Maaf ya yeorobun kalau aku sering menghapus cerita yang baru-baru aku update.
itu karena aku lagi nggak ada ide ceritanya.
Dan ini aku kembali mempunyai ide untuk bikin cerita lagi dan sketsa ceritanya
Semoga tidak mengecewakan kalian semua.
.
.
.
. (*˘︶˘*)~。.:*♡
.
.
. 。・:*:・(✿◕3◕)❤
.
.
. (❁´◡`❁)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yong_Aereum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Selesai makan malam Devan berpamitan pada Tifanny untuk istirahat lebih dulu , karena hari ini di benar-benar kecapekan dengan perkerjaan kantor yang sangat menumpuk.
" Apa yang kamu lakukan disini Fanny ?" tanya Devan saat melihat Tifanny masuk kedalam kamarnya.
" Boleh aku menginap disini Dev ?'' ucap Tifanny
"Ada dengan apartemen mu ?"
" Tidak apa-apa, aku hanya ingin menginap disini apakah itu tidak boleh?"
" Bukan begitu, maksudku kita tidak bisa tidur dalam 1 kamar kamu tahukan aku ini seorang laki-laki yang sudah punya istri."
" Tapi kan istrimu itu hanya istri kontrak "
" Iya, tapi... baiklah kalau kamu mau nginap kamu tidur disini dan aku akan tidur dikamar Jeje."
Devan berjalan keluar dari kamarnya dan meninggalkan Tifanny yang sedang duduk diatas ranjang dengan wajah yang sedang menahan amarah.
Malam ini Devan benar-benar terlihat sangat gelisah , saat mendengar Tifanny mengatakan kalau Rinni telah pulang kerumah orang tuanya.
sedangkan perjanjian pranikah mereka berdua itu sampai 3bulan dan ini pernikahan mereka sudah hampir 2 bulan tapi Rinni malah pergi tanpa mengatakan apapun dengannya.
Saat Devan tidur menyamping entah kenapa matanya melihat beberapa foto yang sudah terbingkai dan terpajang diatas meja belajar Jessy.
Devan tersenyum melihat foto Rinni dan Jessy.
selama ini Devan masuk kedalam kamar Jeje tidak pernah menyadari tentang foto putrinya dengan Rinni.
" Ternyata mereka berdua sama-sama tukang eksis." Devan melihat beberapa foto Rinni dan Jessy.
Tanpa sadar mata Devan pun memejam dengan sendirinya dan bibirnya membentuk lengkungan senyum.
baru beberapa menit tertidur entah apa yang di mimpinya.
Ponsel Devan terus berdering tapi dia tak kunjung bangun.
lagi-lagi ponselnya berdering lagi , merasa terganggu dengan suara tersebut Tifanny pun mengangkatnya.
" Hallo..Abang lagi dimana ?" tanya Dian
" Hallo... Bang." sapa Dian lagi karena tidak mendengar Devan menjawabnya.
" Devan masih sedang tidur " jawab Tifanny ketus .
" Tidur ?! , Fanny kau bersama Devan!!"
Tifanny bukannya menjawab malah langsung mematikan teleponnya dan ia kembali tidur sambil memeluk Devan.
Sedangkan diseberang sana yang tadinya baru selesai berbicara dengan Fanny sedang meluapkan emosinya dan ia langsung mengirim pesan pada Davan.
tidak butuh lama untuk mendapat balasan pesan dari adiknya.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau Dian pergi ke apartemen dengan sangat marah, Juan yang terus memintanya untuk menahan emosinya agar nanti tidak terjadi hal yang tidak-tidak.
Diilain tempat seorang wanita terus menangis ia tidak menanggapi apa yang orang-orang ucapkan.
yang ia mau saat ini orang yang dihadapannya ini bangun bukan pergi dengan cara seperti ini.
" Ibu bangun , jangan tinggalin Rinni Bu."
itulah yang terus Rinni ucapkan sedari tadi .
" Bu , Rinn sudah tidak punya siapa-siapa."
" Ibu bangun , ibu tidak boleh pergi tinggalkan Rinni seperti ini Bu."
Buleknya yang terus berada disampingnya karena sudah 2 x Rinni pingsan.
" Rinn ini minum dulu , dari semalem kamu belum makan atau pun minum loh." Bujuk Buleknya.
" Tidak Bulek , Rinn masih kenyang dan tidak haus Bulek."
Irma pun menghela nafas beratnya, susah sekali meminta ponakannya untuk minu.
padahal wajah Rinni terlihat pucat.
" Permisi.. " ucap Davan
" silahkan, oh anda ini ?"
" Saya adik iparnya Rinni dan ini putri sambungnya."
" Mama ." Jeje menghampiri Rinni yang duduk disamping jenazah ibunya.
" Ma ," Jeje menangis sambil memeluk Rinni , tapi Rinni tidak menanggapi.
Davan yang berdiri dari kejauhan pun nampak sedih melihat Rinni yang terakhir ditemui masih tertawa dan mereka saling bercanda dan ngejek ,tapi sekarang wanita itu kini menjadi patung.
"Kenapa yang datang adik iparnya , kok suaminya tidak datang?" cibir dari para pelayat.
Paklek yang mendengar hal itu baru mencari keberadaan Devan tapi tidak terlihat olehnya.
" Den , dimana suaminya Rinni?!" tanya Paklek.
" Dalam perjalanan Pak , kebetulan kemarin dia ada urusan kerjaan dan mungkin agak..... telat." Davan sangat gugup dengan mengarang cerita ke Paklek Rinni.
Berbeda dengan tempat Rinni , di tempat Devan sang adiknya sedang marah-marah walaupun suaminya sudah mencoba menenangkannya.
" Dian , kamu harus bisa mengontrol emosi mu dek "
" Tidak bisa lagi sayang , ini sudah keterlaluan " ucap Dian
Tepat pintu lift terbuka Dian pun langsung mencari pintu apartemen Devan dan menentukannya.
tanpa mengetuk pintu Dian langsung memencet pin pintu dan pintu pun terbuka.
" Dek , ingat ya aku tidak mau terjadi perkelahian ditempat orang " Juan menahan tangan istrinya saat akan masuk.
" Maaf sayang aku tidak bisa janji " Dian menarik tangannya dan berjalan masuk kedalam.
Dian masuk kedalam apartemen yang keadaan ruangannya masih hening , ia melihat dua pintu kamar yang saling berhadapan .
langsung ia buka diantara salah satu yang ternyata tidak ada siapa-siapa,
ia pun berbalik arah ke pintu kamar yang ada dibelakangnya.
Ceklek...
" Ba**ngan " umpatnya Dian saat melihat Devan tidur dengan Tifanny yang lagi memeluk.
" Kamu tunggu diluar saja." Dian mendorong suaminya
" Tidak sayang , aku takut nanti kamu bisa melakukan hal nekat padanya "
" Kamu mau lihat tubuh dia hah "
Juan langsung terdiam dan berjalan mundur beberapa langkah.
Dian pun langsung menutup pintu kamar Devan.
" Bangun kau wanita pelakor" Dian menarik tangannya Tifanny dengan kasar.
" Aww .. sakit " Tifanny merintih kesakitan karena di dorong Dian ke lantai.
" Ada apa ini Dian," tanya Devan yang sudah terbangun saat sang adik menarik Tifanny darinya.
" Abang masih berani bertanya ada apa ini hah! , harusnya aku yang bertanya pada Abang apa yang sudah kalian lakukan.," hardik Dian.
Kedua mata Devan membesar saat melihat Tifanny sedang bugil dan terduduk dilantai.
" Dek , Abang.. Abang..." Devan menjadi gugup
" Abang apa ? , habis memadu cinta yang jijik ini dengan wanita murahan ini iya "
" Hei , jaga mulut mu " bentar Tifanny
" Kenapa , tidak terima dikatakan murahan ya , emang faktanya kau tahu Devan sudah menikah tapi kenapa kau masih masuk kedalam kehidupannya."
" Dan lihat perbuatan ini bang , aku tidak tahu bagaimana kalau Rinni tahu bahwasanya suami yang di agungkan ini sedang bercinta dengan wanita lain di hari berdukacita."
" Seharusnya kalian semua yang sadar diri, wanita yang kalian anggap baik itu cuma istri kontrak Devan, mereka berdua hanya sekedar nikah kontrak"
" Tifanny." bentak Devan.
" Kenapa Dev , bukankah seperti itu faktanya ?, setelah kau menikmatinya tubuhku sekarang kau mau berdalih hah " Tifanny pun langsung menangis.
" Berdukacita ,?? Maksudmu apa ?!" Devan menghampiri adiknya.
" Harusnya aku yang bertanya apa maksud yang dikatakan wanita itu Bang?!"
" Jadi selama ini Abang dan Rinni cuma nikah palsu?"
" Breng**k kau Bang, aku benci melihat mu " Dian langsung berjalan keluar dan meninggalkan Devan dan Tifanny.
" Cepat pakai pakaian mu dan pergi dari sini." Devan menyusul adiknya.
" Ayo kita pulang." Dian langsung mengajak Juan pulang.
"Dian tunggu.. kamu belum jelaskan apa maksud mu yang soal berdukacita." Devan menarik tangan Dian.
" Lepaskan tanganku Bang, lepaskan." Dian menghentakkan tangannya dan pergi.
" Juan kau tahu apa maksud yang dikatakan Dian ?"
" Ibunya Rinni meninggal." ucap Juan .
" Aa.. apa " Devan memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak tembok yang dibelakang.
" Aku dan Dian sekarang mau kesana , aku harap kau bisa pergi tapi cukup kau saja jangan mengajakny.
aku pergi dulu " pamit Juan .
Devan terdiam saat Juan menjelaskan maksud omongan Dian soal ada orang yang sedang berdukacita.
😭😭😭😭😭
" Jangan coba kamu menolongnya ," Dian menghampiri Tifanny
" Sayang , apa kamu tahu pin pintu apartemen Papa ?" Dian bertanya pada Jessy melalui telepon-