Prisha adalah seorang gadis yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya petani dan ibunya penjahit kampung. Karena keadaan ekonomi yang pas-pasan tersebut Prisha memilih sekolah di SMK agar punya keahlian untuk bekal hidupnya kelak.
Tak cukup sampai disitu. Kemiskinan membuat Prisha menjadi bahan bullyan teman sekolahnya. Untung saja ia bertemu dengan Andrian Pratama yang menjadi semangatnya dalam menempuh pendidikan di SMK. Akankah cinta Prisha kepada Andrian mampu membuatnya bertahan dan meraih mimpinya? Atau justru ia menyerah dan memilih keluar dari sekolah tersebut karena bully?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat berkemeja Putih
Waktu berlalu, namun Prisha masih terbaring lemah di UKS. Tidak lama, ada 2 siswa lain yang dibawa oleh panitia. Mereka hanya lemas, namun hal itu cukup membuat panitia yang di UKS mondar-mandir gelisah.
Tak, tak, tak. Pintu UKS terbuka lagi. Andrian masuk untuk kedua kalinya. Kali ini rahangnya mengeras, langkahnya lebih cepat dari sebelumnya. Matanya menyapu seluruh ruangan, menimbang satu per satu kondisi peserta yang terbaring.
"Bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanyanya pada panitia perempuan, suaranya datar tanpa emosi. Pertanyaan itu jatuh sama rata. Tidak menyebut nama. Tidak menunjuk siapa-siapa. Tapi entah kenapa, saat lirikan Andrian melintas sekilas ke arah Prisha, dadanya ikut bergetar. Padahal ia hanya satu dari tiga orang yang ada di ruangan itu.
"Sudah lebih baik, Kak" jawab panitia cepat dengan kepala yang tertunduk.
Andrian mengangguk sekali, singkat. Lalu ia menatap lurus ke depan, suaranya kembali mengeras. "Korlap MPLS nya Rama kan? Sekarang panggilkan dia ke sini." Perintah Andrian dengan ekspresi marahnya.
Andrian marah bukan hanya karena peserta yang ambruk di tengah lapangan, tapi karena apel pagi yang seharusnya menjadi pengenalan, berubah menjadi ajang yang membuat anak-anak kehilangan tenaganya. Baginya itu bukan disiplin, tetapi itu kelalaian dan kekerasan.
Andrian melangkah menuju kursi yang terletak di ruang perawatan. Ia duduk dengan punggung bersandar dikursi sambil menatap ke arah luar. Sikapnya dingin tapi penuh perhatian membuat Prisha begitu penasaran dan mencuri pandang pada sosok pria berkemeja putih didepannya.
Tak lama kemudian pintu UKS terbuka lagi. Rama masuk dengan langkah ragu. Keringat masih membasahi pelipisnya. Begitu melihat Andrian duduk dengan tangan bersedekah di dada dan tatapan tajam yang mematikan.
"Ada apa, Kak?" tanyanya, suaranya dibuat serendah mungkin.
Andrian tidak langsung menjawab. Ia menatap Rama dari ujung sepatu sampai ke keningnya yang basah. Hening beberapa detik yang rasanya seperti satu menit.
"Tidak usah basa-basi," kata Andrian akhirnya. Suaranya pelan, tapi tiap katanya menekan. "Kamu tentu tahu alasan saya panggil kamu ke sini."
Rama menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah ranjang UKS, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. "Saya... saya minta maaf, Kak. Tadi pagi saya kelepasan." Kata Rama dengan pandangan tertunduk.
"Kelepasan?" Andrian mengulang kata itu seperti mencicipi pahitnya. "Dari awal saya sudah peringatkan. MPLS itu kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, bukan kegiatan uji nyali. Tujuannya membuat peserta nyaman, bukan takut."
Andrian berdiri dari duduknya kemudian melangkah mendekati Rama. "Tadi pagi kamu membentak peserta di depan. Kamu menjemur mereka di bawah matahari. Sampai ada yang pingsan."
Rama langsung menunduk lebih dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Maaf kak, saya gak tahu kalau bakalan ada yang pingsan. Karena tujuan saya hanya mendisiplinkan" Jawab Rama penuh pembelaan.
"Saya gak mau dengar alasan apapun." Kata Andrian.
"Ingat ya, disini tugasmu sebagai Korlap MPLS itu mengenalkan lingkungan sekolah kepada mereka dengan hal yang menyenagkan, bukan dengan hukuman sebagai pelampiasan ego." Lanjutnya.
Kalimat itu jatuh keras di ruangan yang sepi. Membuat semua orang yang ada di UKS ikut menahan napas.
"Saya bisa saja memarahimu di depan semua peserta tadi pagi, tapi saya gak mau" lanjut Andrian, suaranya tetap rendah tapi menusuk.
"Saya lebih suka menasihatimu di sini. Hanya di depan orang yang sudah kamu bentak tadi. Kenapa? Karena saya tahu, kalau saya memarahimu di lapangan, kamu akan malu. Dan rasa malu yang salah tempat tidak akan membuatmu belajar." Rama hanya bisa mengangguk. Bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Sekarang, kamu harus minta maaflah kepada semua peserta yang kamu buat pingsan dan kehilangan tenaga hari ini," lanjut Andrian. Suaranya tetap rendah, tapi tiap katanya menghantam.
Rama langsung mengangkat kepala. Matanya melebar. Namun dia tak bisa melawan.
"Adek-adek, kak Rama minta maaf ya. Lain kali tolong lebih disiplin biar gak saya hukum" Kata Rama yang tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu itu minta maaf atau ngancem?" Kata Andrian dengan suara tegasnya. Dia tidak membentak tapi setiap kata yang diucapkan penuh penekanan.
"Ulangi. Yang lebih tulus," perintah Andrian.
Rama menoleh ke kiri dan kanan, memandangi tiga peserta MPLS yang hanya menunduk. Entah ke mana lenyapnya Rama yang tadi pagi membentak di halaman. Yang ada sekarang hanyalah Rama yang seperti kucing ketahuan mencuri ikan. Diam seribu bahasa.
Walaupun harga dirinya runtuh di UKS, namun ia tetap harus menuruti perintah Andrian.
"Adek-adek, kakak minta maaf ya karena tadi pagi kakak kebablasan. Seharusnya kakak jaga kalian, bukan bikin kalian jatuh." Kata Rama pelan. Prisha dan 2 peserta lain hanya mengangguk kecil tanpa berani bersuara.
Setelah itu Andrian menyuruh mereka kembali ke auditorium untuk mengikuti kegiatan, namun karena Prisha masih lemah, diapun tetap tinggal di UKS untuk memulihkan tenaganya.
Kepergian Rama dan yang lainnya membuat ruang kesehatan sekolah mendadak hening. Suara langkah kaki di luar pun pelan-pelan menghilang. Andrian berdiri sebentar di dekat pintu, lalu berjalan mendekat ke arah brangkar tempat Prisha terbaring.
Ia menarik kursi dan duduk. Tidak lagi setegas tadi. "Dek, saya tinggal dulu ke kantor ya. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai," katanya pelan. Tatapannya tidak sedingin saat menghadapi Rama. "Nanti kalau butuh minum silakan ambil ke ruang guru atau TU. Kalau pusing lagi, ada minyak angin di kotak P3K." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Kalau butuh bantuan, panggil saja. Saya di ruang sebelah. Nanti kalau sudah baikan, boleh gabung lagi sama teman-teman di auditorium."
Andrian tersenyum tipis. Senyum yang tidak ia tunjukkan sama sekali di depan Rama. Setelah itu ia berdiri dan melangkah keluar, menutup pintu pelan.
Kepergian Andrian membuat Prisha bisa bernafas dengan lega. Namun tak dapat dibohongi kalau jantungnya berdetak dengan cepat. Deg deg deg.. Ada perasaan berbeda dihatinya. Masih sangat dangkal jika disebut dengan cinta. Tapi sungguh ia terpesona kepada sosok Andrian yang mengayomi. Terlebih Andrian dan Prisha belum saling mengenal.
Disisi lain Prisha merasa bahagia bercampur haru mengguncah di dada. Belum pernah ada orang yang membelanya seperti yang Andrian lakukan padanya. Terkesan berlebihan memang. Tapi matanya sudah terlanjur terpesona pada sosok berkemeja putih itu. Wajahnya yang tampan. Sikap dinginnya. Caranya mengayomi Prisha. Sungguh bagi Prisha Andrian adalah malaikat berkemeja putih. Disaat semua orang memandang rendah dirinya. Membully dirinya dengan perkataan yang menyakitkan. Prisha begitu mengidolakannya dan ingin mendapatkan lelaki seperti itu dimasa depan.
...****************...
Hari pertama MPLS diisi dengan pengenalan sekolah itu sendiri. Latar belakang berdiri, visi misi hingga pengenalan para petinggi sekolah sekaligus tenaga pengajar. Tenaga pengajar tidak dihadirkan di ruang tersebut karena terlalu banyak. Namun hanya ada kepala sekolah yang mewakili hadir sekaligus memberi ucapan selamat datang kepada siswa baru. Kendati demikian para siswa cukup bisa mengenal guru mereka lewat foto yang ditampilkan di monitor.
Terik mentari yang menyengat kulit sedikit berkurang menandakan waktu sudah sore. Para siswa baru dikumpulkan kembali di halaman sekolah untuk melaksanakan apel penutup. Tidak ada bentakan lagi seperti tadi pagi. Semuanya damai membuat para peserta MPLS bernafas lega.
"Sha.. Maaf ya tadi pagi waktu kamu pingsan aku gak nemenin kamu ke ruang kesehatan. Soalnya aku disuruh Elina jadi pemimpin barisan"
Kata Gita yang berjalan bersisihan dengan Prisha menuju gerbang sekolah.
"Gak apa-apa Git" jawab Prisha singkat.
"Lagian gimana ceritanya Lo bisa gak bawa papan nama? Bukannya kemarin kamu bilang udah jadi" Tanya Gita perhatian.
"Tadi pagi dari rumah aku bawa, Git. Tapi gak tau waktu aku cari di tas gak ada. Hilang" Jawab Prisha menjelaskan.
Gita berhenti jalan. Matanya nyipit, lalu ngelirik sekilas ke arah kerumunan Elina yang masih tertawa bersama geng nya. "Hilang? Atau ada yang sengaja buang" Kata Gita tanpa menyebut nama. Namun dari nada dan tatapannya sudah jelas bahwa dia mencurigai Elina.
gk nyangka aqu dgn solusi Adrian..
dinikahi -namany bersih- ditalaq??
Wong EDAN!!!
maaf, thor....
ambil S2 di. jkrta..
biar bisa jagain. prisha...
😍😃😀😉😉
babang andrian...
kerrrrrennnn?!!!!
udh pernah dilecehkan pun, m
sh juga manut manut wae.....