Indonesia
NovelToon NovelToon
Ustadz Jadi Pengantin Pengganti?

Ustadz Jadi Pengantin Pengganti?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Wanita Karir / Romansa / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wdy_Ags

DALAM MASA REVISI!

SINOPSIS:

Abdurrahman Hasbi Batsya, seorang ustadz muda dan tampan yang di paksa jadi pengantin pengganti oleh wanita bernama Saraslaytus Marxis.

Padahal Hasbi sudah mempunyai wanita idaman yang ingin ia ikat dalam sebuah pernikahan.

Namun takdir berkata lain.

"Saya tidak mau, pernikahan bukan untuk mainan!" Hasbi.

"Itu bagimu, tapi bagiku tidak." Rasla.

Awalnya Hasbi hampir tak dapat menerima pernikahannya karena cintanya masih milik Isti Zaifuamara anak dari KH, Amar dan Nyai Faridah.

Namun, seiring berjalannya waktu Hasbi mulai bisa menerimanya hingga membuat awal pernikahannya bersama Rasla tampak hangat. Tapi apakah pernikahannya akan tetap mulus tanpa adanya masalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wdy_Ags, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJPP 7 - Jilbab

"Habibati, bangun..." Ucap Hasbi sembari mengelus pipi Rasla lembut, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi lewat dua puluh lima menit. Tapi Rasla belum kunjung bangun dari mimpinya.

"Emmm... " Rasla melenguh terganggu, dengan pelan membuka matanya. Wajah tampan sang suami yang tengah tersenyum langsung menyapa indra penglihatannya.

"Jam berapa?" Tanya Rasla pelan merasa nyawanya baru terkumpul setengah.

"Jam enam lebih dua puluh lima menit," Jawab Hasbi.

Rasla bangkit menyenderkan diri di kepala ranjang dengan di bantu Hasbi, tadi malam dirinya memang tidur larut malam karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sementara Hasbi sendiri sudah tidur lebih dulu tapi bukan di ranjang namun di sofa, Rasla yang memintanya karena tak ingin ada hal lebih yang terjadi nanti.

"Kalau sudah sadar sepenuhnya, ayo mandi. Habibi udah siapin air, abis itu ke dapur kita sarapan." Ujar Hasbi sembari duduk di ranjang, memandang wajah Rasla yang ia akui sangat cantik. Pasti akan lebih cantik lagi kalau berhijab.

"Hm," Dehemnya seraya melirik Hasbi sinis.

"Aduh... yang lagi datang bulan sinis amat sih, " Ucap Hasbi menggoda.

Pletak!

Rasla yang kesal menjitak kening Hasbi kuat-kuat sampai membuat si empu meringis sakit. "Nggak jelas!" Ketusnya kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.

Hasbi melihatnya terkekeh pelan, terhibur dengan sikap Habibati-nya yang ternyata tak sedingin yang ia kira walaupun belum bicara dengan nada lembut.

Bangkit dari posisinya, Hasbi melangkah keluar kamar menuju ke dapur. Disana, ia mendapati Ina yang tengah menata menu sarapan pagi ini di meja makan yang berupa nasi goreng dan telur ceplok.

"Shobahul khoir, Umma," Sapa Hasbi seraya membantu menyusun beberapa piring.

"Shobahun nuur, Anak Umma." Balas Ina.

"Rasla dimana Hasbi?" Tanya Ina kemudian.

"Rasla sedang mandi Umma," Jawab Hasbi sopan, Ina mengangguk.

"Umma seneng, sekarang Hasbi sudah menerima pernikahanmu" Ungkap Ina bahagia, ia bersyukur karena anak dan menantunya saling bicara tak perang Dingin atau sebagainya.

"Alhamdulillah Umma," Jawab Hasbi bersyukur.

Tap... Tap... Tap...

Terdengar suara derap langkah kaki yang tegas, berhasil mengalihkan atensi Ina dan juga Hasbi. Mereka kini menatap Rasla yang datang dengan menggunakan celana training warna hitam dan kaos pendek ketat warna hijau olive, sepatu olahraga warna putih dan rambutnya yang di kuncir tinggi yang di tutupi topi khusus untuk olahraga berwarna hijau dengan perpaduan hitam.

"Wah, menantu Umma cantik sekali. Mau kemana nih?" Tanya Ina.

Rasla tersenyum tipis. "Mau olahraga sekitar sini Umma,"

"Tapi Habibati, apa tidak ada pakaian lain yang lebih longgar dan panjang?" Tanya Hasbi lembut.

Rasla menoleh, mengernyit heran. Apa ada yang salah dengan apa yang ia kenalan?. "Gak ada,"

"Yasudah, kalau begitu ini." Hasbi melepaskan jaketnya lalu ia kenakan pada tubuh sang istri, Rasla seperti biasa, hendak menolak tapi Hasbi menahannya. "Jangan di lepas yah Habibati, Habibi hanya tidak ingin kamu mengumbar aurat. Karena itu, Habibati coba mulai sekarang pakai jilbab ya."

Rasla diam, melirik Ina yang selalu memakai jilbab panjang sampai pinggang. Apakah dirinya harus memakai jilbab seperti itu? bisa-bisa keringat bercucuran karena kegerahan.

Ina yang melihat lirikan Rasla, tersenyum hangat. "Yang Umma pakai ini adalah Khimar, kamu tidak harus memakai ini kok. Kamu bisa memakai pasmina atau kain segi empat, yang terpenting menutup kepala hingga dada." Jelasnya. "Sebentar, biar Umma ambilkan dulu." Lanjut Ina seraya menuju ke kamarnya, tak lama kemudian Ina keluar dari kamar dengan membawa beberapa kain dengan berbagai jenis warna.

"Kamu mau pakai yang mana? pasmina atau segi empat." Ujar Ina.

"Yang ini saja Umma," Jawab Rasla menunjuk kain segi empat berwarna hijau lumut.

"Hasbi, tolong letakan ini di kamar Umma." Perintah Ina sembari menyerahkan kain-kain yang tak terpilih.

"Baik Umma," Jawab Hasbi kemudian mengambil kain tersebut lalu meletakkannya di kamar milik sang Ibu.

"Sebelum itu, Umma pakaikan ciput dulu ya." Ucap Ina yang di angguki oleh Rasla, setelah mendapatkan izin dengan segera Ina memakaikan ciput dengan telaten dan memastikan rapih tak ada sehelai-pun rambut yang terlihat.

Selanjutnya Ina mulai melipat kain tadi menjadi segi tiga, lalu memasangnya di kepala Rasla. Memastikan panjang pendek dan kerapihannya, barulah Ina memasang peniti pada bagian leher. Mengambil bagian kanan yang menjuntaj kemudian di kaitkannnya ke bagian sebelah dengan menggunakan bros.

"Maa syaa Allah, cantik sekali Ya Habibati." Puji Hasbi saat melihat istrinya yang telah di pakaikan jilbab Umma-nya.

"Betul, Rasla memang sungguh cantik." Ina menimpali.

Sementara Rasla yang mendengarnya jadi bersemu merah, entahlah kali ini rasanya beda. Terdengar lebih tulus dibandingkan orang lain yang baru melihat beberapa saat.

"Iya Umma, lihat. Pipinya memerah semerah tomat, jadi tambah cantik." Goda Hasbi membuat Rasla segera mengalihkan wajahnya.

"Cantik 'kan?" Tanya Hasbi.

Rasla diam, memandang pantulan dirinya dari cermin kecil bulat yang di gantung di dinding. Ya, ia mengakui jika dirinya terlihat lebih cantik. Bahkan sangat.

"Sudah, ayo kita sarapan. Nanti keburu siang," Ujar Ina menengahi, akhirnya mereka semua melaksanakan sarapan pagi bersama dengan khidmat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!