Indonesia
NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bentrokan Pertama

Pagi itu, GOR kota benar-benar berubah menjadi lautan seragam olahraga sekolah SMA Negeri Nusa Bangsa. Di dominasi oleh warna putih yang berpadu dengan setelan bawah berwarna biru muda. Bagaikan awan putih di atas permukaan samudra.

Tribun bagian utara dan selatan telah dipenuhi siswa dari berbagai kelas. Karton-karton bertuliskan nama masing-masing kelas digoyangkan begitu meriah. Sebagian lainnya bahkan sudah berdiri di tepian pagar pembatas, sembari meneriakkan yel-yel sambil menunggu pertandingan dimulai.

Di bawah terik matahari, stadion tetap terasa nyaman berkat tribun beratap lebar yang memberikan teduh bagi para penonton.

Sisi lapangan dikelilingi oleh lintasan lari dengan alas kecokelatan dengan garis-garis putih. Sedangkan di sisi selatan, terdapat area khusus latihan yang biasa digunakan pengunjung untuk berlatih mandiri.

Dan di tengah-tengah stadion, terbentang arena utama bentengan.

Dua buah menara kecil berdiri di sisi berlawanan. Keduanya dibuat dari tongkat Pramuka yang disusun dan diikat sedemikian rupa hingga membentuk menara sederhana.

Di sisi timur, sehelai bendera Merah Putih berkibar diterpa angin. Sementara di sisi barat, bendera Gugus Depan berkibar dengan irama yang sama—dengan jarak antar keduanya yang cukup jauh.

Dan di antara kedua menara itu...

Tidak ada apa-apa.

Hanya hamparan lapangan.

Sebuah ruang kosong yang sebentar lagi akan dipenuhi teriakan, langkah kaki, dan kejar-kejaran.

Di tribun khusus dekat garis lapangan, beberapa guru telah duduk, sembari memperhatikan euforia arena dengan begitu serius.

Di beberapa sudut stadion, para anggota OSIS dengan seragam almamater mereka yang berwana biru muda nampak mondar-mandir memastikan semua perlengkapan siap.

Di salah satu pintu masuk arena, sepuluh siswa 10 IPS 1 berdiri berjajar.

Mereka mengenakan pakaian olahraga dengan ikat kepala yang terbuat dari hasduk merah-putih Pramuka. Armband berwarna biru di lengan atas sebelah kiri bagi tim IPS. Dan armband berwarna merah bagi kelas bahasa.

Wajah-wajah mereka terlihat berbeda dibandingkan kemarin di kelas.

Tidak ada lagi candaan. Tidak ada lagi debat mengenai siapa yang cocok menjadi pemain. Kini mereka berdiri seperti sebuah tim yang benar-benar akan bertanding.

Suasana stadion semakin bergemuruh ketika kedua tim akhirnya dipanggil memasuki arena. Kedua tim memasuki lapangan dengan seremoni yang hampir menyerupai pertandingan sepak bola profesional.

Tidak ada bola.

Tidak ada gawang.

Bahkan tidak ada rumput stadion yang harus dijaga mati-matian.

Hanya dua benteng dari tongkat Pramuka.

Namun ekspresi kedua puluh pemain itu, seolah mereka akan memainkan pertandingan final Piala Dunia.

Di bagian paling depan berjalan Pak Firman, guru olahraga yang ditunjuk sebagai wasit utama. Di belakangnya, dua guru lain berjalan dengan mengikutinya sebagai asisten wasit.

Seorang guru Bahasa Indonesia.

Dan seorang guru Bahasa Daerah.

Ketiganya berjalan tenang nan gagah—memasuki arena dengan wajah profesional.

Sementara sepuluh siswa dari masing-masing kelas mengikuti di belakang dengan langkah yang sama-sama tangguhnya.

Setelahnya,

"IPS SATU!"

"BAHASA DUA!"

"AYO!"

Tepuk tangan menggema di seluruh stadion. Beberapa siswa bahkan berdiri dari bangku tribun sembari berjingkrak-jingkrak penuh antusias.

Ketika pada akhirnya keduapuluh pemain itu telah sampai, mereka berhenti serentak mengikuti aba-aba Pak Firman. Lalu bergerak untuk saling berdiri berhadap-hadapan.

Sepuluh siswa 10 IPS 1 di satu sisi.

Sepuluh siswa 10 Bahasa 2 di sisi lainnya.

Saling pandang.

Tidak ada yang tersenyum.

Tidak ada yang bergerak.

Tatapan mereka mulai saling mengukur.

Siapa yang cepat?

Siapa yang kuat?

Siapa yang terlihat mudah dipancing?

Bahkan mungkin...

Ada beberapa yang sudah mencibir dalam hati.

Di antara dua barisan itu, Melody berdiri dengan santai dengan senyum percaya dirinya. Pandangannya memperhatikan musuh-musuh yang kini terlihat sedang meremehkan dirinya.

Namun ketika pandangannya menangkap cowok itu—cowok yang nama dadanya tertulis Rizki—dirinya nampak memicing penuh kesan meremehkan.

Tatapannya turun sebentar untuk melihat dua perempuan di dalam tim 10 IPS 1. Kemudian ia melihat kembali rekan-rekannya yang semuanya laki-laki.

Rizki tersenyum miring. Tangannya menarik sedikit ujung lengan baju olahraga hingga memperlihatkan lengan atasnya. Bahkan armband-nya yang berwarna merah pun ikut tersingkap.

"Ini nggak salah nih?"

Melody mengangkat alis.

Rizki malah terkekeh.

"Gue bakalan lawan cewek?"

Beberapa anggota timnya sontak tertawa kecil.

Namun itu tak membuat Melody sedikitpun merasa gentar. Bahkan senyumnya malah terangkat tipis.

"Kenapa?"

Rizki mengangkat alis sebelah.

Melody menunjuknya.

"Takut?"

Seketika senyum Rizki menghilang.

Beberapa siswa 10 IPS 1 mengerjap tak percaya.

Melody kemudian menunjuk nama yang tercetak di bagian dada seragam olahraga Rizki.

"Pantau gue terus ya, Rizki!"

Rizki menyeringai.

"Boleh."

Ia menunjuk balik Melody.

"Tapi kalau gue berhasil nangkep lu duluan, jangan nangis."

Melody justru menyeringai.

"Siapa bilang gue bakal lari?"

Melody membalas dengan menyingsingkan lengan bajunya. Entah apa yang ingin ia pamerkan dengan lengan rampingnya itu.

Angga yang tak sengaja memergoki kejadian itu pun langsung berbisik.

"Ssst! Melody! Fokus."

Namun Melody malah terkikik.

"Kenapa?"

Ia melirik Angga.

"Aku kan pemecah fokus."

Ia kembali menatap Rizki.

"Suka-suka dong."

"Melody!!" desisan Angga kali ini lebih keras.

Karena kemampuan Melody sebagai pemecah fokus ternyata sudah bekerja bahkan pertandingan belum dimulai.

Namun sebelum Melody sempat menjawab—

"Baik, Anak-anak."

Suara Pak Firman membuat seluruh kepala langsung menoleh. Suasana yang sebelumnya tegang dengan tatapan saling memicing pun kembali tenang.

Di antara kedua tim, Pak Firman membuka buku kecil berwarna hitam mengkilap, dan pita pembatas berwarna merah gelap. Di beberapa lembar halaman, tertulis peraturan yang telah disepakati panitia dan guru.

"Peraturannya sama seperti bermain bentengan waktu kalian kecil."

Beberapa siswa mengangguk.

"Berlari, menghindar, dan menyentuh pemain lawan."

Pak Firman mengangkat bukunya sedikit.

"Setiap kali kalian menyentuh benteng sendiri, kalian mendapatkan pangkat tertinggi sementara. Pemain yang baru saja menyentuh benteng dapat mengejar pemain lawan yang pangkatnya lebih rendah."

Beberapa siswa mulai memperhatikan lebih serius.

"Dan begitu pun sebaliknya."

Pak Firman membalik halaman. Suara kertas terdengar jelas di tengah keheningan.

"Yang berhasil menyentuh benteng lawan..."

Ia berhenti.

"...dia mendapat poin."

Beberapa siswa menelan ludah.

Kemudian Pak Firman melanjutkan.

"Pertandingan berlangsung selama tiga puluh menit."

Ia mengangkat tiga jari.

"Jika skor akhir masih seimbang, pemenang akan ditentukan berdasarkan statistik permainan."

Melody langsung menoleh kepada Angga.

"Sama kayak yang Yuna bilang."

Angga hanya mengangguk.

"Ya."

Pak Firman kembali membaca.

"Untuk pelanggaran..."

Tatapannya mengarah kepada kedua tim.

"Tidak boleh menggunakan senjata."

Beberapa anak langsung menahan tawa.

"Tidak boleh menggunakan kekerasan."

Pak Firman menurunkan bukunya sedikit.

"Karena dalam permainan ini, cukup dengan menyentuh pemain lawan yang pangkatnya lebih rendah, kalian sudah berhak menjadikannya tawanan."

Beberapa siswa langsung mengangguk.

"Jelas?"

"Jelas, Pak!"

Pak Firman mengangguk.

Kemudian—

Tok!

Buku kecil itu ditutup. Suara tersebut terdengar cukup keras hingga beberapa siswa tersentak kecil.

Beliau tersenyum.

"Kalau begitu..."

Ia mengangkat peluit.

"Selamat bermain."

Kedua asisten wasit mengambil posisi masing-masing.

"Dan ingat."

Pak Firman menatap seluruh pemain.

"Menang dengan sportif."

Kemudian ia meniup peluit pendek.

PRIIIT!

Kedua tim segera bergerak.

Namun sebelum berpencar, mereka saling berjabat tangan terlebih dahulu.

Satu per satu.

Ramah.

Sportif.

Profesional.

Setidaknya...

Untuk beberapa detik.

"Ayo! Semangat, semangat!"

Pak Firman bertepuk tangan keras. Membuat para pemain mulai berlari menuju base masing-masing.

Melody berlari sambil menoleh ke belakang. Namun tanpa sengaja pandangannya kembali bertemu dengan Rizki yang juga sedang berlari menuju sisi berlawanan.

Ia melambai kecil sembari tersenyum riang.

Mungkin terlalu riang.

"Bye-bye, Rizki!"

Rizki langsung menoleh.

"Fokus yaa!"

Melody terkikik.

Kemudian berlari lebih cepat mengikuti teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai.

Rizki mengepalkan tangannya. Tanpa menghentikan larinya.

"Gue tangkep elu ya, anjir!"

Teriakannya tenggelam dalam riuh stadion.

Beberapa saat kemudian, kedua tim sudah berada di wilayah masing-masing.

Dua menara tongkat berdiri di belakang mereka.

Bendera Merah Putih berkibar di sisi tim 10 IPS 1.

Bendera Gugus Depan berkibar di sisi 10 Bahasa 2.

Angga sebagai pusat koordinasi.

Andito dan Rendy sebagai sayap.

Ega sebagai finisher.

Melody sebagai pengalih.

Rio, Michel, dan Jevan sebagai defender.

Rachel dan Kadek sebagai pengamat base.

Mereka semua menunggu.

Mengamati.

Angga memindai formasi timnya sendiri. Juga formasi tim lawan yang tampak tak berdiri dengan posisi asal.

Pikirannya kembali mengingat susunan yang dibuat di kelas.

Captain.

Dua sayap.

Tiga defender.

Satu finisher.

Satu pemecah fokus.

Dua keeper.

Semuanya sudah berada pada tempatnya.

Angga mengangkat tangannya.

"Jangan gegabah. Fokus..."

Semua mengangguk.

Kemudian tatapannya beralih ke gadis yang ada disampingnya.

"Kecuali Melody."

Mendengar itu, Melody langsung menyeringai.

Angga pun ikut terkekeh kecil melihat ekspresinya, dan kembali menghadap ke depan.

Di seberang lapangan, tim 10 Bahasa 2 juga mulai mengambil posisi. Membentuk pola lingkaran yang saling mengelilingi base. Sedangkan tiga orang nampak berdiri di depan sembari meregangkan otot-ototnya.

Kedua tim saling berhadapan dari jarak yang cukup jauh.

Angin berembus melewati lapangan. Suara bendera-bendera berkibar membuat suasana semakin menegangkan.

Sorakan tribun perlahan berubah menjadi gumaman tegang. Seolah-olah seluruh stadion sedang menunggu sesuatu.

Angga mengepalkan tangan.

Tatapannya mengunci base lawan.

Dan untuk beberapa detik, lapangan itu terasa benar-benar seperti medan pertempuran.

Bukan karena ada kekerasan.

Bukan karena ada senjata.

Melainkan karena dua puluh siswa telah datang dengan satu tujuan yang sama.

Menyentuh benteng lawan.

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Yuna cepat juga mengambil kesimpulan, aku aja masih menerka-nerka tadi🤭
Moon.: kak? kok bisa kamu ikut²an
aku aja ngegambarinnya abstrak lohhh 😭
total 1 replies
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
rl, kesel banget
My_Lucia
andito udah kena pesona Yuna 🤭
My_Lucia
kereunn otodidak
My_Lucia
habis Olga emng seger minum es 🤭
Mochi
yuna pinter juga ya. eh ini sih authornya yg pinter😄
Mochi: 🏃‍♀️💨💨 kabuuuur
total 2 replies
Mochi
aku juga jd ikut nungguin pendapat yuna
Alia Chans
ngefans banget ama Yuna /Smile//Smile//Smile/
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Pasti dari sekolah lain yang lagi nugas juga, nih
Moon.: bener bangett
total 1 replies
Mochi
ayo yuna.. keluarkan pendapat dan analisamu👍
Mochi
Anggaaa.. ikut tutup muka ngga🤣🤣🤣
Moon.: eh salah namaaa
seharusnya anditoo😭😭😭
total 1 replies
Mochi
menurutku ini paling susah nih. krn harus cari keseluruh area sekolah
Moon.: bagi anak PMR, ini mudah bangett🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
abang Yuda nggak mau kalang deh🤣
Alia Chans
Andito ama Yuna kayanya gk buruk thor🤣🤣🤣
Moon.: bolehh
tapi kan masih ada 2 pesaing lain 🤭🤭
total 1 replies
My_Lucia
ayoo melody semangat... bisa ga ya dia .. 🤭
My_Lucia
wih.. mulai protektif ni🤭
My_Lucia
judulnya bikin penampilan.. kedok nya siapa ini
Moon.: yahh begitulah si MC kita Yuna. terlalu analisis, tapi mencoba untuk bersikap normal wkwk
total 3 replies
Syahira🌹
Melody yang sabar yaaa🤣🤣
Mochi
bakalan seruuu ini
Moon.: seru banget donggg
total 1 replies
Mochi
tetnyata yg di kelas ini malah bersemangat👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!