Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Telah Memilih

Ketika Hati Telah Memilih

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: rosnila

Maira adalah seorang gadis yang bekerja disebuah perusahaan swasta ,saat ini usia maira menginjak 26 tahun namun maira belum juga ingin menikah. pengalaman kelam nya tentang cinta membuat nya tak ingin jatuh cinta lagi, dia tidak Berani membuka hati nya untuk lelaki mana pun.

Hal fatal apa yang sebenarnya pernah dilewati oleh maira? dan akan kah maira memutuskan untuk tidak menikah selama nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata suamiku seorang CEO

Amar, masih menatap ku saat itu, namun belum juga memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan, apa itu artinya dia sedang mencari jawaban yang tepat untuk ku?

"Kalau mas tidak ingin menjawab, tidak apa-apa." Jawab ku sedikit kikuk karena tatapan Amar yang tak menjauh dari ku.

"Itu semua bukan pertanyaan yang sulit."

"Tapi kenapa kamu ingin tau semua itu."

"Mas, kita sekarang telah menikah atas dasar apapun itu, yang jelas hubungan kit telah sah Dimata hukum dan agama." jawab ku panjang lebar.

"Bukan kah tidak baik kalau masih ada rahasia diantara kita?"

"Jawaban apa yang kamu inginkan saat ini?"

" Apapun kejujuran mas, aku akan terima." jawab ku sambil sedikit tersenyum.

" bagaimana kalau yang kamu tau tentang ku selama ini begitu jauh berbeda?"

"Maksud mas?"

"Aya berbeda dari yang sudah kamu ketahui."

"Kita menikah bukan atas dasar harta atau apapun kan?"

"Semua hanya karena." aku menggantung perkataan ku, akan tetapi langsung disambung oleh Amar.

"Perjodohan kan?"

"Tapi itu kenyataan nya kan mas?" tanya ku lagi.

"Sudah lebih baik kita lupakan itu, bukannya kita kesini untuk jalan-jalan?"

"Apa Mas akan mungkin dari jawaban?" tanya ku kali ini sambil bercanda.

"Kalau kamu ingin tau Hendra itu siapa, kamu pasti sudah dengar dari Hendra kan?"

" Dia memang benar sekretaris di kantor."

"Kantor siapa?" tanya ku sambil menopang dagu dengan kedua tangan.

"Kantor kita."

"Kita?" tanya ku meyakinkan perkataan Amar.

"Iya, bukan kah semua yang aku miliki saat ini adalah milik kita berdua?" tanya nya, kali ini aku melihat tatapan itu begitu meyakinkan ku.

" Jadi aku dipesantren Abi hanya membantu Abi mengelola pesantren saja, selain itu aku bekerja di sini."

"Dan apartemen yang kita tempati sekarang adalah milik kita."

"Aku tau kamu pernah berpikir dan ragu menikah dengan ku, karena kamu takut kalau aku adalah seorang ustad yang mengenakan kain sarung dan baju Koko seperti Abi kan?" tanya nya.

Namun kalau ini Amar mendekatkan wajah nya kepada ku, membuat posisi ku terdesak, aku langsung duduk dengan tegap, benar saja jantung ku tak dapat di kondisikan.

"Apa itu artinya, kita akan tinggal disini?" tanya ku.

"Seharusnya begitu."

Aku terdiam, apa benar aku harus tinggal disini jauh dari keluarga, walupun aku tau saat ini aku hidup bersama seorang suami.

Tapi kalau bisa aku masih ingin bekerja, tapi aku tau pasti Amar keberatan akan hal itu. Karena dari saat kita menikah dia sudah mengatakan tak ingin aku bekerja lagi.

Setelah semua pembicaraan itu terjadi, aku tak lagi bertanya apapun, kami hanya menikmati suasana ditempat itu, dan Kemabli ke apartemen, karena aku memang sudah mengantuk.

Begitu Sampai seperti biasa aku membersihkan diri dan juga wajah dikamar mandi, lalu segera naik ke tempat tidur untuk istirahat.

Entah kenapa jantung ku jadi tidak baik-baik saja, apalagi tumbenan Amar naik ketempat tidur, dan duduk disamping ku yang sudah berbaring.

"Mas tidur disini?" tanya ku ragu-ragu.

"Iya, apa ada yang salah?" masih mainkan handphone nya.

Aku yang baru saja berbaring pun ikut duduk di samping Amar. Malam itu dia hanya mengenakan celana pendek dan juga kaos oblong berwarna putih.

Yang memperlihatkan otot-otot ditangannya saat itu, aku mencoba menenangkan jantung ku saat itu, dan aku takut kalau Amar mendengar suara detak jantung ku yang tak bisa di ajak kompromi, bisa-bisa aku malu dengan Amar.

"Kenapa tidak jadi tidur?" tanya nya heran.

"Aku belum mengantuk" Jawab ku, namun benar-benar lah suasana tidak mendukung bersamaan dengan perkataan ku , aku malah menguap.

Amar pun tertawa melihat ku saat itu, tentu saja itu membuat ku jadi serba salah.

"Kalau ngantuk tidur saja." bicara dengan mimik wajah serius.

Aku hanya diam saja, dan ikut bermain handphone sama seperti Amar, agar aku tak mengantuk, namun sayang nya aku malah semakin mengantuk, dan aku tak sadar tertidur pulas, dengan bersandar di pundak Amar.

Amar yang saat itu melihat maira tertidur di pundak nya, hanya tersenyum. dan mengangkat pelan tubuh maira untuk tidur dengan benar di atas bantal. Dan Amar juga ikut berbaring disamping maira.

"Maaf kan aku maira, kalau aku belum bisa mencintai kamu." sayup -sayup maira masih mendengar perkataan Amar.

Tapi itu terasa bagaikan mimpi saja, karena maira Kembali tertidur dengan pulas, dipeluk mimpinya.

Keesokan pagi, aku sudah bangun begitu juga dengan Amar, setelah sholat subuh kami duduk sambil menikmati teh hangat.

"Apa kita sarapan dibawah saja mas?" tanya ku.

"Sarapannya sebentar lagi sampai."

"Sudah dipesan?"

"Sudah." jawab Amar sambil menyeruput teh hangat yang ada dihadapan nya.

 Seperti biasa pagi itu kami habiskan dengan sarapan dikamar, dan bercerita hal-hal kecil. Sekitar pukul 09.00 pagi mas Amar pun meminta ku untuk bersiap-siap, tapi tidak mengatakan kami akan kemana.

Aku hanya menurut saja, dan ikut kemana aku akan di ajak, mobil milik Amr pun berhenti disebuah gedung tinggi, aku bisa tau kalau itu sebuah pusat perkantoran.

Dan tanpa bertanya apapun, aku hanya ikut bersama dengan Amar masuk kedalam gedung tersebut. Aku berjalan perlahan, namun tiba-tiba Amar meraih jemariku dan menggenggam nya.

Apa mungkin saat itu dia tau kalau aku merasa tak nyaman berada di tempat asing dan dilihat oleh banyak orang? Dan saat akan memasuki lift kami pun bertemu dengan pri yang kemarin bertemu Amar, yaitu Hendra.

"Bos!" panggil nya.

"Apa hari ini ada meeting?" tanya Amar.

"Aman bos." jawab Hendra sambil nyengir.

"Wah, ini rupanya ratunya bos ya?"

"Pantas saja tidak pernah diperkenalkan kepada kami, cantik begini." ucapan Hendra hanya membuat ku tersenyum simpul.

"Sudah, jangan banyak bicara, tolong handel semua pekerjaan hari ini." jawab Amar datar.

Ternyata suamiku itu Memeng memiliki sikap datar dan berwibawa, tapi terkadang dengan ku juga begitu, apa dia pikir aku ini karyawan nya? Aku tersenyum sendiri didalam hati.

Kami langsung meninggalkan Hendra dan menuju ruangan nya mas Amar. ruang kantor yang begitu rapi dan mewah, jauh lebih besar dari ruang kantornya apak Aditya pikir ku saat itu.

Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa diruangan itu, bersandar dengan nyaman disana.

"Capek?" tanya Amar melihat ku.

"Tidak."

"Kantor ini begitu luas ya mas?"

"Ruangannya juga begitu rapi."

"Tentu saja, kan semua sudah punya pekerjaan nya masing-masing.

"Bagaimana ruangan mu di kantor, apa kurang besar?"

"Iya seh mas, ruangan ku berada di samping ruangannya pak Aditya, hanya dibatasi oleh dinding kaca saja."

"Berarti dia bisa selalu melihat ke arah mu?" tanya Amar lagi .

"Iya, namanya juga tembus pandang. Jawab ku jujur.

"Pantas saja dia sampai jatuh hati dengan kamu."

Perkataan Amar kali ini membuat ku berhenti menjawab, aku tak sadar dari tadi ternyata Amar bertujuan lain bertanya kepada ku.

1
Nini TuTi
Luar biasa
Rosnila
terimakasih untuk dukungannya, nanti akan kita perbaiki lagi ya...
taehyungwife
SEMANGAT AUTHOR menarik ceritanya. tapi lebih di perhatikan lagi typo nya yaa, biar lebih nyaman hihi /Heart//Smirk/
Iqlima Al Jazira
next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!