Menghadirkan cinta yang sempurna dalam hidup adalah impian. Akan tetapi, bagaimana jika cinta itu mulai terbagi antara nyata dan obsesi?
Celli dan Austin adalah gambaran cinta beda usia yang terhalang tembok besar. Karena Celli sudah memiliki keluarga kecilnya.
Hanya saja, kehidupannya yang jalan ditempat membuat Celli keluar dari zona nyaman itu sendiri.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka?
Apakah mereka akan melanjutkan hubungan terlarang itu?
Atau kah menghentikan cinta mereka. Sebelum menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon warna terindah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cellicia angel
aku takkan pernah menyalahkan keadaan,
Karena jalan tuhan sudah ada,
aku tak kan pernah menyalahkan takdir,
karena takdir itu sudah dituliskan,
hanya mampu menepis rasa,
Walau tak kan pernah bisa,
Karena rasa itu akan menjadi cinta,
Tanpa harus bisa menolak,
Tapi hanya akan menikmatinya,
Walau disaat yang salah.
Celli
" Apa yang akan kamu lakukan setelah semua yang terjadi, tetap pergi kah, atau bertahan dengan keadaan yang hanya menyakiti hatimu, atau membuatmu merubah prospek kedepannya kalau apa yang difikirkan selama ini tu salah, jadikan dirimu terbaik menurut versimu, pikirkan baik-baik karena keputusan yang kamu ambil bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk waktu yang lama Austin alfarizi."
"baik sayang aku,"
Celli terus berbicara pada Austin karena ia merasa kalau saat ini yang dibutuhkan oleh Austin adalah semangat untuk menjadikan Austin lebih baik lagi."
"aku akan selalu ada bersamamu, apapun keputusanmu, karena kamu sudah dewasa, pasti tau apa yang terbaik ataupun tidak, melihat dan mendengar apa yang dikatakan orang lain, lalu memilihnya menjadikan sesuatu untuk membuat diri lebih baik lagi, sekarang kamu istirahat iya, tidur, kamu pasti lelah, jangan pernah menyerah, apapun itu, pasti yang terbaik, tersenyumlah brondong ku, karena senyummu sangat manis kayak aku." ujar Celli menggoda Austin.
"makasi ya sayang, karena kamu selalu ada untuk aku.
Ya udah sekarang aku istirahat dulu ya,
Bye...."
Celli pun mematikan panggilan videonya secara sepihak karena melihat wajah lelah pria kecilnya.
Celli termenung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Austin, ia kembali teringat akan kisah masa lalu nya yang sempat jatuh bangun karena pembicaraan orang sekitar, mengingat siapa dan bagaimana dirinya hingga sampai pada titik ini.
*
*
Aku Cellicia angle adalah seorang anak perempuan yang dibesarkan oleh seorang ibu dan tiga orang kakak, bukan mau menyalahkan takdir, tapi hanya mengingat sedikit pilu yang aku alami hingga dewasa.
Ibu yang ditinggal cerai oleh bapak memilih berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, karena luka yang ditorehkan oleh bapak begitu membekas dihatinya. mungkin hal itu juga yang mendasari aku untuk ingin disayang dan dikasihi oleh seseorang, ketika aku merasa sendiri dalam keramaian.
Dari kecil aku diajarkan untuk dewasa sebelum waktunya,karena dunia yang aku hadapi begitu kejam, berusaha berjuang untuk menggapai mimpi, walau aku harus terjatuh berulang kali, hingga aku yang mengira akan ada pelangi setelah hujan, ternyata hujan itu sendiri yang membuat aku jatuh kedalam kubangan lumpur.
setelah menamatkan sekolah menengah atas aku ingin melanjutkan ke jenjang universitas, tapi apa, keinginan ku dipatahkan oleh kakakku, berkata kuliah itu bukan soal satu atau dua hari, tapi empat tahun. Apakah dalam waktu yang selama itu roda tidak akan berputar? berjuanglah, tapi bukan universitas. hal itu langsung mematahkan semangatku, hingga aku memilih untuk pergi menjauh dari kota yang sudah membesarkan ku. Selama perjalanan pikiran ku melayang jauh, berkelana, tapi tak berujung. Hanya berselang satu tahun,aku kembali pulang, karena yang ku harapkan tidak terjadi.
Berjuang, itu lah yang aku lakukan sampai aku menikah.
tak mendapatkan restu dari kakak, membuat aku kembali jatuh, tapi senyuman ibu membuat aku memilih dan berharap ini lah yang terbaik. hanya saja aku berusaha untuk menerima keadaan dan berfikir setelah menikah akan menikmati indahnya hidup, karena perkenalan dengan suami yang sudah cukup lama membuat aku merasa tak kan banyak kesedihan serta masalah, tapi itu salah. Diawal pernikahan sudah mulai tak baik, tapi aku mencoba untuk bertahan, sebab itulah yang ku lakukan karena tak ingin membuat ibu terluka. Hingga lama kelamaan membuat aku jenuh dengan keadaan walau sudah dikarunia seorang anak laki-laki tampan penyemangat hidupku, tapi sikap dan sifat suamiku membuat harapan itu sirna.
Luka itu kembali nyata karena goresan yang diperlihatkan oleh Austin. Jalan yang membuat aku berfikir kalau aku harus menyembuhkan lukanya karena perjalanan hidupnya yang masih panjang, baru memulai tapi sudah dipatahkan
Ternyata kita tidak jauh berbeda Austin, apa karena ini kita dipertemukan?
Terlelap dalam lamunan membangunkan Celli, tak terasa matahari pagi menyapa dengan senyuman yang terlukis dari penyemangat hidupku yaitu anakku Rafa. karena semalam aku tak menyadari kalau aku tertidur dalam lelahnya berfikir tentang apa dan bagaimana aku bersama Austin.
*
*
*
Tiga hari berlalu, akhirnya Austin benar-benar dihubungi oleh pihak HRD untuk training. Semangatnya yang ingin berubah, membuat ia nekad pergi dengan atau tanpa restu ibu bapaknya, Austin hanya berpamitan pada nenek, karena hanya nenek yang tak mematahkan semangatnya dan menjadi tumpuan selama ini.
"Nek, aku pergi, do'akan aku supaya bisa bahagiain nenek dan adik-adik, aku akan berjuang nek, karena jalanku tidak salah, semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi." ucap Austin seraya memeluk neneknya.