Harapan adalah mimpi yang belum terwujud. Kamu adalah insan yang pernah singgah namun aku lupa cara menjelaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Ini adalah hari dimana sang pendampingku menjadi sang pendampingnya. Ini adalah hari dimana semua harapanku hanya menjadi mimpi belaka. Ini adalah hari dimana aku menyadari satu hal. Yaitu, kau bisa saja lupa dengan keberadaanku namun kau tak akan pernah lupa dengan kenangan yang sudah kita ukir.
Beberapa hari lalu, tepatnya sebelum Daniel mengadakan acara repsepsi pernikahannya. Dia bertanya padaku kenapa aku selalu muncul dimimpinya. Padahal aku hanya orang asing yang tak sengaja bertemu dengan Daniel dalam sebuah ketidaksengajaan. Namun, mengapa orang asing sepertiku bisa masuk ke dalam mimpi seorang pria yang akan terikat janji. Itu karena dulu kamu, Daniel telah mengikat janji tak nyata denganku.
Daniel terus bertanya padaku, apakah ada sesuatu dulu diantara kita? Aku menjawabnya pendek dengan hanya mengatakan "Sesuatu itu lebih dari sesuatu" lalu pergi. Hati ini rasanya seperti di tusuk-tusuk oleh tusuk sate. Aku tetap tegar, ini jalan hidupku. Bukankah Daniel pernah bilang kalau hidup ini sudah ada skenarionya masing-masing. Aku bukan merelakan namun aku hanya melepaskanmu. Merelakan dan melepaskan mempunyai makna yang berbeda, walau bila dilihat di dalam kamu KBBI arti merelakan;melepaskan,ikhlas dan lain-lain.
"Put, nanti di pesta Daniel mau menari denganku?" Ethan bertanya.
"Tunggu, tunggu," Aku sedang berusaha mencerna apa yang Ethan katakan barusan.
"Anda bilang 'kamu' pada saya?" Aku bertanya pada Ethan.
"Em, magsudnya anda ya hahaha," Ethan menjawab sambil tertawa.
"Boleh, tapi sepertinya saya akan datang terlambat," Ujarku menjawab pertanyaan Ethan yang tadi.
"Kenapa terlambat?" Ethan kembali bertanya.
'Karena aku tak bisa menyaksikan pasanganku menikah dengan orang lain,' Ucapku dalam hati.
"Ada urusan saja," Ujarku pada Ethan.
"Apakah anda sudah memilih dress untuk pergi ke acara tersebut?" Ethan bertanya padaku dengan tangannya yang sibuk mengetik-ngetik di atas keyboard laptop miliknya.
"Belum, rencananya saya mau beli dulu. Tapi, bingung dimana tokonya," Aku menjawab pertanyaan Ethan laly, pergi untuk melayani pelanggan yang lain.
"Bagaimana kalau besok siang?" Teriak Ethan padaku, aku seakan mengerti apa yang ia magsud aku pun mengangguk pelan sambil menoleh ke arah Ethan.
...***...
"Gimana ini bagus ga?" Aku bertanya pada Ethan untuk ke 10 kalinya setelah berganti-ganti dress.
"Hem, coba next aja," Ethan menjawab.
Kesal sekali rasanya, padahal dress ini hanya di pakai sekali namun kenapa malah membuatku stres? Untuk yang kesebelas kalinya aku berganti dress, setelahnya aku menunjukan penampilanku menggunakan dress berwarna merah muda ini yang ditaburi banyak sekali manik-manik yang berkilau.
"Nah! nah!" Seru Ethan.
"Hadeh, gimana ganti lagi?" Aku bertanya dengan nada ketus.
"Ini cocok sekali!" Ethan menjawab.
"Oke kita ambil ini! Dan pulang!" Ujarku.
"Jangan dulu, anda harus membeli sepatu em lalu tas, lalu hiasan untuk rambut dan beberapa alat make up mungkin," Ucap Ethan.
"Saya yang perempuan kok anda yang lebih paham sih!" Seruku kembali.
Selanjutnya setelah menbayar dress ini, aku dan Ethan mampir untuk membeli sepatu. Kenapa Ethan seperti mengajak istrinya berbelanja saja padahal tetap aku yang membayar.
"Ini cocok sekali dengan dress anda tadi!" Ujar Ethan. Aku mencoba sepatu tersebut dan ukurannya pas.
"Oke ambil,"
Selanjutnya, ke toko aksesoris. Ethan sedang mencari-cari hiasan rambut yang cocok untukku. Dan beberapa saat kemudian dia dudah menemukan sebuah bando yang berwarna merah muda juga. Aku merasa ini cocok jadi aku mengambilnya. Setelah mengunjungi beberapa toko lagi akhirnya aku selesai berbelanja.
"Put!" Teriak Ethan dari belakang.
"Apa?" Aku menoleh ke arah Ethan.
"Prfttt....," Aku tertawa, melihat Ethan kewalahan memegangi semua barang belanjaanku dan tentu saja yang punya dia.
"Yaudah sini-sini saya bantu," Ujarku.
"Tak usah! Magsud saya tolong," Ethan menunjuk ke arah sepatunya.
Dan ternyata tali sepatunya Ethan lepas. Aku kira dia meminta bantuan untuk membawakan barang-barang. Aku pun menghampiri Ethan dan berjongkok lalu, mengikat kembali tali sepatunya tersebut.
"Sudah," Aku menatap ke atas dan tepat sekali aku melihat rahang Ethan.
"Ah, terimakasih. Tapi, tunggu kenapa anda seperti melamar saya?" Ujar Ethan sambil menoleh ke bawah.
"Kebalik," Ucapku.
Ethan tiba-tiba menaruh barang-barang belanjaan tersebut. Lalu, menyuruhku untuk berdiri dan sekarang gantian dia yang berjongkok. Aku bingung apa yang dja lakukan. Ternyata, Ethan memberikan sebuah cincin padaku.
"Apa ini?" Aku bertanya, dan kami malah menjadi pusat perhatian.
"Em, tanda kita sahabat hahaha," Ethan menjawab.
"Maukah anda memakainya?" Ethan bertanya.
"Boleh," Aku mengulurkan tanganku, namun aku lupa kalau masih ada cincin di jari manisku ini. Tentunya dari Daniel.
"Yang di sebelah kana saja," Ujarku.
"Hem, cincin itu dari siapa?" Ethan bertanya.
"Dari, orang" Aku menjawab pendek lalu, Ethan memasangkan cincin tersebut pada jari manis di tangan kananku.
Malu sekali banyak orang-orang yang jadinya memperhatikan kami. Aku langsung buru-buru mengajak Ethan untuk pulang.
...***...
"Jangan pernah lepas cincin ini ya," Ujar Daniel padaku.
"Kenapa?" Aku bertanya.
"Kecuali, kalau kita udah putus haha," Daniel menjawab.
"Baru juga jadian masa udah bilang gitu," Ucapku dengan sedikit kesal.
"Bercanda, bercanda yaudah jangan marah," Ujar Daniel dia pun memelukku.
Aku balas memeluknya. Rasanya seperti sedang memeluk angin saja.
Aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku sedang bermimpi. Bagaimana caranya aku melepas cincin ini sedangkan, kita saja belum memutuskan untuk putus dari hubungan ini. Namun, aku juga tau Daniel kan sudah lupa. Besok adalah hari dimana aku akan melepas cincin yang ku pakai ini, akan kuberikan kepada Nayla. Dia lebih pantas memakainya di bandingkan dengan aku.
Aku harus latihan sekarang agar besok tak meneteskan air mata seujung jari pun. Aku harus bisa berakting dengan baik tidak boleh terlihat bohong. Aku menatap ke arah cincin yang Ethan berikan kalau dipikir-pikir dulu Ethan pernah menembakku. Padahal keadaannya sudah romantis namun, aku menolaknya. Andai aku tidak bertemu dengan Daniel hari itu. Mungkin, pintu hatiku akan terbuka untuk Ethan dia adalah laki-laki yang baik.
Apakah aku juga harus memberikan jepit rambut ini pada Nayla. Tidak, cukup cincin ini saja. Aku anggap besok adalah hari dimana Daniel memutuskan hubungan kami. Aku sangat menyayangimu Daniel. Namun, aku percaya rasa ini akan menjadi samar setelah kau pergi bersama orang yang kau pilih. Apa-apaan aku ini, jika aku jadi Daniel aku juga akan bingung bertemu seorang perempuan yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya. Dan aku juga pasti tidak akan percaya begitu saja bukan? Juga kenapa malam-malam begini aku ingin memakan sate?
...●●●...
... ...
Happy Friday..semangat selalu ya..
salam dari :
~ TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
~ Truth Or Dare? ( Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat )
~ Mr. Mafia Or Mr. Psychopath?
Jangan lupa mampir, kasih feedback dan Like di novel terbaruku juga ya, judulnya 'Forced Climbing to Liang Mountain'
Sukses terus untuk kita semua🖤