Renata yang awal pernikahan mencintai Seno, lama kelamaan rasa cinta itu luntur karena keadaan ekonomi mereka yang tak kunjung membaik. Renata jadi tak peduli lagi kepada Seno, bahkan dia memaksa agar Seno merantau ke Ibukota. Selain berharap Seno mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di Jakarta, ternyata diam-diam Renata juga tengah menjalani hubungan terlarang dengan seseorang dibelakang sang suami. Renata ingin bebas berhubungan dengan pria selingkuhan nya itu, tanpa di ganggu oleh Seno, makanya dia merasa sangat senang saat Seno pergi merantau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
''Duduklah Seno,'' Saras meminta Seno duduk di atas kursi yang berhadapan dengan nya, dengan sebuah meja persegi panjang sebagai pembantas.
''Baik Nona,'' Seno mengangguk kecil, lalu dirinya duduk di hadapan Saras. Sebutan Nona ia sematkan karena ia sadar setelah ini Saras akan menjadi majikan nya.
''Ternyata kamu datang juga.''
''Kalau aku sudah menghubungi, berarti aku akan datang, karena aku serius ingin bekerja dengan mu Nona Saras, aku sangat butuh pekerjaan saat ini,'' ucap Seno sungguh-sungguh.
''Baiklah, kalau begitu aku akan menjelaskan apa yang akan kamu kerjakan dan bagaimana prosedurnya,'' Seno mendengar perkataan Saras dengan seksama.
''Jadi begini, kamu harus menginap di sini, semua keperluan kamu sudah tersedia di sini. Aku meminta kamu untuk tinggal di sini karena kalau aku lagi ada keperluan mendadak, aku tidak repot-repot lagi menghubungi kamu untuk mengantarkan aku. Kamu akan aku gaji sebanyak tiga juta rupiah sebulan, dan kalau kinerja kamu bagus, maka aku akan memberi tambahan dan memberikan bonus kepada mu,'' jelas Saras dengan senyum tipis.
''Bagaimana?'' tanya Saras.
''Baiklah, aku bersedia untuk menjadi sopir Non Saras, aku merasa sangat senang, mudah-mudahan saja aku bisa bekerja dengan baik.'' Seno berkata dengan senyum mengembang, ia merasa sangat senang sekarang, ia tidak menyangka gaji yang ditawarkan oleh Saras cukup besar, belum lagi semua kebutuhan nya sudah disediakan oleh Saras.
''Oke. Kalau begitu kamu boleh ambil seragam mu di belakang, ketua pelayan akan memberikan seragam sopir kepada mu. Setelah itu kamu antar aku ke perusahaan, dan kalau kamu belum sarapan, kamu boleh sarapan terlebih dahulu di belakang,'' Saras berkata dengan begitu lembut, tidak terlihat keangkuhan dan kesombongan yang ia tunjukkan, melihat itu, Seno menjadi merasa kagum dengan Saras, tutur katanya begitu lembut dan menghargai dirinya, tidak seperti istri nya yang selalu berkata ketus kepada dirinya.
Pagi ini, Seno belum menghubungi Renata, entahlah, rasa nya tak ada gairah bagi Seno untuk menghubungi Renata, karena setiap kali ia menghubungi sang istri yang ada di kampung, Sang istri selalu berkata kasar dan selalu meminta uang, tanpa mau tahu bagaimana kabar nya. Lama-lama Seno bosan juga dengan Renata. Semenjak berada di Jakarta, bisa Seno lihat, tidak hanya pria saja, tapi para wanita juga sibuk bekerja, tidak peduli mereka masih gadis atau sudah bersuami, tidak peduli mereka cantik atau jelek, tetapi mereka tetap banting tulang melakoni pekerjaan apapun tanpa kenal lelah. Melihat perjuangan wanita-wanita hebat tersebut, Seno jadi membandingkan wanita wanita itu dengan Renata, Seno merasa Renata sangat lah manja orangnya dan selama ini Renata tidak pernah benar-benar berjuang untuk rumah tangga mereka, bahkan memiliki anak pun ia tak mau.
***
Sepanjang perjalanan ke perusahaan milik Saras, Saras tampak sibuk dengan ponselnya, ada saja orang yang menghubungi dirinya dan kalau lagi tidak menelepon, Saras sesekali mengajak Seno berbicara, selain cantik Saras juga begitu ramah orangnya.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhir nya mobil yang dikendarai oleh Seno berhenti di parkiran gedung bertingkat, Saras langsung keluar dari dalam mobil, sedangkan Seno masih tetap berada di dalam.
''Kamu tunggu di sini, ya, karena nanti aku akan pergi meeting di perusahaan lain,'' ucap Saras kepada Seno, Seno pun mengangguk mendengar itu.
Setelah kepergian Saras, karena merasa bosan tetap berada di dalam mobil, akhir nya Seno keluar, ia berjalan menuju pos security, Seno akan duduk di sana menjelang Saras datang.
''Wah, kamu sopir baru Bu Saras, ya?'' tanya Pak Sopian, sang security.
''Iya, Pak. Perkenalkan nama aku Seno,'' jawab Seno ramah seraya mengulurkan tangannya, mereka lalu bersalaman sebagai tanda perkenalan.
''Saya Sopian,'' ucap pria yang berusia sekitar empat puluh tahun tersebut.
''Boleh aku numpang duduk di sini, Pak?''
''Tentu boleh dong,'' sahut Pak Sopian.
Lalu Seno duduk disebelah Pak Sopian, mereka lalu mengobrol menceritakan kehidupan mereka masing-masing.
''Dulu, Bu Saras memiliki seorang sopir yang sudah begitu lama bekerja dengannya, namanya Pak Hasan, tapi sekarang Pak Hasan sudah meninggal karena kecelakaan yang menewaskan dirinya di tempat,'' jelas Pak Sopian.
''Innalillahiwainnaillahirrojiun,'' ujar Seno.
''Untungnya Bu Saras selamat, setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata rem mobil yang di bawa oleh Pak Hasan blong. Saya hanya ingin menyampaikan saja kepadamu, jangan pernah kamu tinggalkan mobil yang kamu bawa, serta kamu harus terus memeriksa rem mobil sebelum membawa nya, takutnya terjadi kecelakaan seperti waktu itu. Maklum lah, Bu Saras itu adalah seorang CEO muda yang begitu sukses, jadi besar kemungkinan banyak orang yang tidak menyukainya dan orang yang berniat buruk kepada nya,'' ucap Pak Sopian panjang lebar. Mendengar itu, Seno pun mengangguk-angguk kepala menandakan kalau dirinya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Pak Sopian.
***
Di tempat berbeda, Renata berulangkali menatap layar ponselnya, sedari sore kemarin, Seno tak pernah menghubungi dirinya, dan hal itu berhasil membuat dirinya merasa gelisah.
''Ah . . . Kenapa aku malah memikirkan suami miskin ku itu?! Tidak penting juga, mending aku menghubungi Mas Tomi,'' gumam Renata, berusaha menghalau pikirannya agar tak memikirkan Seno lagi.
Renata lalu menghubungi Tomi, meminta agar Tomi datang ke rumahnya nanti malam.
Bersambung.