Ig.Twensie_26
Bintang Morales tak menyangka terjebak ke dalam permainannya sendiri.
Zee Zemira, wanita yang dianggapnya lemah ternyata tidak seperti aslinya.
Dia merupakan sosok wanita mandiri, pintar, licik, dan punya seribu cara untuk membungkam mulut Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twensie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang baru dimulai
“Sial, untuk apa dia kembali? Merusak rencanaku saja!” sungut Nadin kesal, ketika membaca pesan dari security rumah, yang mengatakan kalau mobil Bintang memasuki halaman rumah.
Nadin segera mematikan pendingin air, dan menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Meraih pergelangan tangan Zemira dan membawanya ke tepi.
"Hari ini kamu selamat, tapi tidak dilain waktu! Kalau sampai Bintang tahu perbuatan ku hari ini, maka ini akan menjadi hari terakhirmu di sini! Membuat Bintang membencimu, itu tidaklah sulit untukku!" kata Nadin, sambil memapah Zemira memasuki ruang keluarga.
Melihat kondisi Zemira yang memprihatinkan, bukannya membuat Bintang merasa kasihan, tapi justru sebaliknya. Dia merasa jijik.
Dia langsung menarik pergelangan tangan sang istri dan membawanya ke lantai dua, di mana kamarnya berada.
Bruk!
Auw ....
Zemira menjerit pelan, ketika Bintang mendorongnya dengan kasar ke lantai.
"Aku menikahi mu bukan karena cinta, tapi hanyalah sebuah aksi protes pada kedua orangtuaku! Mau berendam selama apapun, tidak akan mengubah kenyataan kalau dirimu telah kotor! Seorang kotor seperti dirimu, tidak akan pernah bisa membuat hatiku luluh! Tapi tenang saja, aku hanya butuh kamu menjadi istriku selama dua tahun, sampai kekasihku kembali dari mengejar kariernya! Aku akan membayar dua tahunmu itu dengan uang yang sangat banyak, jadi kamu tidak perlu lagi menjadi simpanan konglomerat!"
Mendengar kata "uang" membuat emosi Zemira tiba-tiba tak terkendali. Dia langsung saja berdiri dan mendorong Bintang, hingga jatuh di atas sofa. "Uang! Uang! Uang! Selalu saja uang! Mungkin bagimu uang itu penting, tapi bagiku uang itu musibah! Gara-gara uang aku kehilangan kebahagiaan, gara-gara uang aku harus terjebak di rumah yang penuh kemunafikan ini! Aku benci yang namanya UANG!"
"Uang penting atau tidak untukmu, aku sama sekali tidak peduli!" kata Bintang berdiri dan mendorong Zemira dengan kesal.
Bintang melangkah mendekati meja yang ada disamping kasur, membuka laci dan mengambil map merah yang ada di dalamnya. "Tanda tangani ini sekarang juga!"
Zemira mengambil map itu dan membukanya, serta membaca isinya.
Zemira menatap Bintang dan tersenyum, "Apa kamu pikir aku akan menandatangani surat perjanjian ini semuda itu? Tidak!"
Mata Bintang membelalak sempurna, ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Zemira. "Maksudmu?"
"Kita menikah secara sah secara hukum dan agama! Saat kamu memintaku menikah, tidak ada surat perjanjian apapun yang kamu bicarakan, jadi aku mau tanda tanda tangan atau tidak semua terserah aku!" kata Zemira tersenyum.
Gleg!
"Jangan katakan kalau kamu tidak akan menandatanganinya, Brengsek!" teriak Bintang murka.
Srek!
Srek!
Wajah Bintang langsung pucat pasih, ketika Zemira merobek surat perjanjian itu. Senyuman manis membentuk di bibir ranum Zemira.
"Apa yang kamu lakukan, Brengsek! Jadi kamu mau menjadi istriku seumur hidupmu, ha?" teriak Bintang murka.
"Kamu yang membuatku masuk ke rumah ini, kamu yang membuatku menjadi istri sah, kamu juga yang membuatku sadar kalau uang adalah segalanya! Jadi apa aku salah, ketika menginginkan lebih? Aku tidak ingin sekedar pesangon, tapi aku ingin menjadi nyonya Morales, bukankah itu lebih menguntungkan?" Zemira menatap Bintang dengan senyuman mencibir.
Zemira mundur selangkah demi selangkah, ketika Bintang melangkah mendekatinya secara berlahan. Sampai akhirnya tubuh bagian belakangnya tersandar di dinding beton. Dia langsung saja menutup mata rapat-rapat, ketika kepalan tinju Bintang mengarah padanya.
Bukkk!
'Tidak mungkin hanya satu tinju dari Bintang, terus akan mengantarku ke liang lahat, kan? Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasakan sakit?' batin Zemira, berlahan membuka matanya.
Zemira terkejut ketika menyadari kalau Bintang bukan meninju dirinya, tapi dia melampiaskan amarahnya pada dinding beton yang sama sekali tidak bersalah.
Ketakutan Zemira bertambah, ketika melihat tatapan Bintang.
"Kamu mau menjadi nyonya Morales seutuhnya, kan? Itu artinya, kamu sudah siap dengan semua konsekuensinya. Sayangnya, kamu sama sekali tidak mengenalku! Bersiaplah menerima semua perlakuanku padamu, jika kamu tidak sanggup maka aku akan tetap memberikan kamu uang pesangon setelah waktu penandatanganan surat cerai! Aku ingin tahu berapa lama kamu akan bertahan!" kata Bintang merasa tertantang, kemudian langsung meninggalkan Zemira.
Kaki Zemira terasa lemas, berlahan tubuhnya jatuh ke lantai. Pikirannya benar-benar kalut.
Mata Zemira memindai sekeliling dan membatin, 'Kemewahan ini bukanlah milikku, aku sadar itu. Jika saatnya tiba, aku akan keluar dari rumah ini tanpa membawa uang sepeserpun. Aku yakin Bintang tidak main-main, dia akan memperlakukan aku tanpa belas kasihan.'
Dengan lunglai Zemira meraih handuk dan melangkah ke kamar mandi. Membersihkan dirinya.
Selesai membersihkan diri, Zemira kembali ke lantai satu untuk melanjutkan tugasnya.
Tidak ada satu pelayanan pun yang membantunya, ataupun sekedar menyapanya.
Semua takut pada ancaman Nadin Hilton.
Zemira dapat menyelesaikan semua tugasnya, tanpa ada gangguan dari Nadin.
Wanita licik itu sedang keluar, sama seperti biasanya. Dia keluar untuk menghabiskan uang putranya.
Zemira memilih kembali ke kamar dan beristirahat, sebelumnya dia telah mengatur alarm.
Kring! Kring! Kring!
Zemira langsung meloncat dari sofa, ketika alarm berbunyi.
'Apapun yang terjadi, aku hanya perlu diam. Sepedas apapun kalimat yang keluar dari mulut keluarga Morales, maka aku hanya akan diam dan menjadi pendengar setia. Pasti ini adalah neraka baru untukku.' Batin Zemira yakin.
Tidak mau memperkeruh keadaan, Zemira langsung berlari menuruni anak tangga, menuju lantai satu.
"Apakah nyonya Bintang membutuhkan sesuatu?" tanya salah seorang pelayan.
Ya! Sesuai perintah Nadin, maka di pagi dan sore menjelang malam, Zemira akan menjadi nyonya Bintang seutuhnya. Jadi sebagaimana mereka memperlakukan Nadin, seperti itulah Zemira akan diperlakukan.
"Akhirnya anak ibu pulang juga." Kata Nadin menyambut Bintang dengan suara lembutnya.
"Tumben ibu hanya menghabiskan uang seratus tiga puluh sembilan juta, hari ini! Biasanya hampir lima ratus juta." Kata Bintang datar.
Zemira menelan ludah, ketika mendengar angka yang baginya butuh waktu puluhan tahun untuk mengumpulkannya. Itupun tidak menjamin akan mencapai angka segitu. Sedangkan Nadin hanya menghabiskannya dalam waktu sehari.
"Tadi ibu hanya membeli tas, terus traktir teman-teman sosialita ibu." Jawab Nadin dengan elegan.
Bintang hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda, kalau dia paham.
Zemira ketakutan, ketika Bintang tiba-tiba mendekat kearahnya. "Selamat malam, Sayang."
Zemira terkejut mendengar sapaan sayang yang keluar dari mulut Bintang.
"Aku punya sesuatu yang istimewa untukmu hari ini." Kata Bintang dan menuntun Zemira duduk.
Bintang bertepuk tangan tiga kali, asistennya datang membawa kue yang berbentuk love.
'Apa ini artinya Bintang sudah memulai perangnya? Dia ingin meracuni ku?' batin Zemira ketakutan.
Mendapat kode dari Bintang, pelayan rumah langsung membawa sendok kecil dan memberikannya kepada sang bos.
Melihat tidak ada gerakan dari Zemira, Bintang berdiri tepat dibelakang Zemira.
"Ini hadiah yang aku maksud." Kata Bintang sambil memakaikan kalung ke leher Zemira, "Dan ini adalah hadiah tambahan dariku," Bintang menyuapi kue yang dibelinya ke mulut Zemira.