Orang bilang, masa masa paling indah dalam kehidupan seseorang adalah masa masa ketika SMA. Masa masa ketika kita berusaha mencari jati diri, eksplorasi kebersamaan dengan teman dan hura hura, hati yang berdebar debar ketika merasakan apa artinya jatuh cinta serta indahnya sebuah malam minggu.
Sally, gadis kelas 3 SMA yang sedang berlibur ke rumah masa kecilnya di Yogya, bertemu dengan seorang cowok ganteng yang menggetarkan hatinya. Cowok yang memenuhi segala harapannya. Padahal ia telah mempunyai seorang kekasih di kota tempat tinggalnya, Surabaya. Hanya karena saat itu hubungan mereka sedang tidak baik baik saja, haruskah ia berpindah hati? Antara Yogya dan Surabaya, kemanakah hatinya akan berlabuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julius caezar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6
Sally membalikkan badan memunggungi teman temannya sambil memeluk guling. Tuhan, apakah Engkau memang mengirimkan Mas Richard buat menggantikan Herman? pikirnya. Eh, kok malah mengingat Herman? Bayangan wajah Herman yang imut imut berseliweran di kepalanya. Haduuuhhh, percuma dong aku liburan ke sini? Percuma kalau tidak bisa melupakan dia! Sally memaki dalam hati.
Memang tujuannya berlibur ke Yogya adalah untuk melupakan Herman-nya. Paling tidak untuk menghindar darinya selama beberapa waktu. Biar dia tahu rasa kalau tidak ketemu aku! pikirnya waktu itu. Kamu pikir kamu bisa seenaknya? Aku juga bisa!
Akhirnya dia mengajak dua sobatnya untuk berlibur ke rumah kakeknya di Yogya. Dia pamit pada ke dua orang tuanya, juga pada Bobi, adiknya. Tapi tidak pada Herman. Biar cowok itu kebingungan mencariku, katanya dalam hati. Karena itu Sally juga tidak mengaktifkan telepon genggamnya kalau tidak sangat perlu. Mau benar benar menikmati liburan, katanya saat Bobi bertanya.
Hm, lagi ngapain ya Herman malam minggu begini? Apa lagi ngumpul bareng teman temannya lagi? Lho. kok mikir Herman lagi? Haduuuh, ini harus dihilangkan. Percuma aku liburan ke sini kalau selalu memikirkan dia. Toh malam Minggu begini dia lebih suka berkumpul bersama teman temannya. Ya.... Herman memang susah sekali meninggalkan acara gathering bersama teman temannya kalau malam Minggu begini. Mungkin karena teman temannya yang berjumlah lima orang itu masih jomblo semua. Itu yang membuat Sally sering kalang kabut kalau tiba malam Minggu. Di saat teman temannya yang sudah punya pacar dikunjungi pacarnya, dia harus kesepian menunggu Herman yang belum tentu datang. Dalam sebulan maksimal cuma dua kali Herman melakukan kewajibannya wakuncar. Itupun cuma sebentar lalu balik dengan alasan ditunggu teman temannya. Kayaknya Herman memang tidak mau tahu kewajibannya. Benar benar mengesalkan!
"Kita kan ketemu setiap hari di sekolah, Sal," alasannya tiap kali Sally bertanya. "Senin sampai Jumat, dari pagi sampai hampir sore. Masa cuma Sabtu dan Minggu aja tidak kuat menahan rindu kepadaku, Sal?"
"Di sekolah dan di rumah kan beda, Man?" kata Sally sewot. "Kalau di rumah kita kan bisa......."
"Bisa apa.....?" Herman tersenyum nakal. Sally jadi tambah sewot dua kali lipat.
"Kok pikiranmu kotor sih Man?" gerutunya. "Maksudku kalau di rumah kita kan bisa ngobrol santai, bisa bersenda gurau, kamu bisa melihatku bermain biola atau kalau aku buat cemilan, kamu bisa beri penilaian..."
"Lalu.....?"
"Ya... ya... bisa bercanda dengan bebas, bisa mikir kapan mau nonton atau mau nonton film apa yang bagus....?
"Trus? Apalagi?"
"Hadeeehhh.... kamu selalu begitu kalau aku ngomong serius! Ngapain pakai kamu catat segala?"
"Siapa tahu nanti soal soal ini keluar saat ulangan?"
"Tidak lucu!"
Memang susah bicara serius dengan Herman. Maunya bercanda terus. Seriusnya cuma waktu dia "nembak" Sally. Jangan jangan "nembak" nya juga bercanda? Nah lo....
Kata Alfred, sahabat akrabnya, Herman memang hampir selalu ngumpul bersama ke lima temannya itu kalau malam Minggu atau Minggu siang, entah di rumah salah satu anggotanya atau di cafe.
"Kalian ngapain aja sih kalau kumpul bareng gitu? Apalagi kalau di cafe. Ngapain aja?" tanya Sally.
"Ya banyaklah yang kita bicarakan atau kerjakan, Sal.... maklum kami semua kan masih jomblo. Cuma Herman yang sudah punya pacar."
"Iya.... ngapain aja?" kejar Sally
"Kamu tanya Herman sendiri saja, Sal.... kan dia pacarmu?"
Sally mengangguk angguk. Ternyata begitu kuat mereka saling melindungi. Apakah karena ini maka Herman lebih suka berkumpul dengan teman temannya daripada mengunjungi pacar sendiri? Karena atmosfirnya lebih hangat? Kelewatan! Apakah dia tidak tahu kalau pas malam Minggu dia tidak datang, akan terasa menyiksa buatku?
"Capek ngomong sama kamu, Man! Sekarang begini aja, kamu lebih memilih teman temanmu itu atau aku?" kata Sally ketika kesabarannya hampir habis.
"Waduh, jangan mengancam begitu dong, Sal...." Herman bingung. "Aku tidak mau kehilangan kedua duanya. Sama sama penting dalam hidupku. Aku sayang kamu, tetapi aku juga tidak mungkin meninggalkan mereka. Waktuku kumpul kumpul bersama mereka kan paling cuma sampai akhir tahun ajaran ini. Setelah itu kita akan melanjutkan kuliah dan hidup masing masing, belum tentu bisa kumpul kumpul bareng lagi. Apalagi kalau ada yang melanjutkan kuliah di luar kota atau luar negeri."
Sally menghembuskan napasnya dengan kesal. Herman menatapnya penuh harap.
"Kamu bisa mengerti, kan?" katanya dengan suara lembut.
"Tidak!" Sally mendelik menatap Herman. "Penting amat ya mereka bagimu? Mana ngumpulnya juga di cafe lagi. Pasti kalian juga minum minuman keras, membuat rencana gila gilaan, atau menggoda cewek yang lewat."
"Sal... jangan punya pikiran negatip dong! Teman temanku tidak pernah melakukan apa yang kamu sebutkan itu. Lagipula pertemuannya tidak selalu di cafe kok. Kadang di rumahku atau rumah salah satu diantara kami. Di cafe kami juga cuma minum varian kopi, bukan minuman keras."
"Apa sih yang kalian lakukan tiap Sabtu dan Minggu sampai segitunya kamu mengabaikan aku?"
"Macam macam, Sal....."
"Tawuran, kebut kebutan, ke diskotik.... Iya? Itu yang kamu sebutkan macam macam?"
"Aduh Sal.... jangan selalu berpikir negatip. Aku dan teman teman lebih suka membuat kegiatan yang positip kok."
"Lalu apa, Man? Kenapa kamu tidak mau jujur kepadaku?" Sally hampir menangis.
Herman menarik napas panjang.
"Kami... kami memproduksi stiker dan poster. Tapi dalam edisi terbatas karena belum punya izin edar," akhirnya dia berkata.
Sally kaget mendengar penjelasan cowok itu. Stiker? Poster?
"Stiker dan poster? Untuk apa, Man? Kamu kekurangan uang dari orang tua kalian?" tanyanya.
Herman tertawa. Orang tua mereka rata rata merupakan kelas menengah atas di Surabaya. Pasti tidak mungkin kekurangan uang untuk sekedar menyekolahkan anak anaknya.
"Tidak Sal! Cuma kami tidak ingin memberatkan orang tua. Hasilnya juga tidak seberapa, hanya cukup untuk menambah uang saku. Tapi dengan stiker dan poster itu kami membuat slogan slogan yang mungkin bisa mengingatkan generasi kita untuk selalu bertindak positip."
Hmm... hebat juga! pikir Sally.
"Sama saja, Man. Modalnya pasti dari orang tua kan?"
Herman menghela napas panjang. Mau tidak mau ia harus mengaku kalau tidak mau hubungannya dengan gadis yang dicintainya bubar.
"Kami... kami punya group band, Sal.... dan kadang kadang suka manggung di cafe dan club. Duit hasil manggung itulah yang kami pakai sebagai modal."
"Apa?" pekik Sally. "Kalian nyanyi di cafe dan club malam?"
"Iya Sal.... tapi percayalah, teman temanku tidak ada yang melakukan hal hal negatip seperti minum minuman keras atau menggunakan obat obatan terlarang."
"Tidak, Man! Itu bukan tempat yang baik. Kamu masih kelas 12. Bukan tempatmu!"
"Aku... aku harap kamu percaya kepadaku, Sal.... Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Sampai saat ini kami selalu langsung pulang setelah sesi kami berakhir. Biasanya juga tampil permulaan sebagai pembuka acara kalau di club. Kalau di cafe kan........"
"Ah, bodo amat deh! Susah ngomong sama kamu!" Sally menyergah dan tidak memberi kesempatan Herman untuk menyelesaikan perkataannya. "Sekarang terserah kamu mau ngapain, aku tidak akan melarang. Gitu aja!"
"Sally.....!"
Tapi Sally sudah melesat pergi meninggalkan Herman yang cuma bisa melongo. Dia memang sudah putus asa menghadapi cowok itu. Herman memang egois, cuma mau menang sendiri. Tiap kali absen pada malam Minggu dia selalu meminta pengertianku, tapi kalau aku mengeluh atau meminta pengertiannya, dia mana mau tahu?
"Cowok seusia dia memang belum mau diikat, Sal. Kalian aja yang terlalu cepat pacaran," ujar Monic waktu itu.
"Ya. Mereka kayaknya lebih suka main dengan teman temannya atau ngumpul bareng gank-nya." tambah Nishi.
"Lha kalau memang masih ingin bebas, kenapa dulu dia nembak aku?" kilah Sally.
"Mungkin dia buru buru supaya ga keduluan orang lain kali," sahut Monic tertawa.
"Huuhh, kalau tahu akhirnya begini, mending ga usah pacaran dulu seperti kalian." keluh Sally pasrah.
Ditunggu like dan komennya ya teman teman..... buat nambah semangat author