Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Jiang Ming menyusun kelima tiket itu dan menyerahkan sisa tumpukannya kembali kepada Paman Zhao.
"Aku ambil lima lembar yang ini saja, Paman," ucap Jiang Ming dengan nada setenang mungkin.
Paman Zhao menerima uang lima puluh yuan dari tangan Jiang Ming sambil menggelengkan kepala.
"Kau benar-benar membuang uang makanmu, Ming. Kalau kau kalah, aku tidak akan meminjamimu uang untuk makan siang."
"Tenang saja, Paman. Aku punya firasat sangat bagus hari ini," balas Jiang Ming tersenyum percaya diri.
Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk yang sedang memilih minuman kaleng di ujung toko ikut menimpali.
"Anak muda sekarang memang maunya cepat kaya tanpa bekerja keras," cibir pria gemuk itu.
Itu adalah Paman Li, salah satu tetangga dari lingkungan kontrakan Jiang Ming yang terkenal bermulut pedas.
"Daripada menghabiskan uang untuk undian gosok, mending kau melamar jadi kuli panggul di pasar, Jiang Ming."
"Terima kasih atas sarannya, Paman Li. Tapi aku lebih suka cara yang elegan," balas Jiang Ming dengan tenang.
Dia mengambil sebuah koin bernilai satu yuan dari saku celananya.
Srek srek srek.
Jiang Ming mulai menggosok tiket pertamanya perlahan-lahan.
Paman Zhao dan Paman Li diam-diam melirik ke arah tangan Jiang Ming, penasaran dengan hasilnya.
Lapisan perak di tiket pertama terkelupas sepenuhnya.
Mata Paman Zhao seketika melotot lebar.
"L-lima ratus yuan?! Kau menang lima ratus yuan di lembar pertama?!" seru Paman Zhao kaget.
Paman Li yang sedang membuka minumannya nyaris menjatuhkan kalengnya ke lantai.
"Mana mungkin? Biar kulihat!" Paman Li bergegas mendekat ke meja kasir.
"Ini beneran, Paman Li. Lima ratus yuan yang sangat bersih," ucap Jiang Ming tersenyum tipis.
"Itu cuma kebetulan bodoh. Jangan sombong dulu," dengus Paman Li tidak mau kalah.
Jiang Ming kembali memegang koinnya dan menggosok tiket kedua.
Srek srek srek.
Angka lima ratus yuan kembali muncul dengan sangat jelas.
"Astaga! Lima ratus yuan lagi!" teriak Paman Zhao sambil memegang kepalanya.
"Paman Zhao, sepertinya dewa keberuntungan benar-benar sedang duduk di pundakku pagi ini," canda Jiang Ming santai.
Dia tidak berhenti dan langsung menggosok tiket ketiga dan keempat.
Srek srek srek.
Kedua tiket itu sama-sama menunjukkan angka lima ratus yuan.
Suasana di dalam toko kelontong itu mendadak menjadi sangat sunyi.
Paman Zhao dan Paman Li menatap Jiang Ming seolah mereka sedang melihat hantu di siang bolong.
"Dua ribu yuan... kau baru saja memenangkan dua ribu yuan hanya dengan modal lima puluh yuan," gumam Paman Zhao dengan bibir bergetar.
Paman Li menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya memerah karena malu dan iri.
"Ini pasti curang. Kau pasti punya trik licik, kan?!" tuduh Paman Li menunjuk wajah Jiang Ming.
"Paman Li, Paman melihat sendiri aku mengambilnya acak dari tumpukan milik Paman Zhao. Bagaimana aku bisa curang?" bantah Jiang Ming dengan argumen logis.
Paman Zhao mengangguk setuju.
"Li Tua, jangan menuduh sembarangan. Tiket ini resmi dan segelnya utuh sebelum digosok."
Jiang Ming tersenyum penuh kemenangan melihat wajah pucat tetangganya yang menyebalkan itu.
Tangannya kini beralih pada lembar tiket kelima, tiket penentu yang menjadi incaran utamanya.
"Ini lembar terakhir, mari kita lihat seberapa besar keberuntunganku hari ini," ucap Jiang Ming tenang.
Srek srek srek.
Koin itu menggores permukaan perak dengan ritme yang konstan.
Satu per satu angka nol mulai bermunculan di balik segel tersebut.
Satu nol, dua nol, tiga nol, empat nol.
Dan diakhiri dengan angka satu di bagian depan.
Brak.
Paman Zhao tanpa sadar menggebrak meja kasirnya dengan sangat keras.
"Sepuluh ribu yuan! Hadiah utama sepuluh ribu yuan!" teriak Paman Zhao histeris hingga suaranya serak.
Paman Li langsung jatuh terduduk di lantai toko, kakinya mendadak lemas melihat pemandangan mustahil itu.
Sepuluh ribu yuan ditambah dua ribu yuan, totalnya dua belas ribu yuan dalam waktu kurang dari lima menit.
Angka itu jauh lebih besar dari gaji kuli pasar selama tiga bulan berturut-turut.
"Paman Zhao, bisakah aku mencairkan semua hadiah ini sekarang?" tanya Jiang Ming dengan nada datar, seolah uang belasan ribu yuan itu hanyalah uang jajan biasa.
"Tentu saja bisa, tapi aku tidak punya uang tunai sebanyak itu di toko. Aku harus mentransfernya langsung ke rekening bankmu," jawab Paman Zhao yang masih terlihat syok berat.
"Tidak masalah, transfer saja ke rekening lamaku. Paman masih menyimpan nomornya, kan?"
"Ya, ya, aku akan mengurusnya sekarang juga."
Paman Zhao dengan tangan gemetar mulai menekan layar ponselnya untuk melakukan transfer.
Sementara itu, Jiang Ming melepaskan kacamata dari wajahnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku.
Tes.
Setetes cairan hangat berwarna merah tiba-tiba jatuh dari hidungnya mengenai punggung tangannya.
Jiang Ming buru-buru mengusapnya dan melihat darah segar mewarnai jari-jarinya.
"Sial, ternyata menggunakan benda ajaib menguras terlalu banyak tenaga otak dari fisik manusia biasa," batinnya sambil menahan rasa pusing yang mulai menyerang bagian belakang kepalanya.
Dia menyeka darah mimisan itu dengan lengan jaketnya agar tidak ada yang menyadari kondisinya.
Ini adalah bayaran yang sangat adil menurutnya.
Mendapatkan uang instan belasan ribu yuan hanya dengan mimisan kecil adalah pertukaran paling menguntungkan yang pernah ada di dunia ini.
Tring.
Ponsel butut Jiang Ming berbunyi, menandakan adanya pesan masuk.
[Bank Jinhai: Saldo Anda telah bertambah sebesar 12.000 Yuan.]
Melihat deretan angka di layar ponselnya, rasa pusing di kepalanya seketika menguap entah ke mana.
"Uangnya sudah masuk, Paman Zhao. Terima kasih banyak atas pelayanannya hari ini," ucap Jiang Ming sambil tersenyum lebar.
"K-kau ini manusia atau siluman, Ming? Ibumu pasti mewariskan hoki yang sangat besar padamu," gumam Paman Zhao masih belum sepenuhnya percaya.
"Aku hanya orang biasa yang sedang beruntung, Paman."
Jiang Ming berbalik menatap Paman Li yang masih duduk mematung di lantai.
"Paman Li, terima kasih atas saranmu untuk jadi kuli. Tapi kurasa, dewa lebih suka aku menjadi orang kaya hari ini."
Tanpa menunggu balasan dari pria gemuk yang sedang menahan malu itu, Jiang Ming melangkah keluar dari toko kelontong.
Langkah kakinya kini terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin sore.
Uang dua belas ribu yuan ini bukanlah uang yang bisa membuatnya kaya raya secara instan.
Namun, uang ini adalah kunci utama baginya untuk memutar roda bisnis Toko Dewa Tiga Alam ke tahap selanjutnya.
"Tiga ribu yuan untuk biaya kuliah Xiaolin, lima ratus yuan untuk sewa kamar Bibi Wang, dan sisanya..."
Mata Jiang Ming menatap tajam ke arah langit pagi kota Jinhai yang cerah.
"Sisanya akan kugunakan untuk membeli buku skil dari aplikasi itu dan menjadi mesin pencetak uang yang sebenarnya."
Perburuan kekayaan baru saja dimulai, dan Jiang Ming pastikan dirinya tidak akan pernah lagi kelaparan di jalanan.