Langit yang sangat mencintai Monica merasa tidak bisa melupakannya begitu saja saat Monica dinyatakan meninggal dunia dikarenakan kecelakaan yang tiba-tiba. Diluar dugaan, arwah Monica yang masih penasaran dan tidak menerima takdirnya, ingin bertemu dengan Langit. Dilain tempat, terdapat Harra yang terbaring koma dikarenakan penyakit dalam yang dideritanya, hingga Monica yang terus meratapi nasibnya memohon kepada Tuhan untuk diberi satu kali kesempatan. Tuhan mengizinkannya dan memberinya waktu 100 hari untuk menyelesaikan tujuannya dan harus berada di badan seorang gadis yang benar-benar tidak dikenal oleh orang-orang dalam hidupnya. Hingga dia menemukan raga Harra. Apakah Monica berhasil menjalankan misinya? apakah Langit dapat mengenali Monica dalam tubuh Harra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Prayogie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : LEMBARAN KENANGAN
..."Bagaimana bisa kamu menyembunyikan perasaan yang bahkan akmu ucapkan disaat angin selalu berhembus disekitarku, membisikkan setiap kata rindumu. Bahkan hatimu tak menyangkalnya, namun mulutmu begitu mudah mengatakannya"...
...----------------...
"Kamu pasti tidak benar-benar mencintaiku" kata Harra dengan air mata yang menetes dipipinya ditengah guguran bunga sakura.
Lelaki didepannya terdiam dengan membuang muka tanpa melihat wajah Harra sedikit pun.
"Tatap mataku dan katakan bahwa kamu tidak mencintaiku" kata Harra dengan suara bergetar.
Hatinya diliputi ketakutan bahwa lelaki yang ada didepannya itu akan mengatakannya saat itu. Keheningan melingkupi keduanya ditemani dengan gemerisik kelopak sakura yang saling bersentuhan dan berjatuhan memenuhi jalanan dengan warna merah muda dan putih.
"RAKA-- JAWAB AKU" Harra membentak dengan suara keras kepada lelaki yang ada didepannya. Tentu saja lelaki itu terkejut dan langsung menatap wajah Harra dengan lekat.
Mata lelaki itu tampak memerah dengan rahang yang tegang mengatup keras kedua mulutnya. Tangannya mengepal erat berusaha menahan seluruh emosi dan perasaan yang bercampur aduk dalam hati dan pikirannya.
"Aku-- Aku tidak mencintaimu--" kata-kata itu keluar dari mulut lelaki itu sambil menatap mata Harra yang tampak terbelalak mendengar perkataannya.
"-- Aku berada didekatmu karena aku memiliki tujuan. Aku ingin masa depan yang cerah, aku tahu siapa kamu dan keluargamu. Aku-- Aku memanfaatkanmu untuk jalanku pribadi. Aku tidak ada bedanya dengan semua lelaki yang ada disekitarmu. Tatap mataku dengan seksama, apa kamu melihat cinta didalamnya untukmu?" kata lelaki itu kepada Harra.
Setiap perkataan lelaki itu bagaikan mata pisau yang terus menerus mengiris hatinya. Perasaan sakit dan kecewa itu dirasakan Harra. Namun dia yakin lelaki itu pasti memiliki alasan atas semua hal yang dikatakannya. Dia yakin bahwa lelaki yang ada didepannya adalah sosok yang berbeda. Bersamanya, Harra bisa tersenyum. Harra memiliki alasan untuk bersemangat bangun di pagi hari. Ucapan selamat paginya menjadi sambutan yang secerah matahari dan ucapan selamat tidurnya bagaikan hembusan bulan yang menyelimutinya untuk tidur dengan lelap.
"Kamu berbohong-- Aku nggak percaya-- Kamu kenapa Raka?" kata Harra sambil melangkah mendekati Raka dan berusaha menggapai tangan Raka.
Raka segera memundurkan langkahnya dan menangkis tangan Harra.
"Lupakan aku-- Aku bukan orang yang pantas buat kamu-- Jangan keras kepala. Aku capek menghadapi sifatmu yang selalu membuatku merasa tertekan. Aku capek-- berpura-pura mencintaimu" Raka mengatakan setiap kata-kata dari mulutnya dengan penuh penekanan.
Harra memejamkan matanya tidak sanggup lagi mendengar perkataan dari Raka. Harra menghembuskan nafas berat sambil menggenggam lipatan roknya dengan erat.
"Pergilah-- Sebelum aku membuka mataku. Pergi dan jangan pernah ada didepanku jika itu yang kamu inginkan" kata Harra dengan berusaha menahan perasaan sakitnya.
Raka terdiam sambil memandang Harra. Matanya sudah tampak merah menahan air mata yang akan jatuh dari kedua matanya. Raka menutup mata sejenak dan segera membalikkan badannya, berjalan menjauhi Harra dan kemudian berlari.
Suara langkah Raka yang semakin menjauh bersamaan dengan tangisan Harra yang semakin deras. Harra ingin berteriak meluapkan semua perasaan kacau didalam hatinya. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya berdiri sambil tetap memejamkan mata dan menggigit bibirnya.
"Dasar pengecut--" Harra bergumam ditengah tangisannya.
Dari balik pohon, Monica berdiri mengamati apa yang ada didepannya. Wajah lelaki yang bernama Raka tampak samar dengan topi dan kerah mantelnya yang tinggi membuat sebagian wajahnya tertutup. Monica hanya bisa melihat sebagian wajah dan matanya.
"Hahhh-- menyebalkan" Gumam Monica sambil memukul batang pohon.
Harra terbangun tiba-tiba. Wajahnya basah dipenuhi air mata. Harra terdiam sambil menyangga badan dengan kedua tangannya dibelakang.
"Kamu-- baik-baik saja?" tanya Monica ragu dari balik cermin Harra.
Harra seketika melihat Monica dengan pandangan tajam, tanpa menjawab Monica, Harra langsung bangun dari ranjangnya dan keluar begitu saja dari kamarnya.
Monica terdiam dan tidak tahu harus bagaimana dengan perasaan Harra saat itu. Monica merasa eksistensinya semakin kuat hingga bisa berkomunikasi dengan Harra tidak harus lewat mimpi lagi dan Harra dapat dengan mudah menemuinya lewat pantulan cermin.
Ditempat lain, Afra terkejut dengan sekelebat bayangan kejadian saat dirinya memejamkan mata. Sebuah perkotaan yang bersih dengan hiruk pikuk orang yang berlalu lalang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Suara deru mobil yang bersamaan dengan suara musik yang menghentak dan ceria. Suasana yang tampak ramai namun terasa sepi bagi sebagian orang dan sebuah bayangan yang sekelebat bersuara.
"Selamat malam--"
Suara itu terasa lembut dan paling jelas dalam bayangan kejadian itu. Suara wanita dengan aksen jepang yang terdengar manis dan lembut. Afra terduduk dan seketika kepalanya terasa seperti terhantam sebuah sesuatu yang sangat berat.
"AAKHHH---" Afra memegang kepalanya hingga meringkuk di dahan pohon itu.
"Sakit lagi?" Monica tiba-tiba ada dihadapannya dan duduk menatap Afra dengan pandangan khawatir.
Afra berusaha menahan rasa sakitnya dan bertingkah seolah baik-baik saja didepan Monica. Dia menyandarkan punggungnya dan menengadahkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja" kata Afra singkat.
"Apa kamu harus menghadap seseorang atau sesuatu untuk menanyakan hal ini. Apa mungkin seorang malaikat maut merasakan sesuatu seperti ini. Mungkin kamu bisa mendapat jawabannya" kata Monica memberikan masukan kepada Afra.
Afra terdiam dan menatap Monica dengan tajam. Monica membalas tatapan Afra dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Urus urusanmu sendiri. Kurang 2 bulan lagi. Dan aku tidak akan bertanggung jawab jika kamu berakhir sebagai roh gentayangan" kata Afra yang kemudian menghilang begitu saja setelah mengucapkan kata-katanya kepada Monica.
Monica membelalakkan mata saat mendengarnya.
"Cihh-- Malaikat maut emang boleh bicara hal yang bisa menyinggung perasaan" Monica bergumam sambil mengerucutkan bibirnya.
Monica berayun didahan pohon sambil memandang pemandangan yang ada didepannya.
"Hmmm-- Mana yang harus aku selesaikan dulu-- Aku nggak ngerti lagi" kata Monica sambil mengangkat kedua bahunya.
Monica memutuskan untuk kembali berjalan-jalan sambil memikirkan hal yang akan dilakukan untuk rencana selanjutnya. Dia berhenti dan duduk di sebuah bangku taman yang tampak ramai dengan orang yang berlalu lalang. Monica tertunduk sambil mengayunkan 2 kakinya.
"Itu-- Itu--" Suara anak kecil berteriak sambil berlari mendekatinya membuat Monica terkejut ada anak kecil yang berdiri didepannya dan menatapnya dengan mata yang terbuka lebar.
Hingga Monica menyadari bahwa anak kecil yang ada didepannya adalah roh, sama dengan dirinya.
"Maafkan dia, dia susah sekali untuk diajak berangkat" kata seseorang dengan berpakaian putih dengan rambut silver menyusul anak lelaki itu dan mengucapkan permintaan maafnya dengan Monica.
Monica terkejut melihatnya, karena ini adalah pertama kalinya bagi Monica untuk berkomunikasi dengan malaikat maut lain selain Afra.
"Ahhh-- Tidak-- Tidak apa-apa" kata Monica merasa tidak enak.
"Om-- Tante ini saja belum berangkat. Kenapa aku harus berangkat. Aku mau disini dulu, mau lihat adek, adikku mau lahiran. Om sebentar lagi yaa" Rengek anak didepannya dengan nada memohon kepada malaikat maut itu yang tampak kebingungan.
Setelah berpikir sejenak. Malaikat maut itu pun menyerah. Dia berjongkok didepan anak lelaki itu dan membelai lembut kepala anak itu.
"1 minggu-- setelah itu kamu harus datang ketempatmu. Janji?" kata malaikat maut itu dan disusul senyuman diwajah roh anak lelaki itu yang kemudian hilang secara perlahan.
"Hahh-- sangat merepotkan saat menjemput seusia mereka" kata malaikat maut itu sambil berkacak pinggang.
Monica hanya tersenyum tipis dan berusaha tidak mengganggu pekerjaan malaikat maut itu hingga dia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tunggu-- Bolehkah saya bertanya sesuatu tentang kalian?" tanya Monica mencegah malaikat maut itu pergi saat akan mulai meninggalkan tempat itu.
Malaikat maut itu tampak menoleh dengan wajah yang bingung kepada Monica.
"Anda pasti tahu kalau saya bukan roh gentayangan kan? Saya ingin menanyakan sesuatu tentang malaikat maut. Karena saya tidak terlalu mengenal kalian" kata Monica tampak ragu dengan perkataannya.
"Tentu saja. Tanyakan sesuatu. Mungkin pendampingmu tidak bisa menjawabnya" kata malaikat maut itu dengan tersenyum.
"Apakah malaikat maut dulunya adalah manusia juga?" tanya Monica begitu saja.
Malaikat maut didepannya itu tampak tersenyum kecil mendengar pertanyaan Monica.
"Hmm-- Bisa iya, bisa juga tidak. Pimpinan kami adalah pilihan Tuhan, namun kami yang bertugas membantunya dulunya memang manusia biasa" kata malaikat maut itu menjelaskan.
"Apakah kamu tahu siapa kamu dulunya?" tanya Monica lagi.
"Ahhh-- Namaku sekarang adalah Jonas dan dulu aku adalah manusia bernama Sebastian" katanya dengan mudah.
"Ohh-- Bukan begitu maksudku-- Ehh-- tunggu-- Kamu mengingat siapa kamu dulu?" tanya Monica terkejut dengan jawaban malaikat maut yang bernama Jonas itu.
"Tentu saja aku tau. Namaku ganti diberikan oleh pimpinan kami" kata Jonas dengan mudahnya.
"Apakah semua malaikat maut bisa mengingat masa lalunya?" tanya Monica kembali.
"Hmm-- Tidak-- tidak semua. Beberapa malaikat maut memang dihilangkan ingatannya. Beberapa situasi yang menyebabkan kekecewaan dan rasa sakit yang besar baik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Hal itu akan sangat menggangu tugas kami jika akan terus diingat" kata Jonas dengan nada getir.
Monica terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana kamu bisa mengingat masa lalumu?" tanya Monica kembali.
"Karena aku sudah berdamai. Malaikat maut adalah orang-orang yang semasa hidupnya memilih jalan yang tidak seharusnya dan harus bertanggung jawab dengan pilihannya. Antara kami menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain. Dalam kondisiku, aku sudah sangat berdamai dengan masa laluku dan orang-orang yang aku tinggalkan juga sudah mengikhlaskannya. Oleh karena itu aku diizinkan untuk memiliki kembali ingatan selama aku menjadi manusia. Ini adalah sebuah hukuman dan anugrah yang tidak bisa dipisahkan" kata Jonas panjang lebar.
Monica mengerutkan keningnya dan terdiam sesaat menatap Jonas. Afra yang dikenalnya sangat berbeda dengan Jonas. Afra tidak memiliki ingatan manusianya dan terasa menjalani ini semua dengan hati dan pikiran yang kosong.
"Satu lagi--- Bisakah kamu membantuku suatu hal?" tanya Monica tiba-tiba yang membuat Jonas kebingungan dan menatap Monica dengan penuh tanda tanya.
...----------------...