Ketika rasa bersalah muncul akibat dari kata maaf yang terlambat terucap.
Berawal dari pertengkaran antara Jingga Kenanga dengan sang adiknya bernama Mentari. yang saling berebut ponsel milik Surya kakak Laki-laki mereka dan membuat ponsel milik sang kakak terjatuh hingga mengalami kerusakan. Sejak kejadian tersebut keduanya tidak saling bertegur sapa,meski Ayah mereka berusaha mendamaikannya.
Hingga rasa sesal menghinggapi diri Jingga, dimana ketika adik serta ibu bahkan ayahnya menjadi sekian dari banyaknya korban bencana gempa bumi yang menimpa daerah mereka.
Sinar ceria sang Jingga mendadak sirna bagai tertelan langit malam. Tatkala badai bncana menerpa.
Bagaimanakah kehidupan Jingga setelah mengalami selaksa pilu akibat ditinggal satu persatu oleh orang terdekat untuk selamanya? Apakah dia akan selalu tegar untuk tetap memegang erat cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter ataukah dirinya akan tenggelam oleh pilu karena keadaan yang menimpanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Rinjani
Sudah lebih dari seminggu aku tinggal di rumah Tante Wulan. Meski sikap Aurora dan Rinjani masih sama, yang mana mereka masih sering menatapku dengan sangat sinis juga rasa kebencian terpancar di sorot mata mereka. Penyebabnya karena ibu mereka kadang berusaha membelaku di hadapan keduanya.
Begitupun sikap Om Bagas yang tetap dingin dan hampir menganggapku tidak ada atau mungkin dia memang menganggapku beban? Entahlah, hanya dirinya dan tuhan yang tau, tapi kabar baiknya aku semakin akrab dengan ART keluarga mereka, jadi aku tidak terlalu merasa kesepian di rumah tersebut.
"Papa, Mama... Malam nanti teman-teman Rinjani mau nginep di rumah ini dan kami mau bikin jadwal untuk kegiatan kelompok OSIS sama ospek murid baru, secara kan Jani ketuanya. Bolehkan?" tanya Rinjani seusai makan malam.
"Boleh Kok, malah bagus diadakannya di rumah ini, biar kamu gak keluyuran," timpal Tante Wulan yang menyetujui permintaan putri sulungnya tersebut.
"Tapi, teman-teman Rinjani yang ikut ke sini ada enam orang, jadi Rinjani minta kamar yang ditempati si gadis kampungan itu dan besok harus segera dikosongkan juga dibersihkan," ucapnya, yang masih saja enggan menyebut nama asliku.
"Rinjani, sepupumu itu punya nama, namanya Jingga bukan gadis kampung," timpal Tante Wulan yang cukup kesal dengan ucapannya itu.
"Lah... Emang benarkan dia itu gadis kampung, lagian sampai kapanpun Rinjani gak bakal mau mengakui dia sebagai sepupu," lanjut Rinjani yang masih keras kepala dengan sikapnya itu.
"Setuju sama Kak Rinjani, lagian Mama ngapain sih bawa-bawa anak kayak dia itu kemari? Bikin suasana rumah sumpek aja, apalagi pas Mama sama Papa pergi ke kantor, ish.... Malas Aurora mau keluar kamar juga, takut berpapasan dengannya. Takut ketularan dekil dan katronya," ucap Aurora yang menimpali perkataan Kakaknya itu dan Rinjani bahkan. Om Bagas langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapannya tersebut.
Sementara Aku yang sedang mencuci piring bersama Bi Endah, mendengar obrolan yang begitu merendahkan membuatku sakit hati tapi aku berusaha menahannya, karena kutahu diri ini hanya menumpang di rumah mewah mereka, meski kadang terbesit rasa sesal karena datang kemari, tapi aku pun tidak enak hati dengan kebaikan Tante Wulan padaku.
"Yang sabar ya Neng," ucap Bi Endah yang khawatir karena melihatku terlihat murung dan dia mencoba menghiburku.
"Ucapan kalian sungguh sangat keterlaluan," seru Tante Wulan yang marah atas tingkah laku mereka dan itu membuat tawa kedua putrinya terdiam, karena terkejut sebab baru kali ini melihat Mama mereka begitu marah.
"Sayang apa-apa sih kamu? Kamu tuh yang keterlaluan, lagian jangan terlalu dimanjakan si Jingga itu dan Papa setuju untuk dirinya pindah dari kamar tamu. Suruh saja dia tidur di kamar pembantu," ucap Om Bagas sambil menatap istrinya dan membela kedua putrinya.
Tanpa menimpali perkataan dari suaminya tersebut, Tante Wulan beranjak dari meja makan dan langsung menuju dapur di mana diriku berada.
Aurora dan Rinjani menatap langkah Mamanya dengan pikiran-pikiran yang bertaut padaku. "Ini semua gara-gara si gadis dekil itu, sehingga membuat Mama memarahi kami," gumam Aurora dalam hati.
"Sialan... Si gadis katro dan dekil itu, kenapa Mama begitu membelanya, awas lihat saja nanti, aku akan berusaha agar Mama tidak percaya lagi pada dia sehingga dirinya terusir dari rumah kami," gumam Rinjani dengan segala rencana negatifnya dan ternyata alasan utama mengundang teman-temannya untuk menginap di rumah ini adalah salah satu rencananya dalam pengusiranku.
"Eh Jingga kamu lagi ngapain? Udah aja biarin Bi Endah sama Mbok Darmi," tanya Tante Wulan yang terkejut melihatku tengah mencuci piring.
"Gak apa-apa Tante, Jingga sudah biasa kok kalau di rumah juga," ucapku mencoba santai supaya Tante Wulan tidak terlalu mengkhawatirkan diriku.
"Maafin tante, atas kelakuan yang kamu terima dari anak-anak tante," timpalnya, lalu menghampiri diriku bahkan dirinya juga ikutan mencuci piring dan Bi Endah yang ada di sampingku cukup terkejut, melihat majikannya mau ikutan mencuci piring.
Keesokan paginya tanpa ada yang menyuruh Aku mulai merapikan pakaian untuk mengosongkan kamar tersebut secepatnya. Sebab setelah mencuci piring, aku berbicara pada tante Wulan lebih baik aku yang mengalah dan tinggal di kamar pembantu bersama dengan Bi Endah dan Mbok Darmi.
"Nah gitu dong sadar diri, Wong numpang pengen di kamar tamu, sekalian pel lantainya dan semprot pakaian pewangi," ucap Om Bagas yang mengejutkanku dengan tatapan yang sinis sekali, kemudian dia melemparkan sebuah penyemprot ruangan pada kami.
"Iya Om," jawabku singkat.
"Eh... Papa lagi ngapain di sini? Awas loh kalau kata Aurora bilang bisa-bisa ketularan dekilnya loh. Haha..." Tawa Rinjani merendahkan, ketika melihat ayahnya itu berdiri di ambang pintu kamar dan langsung menghinaku.
"Hahaaa... Kamu bisa aja bikin Papa tertawa sepagi ini, tapi tenang saja kan papa punya penangkalnya. Lagian bukankah dia harus segera pindah dari kamar tamu, jadi Papa menyuruhnya untuk segera membersihkan kamar ini," Jawab Om Bagas yang tertawa mendengar perkataan putrinya.
"Hey... Gadis katro, awas yang bersih ngerapihin kamarnya.!" ancam Rinjani sambil melihat ke arahku.
"Papa... Jani pergi dulu ya, mau ke rumah Jesicca buat ngebahas masalah kegiatan sekolah juga sekalian mengajaknya untuk menginap nanti malam," lanjutnya. Setelah berucap demikian, dirinya pun pergi dan beberapa menit kemudian menyusul Om Bagas untuk pergi ke kantornya dan sebelum pergi masih saja dia mengingatkanku untuk segera membersihkan kamar tersebut. padahal seperti yang dia lihat, aku sedang mengerjakannya.
Setelah selesai memindahkan seluruh pakaianku ke kamar belakang yaitu kamar khusus Asisten Rumah Tangga yanga mana tempatnya langsung mengarah ke halaman belakang dan juga bersebelahan dengan dapur serta ruangan khusus untuk menyetrika pakaian dan di ruangan tersebut terdapat tiga buah mesin cuci berbagai ukuran.
"Bi Endah, apa Tante Wulan juga menerima jasa Loundry ya?" tanyaku polos, Bi Endah tersenyum sebelum menjelaskan bahwa mesin cuci tersebut tidak diperuntukkan untuk jasa pencucian baju, tapi memang khusus untuk keluarga ini saja.
Malamnya suasana rumah cukup ramai, teman-teman Rinjani datang dan disambut begitu antusias oleh Om Bagas dan Aurora. Mereka mengadakan acara barbeque di samping rumah yang terdapat kolam renangnya, Bi Endah dan Mbok Darmi begitu sibuk untuk menyediakan bahan-bahan seperti daging, sosi dan juga buah-buahan, untungnya Pak Yus ikut membantu bahkan bersedia menghias sekitar pinggiran kolam agar terlihat lebih indah.
"Emang gini ya, kalau anak orang kaya ngadain diskusi sekolah? Kayak mau hajatan aja," gumamku yang heran dengan cara hidup yang begitu royal.
Dan Ternyata Rinjani telah merencanakan sesuatu padaku, itu terjadi ketika aku disuruh olehnya untuk mengantarkan minuman pada teman-temannya.
"Jadi ini gadis yang tidak tau diri dan menumpang di rumah Rinjani, lihat pakaiannya katro banget udah gitu dekil lagi jarang mandi ya?" ucap salah satu teman Rinjani yang mencoba memprovokasiku dengan memulai mencaci.
"Simpan saja di meja, aku gak mau bersentuhan dengan gadis kampung macam kau," lanjutnya lagi
Tapi aku hanya diam, tanpa meladeni hinaannya dengan langsung kembali ke dapur, tapi aku terkejut saat ada sebuah dorongan dari belakang yang membuatku limbung dan langsung terjatuh ke kolam renang yang dalamnya sekitar dua meter itu.
"Oops... Maaf kakiku tergelincir," ucap Jesicca seperti tanpa rasa bersalah sama sekali. Sementara aku yang terkejut langsung meronta di dalam air dan berusaha menggapai pinggiran kolam namun beberapa detik kemudian tubuhku perlahan mulai tenggelam.
akhirnya jingga sekaliii aja ga sial.
takut bgt arga di sakitin
baru aja ngarep kalau bakalan lama di sini dan adem ayem
Kita cabein mulutnya yuk