(Karya saya yang bikin baper)
Stop ngatain orang jelek.
Bagaimana kalo jelek jadi cantik.
Rara Wulan, cewek item, dekil, lagi cupu. Sering dibuly di sekolah karena penampilannya.
"Woi! manusia Arang." Itu adalah sebuah nama yang diberikan oleh salah satu pembuly Rara di sekolah yaitu Briyan. Tak tahan dibuly Rara akhirnya tidak sekolah berbulan-bulan tanpa ada kabar dan alasan yang jelas. Banyak mengangap Rara sudah berhenti dan sekolah di tempat lain.
Namun, tidak ada yang menduga setelah Rara lama berbulan-bulan dan berminggu-minggu tidak masuk sekolah. Rara datang ke sekolah dengan penampilan baru yang bikin satu kelas dan sekolah heboh!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompetisi untuk memperebutkan lo
Segala cara akan ku lakukan demi mendapatkan dirimu.
"Hai Rara." Briyan tersenyum. Sementara Dino memasang ekspresi muka manis. Mereka berdua berdiri di depan pintu masuk kamar hotel.
"Kok tumben kalian berdua ke sini." Tanya Rara yang masih memakai baju piyama.
"Pengen ngajak Lo jalan-jalan." Ucap Briyan.
"Pengen ngajak Lo ke tempat wisata yang ada di sini." Ucap Dino.
"Hm. Sory gue hari ini masih takut untuk keluar setelah insiden kemarin. Gue ngak mau jalan-jalan atau ke tempat manapun. Gue mau dikamar aja seharian ini. Maaf." Rara menutup pintu.
"Hm. Kayaknya Rara masih trauma de." Briyan memegang dagunya.
"Elo sih ngak dia di taman. Udah tau taman itu sepih. Kalo ngajak Rara tu di tempat yang asyik dong kayak di pasar malam atau festival la." Dino memeluk dadanya.
"Serah gue kale pengen ngajak Rara kemana. Itu ngak ada urusannya dengan Lo." Briyan mengernyit heran.
"Jelas itu urusan gue. Sebab gue ini adalah sahabat Rara yang paling dekat dengan dia. Waktu kecil aja gue sahabatn kok dengan dia." Dino.
"Apanya yang sahabat, Lo aja baru kenal dengan dia sehari udah sok akrab nglaim Lo sahabat dia." Briyan.
"Lo aja yang ngak tau." Belah Dino.
"Jelas lah gue tau, sebab dari kecil sampai sekarang gue ini selalu ngawasi Rara. Makanya gue tau siapa-siapa aja yang dekat dengan Rara." Briyan.
"Maksud lo, Lo mata- matain dia gitu." Dino mengernyit heran.
"Hm iya. Emang kenapa?" Tanya Briyan.
"Ngak ada kerjaan banget." Dino memasang muka penuh heran.
"Ya ini tu tandanya gue tu sayang sama dia dan ngak ada siapapun termasuk elo yang boleh memiliki atau mendekati dia selain gue." Briyan menatap Dino dengan tajam serta dengan nada mengancam.
"Emang Lo siapanya dia? Hah. Setiap orang berhak memiliki Rara. Siapa cepat dia dapat. Begitu yang bener." Dino.
"Atau gini aja. Kita lomba aja siapa yang bikin Rara hari ini keluar hotel dan berhasil ngajak dia jalan-jalan dan menghilangkan traumanya. Dia pemenangnya, dia bole memiliki Rara. Gimana." Tantang Dino.
"Ok gue ngak takut. Ituma kecil buat gue." Briyan menyepelekan.
"Yaudah kalah kalo kala Jagan nangis." Dino meninggalkan Briyan sendiri di koridor hotel.
"Hm. Gue harus berusaha buat dapetin Rara supaya hari ini mau jalan sama gue. Gue udah punya ide." Batin Dino.
"Kira-kira apa ya, yang disukai Rara. Coba gue pikir-pikir." Briyan menatap atas dengan memegang dagu.
"Gue tu sukanya makanan yang manis kaya Arum manis gitu, soalnya kalo aku makan yang manis-manis gitu jadi teringat masakan mama ku. Yang pernah buat permen gulali." Ucapan Rara waktu SD masih terngiang di kepala Briyan.
"Arum manis." Briyan langsung pergi setelah menemukan ide.
***
"Huh. Liburan yang buruk. Gue pikir bakal senang-senang." Rara duduk di balkon hotel. Menikmati udara segar Jepang di pagi hari.
"Kalo kayak gini, mending gue batalin aja liburannya." Rara memasang raut kecewa.
"Apalagi ada si Briyan yang bikin aku kalo inget wajahnya bawaannya pengen nonjjok mukanya sampai bonyok. Mana ada kak Dino juga lagi. Kenapa sih mereka berdua harus liburan di sini juga. Kenapa ngak di tempat lain aja. " Rara memasang raut muka sedih.
"Dek.?" Seru Sinta.
"Apa?" Rara menoleh ke belakang. Sinta degan penampilan cantiknya dengan rambut yang sengaja digelombankan sambil memakan pisang.
"Cantik banget sih kak. Mau kemana." Tanya Rara heran.
"Kakak mau jalan-jalan sama temen kakak dulu pas SMA dia kuliah di sini. Kamu mau ikut ngak."
"Kalo gue ikut pasti ketemu lagi sama Briyan dan kak Dino. Mending ngak usah ah." Batin Rara.
"Ngak usah deh kak." Tolak Rara.
"Oke. Jagan nyesel ya." Sinta membuang pelepah pisang ke lantai..
"Ih kakak apaan sih, buang ke kotak sampah dong. Inikan di Jepang harus ikut budaya disiplin dan bersih dong." Protes Rara.
"Lebay. Udah ah temen kakak udah nunggu di depan lobi hotel" Sinta membuka pintu kamar dan keluar.
"Cantik sih cantik, tapi jorok." Umpat Rara.
___
Tok tok tok tok tok..
Rara terbagun dari lamunannya. Suara pintu diketuk.
"Kalo kak Sinta munkin udah masuk aja kan. Ngak perlu ngetok. Wah-wah ini bukan kak Sinta pasti-." Ucapan Rara terhenti.
"Rara bukain pintunya dong." Dino berdiri di depan pintu sambil memegang bunga mawar dan dua tiket nonton bioskop.
"Rara.."
"Rara, apa ada orang di dalam." Dino mengetuk pintu sesekali melihat kanan kiri.
"Kemana sih Rara ya, apa mungkin dia sama Briyan. Ini ngak boleh terjadi. Awas aja." Dino melankah menjauh dari kamar Rara.
"Udah pergi, coba gue liat." Rara melankah menuju pintu. Namun sebelum itu tiba-tiba tanpa sengaja Rara meginjak pelepah pisang di lantai.
"Aaahhhhhhh.." Teriak Rara. Tubuhnya pun langsung terempas ke lantai.
Dino yang melangkah pergi langsung kaget mendengar teriakan Rara. Ia buru-buru berlari ke tempat kamar Rara.
"Ra, Lo kenapa Ra." Dino mengetuk pintu degan panik sambil meningikan suaranya. Dino menjatuhkan seluruh bunga dan tiket ke lantai.
"Auuuuuww..." Rara merintih kesakitan.
"Ra gue dobrak pintunya ya." Dino megempaskan tubuhnya ke pintu. Saat tiga dobrakan pintu terbuka.
"Ra, Lo kenapa Ra." Dino panik melihat Rara merintih terkapar di lantai. Ia langsung buru-buru mendekati Rara.
"Ya Allah Ra. Sini gue bantuin." Dino megendong tubuh Rara.
"Eh, Lo apaain si Rara?" Briyan yang berdiri di pintu langsung kaget melihat Rara yang seperti pingsan. Ia buru-buru mendekati keduanya.
"Jawab dengan jujur Lo apaain si Rara." Bentak Briyan sambil menunjuk Dino.
"Gue ngak ngapa-ngapain kok. MINGIR Lo." Dino menerobos melewati Briyan. Dino menidurkan Rara di kasur.
" Eh Din, gue ngak segan-segan bakal bikin Lo babak belur kalo terjadi apa-apa sama Rara. Ngaku lo." Briyan tampak emosi
"Gue nggak ngapa-ngapain dia kok. Tadi dia jatuh." Dino membelah diri.
"Alasan Lo aja." Briyan siap mau menghajar Dino. Tapi Rara langsung bangun.
"Kalian hentikan!!!" Teriak Rara. Briyan dan Dino langsung menoleh.
" Rara Lo udah sadar." Briyan tersenyum dan langsung duduk di sampingnya Rara.
"Iya. Tadi gue jatuh." Ucap Rara dengan nada lemah.
"Tu kan bener kata gue." Dino protes setelah dituduh yang tidak-tidak oleh Briyan.
" Habisnya Lo sembarangan masuk ke kamar orang sih." Briyan masih kesal. Tak rela Dino menyentuh Rara.
"Briyan, Lo seharusnya ngak boleh ngomong kek gitu ke Dino. Biar gimanapun Dino udah nyelamatin gue."
"Iya-iya yang penting sekarang Lo harus sehat dulu. Ini gue bawain Lo Arum manis yang nggak bakal habis Lo makan." Dua pelayan hotel membawa gerobak pembuat Arum manis.
"Ni gue udah bawain buat Lo." Briyan menyodorkan tangkai Arum manis yang pentolannya sangat besar. Rara memegang Arum manis itu dan mencicipinya.
"Enak banget. Makasih ya Bri." Rara mencubit hidung mancung Briyan.
"Kalo Lo mau lagi bilang ke gue, nanti gue buatin."
" Oh iya Ra, gue juga bawak seseatu buat Lo." Dino memberikan bunga mawar yang harum ke Rara. Rara megambilnya .
"Makasih ya kak." Ucap Rara tersenyum.
"Iya, kapan-kapan kita nonton bareng ya." Dino memperlihatkan dua tiket bioskop ke Rara.
"Pasti dong, apalagi filmnya film romantis yang lagi populer sekarang." Rara benar-benar senang.
Kalian suka yang mana.
1) Briyan sama Rara. Atau
2) Dino sama Rara.
aku udah Rate 5 dan like kak. mampir juga di chat storyku,di tunggu yah kak😁😁😁
semangat
tapi aku suka semua kok karakternya. 🤣