aku thor 🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!