Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Perang Urat Saraf di Balik Layar dan Tragedi Busa Sampo
"Iya, Pak. Tapi tenang, tim keamanan bursa saham kita sudah bergerak sangat cepat untuk menghapus video dan tautan artikel tersebut di semua media sosial serta portal berita internasional. Meskipun... jujur saja, kita sangat membutuhkan tenaga dan suntikan dana ekstra untuk menutup mulut beberapa pihak agar masalah ini benar-benar bersih tanpa jejak."
Adit mengusap wajahnya dengan kasar, didera frustrasi tingkat tinggi. Ia menyandarkan keningnya ke kaca jendela balkon yang dingin, menatap kelap-kelip lampu Paris yang mendadak terasa memuakkan bagi saraf kepalanya.
"Kenapa baru memberi tahu saya sekarang, Pak Gavin?! Berita sekecil apa pun soal keluarga Abraham bisa jadi bom waktu di lantai bursa saham!"
"Maaf, Pak. Saya ingin memastikan semua sudah terkendali sebelum melapor agar Anda tidak semakin panik," jawab Gavin penuh penyesalan dari seberang sambungan telepon.
Adit memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya melayang pada Opa Antonio yang kondisi jantungnya sangat lemah dan Oma Karin yang memiliki harga diri setinggi langit.
"Pastikan benar-benar bersih. Kalau sampai berita manipulatif ini sampai ke telinga Oma dan Opa di Jakarta... tamat riwayat saya, Pak Gavin."
Adit mematung sejenak lalu mematikan sambungan telepon dengan gerakan kasar. Ia berbalik dan mendapati Sella sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir.
"Ada apa, Om? Muka lo kayak habis lihat hantu penunggu Menara Eiffel," tanya Sella polos, sama sekali tidak tahu kalau video skandal mereka sempat menjadi konsumsi publik selama beberapa saat akibat ulah licik Same Smith Abraham.
Adit terdiam kaku. Ia tidak mungkin menceritakan hal krisis ini kepada Sella yang emosinya sedang tidak stabil. "Bukan apa-apa. Masuk kamar, mandi, dan jangan berani-berani membuka media sosial malam ini. Paham?!"
Sella mengernyit heran, namun aura gelap yang terpancar dari wajah Adit membuatnya tak berani membantah.
"Dih, makin aneh saja sih lo, Om," gerutu Sella sebal. Ia langsung melenggang masuk tanpa memedulikan suaminya lagi, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berendam air hangat.
Sementara itu, Adit melangkah menuju sofa ruang tengah dan merebahkan tubuh tegapnya yang penat akibat rentetan masalah.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Sella yang ternyata masih berada di kantong celana kain milik Adit. Adit merogohnya, membukanya, dan seketika ia mengeraskan rahang rapat-rapat. Itu pesan dari Erlangga, kekasih Sella di Jakarta.
Pemuda berusia 19 tahun yang juga berstatus mahasiswa itu mengirim sebuah foto mirror selfie yang memamerkan perutnya yang sedikit berotot.
[Sell, aku kangen banget.]
Adit tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk memberikan serangan balasan. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi, lalu menyeringai licik penuh kemenangan.
Dengan gerakan secepat kilat, ia melepas kemeja putihnya, lalu memotret perut six-pack miliknya yang jauh lebih atletis dan padat berkat olahraga rutin. Ia mengambil sudut foto dari batas leher hingga perut saja, sengaja ingin membuat mental pemuda di Jakarta itu ciut seketika.
[Yang, aku sukanya yang kayak gini.]
Adit menekan tombol kirim dengan perasaan puas yang membuncah di dada. "Rasakan itu. Otot kerempeng begitu saja bangga di depan kamera. Jauh lebih bagus proporsi tubuh gue," gumam Adit sombong. Ia kembali mengenakan kemejanya dengan terburu-buru.
Di Jakarta, Erlangga menatap layar ponsel pintarnya dengan mata melotot sempurna. Jantungnya berdegup kencang antara syok melihat foto tubuh maskulin tersebut dan merasa terhina secara fisik.
"Sella kok... seleranya jadi berubah begini? Sejak kapan dia suka cowok binaraga?" gumam Erlangga sangsi dalam hati.
Namun, insting prianya mulai mencium bau tidak beres. Sella tidak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Yang'. Panggilan keramat hubungan mereka adalah 'Lang' atau 'Angga'.
Erlangga memicingkan mata curiga, jemarinya bergerak cepat mengetik pesan jebakan di layar.
[Sell, kamu masih ingat makanan favorit aku, kan?]
Di Paris, Adit yang baru saja selesai mengancingkan kemeja kembali mengernyit heran melihat notifikasi baru tersebut. Ia melirik pintu kamar mandi dengan waswas. Suara kucuran air sudah berhenti, artinya waktu Adit untuk bermain-main tinggal sedikit lagi. Dengan seringai yang makin lebar, Adit mengetik asal sesuai pengalamannya menghadapi tabiat Sella selama ini.
[Tentu dong. Makanan favorit kamu kan seblak. Pasti benar, kan?]
BUM!
Erlangga hampir saja terjungkal dari kursi belajarnya di kamar.
[Kamu kok aneh sih, Sell?! Sudah jelas aku nggak suka seblak, apalagi yang pedas-pedas! Lambung aku kan manja!] balas Erlangga sewot setengah mati.
Adit membaca balasan itu sambil terkekeh pelan di atas sofa. "Ternyata pria ini tidak kuat makan pedas, sama seperti gue. Lemah," cibir Adit puas.
Menyadari Sella akan segera keluar dari kamar mandi, Adit bergerak secepat kilat menghapus seluruh riwayat pesan perang urat saraf tersebut agar jejak kriminalitas digitalnya bersih total tanpa bekas.
CKLEK!
Pintu kamar mandi terbuka. Sella keluar dengan rambut sebahunya yang masih agak basah, mengenakan piyama tidur motif stroberi yang imut. Ia menghentikan langkah kakinya saat melihat Adit memegang ponselnya dengan ekspresi wajah yang sangat mencurigakan.
"Om, kenapa lo senyum-senyum sendirian?" tanya Sella penuh selidik. Gadis mahasiswi itu langsung menyambar ponselnya dari tangan Adit dengan gerakan tangkas.
"Ehem!"
Adit berdehem dengan sangat keras, memasang kembali wajah datar andalannya dalam waktu satu detik.
"Gue cuma lagi senam bibir. Capek gue dari tadi marah-marah terus sama kelakuan ajaib lo."
Sella memicingkan mata bulatnya, menatap layar ponsel lalu berganti menatap Adit dengan penuh rasa curiga.
"Lo nggak aneh-aneh kan, Om, sama HP gue? Kenapa bodi HP gue terasa agak hangat begini?"
"Nggak ada. Fantasi dan kecurigaan lo terlalu kejauhan," ucap Adit dingin.
Pria itu menyambar laptop Sella di atas meja. "Sini, semua barang elektronik lo resmi gue sita untuk sementara waktu demi ketenangan hidup gue."
"Tapi Om! Nggak bisa sepihak gitu dong! Bagaimana kalau pacar gue atau orang tua gue menelepon dari Jakarta?! Lo mau tanggung jawab kalau gue dikira diculik drakula kaku Paris?" protes Sella keras sambil berkacak pinggang di depan ranjang.
Adit tidak memedulikan protes tersebut sama sekali. Ia memasukkan laptop dan ponsel itu ke dalam laci meja rias, menguncinya rapat-rapat, lalu memasukkan kunci logam kecil itu ke saku celananya dengan gerakan kaku.
"Nanti gue yang bertugas memberi tahu mereka. Sekarang gue mau mandi dulu. Bau matahari lo tadi masih menempel lekat di hidung gue," ucap Adit santai sambil melenggang masuk ke kamar mandi, meninggalkan Sella yang menggerutu hebat sambil memukuli bantal sutranya.
Sella tidak tahu kalau di dalam laci yang terkunci itu, layar ponselnya baru saja menerima pesan balasan baru dari Erlangga:
[Gue tahu lo bukan Sella. Siapa lo sebenarnya?!]
Sella membanting tubuhnya ke atas kasur empuk berseprai sutra abu-abu gelap itu dengan kasar. Baru sehari menyandang status sebagai istri seorang CEO utama, tenaga fisiknya sudah terkuras habis seolah habis kerja rodi berabad-abad di pangkalan militer.
"Dasar drakula gila kontrol! Posesif banget jadi orang, HP disita, laptop disita, lama-lama pasokan oksigen gue di Paris juga disita sama dia!" gerutu Sella kesal sambil membenamkan wajah cantiknya ke bantal.
Namun, ketenangan Sella hanya bertahan selama lima detik saja. Dari balik pintu kamar mandi mewah, tiba-tiba terdengar suara gaduh yang sangat tidak mencerminkan wibawa elit seorang Raditama Abraham.
GEPYAK! DUK!
"Aduh! Sella! Tolong! Perih, Sell!" teriak Adit dari dalam dengan nada suara yang sangat panik dan gemetar.
Rupanya, di tengah sesi keramas yang khusyuk menggunakan sampo, aliran saluran air di penthouse mewah itu mendadak mati total secara misterius. Adit yang kedua matanya sudah tertutup oleh busa sampo yang tebal hanya bisa menggapai-gapai udara dengan buta, sementara rasa perih yang luar biasa mulai menyerang indra penglihatannya.
Sella yang baru saja mau memejamkan mata langsung terlonjak kaget di atas kasur. "Berisik banget sih lo, Om! Gue baru mau tidur nih!" teriak Sella kencang dari luar pintu kamar mandi.
"Tolongin gue dulu! Ini situasi darurat! Mata gue perih banget, Sella! Air... bawain air mengalir cepat ke dalam!" suara Adit makin melengking, terdengar sangat menderita sekaligus memelas meminta pertolongan.
Sella berkacak pinggang di depan pintu, sedikit merasa bimbang secara mental. "Elah, katanya CEO tangguh kelas dunia, masa kena busa sampo saja ekspresinya seperti mau kiamat?"
"CEPATAN, SELLA! INI PERIHNYA SUDAH SAMPAI KE UBUN-UBUN KEPALA GUE!"
"Iya, iya! Sabar napa!"
Sella berlari cepat ke arah dapur mewah, menyambar satu botol besar air mineral ukuran jumbo yang masih bersegel. Dengan perasaan antara kasihan dan ingin tertawa terbahak-bahak, ia kembali berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Gue buka ya pintunya? Awas lo kalau macam-macam di dalam, gue siram pakai air es!"
"Buka saja cepat! Gue nggak bisa melihat apa-apa dari tadi, Sella!"
Sella memutar kenop pintu kayu besar itu. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depannya benar-benar menguji pertahanan iman dan tawa Sella. Adit berdiri kaku di tengah shower box hanya dengan balutan selembar handuk putih yang melilit ketat di pinggangnya. Rambut hitamnya penuh dengan gumpalan busa putih seperti awan, dan kedua tangannya sibuk mengucek mata tegasnya yang memerah parah.
"Sini, mana airnya?!"
Adit mengulurkan tangan kanannya dengan rabun mencari posisi Sella.
Sella menahan tawanya sekuat tenaga sampai perutnya terasa sakit bukan main. "Bentar, Om. Tunggu diam di situ. Gue siram pelan-pelan ya, jangan gerak-gerak nanti airnya kena hidung lo!"
Sella melangkah mendekat di atas lantai marmer kamar mandi, membuka segel botol lalu menuangkan air mineral itu ke atas kepala Adit dengan penuh kehati-hatian. Saat busa-busa putih itu mulai luntur tersapu air, ketampanan wajah Adit yang basah perlahan mulai terlihat kembali tanpa cela.
Sella sempat terpaku diam selama beberapa detik, menatap lekat bulu mata Adit yang basah serta tetesan air yang mengalir turun melewati rahang tegas pria itu hingga membasahi dada bidangnya yang atletis.
Duh, kenapa pas kondisi basah begini ketampanan drakula kaku ini makin kelihatan ilegal sih?