Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:44.8k
Nilai: 5
Nama Author: aqikaforshort

Langit menerimamu apa adanya, tugasku melepasmu sebisanya.

~

Alana mencintai Ananta. Tapi pada kenyataannya, cinta tidak cukup untuk membuat Alana bahagia. Daripada cinta, Alana lebih butuh waktu. Waktu untuk hidup lebih lama bersama Ananta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aqikaforshort, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga puluh satu. harapan

Sudah satu minggu, hari-hari Alana masih sama. Bolak-balik dari kamar asrama, sekolah dan rumah sakit. Walau rumah sakit menjadi tempat yang paling lama dia kunjungi.

Alana sudah sangat sering izin kepada guru, sampai akhirnya dia jujur kalau dia memang harus ke rumah sakit karena keadaan Ananta semakin parah. Dengan terpaksa dia harus menjelaskan panjang lebar tentang riwayat penyakit Ananta dan betapa setiap detik waktu sangat berharga saat ini.

Dia sangat sadar, dia bisa kehilangan Ananta kapan saja. Ditambah lagi, Arkan yang juga masih dalam keadaan koma. Alana hanya bisa mengharapkan keajaiban terjadi bagi kedua anak laki-laki itu.

Hari minggu tiba, kali ini Alana sudah datang ke rumah sakit pagi-pagi, kali ini langsung ke kamar Ananta yang terlihat lemas. Intensitas sakit di dadanya sudah menurun, meski ayahnya bilang keadaannya belum benar-benar membaik.

Alana mengamati anak laki-laki itu dengan seksama. Ananta sedang makan sekarang, sedikit tidak berselera karena menu yang hampir sama setiap hari. Terlebih rasanya hambar membuatnya ingin meminta Alana menyelundupkan makanan dari luar untuknya andai Ayah Alana tidak melarangnya.

"Hummm, makananmu terlihat sangat enak." Ananta mengintip bungkusan nasi yang di bawa Alana ke kamar, Alana belum sempat makan pagi ini. Akhirnya dia sarapan bersama Ananta di ruang rawat inap yang sedikit berbau obat-obatan sampai menurunkan selera makan.

"Apa. Makan makananmu sendiri" Ucap Alana menjauhkan bungkusan nasinya saat melihat Ananta seperti akan merebutnya dengan paksa.

"Aku makan buah saja kalau begitu" Balas Ananta. Yah, rasa buah jauh lebih enak dilidahnya daripada hidangan hambar itu. Olahan ayam pun rasanya tidak enak.

"Makan nasi juga." Alana berubah menjadi ibu-ibu galak sekarang. Ibu Ananta yang duduk disampingnya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Ah, andai takdir mereka lebih baik dari ini pikir perempuan paruh baya itu menatap sendu.

Tak lama setelahnya ayah Alana datang untuk mengecek keadaan Ananta. Ini adalah hal rutin yang selalu dia lakukan setiap hari selama Ananta dirawat.

Kali ini dia melirik ke arah anaknya yang sedang menatap cemas pasiennya. Pagi ini ada keajaiban kecil terjadi, namun dirinya tidak yakin apa hal ini termasuk hal baik atau buruk untuk Ananta.

Setelah selesai memeriksa keadaan Ananta, ayah Alana itu memberi isyarat agar Alana mengikutinya ke ruangannya. Hal ini harus di dengar Alana lebih dulu sebelum dia memberitahu Ananta.

Alana menatap lekat ayahnya yang menghela nafas kasar. Dia ragu, sangat ragu. Apa dia boleh mematahkan harapan orang lain seperti ini?

"Teman kamu... Sudah sadar." Ucapnya dibalas oleh tatapan Alana yang sulit dimengerti, bahkan Alana sendiri tidak yakin apakah dirinya sedang bahagia atau kecewa.

"Keadaannya sudah mulai stabil sejak tadi malam. Dan menurut prosedur rumah sakit pun, kita tidak bisa memintanya untuk menjadi pendonor." Lanjut ayah Alana menjelaskan situasi.

"Keadaan berubah Alana. Ayah tidak tahu mau mencari harapan di mana lagi." Ucapnya dengan putus asa. Pengobatan yang sekarang dijalani Ananta pun tidak sepenuhnya mengobati, hanya bisa membantu fungsi jantungnya meski tetap saja penyakit Ananta menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

"Aku harus bahagia kan," Ucap Alana menatap kosong, membuat ayahnya menghentikan kalimatnya.

"Temanku selamat." Air mata Alana menetes lagi. Entah, dia tidak yakin apa penyebabnya. Alana menangis cukup lama di depan ayahnya. Dia baru berhenti saat dering handphone nya berbunyi, Itu Bella yang mau memberikan kabar bahagia, kabar yang barusan juga di dengarnya sendiri.

Alana mengusap air matanya kasar sebelum beranjak dari tempatnya duduk. Dia berpindah ke teras rumah sakit yang cukup sepi sebelum mengangkat panggilan itu.

"Alana..." Panggil bella yang juga terdengar menangis... Bahagia.

"Iya bella, kenapa." Alana menahan isakannya supaya tidak terdengar di seberang sana.

"Arkan...." Bella memberi jeda lama sebelum melanjutkan perkataannya.

"Arkan bangun. Harapan itu tidak sia-sia Alana. Arkan bangun" Ucap Bella di sela isakan yang masih terdengar samar-samar.

"Syukurlah..." Hanya kalimat itu yang bisa Alana katakan. Dia juga sama... Menangis. Meski karena hal yang jauh berbeda dengan penyebab tangisan Bella.

Alana meminta ayahnya untuk memberitahu Ananta tentang hal ini. Lebih baik jujur saja tentang semuanya. Lagipula, donor jantung itu sudah pasti tidak bisa di lakukan lagi.

Setelah memastikan dirinya tidak terlihat berantakan, Alana kembali ke ruangan Ananta. Dia melihat Ananta yang memakan kue manis yang dibelinya pagi ini. Dia hanya membelikannya untuk ibu Ananta, karena dia belum yakin apa Ananta sudah boleh memakan nya.

"Hei... Itu buat tante bukan buat kamu." Ucap Alana tersenyum melihat Ananta buru-buru menjejalkan kue itu ke mulutnya.

"Huh. Jangan banyak-banyak" Lanjut Alana. Semakin dilarang pasti semakin menjadi-jadi. Lebih baik dibiarkan tapi dibatasi.

Alana tersenyum tipis saat Ananta membisikkan terimakasih dengan suara yang lirih karena mulutnya masih belum berhenti mengunyah.

Alana tahu, Ananta pasti sudah bosan dengan segala hal tentang rumah sakit. Anggap saja kue ini menjadi sedikit penghibur buatnya.

Namun suasana kembali hening saat Ayah Alana masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan berita buruk. Sekali lagi pria paruh baya itu menghela nafas panjang sebelum bicara.

"Pendonor yang kita harapkan, sudah pulih dari koma. Dan kita tidak bisa lagi meminta donornya."

"Maaf, saya tidak menyangka hal ini akan terjadi. Maafkan saya karena sudah memberikan harapan kosong ini kepada nak Ananta." Ucapnya. Alana hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak berani menatap ekspresi Ananta sekarang.

"Syukurlah. Itu artinya orang itu selamat kan." Ucap Ananta di tengah keheningan.

"Awalnya aku khawatir, karena harus merenggut kehidupan orang lain untuk kesembuhanku. Tapi dengan begini, aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal itu lagi kan." Ucap Ananta yang tersenyum. Alana melirik sedikit saat Ananta menyelesaikan kalimatnya.

Tapi itu artinya hilang harapan lain untuk kesembuhanmu Ananta...

Alana ingin mengucapkannya dengan lantang tapi sebisanya dia tahan. Dia tidak ingin menjadi jahat disini.

"Dan identitas pasien itu satu sekolah dengan kalian." Lanjut ayah Alana, Ananta melirik sekilas ke arah Alana yang terlihat salah tingkah. Alana tidak terlihat terkejut sama sekali yang artinya Alana sudah tahu siapa orangnya.

"Namanya Arkan." Lanjutnya diiringi dengan senyum pahit. Ananta mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Alana. Kini dia paham dengan alasan Alana menangis beberapa hari lalu. Gadis itu pasti sudah memikirkan banyak hal di kepalanya, Lagi-lagi gara-gara Ananta. Ananta justru merasa bersalah karena sudah membuat Alana terlibat dalam skenario yang memusingkan itu.

"Hmmm. Syukurlah." Ucapnya sekali lagi. Jujur, dia mengatakannya dengan tulus. Ananta tidak bodoh, dia tahu dia sudah melepaskan harapan hidupnya lagi. Tapi saat dia tahu bahwa itu artinya temannya selamat dari kematian membuatnya semakin mudah menerima takdir sekali lagi.

1
aqikaforshort
udah nemu plot tapi masih nyicil, hehe
Wulan Bahrain
up nya dikit thor
Wulan Bahrain
sukaa banget ceritanya...menyentuh baper terus aku tuh klu baca kisah ananta dan alana
Rendy Avian
di tunggu kelanjutan nya
Rendy Avian
assalamualaikum. lanjut thor fittingly.
aqikaforshort: siaaap
total 2 replies
Muldiana Imogen
nyimak dulu thor
rani85
😭😭😭kasian sama ka rosi di tinggal adiknya meninggal. . semoga ananta lekas sembuh ya
Roni Barbek
crita nyh bnyk bawangg jdi nangis trs bca nya,,tpi aku ska sma crita nyh smngtt ya kk
rani85
lanjutt
rani85
semangat ananta, lekas sembuh ya!!
rani85
sembuhkan ananta thor
rani85
bagus thor ceritanya
aqikaforshort: terimakasih banyak kak... (っ'-')╮=͟͟͞͞💌
total 1 replies
rani85
pilihan sulit. . pengen dua2nya hidup az thor jgn ada yg mati slh satu
rani85
aq kepikiran nya seumpama nya arkan mati trus jantungnya di donorin ke ananta nanti bella deketin ananta donk secara ada bagian arkan dlm tubuh ananta dan gmn klo nanti ananta goyah sama perasaannya krn ada jntung arkan dlm tubuhnya yg merasakan cinta yg besar terhadap bella semasa arkan msh hidup. .
rani85
kasian klo arkan mati. . cari pendonor lain az buat ananta. .
rani85
sembuhkan arkan thor jgn di buat end karakter arkan thor
rani85
menurutku cinta ananta dan alana msh abu2 blm jls mau di bawa kmn. . sekalipun sudah bersama sejak kecil dan ada perasaan sama2 saling suka tp kita gak akan tau kmn hati akhirnya akan berlabuh apalagi melihat alana dan arkan yg sepertinya se frekuensi bisa2 tumbuh rasa cinta krn terbiasa dan nyaman jgn sampe arkan jd pebinor deh. . kasian ananta nantinya. .
rani85
yang kuat ananta
aqikaforshort
nice...
rani85
raka siapa thor??
aqikaforshort: tapi sekarang udah di ganti kesini dengan nama yang beda.. maaf ya bikin bingung
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!