Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di dalam kamar nomor 204 yang hening, Aurel masih menyembunyikan sebagian wajahnya di balik selimut tebal. Pipi gadis itu benar-benar terasa panas membara akibat usapan lembut ibu jari Reyhan di pelipisnya tadi.

Reyhan yang menyadari partner kelompoknya sedang salah tingkah setengah mati, hanya terkekeh renyah tanpa dosa. Suara tawa beratnya terdengar begitu seksi di tengah kesunyian kamar. Alih-alih menjauh, cowok berjaket denim itu justru mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah telinga Aurel.

"Napasnya diatur, Partner. Selimutnya jangan ditarik sampai hidung begitu, nanti lo malah sesak napas," bisik Reyhan dengan nada suara beratnya yang teramat teduh, lempeng, dan stabil.

Mendengar bisikan sedekat itu, jantung Aurel semakin melompat dari ritme normalnya. Dada gadis itu berdegup begitu keras dengan kecepatan gila-gilaan, bertalu-talu memenuhi seluruh rongga dadanya. Dengan nekat, Aurel menurunkan sedikit selimutnya, menatap langsung ke dalam sepasang mata teduh milik Reyhan yang memancarkan samudera kesabaran dan keikhlasan yang begitu luas.

"Reyhan... lo... lo bisa munduran dikit nggak? Muka lo kedeketan tahu!" protes Aurel terbata-bata dengan rona merah padam yang sudah matang sempurna sampai ke hulu telinganya.

Reyhan tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai cowok dengan kedewasaan yang matang, ia justru mengulurkan tangan panjangnya, merapikan beberapa helai anak rambut panjang Aurel yang berantakan di atas bantal dengan gerakan yang teramat telaten dan manis. Tatapannya begitu lekat dan hangat, seolah menegaskan bahwa ia akan selalu bersabar menjadi pelindung sunyi yang menjaga utuhnya senyum gadis itu, tanpa perlu memaksakan perasaannya.

Klek!

Tepat di saat atmosfer di antara mereka berdua sedang berada di puncak debaran termanisnya, pintu kaca balkon kamar mendadak bergeser dengan sentakan yang cukup keras.

"Oii, Aurel! Ini gue bawa buah potong dari Mami sa—"

Kalimat Shirin seketika terputus di udara. Langkah kakinya yang baru saja menyelinap masuk lewat pembatas balkon langsung membeku kaku di atas lantai kayu. Di belakangnya, Gino yang sedang memegang garpu plastik juga ikut melongo sempurna dengan kening berkerut syok massal.

Pemandangan di hadapan mereka benar-benar luar biasa epik: Reyhan sedang menunduk sedekat itu di atas kasur dengan tangan yang masih memegangi kening Aurel, sementara Aurel sudah berwajah semerah kepiting rebus kuadrat di balik selimut tebalnya.

"Astaga naga... dinasti kelompok kita ternyata lagi ada siaran langsung draf asmara jalur udara!" pekik Gino heboh, langsung menurunkan posisi garpunya dengan cengiran buayanya yang seketika meroket maksimal. "Waduh, waduh! Pangeran Denim gercep bener modusnya pas Kapten Edward lagi ke apotek! Ini namanya sabotase kesehatan berskala internasional, Rin!"

"Shirin! Gino! Keluar nggak lo berdua!" semprot Aurel salah tingkah tingkat tinggi, langsung menarik selimutnya kembali sampai menutupi seluruh kepalanya demi menyembunyikan rasa malu gila-gilaan yang merajai dirinya malam ini.

Shirin yang sadar mereka berdua hampir saja merusak momen manis sahabatnya, langsung menyenggol keras pinggang Gino dengan siku hingga cowok itu mengaduh perih. "Gino! Mulut lo bisa disaring dikit nggak, sih?! Ayo keluar, bego! Taruh aja buahnya di meja, jangan ganggu orang lagi cek draf kompres!"

"Aduh, aduh! Iya, Mak Lampir, ampun! Nggak usah pake sikut kepiting raksasa lo juga kali!" ringis Gino manja sembari buru-buru meletakkan piring buah di atas meja nakas dengan gerakan super pelan demi menahan tawa puasnya. Sebelum melangkah mundur keluar lewat pintu balkon bersama Shirin, Gino sempat mengedipkan sebelah matanya secara misterius ke arah Reyhan—sebuah kode rahasia antar-sahabat yang menandakan bahwa ia sukses menjaga rahasia besar perasaan Reyhan dari radar intel mana pun.

Sreeet! Pintu kaca balkon kembali ditutup rapat dan dikunci oleh Shirin dari luar.

Di dalam kamar yang kembali sunyi, Reyhan perlahan menegakkan kembali punggung tegapnya, lalu terkekeh pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib kedua sahabat mereka. Ia kembali menatap Aurel yang masih bersembunyi di balik selimut tebal.

Didorong oleh luasnya kesabaran dan keikhlasan di dalam dadanya, Reyhan menepuk pelan puncak kepala Aurel dari balik kain selimut dengan kelembutan yang teramat manis. "Udah, nggak usah sembunyi lagi, Partner. Komplotan intel balkonnya udah resmi gue evakuasi keluar. Buruan tidur lagi, biar besok draf hati lo udah siap kita analisis bareng-bareng di pantai."

Aurel perlahan menyembulkan matanya dari balik selimut, menatap punggung tegap Reyhan yang berjalan tenang menuju pintu utama kamar untuk pamit keluar sebelum Bang Edward kembali. Di tengah debaran dada baru yang aneh namun teramat menyejukkan jiwanya siang itu, Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat. Di balik rahasia getir cinta sepihak masa lalunya yang tetap terkunci rapat, ia tahu; perlindungan sunyi dari cowok denim itu telah resmi mengukir lembaran hidup barunya di Bali dengan penuh warna kehangatan yang tak terduga.

Beberapa menit setelah Reyhan melangkah keluar dari kamar Aurel dengan senyap, suasana di koridor balkon luar lantai dua mendadak memanas. Gino dan Shirin masih berdiri merapat di dekat pembatas balkon kamar nomor 205, terlibat dalam obrolan bisik-bisik yang teramat intens dan mencurigakan.

"Sumpah ya, Gin! Gue nggak nyangka si Reyhan bisa se-gentle itu pas kating intel sayur lagi nggak ada!" bisik Shirin heboh dengan mata berbinar.

"Makanya, lo jangan remehkan draf pergerakan senyap Pangeran Denim kelompok kita, Rin!" timpal Gino tak kalah bersemangat.

Klek.

Suara pintu koridor utama yang terbuka lebar seketika memutus paksa obrolan rahasia mereka. Langkah kaki yang tegap dan berwibawa berderap cepat, memunculkan sosok Bang Edward bersama Kak Anita yang baru saja kembali dari apotek luar kompleks vila. Di tangan Bang Edward, sebuah kantong plastik berisi obat lambung dan vitamin tergenggam erat.

Sepasang mata elang kating siaga satu itu langsung memicing tajam penuh selidik begitu menangkap basah posisi Gino dan Shirin yang berdiri gelapan. Radar pengamanan dinasti keluarga langsung aktif penuh di level maksimal.

"Ehem! Ngapain lo berdua berdiri bisik-bisik mencurigakan di luar koridor balkon kamar adek gue malam-malam begini, hah?!" todong Bang Edward dengan volume suara berat yang lantang, melangkah maju mengikis jarak. "Gino! Jangan bilang lo lagi menyusun konspirasi terselubung ya buat modusin Shirin depan kamar adek gue?!"

Gino refleks tersentak kaget, namun otak buaya premiumnya langsung berputar taktis demi melindungi rahasia besar Reyhan dan Aurel di dalam kamar tadi. Ia buru-buru memasang cengiran buayanya yang luar biasa lempeng tanpa dosa. "Waduh, Kapten! Suuzon mulu kerjaannya ya dari orok! Ini... ini tadi gue sama Shirin murni cuma lagi mengagumi arsitektur pembatas balkon luar vila Bali aja kok, Bang! Iya kan, Rin?"

Shirin langsung mengangguk kaku demi menyelamatkan situasi. "I-iya, Bang Edward! Benar kata Gino. Udah ah, mending Bang Edward buruan masuk kamar anterin obatnya Aurel, kasihan dia nungguin dari tadi."

Bang Edward masih menatap mereka dengan pandangan curiga yang teramat kentara, namun Kak Anita langsung menarik kuat ujung kaus kekasihnya itu hingga berbalik arah. "Edward! Udah, nggak usah mode intel pasar terus. Ayo masuk, kasihan Aurel beneran butuh vitaminnya."

"Iya, iya, Sayang, ampun," ringis Bang Edward langsung berubah mode menjadi penurut nan manja di bawah kendali Kak Anita, melangkah masuk ke dalam kamar nomor 204 sembari tetap memberikan pelototan pengawasan jilid terakhir kepada Gino.

Waktu berjalan dengan cepat hingga sore hari pun tiba. Semburat warna jingga keunguan kembali menghiasi langit Seminyak, Bali, memantulkan pendar keemasan di atas permukaan kolam renang vila.

Berkat ketelatenan rawatan kompres air hangat dari Reyhan siang tadi, ditambah obat dari Bang Edward, mukjizat kesehatan maba akhirnya terjadi. Demam Aurel resmi turun total sore ini. Tubuhnya sudah tidak lagi menggigil kaku, wajah pucatnya telah berganti dengan binar kesegaran yang tulus, dan rona merah alami kembali menghiasi pipinya.

Aurel sedang bersandar nyaman di kepala tempat tidurnya sembari menatap ke arah luar jendela kaca balkon yang terbuka. Pikirannya kembali melayang pada debaran gila-gilaan saat jarak wajahnya dan wajah Reyhan terkikis begitu dekat siang tadi.

Jantung Aurel mendadak kembali bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, bertalu-talu keras di dalam rongga dadanya. Dengan jemari yang mendadak gemetar menahan salah tingkah gila-gilaan yang membumbung tinggi, ia menyambar ponselnya di atas meja nakas. Secara diam-diam tanpa diketahui Bang Edward yang sedang bersiap di bawah, Aurel membuka kolom WhatsApp kontak bernama 'Reyhan denim' dan mengetikkan sebuah pesan teks ucapan terima kasih yang super manis.

Aurel: Reyhaaan... lo lagi di mana? Di bawah ya?

Aurel: Gue... gue murni cuma mau bilang makasih banyak ya buat siang tadi. Makasih udah berbaik hati gantiin kompres hangat gue diam-diam pas Bang Edward keluar.

Aurel: Sumpah, perhatian dewasanya lo tadi menolong banget. Sekarang demam gue udah turun total berkat lo. Makasih ya, Partner terbaik emang lo! Jangan lupa senyum sore ini! ✨

Setelah menekan tombol kirim dengan mata membelalak menahan gugup setengah mati, Aurel langsung melempar ponselnya ke samping kasur dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah padam sempurna di balik bantal satinnya. Salah tingkah tingkat tingginya benar-benar merajai kamar sunyi itu.

Hanya butuh dua menit sampai ponselnya bergetar pendek. Bzzzt!

Dengan jantung yang berdegup gila-gilaan berpacu cepat gila, Aurel buru-buru meraih benda pipih itu kembali. Sebuah balasan dari Reyhan mencuat di layar dengan gaya ketikan lempeng, tenang, namun memancarkan kehangatan samudera kesabaran yang luar biasa luas.

Reyhan denim: Sama-sama, Partner. Syukur deh kalau draf fisiknya udah aman terkendali seratus persen.

Reyhan denim: Gue lagi di dekat kolam renang bawah. Buruan siap-siap ganti baju kasual yang anget ya, jangan lupa pakai jaket pemberian Kak Anita lagi. Di bawah para orang tua udah heboh mau mulai makan malam romantis dinasti keluarga kita. Draf hati lo juga dikondisikan ya, jangan sampai matang sebelum lo turun tangga. See you down there, Rel.

Membaca untaian kalimat balasan jahil nan dewasa dari cowok denim itu, pertahanan dada Aurel runtuh seutuhnya. Air mata cemburu masa lalu akibat kemesraan Bang Edward dan Kak Anita di atas kano kemarin bener-bener telah larut menguap tanpa sisa di hulu hatinya, digantikan oleh debaran baru yang aneh namun teramat menyejukkan jiwanya. Sembari beranjak berdiri menuju lemari pakaian dengan senyum ceria paling tulus yang merekah lebar di bibirnya, Aurel sadar; perlindungan sunyi dari Reyhan telah resmi membuka draf lembaran hidup barunya di Bali dengan penuh warna kehangatan yang tak terduga.

Suasana makan malam di halaman terbuka vila mewah malam itu terasa sangat hidup. Pendar lampu tumblr kekuningan yang menggantung indah di antara pohon kelapa memantulkan cahaya hangat di atas meja panjang. Di atas meja, hidangan laut bakar khas Bali berjejer rapi, mengepulkan aroma gurih madu dan mentega yang menggugah selera. Rombongan dinasti keluarga besar sudah duduk melingkar dengan tawa lepas yang bersahutan.

Aurel duduk di barisan tengah, mengenakan sweater rajut longgar yang hangat. Kondisi fisiknya yang sudah pulih total sore ini membuatnya tampak begitu segar. Namun, yang membuat jantungnya berdegup tidak keruan sejak tadi adalah posisi duduknya yang berada tepat bersebelahan dengan Reyhan. Cowok berjaket denim itu duduk tegap dengan pembawaan lempeng andalannya, sesekali menyendok nasi jeruk ke piringnya dengan tenang.

Di ujung meja, Daddy Wira baru saja selesai bersulang gelas bersama Papa Damian. Begitu pandangan kedua pria paruh baya itu menangkap posisi duduk Aurel dan Reyhan yang tampak serasi di bawah lampu, sebuah senyuman taktis dan super jahil seketika terbit di wajah mereka.

Daddy Wira mengetuk garpunya ke pinggir gelas kaca dengan bunyi ting-ting yang cukup nyaring, memotong keriuhan obrolan bisnis para suami.

"Ehem! Harap tenang sejenak dinasti persahabatan sekalian," buka Daddy Wira dengan suara baritonnya yang lantang penuh wibawa. "Melihat anak gadis Daddy yang sembapnya sudah hilang dan badannya sudah segar lagi berkat kompres air hangat rahasia siang tadi, Daddy jadi kepikiran rencana di pantai kemarin sore."

Daddy Wira melirik jenaka ke arah Papa Damian yang langsung menyengir lebar. "Gimana, Damian? Karena draf kecocokan anak-anak kita ini sudah terbukti valid di dalam kamar dan di atas kano, apa tidak sebaiknya liburan ke Bali ini langsung kita resmikan saja buat menjodohkan Aurel sama Reyhan? Biar arisan keluarga kita akhir bulan depan ada status barunya!"

Uhuk! Uhuk!

Aurel yang baru saja hendak meneguk es jeruknya seketika tersedak keras. Wajahnya dalam hitungan detik langsung berubah menjadi merah padam sempurna. Rasa deg-degan parah bercampur salah tingkah tingkat tinggi langsung merajai seluruh rongga dadanya dengan dentuman yang bertalu-talu gila-gilaan.

"Daddy! Astaga, ini di depan umum lho! Jangan kompor terus!" semprot Aurel gemas dengan volume suara yang naik satu oktav demi menutupi kepanikan batinnya yang mendadak meledak.

Mommy Zeline dan Mama Catherine justru meledak dalam tawa renyah paling kompak malam ini. "Hahaha! Papi beneran gesit bener kalau urusan begini! Mommy sih seratus persen kasih lampu hijau. Reyhan kan ganteng, dewasa, dan pinter banget ngerapiin draf. Spek menantu idaman banget!" goda Mommy Zeline ikut menyiram bensin ke kobaran api salah tingkah putrinya.

"Wah, tidak bisa! Sabotase dinasti ini namanya! Edward tetap memegang hak veto pengawasan jarak aman satu meter!" teriak Bang Edward heboh dari seberang meja, siap bangkit berdiri untuk memprotes keputusan sepihak ayahnya sebelum akhirnya pinggangnya dicubit maut oleh Kak Anita hingga kating siaga satu itu mengaduh manja dan terpaksa duduk manis kembali.

Gino yang duduk di barisan koridor kanan seberang Shirin langsung meledak dalam tawa puas sembari mengacungkan garpunya heboh. "Hahaha! Maju terus, Om Wira! Pangeran Denim kelompok kita radarnya udah siap tempur itu, tinggal dikunci aja statusnya!"

Di tengah riuhnya gempuran ledekan seisi meja makan besar itu, Reyhan perlahan meletakkan sendoknya ke atas piring. Cowok berjaket denim itu sama sekali tidak menunjukkan binar salah tingkah yang panik ataupun keagresifan yang canggung. Sebagai cowok dengan samudera kesabaran dan keikhlasan yang teramat luas, ia menoleh lambat ke arah Aurel yang masih menyembunyikan pipi panas membaranya di balik kerah sweater, lalu kembali menatap langsung ke arah Daddy Wira dan Papa Damian.

Dengan ekspresi wajah yang luar biasa lempeng, tenang, dan tanpa dosa, Reyhan mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus di bibirnya.

"Reyhan sih ikut keputusan partner kelompok saya saja, Om, Pa," sahut Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang luar biasa stabil dan mantap, sukses memecah keheningan meja. "Kalau Aurel mau... ya Reyhan juga mau-mau saja."

JEDARRR!

Jawaban super taktis, lempeng, sekaligus menjadi bom konfirmasi terjujur dari mulut Reyhan barusan seketika membuat seisi halaman belakang vila meledak riuh dalam sorak-sorai yang luar biasa heboh! Papa Damian dan Daddy Wira bahkan sampai melakukan high-five ganda di udara dengan tawa bangga yang membumbung tinggi, sementara Mama Ellen dan Tante Sarah sibuk menggoda Shirin yang ikut salah tingkah menontonnya.

Aurel refleks membekap seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan di bawah meja, bener-bener tidak kuat menahan gempuran rasa salah tingkah gila-gilaan yang sudah berada di level maksimal malam ini. Pipinya sudah terasa panas membara dan merona merah padam sempurna sampai ke hulu telinganya.

Di balik sisa rasa sesak dan cemburu akibat cinta sepihak masa lalunya kepada Bang Edward yang malam ini telah hancur larut tanpa sisa, Aurel merasakan sebuah getaran debaran baru yang teramat asing namun merajai seluruh hatinya dengan kehangatan yang nyata. Didampingi oleh riuhnya kehebohan keluarga besar mereka, dan dikawal oleh luasnya samudera kesabaran serta keberanian taktis dari cowok denim di sebelahnya, Aurel sadar; draf lembaran hidup barunya selama di Bali ini telah resmi terkunci indah dalam pelukan kehangatan yang tak terduga.

Jam dinding di ruang tengah vila mewah itu sudah berdentang menunjukkan pukul sebelas malam. Riuh rendah acara makan malam BBQ dinasti keluarga besar perlahan telah senyap. Para orang tua dan kating sudah masuk ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan diri.

Namun di dalam kamar nomor 204, Aurel sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Kalimat taktis Reyhan di meja makan tadi—"Kalau Aurel mau... ya Reyhan juga mau-mau saja"—terus bergaung hebat di kepalanya. Jantungnya masih saja bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, berdegup dengan sangat keras bertalu-talu di dalam rongga dadanya.

Merasa kamarnya terlalu pengap oleh rasa salah tingkah gila-gilaan yang merajai dirinya, Aurel akhirnya memutuskan untuk keluar. Dengan mengenakan sweater rajut tebal longgar andalannya, ia diam-diam menyelinap turun tangga menuju area kolam renang bawah yang berbatasan langsung dengan pasir pantai Seminyak. Embusan angin malam yang dingin dan suara deburan ombak yang konstan menyambut langkahnya.

Namun, begitu kakinya melangkah mendekati dek kayu di pinggir kolam, langkah Aurel seketika terhenti kaku.

Di bawah pendar temaram lampu taman dan pantulan cahaya bulan di atas air kolam, sosok Reyhan rupanya sudah duduk tenang di sana. Cowok denim itu sedang menyandarkan punggung tegapnya pada kursi panjang, menatap lurus ke arah samudra luas dengan cangkir kopi hangat di genggamannya. Pembawaannya tetap terlihat luar biasa tenang, lempeng, dan stabil tanpa dosa.

Aurel sempat bimbang ingin berbalik arah, namun suara gesekan sandalnya di atas kayu sudah lebih dulu memecah keheningan malam. Reyhan menoleh lambat, lalu sepasang mata teduhnya langsung mengunci pandangan tepat pada Aurel.

"Nggak bisa tidur karena draf hatinya masih matang akibat ucapan Daddy Wira tadi, Partner?" tebak Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang teramat teduh, mengalirkan rasa aman yang instan ke dalam dada Aurel.

Wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali memerah padam sempurna hingga ke hulu telinga. Ia melangkah kaku, lalu duduk di kursi panjang kosong tepat di sebelah Reyhan dengan jarak yang cukup dekat, membuat jantungnya semakin berpacu gila-gilaan. "Reyhan! Lo... lo kalau ngomong suka lempeng banget ya! Sumpah, gara-gara jawaban lo di meja makan tadi, gue hampir saja tenggelam di gelas es jeruk tahu nggak!"

Reyhan terkekeh renyah—sebuah suara tawa hangat yang selalu sukses membuat seluruh pertahanan batin Aurel melunak. Cowok denim itu meletakkan cangkir kopinya, lalu memutar tubuhnya menghadap Aurel. Tatapannya menjadi sangat lekat, memancarkan samudera kesabaran dan keikhlasan yang begitu luas.

"Gue nggak lagi bercanda pas jawab itu, Rel," ucap Reyhan dengan nada suara beratnya yang berubah menjadi sangat serius, mendalam, dan dewasa. "Gue tahu... gue tahu betul isi hati lo yang sebenarnya masih terkunci rapat di dalam labirin buntu bersama Bang Edward. Gue juga tahu rasa sakit lo pas lihat kano mereka kemarin sore."

Aurel langsung tertegun kaku, matanya mengerjap tidak percaya menatap profil samping wajah Reyhan.

"Tapi mencintai lo buat gue bukan berarti gue harus memaksakan hati lo untuk berbalik arah secepat itu, Rel," lanjut Reyhan dengan kebesaran hati yang luar biasa luas, membuat dada Aurel berdesir hebat dihantam rasa haru yang mendalam. "Gue fiks siap bersabar. Gue murni bakal tetep tinggal jadi partner terbaik yang selalu pasang badan jagain lo diam-diam di Bali ini. Gue cuma mau mastiin senyum ceria lo tetep utuh, tanpa perlu membuat lo merasa tertekan oleh perasaan gue. Kalau lo butuh waktu buat melangkah maju, gue bakal tunggu di sini."

Mendengar untaian kalimat pengakuan terjujur nan luar biasa dewasa dari mulut Reyhan dari jarak sedekat itu, seluruh sisa rasa sesak dan getir akibat cinta sepihak masa lalu bersama Bang Edward bener-bener larut sepenuhnya tanpa sisa. Aurel salah tingkah setengah mati sekaligus terharu luar biasa, matanya berkaca-kaca menatap cowok di depannya dengan debaran baru yang teramat indah dan menyejukkan jiwanya.

Prokk... prokk... prokk...

Tepat di saat atmosfer di antara mereka berdua sedang berada di puncak debaran privat yang paling mendalam, suara tepuk tangan pelan disusul langkah kaki berderap dari arah lobi dalam vila mendadak memecah kesunyian malam.

"Wah, wah, wah... sepertinya kita berdua mendarat di Bali pada momen investigasi asmara yang sangat tepat waktu nih, Yang!"

Aurel dan Reyhan refleks tersentak pelan dan langsung kompak menoleh ke arah sumber suara. Dari kegelapan koridor lobi, muncul sosok Bang Gavin yang sedang menyeret koper besarnya, didampingi oleh sang istri, Kak Febi, yang tampak begitu anggun mengenakan pakaian kasual perjalanan. Pasangan suami istri itu rupanya baru saja sampai di Bali malam ini karena kemarin sempat tertahan sangat sibuk mengurus dokumen penyelesaian akhir di perusahaan keluarga mereka.

Kak Febi langsung menutup mulutnya dengan satu tangan sembari meledak dalam tawa renyah yang teramat geli, menatap Aurel yang sudah berwajah semerah kepiting rebus kuadrat karena ketangkap basah berduaan larut malam. "Astaga, Aurel Sayang! Pantesan tadi malam Mami Ellen sama Tante Zeline heboh banget kirim pesan di grup keluarga, ternyata anak gadis kita di sini lagi ada sesi draf pelindung sunyi di pinggir kolam renang ya?"

Bang Gavin langsung menyengir lebar, menurunkan kacamata bacanya dan menatap Reyhan dengan pandangan penuh rasa hormat seorang abang tingkat atas. "Gila, gila! Ini baru namanya adik ipar masa depan spek dewa, taktis bener pergerakan senyapnya! Tenang, Rey, tenang. Pagar pembatas jarak satu meter punya si Edward malam ini aman di bawah kendali gue. Lo berdua lanjutin aja draf obrolannya, kami berdua murni mau masuk kamar atas dulu buat evakuasi koper!"

"Bang Gavin! Kak Febi! Ih, sumpah ya kalian berdua kompak bener kalau urusan bikin salah tingkah!" semprot Aurel salah tingkah tingkat tinggi, langsung menarik ujung sweater rajut tebalnya sampai sebatas hidung demi menyembunyikan pipinya yang sudah panas membara luar biasa dari pandangan kakak-kakaknya.

Reyhan yang berdiri tenang di sebelah Aurel hanya bisa terkekeh renyah tanpa dosa sembari mengangguk takzim menyapa kedatangan Bang Gavin dan Kak Febi.

Di bawah pendar langit malam Seminyak yang bertabur bintang dan riuhnya tawa godaan dari Bang Gavin serta Kak Febi yang perlahan berjalan menaiki tangga luar, Aurel mengembuskan napas panjang yang sarat akan letupan rasa hangat. Di balik rahasia hatinya yang malam ini telah resmi membuka lembaran hidup baru, ia sadar; samudera kesabaran dari cowok denim di sebelahnya telah resmi mengunci indah takdir liburan mereka di Bali dengan penuh warna kehangatan yang tak terduga.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!