Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Ketahuan.
"Tuan, ada orang!" Luna begitu kaget saat mendengar suara orang yang memanggil Gamma dari luar diiringi ketukan pintu. Ia langsung mendorong kepala Gamma yang masih asyik memainkan kedua bukit kembarnya.
"Shitttt! Tenanglah Luna, mereka tidak akan masuk, aku mengunci pintunya." Gamma mengumpat kesal karena kesenangannya terganggu.
"Itu seperti suara Nona Clarissa, bagaimana ini?" Kata Luna segera bangkit dari pangkuan Gamma, ia membenarkan bajunya yang sempat dibuat berantakan oleh Gamma.
"Gamma?"
Tok Tok Tok Tok
Mata Luna membesar saat mendengar suara Clarissa lagi. Sumpah demi apapun, jantung Luna saat ini berdetak sangat kencang saat ini. Luna takut jika sampai perbuatannya tadi ketahuan.
"Ck, kau tidak perlu panik seperti itu. Kalau kau terlalu panik justru dia curiga," kata Gamma menarik tengkuk Luna lalu mencium bibirnya.
"Tuan!" Bentak Luna sangat kesal rasanya, ia sedang panik tapi Gamma malah menciumnya.
"Lipstikmu belepotan, tenangkan dirimu Luna. Semua akan baik-baik saja, sekarang buka pintunya," kata Gamma memandang Luna sangat serius, ia juga membenarkan rambutnya yang sempat diacak-acak Luna tadi.
Luna mengangguk singkat, ia sedikit gugup saat membuka pintu ruangan Gamma. Terlihat wajah kesal Clarissa yang langsung dijumpainya.
"Kau? Kenapa kau ada di ruangan suamiku?" Clarissa kaget saat Luna membuka pintunya, matanya menyipit memandang Luna, ia curiga karena mereka berdua di dalam ruangan yang sedang terkunci.
"Selamat siang Nona Clarissa, maaf saya memang sekretaris Tuan Gamma, jadi memang sudah menjadi tugas saya berada disini," ucap Luna menjawab dengan sopan.
Clarissa berdecih sinis. "Baiklah, sekarang kau bisa pergi, aku ingin berbicara pada suamiku," kata Carissa langsung masuk ke ruangan Gamma, ia sengaja menyenggol baju Luna sebagai tanda peringatan.
"Gamma, kenapa semalam tidak pulang? Aku merindukanmu ... ."
Luna menghela nafas panjang, ia menatap Gamma sekilas sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Ia masih sempat mendengar suara Carissa sebelum ia menutup pintu ruangan itu.
"Ada apa kau kemari?" Gamma bertanya dengan wajahnya yang sama sekali tidak ramah itu. Ia bukan hanya kesal bertemu Clarissa, tapi ia kesal karena kesenangannya dengan Luna terganggu.
"Kau yang ada apa? Kenapa kau menolak panggilanku, sekarang Mama itu lagi sakit, kemana saja kau?" Clarissa justru yang lebih marah.
Semalaman itu menghubungi pria ini tapi tidak bisa tersambung sama sekali. Ia juga menghubungi Luna tapi juga sama saja tidak diangkat. Sedangkan dia harus terkantuk-kantuk menunggu Ibu mertuanya dirumah sakit.
"Nanti aku akan kesana, ada apa kau kemari, aku sangat sibuk," sahut Gamma begitu enggan meladeni Clarisaa ini.
"Sibuk apalagi? Mama menangakanmu dan dia minta kau pulang sekarang," kata Clarissa.
"Ck, baiklah aku akan pulang. Bagaimana keadaan Mama?" Gamma mau tidak mau harus pulang karena Mamanya juga sedang sakit, ia tidak mungkin egois hanya karena tidak mau bertemu Clarissa malah mengabaikan Mamanya sendiri.
"Kata Dokter nanti sudah bisa pulang, tinggal menunggu infusnya habis saja," sahut Clarissa cukup senang suaminya mau pulang. "Oh ya, semalam kau tidur dimana? Bibi dirumah bilang kau tidak pulang?" Tanya Clarissa menyipitkan matanya curiga.
"Aku tidur dikantor," sahut Gamma singkat, tidak mungkin ia mengatakan kalau tidur di tempat Luna.
"Kau tidak sedang berbohong padaku kan?" Clarissa kembali bertanya, ia merasa gelagat suaminya ini mencurigakan sekali.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, lihat saja nanti setelah aku mendapatkan bukti, bersiaplah untuk melepas statusmu menjadi Nyonya Johnson," ujar Gamma melirik istrinya tajam, ia sampai lupa jika pagi tadi orang suruhannya sudah mengirimkan bukti rekaman CCTV di klub, mungkin ia akan mengeceknya nanti.
"Semudah itu Gamma? Aku jadi semakin curiga, apa benar dugaanku, kau bermain api dengan sekretaris mu itu?" Tuduh Clarissa tidak terima rasanya jika Gamma terus meminta cerai, padahal pria ini tidak pernah seperti itu sebelumnya.
"Jangan membawa Luna dalam masalah ini, ini hanya antara kau dan aku, dia tidak ada sangkut pautnya sama sekali," tukas Gamma mengepalkan tangannya, entah kenapa ia tidak suka Clarissa selalu membawa Luna dalam masalah mereka. Wanita itu memang saat ini punya hubungan dengannya, tapi Clarissa yang sudah memulai terlebih dulu, bukan dia.
"Oke fine, tapi bisakah kau juga tidak terus menuduhku Gamma? Aku tidak pernah sedikitpun berpaling darimu, kenapa kau tidak percaya?" Kata Clarissa mendekati suaminya lalu duduk dipangkuan pria itu.
"Aku hanya berbicara apa yang aku lihat," sahut Gamma menarik pinggang Clarissa agar menyingkir dari pangkuannya lalu ia beranjak berdiri.
"Dan kau harusnya tahu apa yang terlihat belum tentu sepenuhnya benar. Aku tadi juga melihat kau dan Luna berada didalam ruangan yang sama, hanya berdua, apa yang kalian lakukan?" Ujar Clarisaa lagi.
"Aku bilang jangan bawa-bawa, Luna!" Hardik Gamma hampir saja lepas kendali ingin memukul Clarissa tapi ia masih menahan dirinya.
"Oh, sekarang kau mau memukulku hanya karena wanita itu? Aku jadi semakin yakin kalau kau memang ada hubungan dengan dia!" Seru Clarissa menatap suaminya dengan penuh emosi.
Gamma menipiskan bibirnya, tidak ada gunanya ia berbicara dengan Clarisaa ini. Yang ada ia bisa semakin emosi jika setiap hari berdebat. Lebih baik sekarang ia pulang dan nanti malam ia akan melihat bukti rekaman CCTV itu agar Clarisaa tidak lagi menyangkal ucapannya.
*****
Luna kembali duduk di depan komputernya, ia sempat memegang bibirnya yang masih sedikit kebas karena ciuman Bosnya tadi. Entah kenapa sekarang perasaannya yang tidak tenang. Luna mencoba mengerjakan pekerjaannya, tapi otaknya tidak bisa diajak konsentrasi.
"Aku ini kenapa sih?" Luna menggaruk rambutnya kesal, ia memandang pintu ruangan Gamma yang sejak tadi belum terbuka semenjak kedatangan Clarissa.
"Mereka berdua suami istri, untuk apa aku harus memikirkannya?" Gumam Luna kesal sendiri dengan dirinya, padahal sudah menjadi keputusannya untuk tidak menerima tanggung jawab dari Gamma, tapi kenapa ia tidak suka jika mereka berdua bersama.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka membuat mata Luna memicing untuk melihat mereka berdua yang bergandengan cukup mesra.
"Luna, hari ini aku akan pergi. Kau atur saja lagi jadwalku bertemu dengan Maxi," ucap Gamma terlihat menahan amarah dan tidak berdaya. Ia bahkan tidak menatap Luna sama sekali.
"Baik Tuan." Luna mengangguk saja, ia melihat Gamma kembali, tapi pria itu sama sekali tidak melihatnya. Ia hanya bisa menatap punggung mereka berdua menghilang di balik lift yang tertutup.
Aku tidak boleh cemburu, ingat posisi dan sadar diri. Gamma adalah suami orang, lagipula jika Gamma pergi itu lebih bagus, aku bisa lebih fokus menyelesaikan pekerjaanku tanpa ada orang yang menganggu.
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥