Rara gadis manis yang selalu ceria, optimis dan pekerja keras. Dibesarkan dalam keluarga yang harmonis, memiliki cara pandang hidup yang selalu positif. Baru saja menyelesaikan kuliah dan siap terjun ke dunia kerja.
Tanaka Lee, cowok berdarah Korea-Jepang pewaris salah satu perusahaan multiguna dari Jepang. Cowok dingin dan angkuh, orang menyebutnya sebagai gunung es karena dia terkenal sebagai cowok yang keras dan tidak mudah didekati. Banyak hal telah terjadi pada hidupnya dan merubahnya menjadi sosok dingin tak berperasaan.
bagaimana bila 2 orang tersebut dipertemukan dalam sebuah hubungan yang rumit dimana takdir ternyata ikut andil dalam kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dranawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Jakarta, Indonesia
"Wah dengan ini kita bisa langsung ngelamar kerja dimana-mana Ra."
"Iya katanya print transkip nilai ini tinggal di legalisir sama kantor bagian administrasi kampus dah bisa di pakai buat ngelamar."
"Berarti kita ke Kampus 1 dulu Ra buat legalisir ini transkip nilai."
"Iya Fa, kita ke Kampus 1 dulu buat legalisir, gak papa kan sekalian nongkrong juga dah lama kita gak main ke kampus 1."
"Iya bener sekalian kita nunggu acara nanti malem, di kafe Gani. Kita nongkrong dulu aja di kampus 1, itung-itung cuci mata. Sapa tahu banyak mahasiswi baru yang sedap dipandang."
"Itu mah Lo yang ada maunya. Dah yok kita ke kampus 1, tar keburu sore dah tutup lagi kantornya."
"Siap let's go guys."
"Kayaknya Gue gak ikut deh ke Kampus 1."
"What? Kenapa Fa?"
"Sorry guys Gue ada janji sama anak-anak kemahasiswaan buat rapat serah terima jabatan hari ini jam 3 sore."
"Ya gak papa tar kita bisa balik lagi ke kampus ini."
"Sekarang dah jam 2 lebih Nif, tar malah keburu-buru kalian cuma nganter Gue. Lagian Gue belum butuh-butuh banget print transkip nilainya, yang lebih butuh kalian berdua. Dah sana tar kita ketemuannya langsung di kafe Gani aja."
"Yakin Lo Fa? Acaranya masih tar jam 7 lho Lo mau nunggu dimana sama siapa?"
"Tar gampang Gue bisa numpang nunggu di ruang kemahasiswaan atau ngemper di taman depan fakultas kita. Tenang sekali Gue kelihatan ngemper, pasti banyak yang nyamperin wa ha ha ha..."
"Iya percaya kakak mantan senat mahasiswa. Dah nyok Ra keburu sore, Lo gak usah khawatir sama Rifa, dia itu terkenal banyak fans nya dia gak bakalan sendiri tar."
"Ya udah Gue ma Hanif ke Kampus 1 dulu ya, Lo ati-ati kalau ada yang godain jangan ditanggepin langsung panggil Gue pa Hanif."
"Mang napa panggil Lo ma Hanif Ra?"
"Iya harus kita seleksi dulu enak aja main goda, hanya yang terbaik yang boleh godain Lo. Jadi gak akan ada cowok macam Putra sama Tama lagi yang bakal godain Lo, kalau ingat mereka jadi geli Gue."
"Ya sapa juga yang mau sama mereka Rara. Bukankah mereka lebih serasi berdua kan, dari pada sama Gue."
"Betul, Gue setuju."
"Ih Lo berdua ngomongin apa sih. Jangan ngaco deh masak laki sama laki, hi Gue gak bisa bayangi lihat kan Gue langsung merinding."
"Habis siapa yang suruh mereka dari awal kuliah sama-sama terus gak pernah terpisahkan. Bahkan naksir cewek juga samaan apa coba kalau gak soulmate ha."
"Ya tapi kan Ra mereka cowok ma cowok.".
"Dah gak usah bahas mereka berdua lagi mending Lo berdua buruan ke Kampus 1. Lihat dah jam berapa sekarang tar gak keburu kalau kita ngobrol terus, belum tar kalo macet. Dah sana ada berangkat."
"Ya udah Fa kita pergi dulu ya, sampai ketemu tar di kafe Gani."
"Oke guys, Lo nyetirnya ati-ati Nif."
"Siap."
Merekapun berpisah, Rifa pergi ke ruang kemahasiswaan sedang Rara dan Hanif pergi ke Kampus 1 untuk melegalisir print transkip dan surat keterangan lulus mereka. Kampus mereka memang terdiri dari beberapa kampus, kampus utama atau kampus 1 terletak di luar kota kampus Rara saat ini. Karena surat keterangan lulus dan transkip nilai mereka masih bersifat sementara jadi mengharuskan mereka melakukan legalisir tingkat Universitas yang berarti harus ke kampus utama.
Jalanan tidak begitu macet membuat perjalanan mereka tidak membutuhkan waktu lama. Setelah sekitar setengah jam berkendara mereka tiba di kampus 1, segera mereka mencari tempat parkir mobil.
"Gila ya kampus 1 sekarang rame banget, kayaknya dah lama kita gak kesini."
"Iya Ra, banyak yang berupah pula. Terakhir kita ke sini bukanya satu tahun yang lalu ya, lapor progam KKN. Gila banyak mahasiswa yang kece-kece ternyata. Pantes aja Budi getol main kampus 1 walau kita gak pernah ada kelas di kampus 1, ternyata."
"Dah cuci matanya dilanjut tar, sekarang ayo ke kantor administrasi mahasiswa dulu keburu tutup."
"Siap Gue parkir depan sini aja lah, mumpung ada yang kosong. Tar ke kantor administrasinya jalan aja ya?"
"Iya gak masalah, lagian kampus 1 ini kan terkenal susah cari parkir mobil. Selagi nemu slot parkir langsung parkir langsung ambil jauh lebih baik."
"Oke udah, ayo turun kita jalan ke kantor."
Mereka jalan menuju kantor administrasi mahasiswa. Jarak antar tempat parkir dengan kantor administrasi cukup jauh, tapi jika melewati jalan pintas bisa lebih dekat. Jalan pintasnya harus melewati gedung fakultas hukum dan mipa. Saat mereka memasuki gedung fakultas hukum terdengar ada yang memanggil nama Rara.
"Kinara."
Sontak mereka berdua mencari sumber suara yang memanggilnya.
"O hai Kenang."
"Hai Kinara hai Hanif, Lo berdua ada apa ke kampus 1?"
"O mau legalisir surat kelulusan sama transkip nilai."
"Mang di fakultas kalian gak bisa?"
"Gak bisa. Karena yang asli baru ada saat wisuda nanti jadi untuk yang sementara harus legalisir tingkat universitas, gak bisa cuma tingkat fakultas."
"Wah Lo berdua dah lulus berarti? Selamat ya."
"Makasih Nang, Lo sendiri gimana Nang?"
"Masih berkutat sama revisi me revisi kayaknya Gue gak bakal bisa ikut wisuda bulan depan. Masih banyak yang belum beres mana dosen juga kebanyakan ngilang. Lo berdua tahu, Gue bimbingan tatap muka bisa dihitung pakai jari, lainnya bimbingan online via email. Kalau gini kapan kelar coba."
"Sabar Nang, resiko punya pembimbing guru besar banyak jobnya hehehe."
"Lo bener Nif, saking banyaknya job jadi lupa kalau punya mahasiswa yang butuh bimbingannya."
"Sabar Nang, Gue doain semoga skripsi Lo lancar cepat kelar."
"Thank you Ra, o ya Ra Gue boleh minta no Lo?"
"Mang kita belum punya no masing-masing?"
"Belum Ra, kita sering ngobrol lewat messenger kalau gak DM insta. Boleh ya?"
"Boleh kok sini mana hp Lo, hp Gue di tas soalnya ribet ambilnya."
"Ni."
Rara mengetik beberapa digit nomor dan menyerahkan hp kembali ke Kenang.
"Thank you Ra, dah Gue call. Jangan lupa save no Gue ya."
"Oke tar Gue save, dah ya Gue ke kantor administrasi dulu tar ke buru tutup."
"Oke silahkan."
"Loh Lo gak minta no Gue juga Nang?"
"Hah ...?"
"Bercanda hahaha. Gue kasih sedikit saran buat Lo, jangan pernah kapok mencoba. Coba terus dan terus, karena manusia tidak peka itu benar adanya."
"Lo ngomong apa sih Nif, dah ayo jalan sekarang tar keburu tutup."
"Thank you Bro. Tenang Nif, Gue termasuk tipe yang pantang menyerah hehehe.."
"Siap Brother."
"Lo berdua napa sih, pada sawan ya? Ayo cepat keburu tutup Hanif."
"Iya Ra, ayo jalan."
Rara dan Hanif segera berlari menuju kantor adminstrasi meninggalkan Kenang yang masih diam melihat mereka pergi. Semua teman dekat Rara tahu bahwa Kenang sudah menyukai Rara sejak mereka berada di bangku SMA mereka bersekolah di SMA yang sama cuman beda jurusan. Rara berada di jurusan IPA dan Kenang di jurusan IPS. Mereka pernah dipasangkan menjadi Mas dan Mbak untuk mewakili sekolah mereka dan dari sana lah mereka mulai saling kenal. Dan tumbuh benih-benih cinta, tapi sayang hanya Kenang yang merasakan benih-benih cinta. Semasa SMA kenang sudah sering mencari perhatian dari Rara, tapi memang dasar si Rara yang sama sekali tidak peka. Hanya Rara yang satu-satunya tidak tahu tentang perasaan Kenang kepadanya, padahal hampir satu sekolah tahu tentang fakta tersebut. Karena hal itu Kenang menjadi menyerah saat SMA dulu, tapi setelah melihat Rara kembali kali ini dia akan mencoba kembali mendekati Rara.
Bersambung...
Sampek sakit perutku ketawa🤣🤣🤣