Ig: rhiynavya
Berawal dari kecelakaan kecil, malah menjadi masalah besar untuk Anchil. Sagi masuk ke dalam keluarganya, hanya untuk balas dendam. Hatinya tidak benar-benar menerima bantuan dengan ikhlas, setelah kepergian ibunya karena insiden kecelakaan.
Setelah sampai di tengah jalan membalas dendam, baru Sagi menyadari bahwa telah salah sasaran. Berbagai macam lintasan pikiran ingin meminta maaf, namun gengsi bersuara dalam sanubari.
Sagi baru menyadari, bahwa dirinya telah jatuh hati pada Anchil. Namun teman masa kecil Anchil, telah kembali lagi. Terjadi persaingan manis antara Sagi dan Gaga, dalam merebut hati Anchil.
Siapakah, yang akan mendapatkan hati Anchil? Simak kisah lengkapnya, hanya dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kesedihan
Weni mondar-mandir, karena menerima pesan dari ibu RT. Katanya ayam yang dipesan, tidak kunjung juga diantar oleh Sagi.
"Kemana si kamu Nak, padahal Ibu ingin kamu cepat mengantarnya." monolog Weni.
Weni keluar dari rumahnya, menyeberang jalan dengan pelan-pelan. Tiba-tiba saja, ponselnya berbunyi. Weni merogoh sakunya, dan menggeser tanda berwarna hijau. Tiba-tiba saja sebuah truk mengebut, menabrak Weni yang sedang menyeberang.
Bruk!
Weni terjerembab ke aspal, lalu banyak warga yang menolongnya. Weni dibawa ke rumah sakit, karena lukanya sangat parah. Para suster segera membawa Weni, yang berada di atas ranjang pasien.
Anchil malas untuk ribet, dia segera memberikan uang pada Sagi. Lalu setelah itu, dia mengendarai mobilnya. Sagi ingin mencuci ayamnya, namun sudah ada yang hancur. Banyak kendaraan berlalu lalang, yang menabraknya hingga halus.
"Sial sekali, hari ini bertemu dengan gadis itu." monolog Sagi.
Sagi melangkahkan kakinya, menuju ke rumah ibu RT. Sesampainya di sana, pesanan kurang jumlahnya. Harap maklum, Sagi membawa ayam yang masih bagus saja.
"Sagi, aku sudah menunggu lama. Kenapa kamu membiarkan pesananku, menjadi seperti ini." ujar Billah.
"Maaf Bu, aku tidak sengaja." jawab Sagi.
Billah membayar separuh harga saja, lalu Sagi pergi menjauh. Sementara ibu RT senang karena mendapatkan uang bayaran, dari selingkuhan Papa Sagi.
Saat baru sampai rumah Sagi segera berlari, saat mendapat informasi tentang ibunya. Dia melangkahkan kakinya, untuk menuju ke rumah sakit.
Raniwe menghampiri pasien yang sedang bangun, dalam keadaan yang hampir sudah tidak sanggup. Weni membuka mulutnya, dengan kesusahan untuk bernafas.
"Weni, apa aku boleh meminta pertolongan." ujar Raniwe.
"Katakan, aku juga ingin meminta syarat." jawab Weni.
"Aku ingin, kamu memberikan ginjal untuk suamiku." ucap Raniwe.
"Baiklah, tapi tolong penuhi syarat terakhirku." jawab Weni.
"Katakan saja, apa itu?" tanya Raniwe.
"Kita sudah lama bersahabat, aku ingin kamu menjaga putraku." jawab Weni.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan kamu." ujar Raniwe.
"Terima kasih, dengan seperti itu aku bisa tenang." Weni melihat ke arahnya.
Dengan senang hati, Raniwe akan melakukan yang Weni pinta. Raniwe memberikan surat pernyataan setuju transfusi ginjal, lalu Weni memegang pena dengan perlahan. Akhirnya proses tandatangan selesai, dan operasi segera dilaksanakan. Weni telah menghembuskan nafas terakhirnya, bersamaan dengan Sagi yang baru muncul.
"Loh, itu 'kan pria yang bertemu di jalan tadi." monolog Anchil.
Dia melihat Sagi yang sedang mengedarkan pandangannya, terlihat seperti sedang mencari ruangan. Setengah jam kemudian, barulah dia melihat ibunya.
"Ibu, jangan tinggalkan aku." Sagi menangis sejadi-jadinya.
"Ibu kamu sudah meninggal." jawab Raniwe.
"Kenapa dia keluar dari ruangan operasi, apa yang terjadi pada Ibuku." Sagi menatap mata suster yang terus menunduk.
"Dia baru saja menjalankan transfusi ginjal, untuk suami nyonya ini." Suster menunjuk Raniwe.
"Anda benar-benar tidak punya hati, pasti anda yang memaksanya untuk melakukan ini." ujar Sagi.
"Kamu bisa lihat surat pernyataan ini, bila memang tidak percaya." Raniwe memberikan map pada Sagi.
Sagi membaca isinya, yang ada tandatangan ibunya. Dia hampir tidak percaya, bahwa ibunya telah pergi.
"Ibumu ingin, aku mengurus kamu hingga wisuda kuliah. Harusnya, kamu tidak akan menolak 'kan?" tanya Raniwe.
"Baiklah, aku akan mengikuti kalian." jawab Sagi.
"Mama, tadi dokter bilang operasinya berjalan lancar." ujar Anchil.
"Syukurlah, Papa kamu pasti sudah boleh pulang beberapa Minggu lagi." jawab Raniwe.
”Aku akan membalas dendam pada suamimu, yang telah mendapatkan ginjal Ibuku. Lalu anakmu yang telah membuatku tidak bisa bertemu Ibu, harus merasakan sakit yang aku rasakan.” batin Sagi, yang sedang marah membara.