Laura Keisha Givarro, namanya atau akrab disapa Rara.
Mungkin Kebanyakan nama Laura adalah perempuan yang baik, lembut, rendah hati, namun kenyataannya berbanding terbalik dengan Laura yang oleh satu ini. dia sosok perempuan badgirl. Sifat nya dingin dan cuek. Tidak suka mengenal orang baru. Dia adalah perempuan yang cantik. Bahkan banyak sekali pria yang mengaguminya.
Kisah asmara yang menurut mereka adalah sebuah kebahagiaan. Namun, bagi Rara kisah asmara hanyalah sebuah jurang yang akan terus dan terus mengenalkannya pada luka.
Penasaran kisah lengkap nya?? Segera baca dan jangan lupa like, komen dan vote nya yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leonet05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
...Promise me,you well never leave me...
...~Laura Keisha Givarro~...
Kring
Akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Yups benar sekali, bel pulang sekolah telah berbunyi. Rara bergegas keluar kelas tanpa mengindahkan suara Sinta yang terus menerus meneriaki namanya. Tujuannya adalah bertemu Yogi.
Dia sudah sangat penasaran, tempat rahasia mana yang akan mereka kunjungi.
"Kita mau kemana sih Nan?" Tanya Rara yang sudah kepo tingkat akut.
"Nanti kamu juga tau sayang," sahut Yogi sambil mengaitkan helmnya.
"Ish nyebelin deh. Tinggal kasih tau apa susahnya sih. Bikin orang kepo aja sukanya," decak Rara memanyunkan bibirnya.
"Jangan ngambek dong sayang, yuk buruan ntar keburu sore loh," tutur Yogi yang langsung diangguki oleh Rara.
Yogi segera melajukan motornya ke tempat yang masih menjadi rahasia.
Setelah dua puluh menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai pada sebuah danau yang terlihat sangat luas, dengan Padang rumput disekitarnya.
Ada banyak bangku panjang dengan lampu-lampu taman yang kenyal terang apabila malam hari datang, yang menambah kesan romantis di danau ini.
Tampak jelas kekaguman dimata Rara. Ia berdecak kagum dengan keindahan alam yang ada didepannya saat ini. Ia baru tau ternyata ada tempat sebagus ini disini.
Ia segera melepas helmnya dan menaruhnya diatas motor Yogi. Kakinya mengajaknya berjalan ke salah satu bangku panjang lalu mendudukkan dirinya di sana. Kepalanya asik meneliti setiap benda yang terdapat di danau ini. Indah, satu kata yang terus Rara ucapkan dari awal hingga saat ini.
Tak lama Yogi pun menghampirinya dan duduk tepat disebelahnya.
"Kok aku baru tau ya ada tempat sebagus ini disini," celetuknya tanpa mau mengalihkan pandangannya dari danau yang ada didepannya ini.
"Iyalah, kamu kan mainnya di rumah mulu, kalo gak gitu ke bar," cetus Yogi yang langsung dihadiahi pukulan di lengannya oleh Rara. Namun, pukulan itu terasa elusan bagi Yogi.
"Aku kan malas jalan-jalan keluar kalo gak ada yang ngajak. Mending ngedrakor dirumah, kalo ke bar itu dulu, sekarang udah gak pernah," protes Rara mengambil ponsel ditasnya lalu memotret pemandangan disekitarnya.
Yogi juga ikut mengambil ponselnya yang berada disaku jaket hitamnya.
"Kei, hadap sini deh," pinta Yogi, Rara pun menoleh kearah Yogi.
Cekrek'
Satu foto berhasil Yogi ambil.
"Anjir itu muka ku jelek amat sih. Hapus hapus, Aku belum siap tadi," protes Rara sambil berusaha merebut ponsel Yogi.
"Gak gak, ini bagus kok, serius deh," kilah Yogi dengan tawa yang menghiasinya.
"Itu jelek Nanda, buruan hapus ih,"
"Iya nanti aku hapus,"
"Sekarang Nan,"
"Nanti aja deh," putus Yogi lalu memasukkan ponselnya kedalam saku dalam jaketnya.
Rara berdecak sebal dengan tangan yang dilipat didepan dada.
"Jangan ngambek dong sayang, bagaimanapun gaya foto kamu, kamu tetap cantik kok. Dimata aku, kamu akan selalu cantik, bagaimanapun keadaannya. Udah ya jangan ngambek, malu sama pelangi yang ada didepan ku," bujuk Yogi sambil mengelus surai Rara.
"Lah emang didepan kita ada pelangi?"
"Ada."
"Dimana?"
"Dimatamu." ucapan Yogi yang membuat semburat merah dipipi Rara.
"Ciee yang salting," goda Yogi sambil menusuk-nusuk tulang pipi Rara.
"Ih apaan sih, siapa juga yang salting," alibi Rara sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Lah itu kenapa pipinya merah hayo, haha," ucap Yogi yang masih menggoda Rara disertai tawa renyahnya.
"Gue migrasi ke Bimasakti lama-lama lo Nan sumpah bikin greget aja," ucap Rara greget.
"Ahaha, anjir pacar gue sadis bener," sahut Yogi sambil memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Udah ih Nan ngetawain aku, malu tau," kembali Rara memukul-mukul lengan Yogi.
"Iya, sayang bercanda doang," ucap Yogi masih berusaha menahan tawanya.
"Nan," panggil Rara
"Iya ada apa?"
"Makasih!"
"Buat?"
"Buat semuanya, makasih udah ada buat aku, makasih udah buat aku selalu bahagia, makasih udah buat aku nyaman sama kamu, makasih kamu udah cinta sama aku. Dan makasih untuk semua yang kamu kasih ke aku. Aku bersyukur banget punya kamu," tutur Rara sambil menghambur kedalam pelukan Yogi.
"Iya sayang, aku juga makasih buat semuanya ya,"
"Nan, Promise me,you well never leave me!" ucap Rara sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Yogi.
Sejenak Yogi berfikir. Bagaimana mungkin ia bisa terus bersama Rara, fellingnya berkata ia tak akan lama dapat menikmati indahnya dunia. Cepat atau lambat pasti ia akan meninggalkan sosok yang sangat ia sayangi, yang sekarang sedang bersamanya.
Dia benci keadaan seperti ini, keadaan dimana ada seseorang yang memintanya untuk selalu tinggal, sedangkan di lain keadaan memintanya untuk segera meninggalkan.
Bagaimana ini, ia terlalu takut. Takut kepergiannya akan berdampak buruk untuk orang-orang yang ia sayangi. Ah biarkan, hal itu pikir belakang saja. Ia harus sembuh, intinya ia harus sembuh. Tapi jika keadaan berkata lain, ia bisa apa?
"Nan?" Panggilan dari Rara membuyarkan lamunannya.
Lantas ia menoleh ke arah Rara,
"Iya."
"You promise?" Ulang Rara masih dengan jari kelingking yang ia angkat didepan Yogi.
"Ah udah sore ya, ayo kita pulang," ucap Yogi berdiri dari duduknya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Rara menggeleng tanda tak setuju, lantas ia menarik lengan Yogi agar kembali duduk disampingnya.
"Promise?" Untuk ketiga kalinya Rara mengulang perkataannya.
"Aku gak bisa janji Ra," elak Yogi sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Rara heran.
"Suatu saat kamu akan mengetahuinya, tapi tidak sekarang," balas Yogi sambil menatap dalam mata Rara.
Tatapan itu terlihat sayu, tatapan itu seolah mengatakan bahwa pemiliknya tak dalam keadaan yang baik-baik saja, tatapan itu menyiratkan kesedihan yang mendalam bagi Rara.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku Nan," tutur Rara yang hanya dibalas gelengan oleh Yogi
"Aku gapapa, pulang yuk," ajak Yogi
"Gak bentar lagi senja. Aku pernah punya list keinginan. Salah satunya adalah menikmati senja bersama orang yang ku sayang. Dan kali ini aku gak pengen nyia-nyiain kesempatan yang ada. Aku pengen menikmati senja berdua sama kamu," papar Rara.
Yogi membawa Rara kedalam pelukannya. Ia menenggelamkan kepalanya diceruk leher Rara. Ia menghirup dalam wangi vanila dari tubuh Rara. Wangi yang menenangkan selain angin malam menurutnya.
...TBC......
seneng bacanya 😃
sedih bacanyaa..
kalo bisa ekstra partnya happy ending ya thor.. pokoknya rara harus bahagia, titik...
Ups, maksa dikit gak papa lah 😂😂
Soalnya aku udah keburu suka dengan Rara dan yogi 😥😥😥