Pernah dikhianati membuat Kinara menyepi, menjauh dari dunia percintaan yang sempat membawanya terpuruk dan patah hati.
"Semua pria, sama saja. Pengkhianat dan pemain wanita." Satu kalimat yang pernah Kinara ucapannya di hadapan pria yang baru saja ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Mirip Seseorang
Seperti Mahasiswa pada umumnya, Kinara sedang mengikuti kelas dengan bimbingan seorang Dosen yang sayang adalah pria sama, yang ia lihat di kantin beberapa waktu lalu. Dosen muda caper yang sempat di kelilingi para Mahasiswi.
Gadis itu berdecak, mode belajarnya seakan menghilang terlebih saat tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Kontra cepat-cepat membuang wajah atau pun menunjuk. Lagi, jika melihat Dosen muda, dirinya seperti diingatkan lagi pada Anggara, sosok pria yang teramat sangat ingin ia lupa.
Gadis berambut panjang itu sempat melirik kesekitar. Menatap wajah-wajah berbinar dan kagum para mahasiswi saat Dosen muda itu sedang berdiri dan menjelaskan di depan. Gadis itu tersenyum, meledek. Ia masih mengingat betapa hebohnya seisi ruangan saat Dosen muda itu baru memasuki kelas. Ya, Tuhan. Sambutan Dosen muda ini bahkan lebih gilla dari pada Anggara dulu.
"Mahasiswi baru, siapa namamu?. Kenapa masih diam, mau berapa kali lagi saya mengulang?."
Suara riuh sekitar, membuat Kinara tersadar dari lamunan. Gadis itu menatap ke sekeliling sebelum berakhir pada Dosen muda yang sedang menatapnya. Tidak, dia malah berjalan mendekat. Ada apa sebenarnya?.
"Kamu tidak dengar?."
Kinara sontak menjawab dengan gelengan, hingga seisi kelas riuh, bersorak dan mencibir aksi membangongkan Kinara.
"Kamu melamun?." Meski masih kebingingungan, namun tak urung gadis itu mengangguk jua.
Dosen muda itu tersenyum tipis, amat tipis bahkan nyaris tak terlihat.
"Kamu bosan dengan pelajaran saya?."
"Bu-bukan pak," tepis gadis itu cepat. "Saya hanya sedang menyesuaikan diri. Maaf, saya mahasiswi baru di kampus ini." Ah, yang penting minta maaf dulu. Begitu fikir Kinara.
Dosen itu menganggukkan kepala kemudian berucap, "Ya, alasanmu bisa kumaklumi." Bergerak menjauh, pria muda bertubuh tegap serta berpakaian rapi itu kembali melanjutkan penjelasan yang sempat terjeda. "O ya, siapa namamu?." Sambung sang Dosen yang sempat terlupa akan tujuannya mendekati Kinara.
"Kinara, pak."
"Kinara," gumam sang Dosen seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Pria itu menatap sang gadis sekilas, sebelum kembali pada pekerjaannya.
Di tempat duduknya, Kinara juga melakukan hal sama. Kembali belajar meski mood nya sudah buyar. Ah entahlah. Masalah yang baru-baru ini dihadapi, nyatanya berimbas pula pada pendidikannya.
Proses belajar dan mengajar kembali berlanjut. Menurut pengamatan Kiran, Dosen muda itu memiliki metode cukup santai dan tak sekaku Dosen lain saat mengajar, mungkin salah satu hal tersebut yang membuat para mahasiswa seperti tak tertekan dan justru terlihat antusias, meski mungkin saja yang menjadi pusat atusiasme sebenarnya bukan hanya dari cara mengajar namun juga dari paras tampan sang Dosen. Ya, tuhan. Tanpa sadar Kinara juga mengakui jika Dosen itu memiliki ketampanan di atas rata-rata.
Kinara berdetak dan menjitak kepalanya sendiri. Memaki dan mencaci fikiran yang sudah seenaknya mengecap orang lain, hanya dari pandangan sesaat.
Tapi, kenapa dia seperti mirip seseorang?. Ck, mana mungkin.
Kinara mengendikkan bahu. Sudah cukup baginya untuk membicarakan Dosen itu dalam batin.
💗💗💗💗💗
"Aku lisa, kau Kinara 'kan?."
Seseorang bernama Lisa itu mengulurkan tangan pada Kinara yang berdiri terpaku. Gadis itu baru beberapa langkah keluar dari kelas namun langkahnya dihentikan seorang gadis yang mengaku ingin berkenalan.
"Hei," tegur Lisa dengan tangan masih mengantung diudara.
Kinara mengerjap dan buru-buru menyambut uluran tangan Lisa.
"Ya, aku Kinara dan Kau, Lisa?."
"Ya," jawab Lisa dengan tersenyum ramah.
"Pakai 'Blackpink' ?."
Lisa tergelak.
"Tidak, Lisa saja. Panggil aku Li sa." Gadis itu seperti sedang mengomando, meminta pada Kinara untuk menyebutkan namanya. Saat terlihat mulai nyambung berbicara, mereka berjalan saling bersejajar, menuju area taman kampus untuk melanjut pembicaraan.
Kinara menemukan teman baru, meski Lisa bukanlah orang pertama yang menyapa atau pun berkenalan, namun Lisa cukup nyaman untuk dijadikan teman.
Gadis yang memiliki usia satu tahun di atasnya itu rupanya juga mempunyai prestasi yang mentereng di Universitas. Ia kerap menjadi perwakilan Universitas dalam beberapa acara resmi dan menjadi narasumber, mengingat dirinya bukan hanya menjadi Mahasiswi berprestasi namun juga seorang penulis.
Kinara kagum. Meski jika dilihat sekilas penampilan Lisa tampak biasa saja, namun siapa sangka jika di dalam dirinya memiliki prestasi gemilang dan kemampuan yang mempuni untuk bekal di masa depan. Disitulah Kinar berfikir, jika menilai seseorang bukan hanya dari sampul depan namun juga isi di dalamnya. Paras bisa menipu, namun dalam hati, siapa yang tau.
Terlalu asik berbagi cerita membuat keduanya hampir menghabiskan waktu satu jam duduk di taman. Kinara buru-buru pamit, saat tersadar jika siang mulai menginjak petang dan dirinya harus mempersiapkan makanan untuk sang Kakak sepulang mengajar.
Keduanya terpisah. Lewat aplikasi ponsel, Kinara lekas memesan taksi online untuk mempercepat perjalananan.
"Hei."
Suara seseorang nyaris membuat Kinara terlonjak. Ia terbelalak saat Dosen muda itu sudah berdiri di depannya. Kinara merutuk diri. Terlalu fokus pada ponsel sampai tak menyadari jika dirinya nyaris menabrak Dosen ganjen nan menyebalkan ini.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak lihat." Minta maaf saja terus, begitu fikir Kiran.
"Terlalu fokus pada bisa membayakanmu dan juga seseorang. Untuk kau masih di area kampus, bagaimana kalau di jalanan?. Bukan hanya kau yang celaka tapi kau bisa mencelakakan orang lain," tegur sang Dosen, namun masih memasang wajah santai dan justru diartikan lain oleh Kinara. Kinara sangat tidak suka akan hal itu. Gadis itu mengangap jika sang Dosen tengah mengejeknya.
"Maaf, Pak Dosen. Saya benar-benar meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi." Lagi, minta maaf lagi meski tangan sang gadis terkepal kuat menahan geram. Ia tidak fokus kan karna sedang memesan taksi. Ingin ia berbicara seperti itu di hadapan sang Dosen, tapi mana berani.
"Bagus, dan saya harap itu bukan hanya sebuah janji belaka namun juga harus kau praktekkan, sebab kebanyakan mahasiswa saya melakukan hal yang serupa. Belajar sambil balas chat, Mengemudikan mobil sambil menelfon juga berkendara nyambi buka sosmed."
"Kalau belajar nyambi balas chat, sumpah, Pak. Saya belum pernah." Kinara mahasiswa teladan, dan hal tersebut sudah tak perlu diragukan lagi.
"Ah, yang benar?." Goda sang Dosen.
"Sumpah, Pak. Saya ga mungkin bohong."
Dosen itu justru mencebik, terlihat masih tak percaya sedangkan Kinara enggan menanggapi lebih jauh apa lagi berdebat. Toh berdebat dengan Dosen dijamin tidak ada menangnya, Dosen gitu loh, kok dilawan.
"Ya sudah, Pak. Saya permisi, dan untuk bapak silakan mengajar kembali." Tanpa ba bi bu, Kinara setengah berlari meninggalkan sang Pria. Sementara itu, tanpa disadari si wanita, si pria diam-diam tergelak dan menggelengkan kepala menanggapi tingkah salah satu mahasiswinya yang menggemaskan.
*Kinara...
Dia tetap, tak berubah. Masih sama seperti beberapa tahun lalu. Nakal dan pintar berkilah*.
Dosen muda itu masih berdiri terpaku, menatap pada punggung Kinara yang semakin menjauh bahkan sampai tak terlihat pun, ia masih bertahan di tempat untuk beberapa saat.
Tbc