"Liv, jujur aku merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap kamu ini."
"Toh diantara kitakan memang tidak terjadi apa-apa. Jadi buat apa kamu berusaha untuk menghindari ku?" Lanjut Daniel.
"Ternyata benar, dia hanya menganggap ku teman biasa saja." Bisik ku dalam hati.
"Aku hanya merasa tidak nyaman saja, saat mereka bergunjing tentang kita. Karena aku tahu kamu pasti merasa tidak nyaman dengan itu." Balas ku.
"Seperti yang kamu katakan barusan, kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Ya harusnya kamu pun tidak harus merasa terganggu,mau aku menghindari kamu atau pun tidak."
Tanpa mau mendengar jawabannya, aku pun memilih untuk pergi lebih dulu. Rasa kecewa di hati ku, yang buat aku malah mengatakan kata-kata itu di hadapannya langsung.
Padahal beberapa hari ini, aku memendam rasa rindu ku terhadapnya. Dia tidak tahu saja,bagaimana tersiksanya aku karena harus menghindarinya seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evien Alviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
...KEKHAWATIRAN DANIEL...
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di rumah, sontak saja ibu kaget melihat keadaan ku pulang dengan keadaan luka.
"Ya ampun Liv, "
"Apa yang terjadi Liv?"
"Tadi Oliv tidak sengaja terjatuh tante, saat mengikuti pelajaran olahraga." Ucap Daniel.
"Ya ampun Liv,"
Daniel pun langsung membawa ku masuk ke dalam rumah.
"Makasih ya Daniel, karena sudah bantu Olive."
"Kamu pasti cukup kesulitan karena harus bawa barang-barang milik dia juga." Lanjut ibu.
"Tidak apa-apa tante,"
"Aku merasa tidak repot kok."
"Ya ampun, tante tidak tahu harus bilang apa sama kamu nak."
"Kamu udah baik banget udah jagain Olive dan mengantar dia ke rumah juga. Tanta sangat berhutang sekali sama kamu, coba saja kalau tidak ada kamu." Lanjut ibu.
"Sudahlah bu, nanti Daniel merasa tidak nyaman lagi."
"Maaf yah,kadang ibu ku suka berlebihan banget." Ucap ku.
"Tidak apa-apa, santai saja."
"Duduk dulu nak, biar tante ambilkan minum dulu."
"Tidak apa-apa tante, aku mau langsung pulang soalnya." Balas Daniel.
"Eh kok langsung pulang, masa iya sama sekali kamu nggak minum."
"Tidak apa-apa tante,"
"Kalau begitu saya permisi."
"Ya sudah kalau begitu,biar tante antar sampai ke depan."
Daniel pun melambaikan tangannya padaku,tentu saja aku pun membalasnya. Setelah itu dia pun langsung pergi keluar dengan di antar oleh ibu.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tidak lama kemudian ibu pun sudah kembali dan langsung duduk di samping ku.
"Coba saja kalau tidak ada dia, bunda tidak tahu apa yang akan terjadi sama kamu." Ucap ibu.
"Daniel baik banget, dia bahkan tidak malu harus menenteng tas kamu. Pasti sepanjang jalan tadi dia kesulitan dan kerepotan karena harus bawa itu semua."
Mendengar ucapan ibu barusan, aku merasa bersalah banget sama dia. Karena hari ini dia memang cukup di sibukkan oleh ku.
"Ibu harus buatkan sesuatu untuk dia, sebagai tanda terima kasih. Karena sudah jagain kamu hari ini," Lanjut ibu.
Axel yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menghampiri aku dan ibu di ruang tamu.
"Ada apa dengan kaki kamu kak?" Tanyanya.
"Nanya lagi, udah tahu luka." Timpal ku.
"Iya maksudnya karena apa?"
"Jatuh,"
"Udah dari pada kamu mewawancarai kakak,mending kamu bawain tas kakak ke kamar."
"Hem......" Balasnya tampak malas.
"Dek, janganlah seperti itu. Sekali-kali bantulah kakak kamu,terlebih lagi kondisi kakak kamu saat ini tengah sakit." Jelas ibu.
"Iyalah......"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Malamnya ayah datang ke kamar ku, mungkin karena ibu sudah menceritakan tentang keadaan ku saat ini.
"Apa sudah di ganti perbannya?" Tanya ayah.
"Sudah tadi, sehabis makan aku langsung ganti perban sekalian mengolesnya dengan obat."
"Kedepannya kamu harus lebih berhati-hati,jangan sampai kejadian ini menimpa kamu lagi."
"Baru kali ini ayah lihat kamu terluka seperti ini," lanjut ayah.
"Iya ayah, kedepannya aku bakalan lebih hati-hati lagi."
Saat aya tengah memijat kaki ku, Axel datang ke kamar dengan deru nafas yang terengah-engah.
"Kenapa dek?" Tanya ayah.
"Itu di bawah ada tamu,"
"Tamu? Siapa?" Tanya ayah kembali.
"Kalau tidak salah, tetangga kita ayah.Rumahnya itu yang ada di belakang kita itu," jelas Axel.
"Daniel......." Bisik ku dalam hati.
''Bentar ya nak, ayah mau lihat dulu ke bawah." Ucap ayah.
Beliau pun kemudian keluar dari kamar ku,.di ikuti oleh Axel. Namun sebelum itu, aku buru-buru memanggil Axel untuk meyakinkan dugaan ku.
"Axel......!'' Panggil ku.
"Apa sih kak?"
"Sini dulu sebentar,"
"Apaan?"
"Ngomong-ngomong, siapa aja yang datang?" Tanya ku.
"Maksudnya?" Tanyanya balik.
"Ih kamu ini,"
"Kamu kan barusan bilang, kalau tetangga yang di belakang rumah kita itu bertamu ke rumah kita."
"Iya......."
"Nah siapa aja?"
Bukanya langsung menjawab pertanyaan ku, dia malah balik menyeringai seolah meledek ku.
"Ish kamu ini, di tanya malah balik ngeledek kakak."
"Soalnya aku udah tahu, apa yang ada di pikiran kakak saat ini."
"Pasti kakak berharap,anak laki-laki itu kan yang datang." Lanjutnya.
"Ya ampun Axel," ucap ku geram.
"Awas yah, untung saja saat ini aku tengah terluka. Nanti kalau aku sudah sembuh, kamu bakalan habis oleh ku."
Saat aku tengah ribut dengan Axel, tiba-tiba saja pintu kamar ku terbuka sedikit lebar. Aku cukup terkejut mendapati Daniel saat ini tengah berdiri tepat di ambang pintu kamar ku.
"Daniel," ucap ku pelan.
Aku masih tidak menyangka, saat ini ada Daniel di rumah ku. Ini kali pertama ada anak laki-laki yang datang berkunjung ke rumah ku,terlebih lagi itu Daniel.
"Axel, sini nak......" Ajak ibu.
"Biarkan kakak kamu, bisa ngobrol sama kak Daniel." Lanjut ibu.
Dia pun langsung keluar dengan menghentakkan kakinya ke lantai. Sepertinya adik ku itu masih belum puas mengejek ku, makanya dia ngambek karena di suruh keluar oleh ibu.
Awalnya suasana terasa sangat canggung, aku pun bingung harus mengatakan apa pada Daniel saat ini. Namun Daniel tipe orang yang mudah mencairkan suasana dan memulai pembicaraan lebih awal.
"Ini......" Ucapnya.
Dia mengeluarkan salep dari dalam saku jaketnya dan memberikannya padaku.
"Aku dengar itu bagus untuk luka seperti kamu saat ini."
"Dulu saat aku terjatuh,ibu ku pernah membelikannya."
"Oh iya....."
"Obatnya pun bagus, karena nantinya buat luka kamu tidak berbekas." Lanjutnya.
"Makasih ya, kamu sampai harus mengantarkannya ke sini."
"Tidak apa-apa,"
"Lagian tadi sekalian juga aku ikut bersama ayah ku. Katanya beliau ada urusan dengan ayah kamu," jelasnya.
"Ada baiknya untuk beberapa hari kedepan kamu jangan dulu pergi ke sekolah, sampai luka kamu itu kering dan pulih."
"Kamu bisa saja ikut kelas online, nanti aku akan bantu kamu untuk kasih link nya." Lanjutnya.
" Padahal aku baru aja masuk beberapa hari, tapi malah harus absen secepat ini."
"Ini kan bukan kehendak kamu, lagi pula kamu nggak absen juga. Kan nanti kami mengikuti kelas online," balasnya.
"Tetap saja,"
"Tidak apa-apa, untuk saat ini itu yang terbaik untuk kondisi kamu."
"Aku khawatir kalau kamu memaksakan untuk pergi ke sekolah, nanti yang ada lutut kamu tambah sakit." Lanjutnya.
Mendengar pernyataan Daniel barusan, aku semakin menyadari perhatiannya ini bisa saja buat aku salah paham.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Aku merasa aneh saja, ada orang yang memperhatikan aku seperti ini." Balas ku.
Aku dan Daniel pun sama-sama terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Aku hanya takut saja, salah mengartikan perhatian kamu ini." Lanjut ku.
"Salah arti? Dalam artian kamu merasa perhatian ku ini......" Ucapannya terhenti karena Axel tiba-tiba saja masuk.