Hujan badai tak menghentikan langkah Niken Ayudia untuk meninggalkan rumah yang sudah hampir 10 tahun ia tempati bersama Antonio Wicaksana. Kekerasan fisik dan mental , penghinaan serta pengkhianatan yang ia dapatkan dari sang suami telah memporak porandakan cinta dan mahligai rumah tangga yang selama ini ia jaga. Niken pergi membawa ketiga buah hari tercintanya. Disaat Toni menyadari kesalahannya dan ingin memperjuangakan keutuhan rumah tangganya kembali, ternyata Niken sudah berubah. Niken bukan lagi wanita lemah yang hanya bisa bergantung hidup pada lelaki. Niken sudah berubah menjadi wanita dengan karir gemilang dan bisa menghidupi anak-anak dengan sangat baik. Maukah Niken kembali lagi pada laki-laki pemarah dan tukang selingkuh itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Dijee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengadu Pada Mertua
"Aku harus bagaimana sekarang? Rasanya aku tak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang seperti ini."
Niken meratapi sedih nasib yang harus ia jalani saat ini. Ia sanggup menjalani kehidupan yang pas-pasan , malah bisa dibilang serba kurang selama ini. Walaupun kadang ia merasa iri dengan teman-temannya yang dibelikan barang-barang bagus oleh suaminya, namun Niken tak mempermasalahkan hal itu. Ia tetap menerima sang suami apa adanya. Baginya yang terpenting adalah kehidupan keluarga yang harmonis dan hangat. Namun kini kehidupan yang membuatnya bahagia telah hilang entah ke mana, ditambah dengan Toni yang mulai selingkuh bahkan berani berhubungan badan dengan perempuan lain, Niken merasa tak sanggup mentolerir tindakan Toni lagi.
"Sebaiknya aku laporin perbuatan mas Toni ke Ibu mertua saja," pikir Niken. Ia tak mungkin langsung mengadukan Toni pada bapak ibunya di desa, karena mereka pasti akan langsung menyuruh Niken menceraikan Toni. Sementara Niken saat ini belum memutuskan ke arah sana. Ia merasa kasihan melihat beby Cia yang masih kecil harus terpisah dari ayahnya, walaupun selama ini ayahnya tak pernah perhatian. Niken juga tak sanggup kalau keluarganya menerima cemoohan dari tetangga di desa. Yang terpikir di kepalanya saat ini adalah ibu mertuanya, orang tua Toni.
Pagi harinya Niken bangun lebih awal. Ia segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya, seperti mencuci baju, mengepel, memasak , mencuci piring, semua Niken kerjakan pagi itu sebelum mengantar anak-anak sekolah. Niken masih mendiamkan Toni seperti kemarin, laki-laki itu juga tak banyak bertanya pada Niken. Toni tak mempertanyakan perubahan sikap Niken yang tak lagi menyiapkan keperluan kerjanya.
Setelah anak-anak berangkat sekolah dan Toni berangkat kerja, Niken segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah mertuanya. Ia harus buru-buru pergi karena ia hanya punya waktu hingga jam 10. Hari ini Fani pulang jam 10, jadi Niken sebelum jam 10 sudah harus ada di rumah lagi untuk menjemput Fani. Niken segera memesan ojek online karena jarak rumah ibu mertua dan rumah kontrakannya cukup jauh.
Menyambar sekantong plastik berisi kue pukis dan serabi yang ia beli tadi pagi untuk oleh-oleh ibu mertua, Niken segera keluar rumah karena ojek pesanannya sudah datang. Tak lupa Niken mengunci pintu sebelum meninggalkan rumah.
Lima belas menit perjalanan akhirnya Niken sampai di rumah orang tua Toni.
"Selamat pagi, Bu, Pak."
Niken mengetuk pintu yang tertutup dan memberi salam. Tak menunggu lama kemudian pintu terbuka, menampakkan sosok wanita paruh baya yang merupakan Ibunya Toni. Niken tersenyum melihat wanita itu terkejut mengetahui dirinya yang datang. Biasanya memang Niken berkunjung ke rumah mereka saat akhir pekan bersama anak-anak dan suaminya. Terkadang mereka juga menginap di sana. Namun kali ini ia hanya bersama beby Cia, Niken juga tak mengabari dulu tadi. Tentu saja wanita itu terkejut.
"Lho Niken sama Cia, sini masuk nak," ibu Toni mengajak Niken masuk ke dalam rumah.
Niken duduk bersama ibu Toni di ruang tamu. Niken mengedarkan pandangan mencari keberadaan bapak mertuanya yang tak nampak batang hidungnya.
"Bapakmu lagi ke sawah, Ken. Nyari rumput, biasa," seakan mengerti jika Niken mencari suaminya, Ibu Toni menjelaskan keberadaan laki-laki tua itu.
Niken hanya menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum. Sejujurnya saat ini Niken sangatlah gugup karena setau orang mereka kehidupan rumah tangga Niken dan Toni baik-baik saja. Niken gugup memikirkan bagaimana reaksi orang tua Toni.
"Makan dulu sana Ken, kamu sudah makan belum? Sini Cia gendong nenek dulu."
Niken membiarkan sang mertua mengambil tubuh Cia dari gendongannya. Niken memperhatikan wanita yang menimang-nimang bayi itu dengan gembira. Orang tua Toni sebenarnya orang yang baik, mereka memperlakukan Niken dan anak-anak dengan sangat baik. Mereka juga bukan tipe mertua yang galak pada menantu dam tak pernah ikut campur urusan keluarga anaknya tanpa diminta. Setelah menikah Toni memang mengajaknya hidup mandiri dengan mengontrak rumah yang ditempati sekarang. Toni beralasan tak mau menyusahkan kedua orang tuanya. Bahkan saat kekurangan uang pun Toni tak mau meminjam pada ayah dan ibunya, walaupun mereka masih bekerja kadang-kadang.
"Niken sudah makan tadi Bu," jawab Niken sambil menyerahkan oleh-oleh yang ia bawa.
"Makasih ya Ken, kamu nggak perlu repot-repot bawa oleh-oleh lain kali. Tolong letakkan di situ dulu."
Karena sedang mengajak bercanda beby Cia, ibu Toni menyuruh Niken meletakkan oleh-olehnya di meja. Niken melakukan permintaan ibu mertuanya. Melihat seberapa sayangnya orang tua itu pada anak-anak, membuat Niken ragu-ragu untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
"Kok tumben kamu datang sendiri cuma dengan Cia, Ken? Apa ada yang ingin kamu bicarakan sama ibu?" tanya Ibu Niken melihat menantunya hanya banyak diam tak seperti biasanya. Wajah murungnya memang terlihat jelas. Wanita yang biasanya ramah dan ceria itu tak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya.
"Sebenarnya bu....."
Niken tak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. Lidahnya terasa kelu. Kata-kata yang sudah ia rancang sejak di rumah tadi tiba-tiba tak bisa ia ucapkan. Ia hanya bisa menangis menumpahkan segala sakit hatinya.
Ibu Toni membawa Cia duduk di dekat Niken. Wanita itu mengusap-usap lembut punggung sang menantu yang bergetar hebat akibat menangis. Ia tak langsung bertanya, ia hanya menunggu Niken tenang kembali.
"Ada masalah apa? Cerita lah pada ibu, siapa tahu ibu bisa mengurangi beban masalahmu," setelah melihat Niken mulai tenang dan berhenti menangis Ibu Toni baru berani bertanya.
"Maafkan Niken, bu. Tapi Niken tak tahu harus bicara pada siapa lagi selain ibu."
Noken akhirnya menceritakan apa yamg membuatnya sangat terpukul. Tentang sikap Toni yang mulai berubah dan sering marah-marah hingga tak segan untuk memukul anak-anak, juga tentang perselingkuhan dan tindak asusila Toni. Ibu mendengarkan tanpa menyela meskipun ia tampak terkejut dan tak percaya.
"Ken."
Wanita tua itu meraih tangan Noken dan menggenggamnya erat setelah Noken selesai mengeluarkan uneg-uneg dan segala beban pikirannya.
Niken masih menunduk tak berani menatap ibu mertuanya. Sungguh Niken takut melukai perasaan wanita yang telah melahirkan suaminya itu. Namun ia merasa beban di kepalanya sedikit berkurang sekarang.
"Ibu ingin minta maaf atas apa yang telah diperbuat anak ibu pada kalian. Ibu tidak tahu jika Toni menjadi seperti itu," ucap wanita paruh baya itu dengan penuh rasa bersalah dan sedih. Sebagai ibu, ia tentu ingin rumah tangga anaknya baik-baik saja, apalagi mereka sudah memberikan tiga cucu yang menggemaskan untuknya.
"Lalu aku harus bagaimana Bu sekarang?"
Niken mendongak dan menatap ibu mertuanya. Ia lega sang ibu tidak marah seperti yang ia harapkan. Meski mereka cuek tapi oraag tua Toni cukup bijaksana.
"Rumah tangga itu tidak ada yang benar-benar mulus selamanya, Ken. Pasti ada-ada saja batu sandungannya. Ibu dulu juga pernah di posisi kamu, namun ibu bertahan dan berjuang hingga rumah tangga ibu masih utuh sampai sekarang."
Wanita tua itu terlihat menerawang jauh, mengingat-ingat kehidupan rumah tangganya dulu yang juga penuh cobaan. Ibu Toni menceritakan bahwa suaminya juga pernah menyeleweng seperti Toni. Ia juga sempat merasakan hancur dan merasa tal sanggup bertahan.
"Ibu berusaha untuk terus berjuang menyadarkan bapak kamu, sembari berusaha berbenah diri. Ibu terus memperbaiki diri ibu hingga bapakmu sadar akan kesalahannya dan benar-benar berhenti menyeleweng lalu fokus pada keluarga."
Niken mendengarkan cerita dan petuah ibu mertuanya dengan sungguh-sungguh. Ia belum mengeluarkan sepatah katapun sejak ibu bercerita. Ia tak menyangka jika ayah Toni juga pernah menyeleweng. Benar-benar seperti peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Ibu harap kamu juga bisa menjadi wanita kuat seperti Ibu, Ken. Demi anak-anak kita harus berjuang. Menangkan hati suami kamu kembali. Jangan sampai kamu menyerah begitu saja pada wanita murahan di luar sana." pesan ibu.
Niken mengangguk dan tersenyum, meski ia belum membuat keputusan bagaimana nanti ia akan bersikap pada Toni.
Ia pun segera pamit pada ibu mertuanya karena ia akan menjemput Fani di sekolahnya sebentar lagi. Ibu Niken mengantar kepergian Niken dengan tatapan sendu.
"Apa aku harus bertahan demi anak-anak?"
Niken belum memutuskan langkah apa yang harus ia ambil, dan bagaimana Niken harus menyikapi suaminya nanti?
oia kak mampir juga yuk ke novel ku "Gadis Lumpuh Dan Mafia Dingin) novel masih ongoinh