“Hm ... Kak Pelangi?”
Seseorang memanggil Pelangi dengan suara cicitan, suaranya berasal dari samping sang empu. Pelangi menoleh, ia menghentikan suapan makanan dari bekal yang ia bawa.
“Ya?” jawab Pelangi.
Siswi yang memanggil Pelangi tersebut menyodorkan dua novel ke depan Pelangi. Senyumnya tertampak canggung. “Boleh minta tanda tangan?” tanyanya dengan ekspresi gugup.
Pelangi mengerjap, ia seketika lupa dengan siswi di hadapannya. Ah benar, Pelangi seorang penulis. Namun ia tidak terkenal, menulis hanyalah kegiatan yang Pelangi lakoni hanya karena gabut saja. Terlebih setiap hari ia terkurung di rumah. Dan entah keajaiban dari mana, karyanya di bukukan oleh penerbit.
“Nggak boleh ya, Kak?” siswi tersebut mendesah kecewa.
“Eh, boleh, kok. Sini-sini.” Pelangi mengambil pulpen di dekat tangannya, membuka lembar pertama novel tebal tersebut. Pelangi menyoretkan tanda tangannya di dua buku tersebut.
“Makasih banyak, Kak,” ucap siswi tersebut tulus. Matanya berbinar cerah, tampak sangat senang mendapat tanda tangan langsung dari Pelangi.
“Gue seharusnya yang bilang makasih karena udah datang ke sini dan minta tanda tangan gue,” tutur Pelangi senang. Ia menepuk pundak siswi yang sepertinya adik kelas tersebut, Pelangi melempar senyum ramah.
Siswi tersebut menundukkan kepala sebelum berpamitan keluar kelas. Gadis itu memeluk kedua novelnya erat, senyumnya merekah lebar bahkan saat hilang dari pandangan Pelangi.
“Senang banget punya penggemar,” kekeh Pelangi. Ia kembali menyuap nasi yang ia bawa dari rumah, memakannya sendirian seperti biasa.
Fans pertama Pelangi tentu saja kedua abangnya. Masing-masing dari mereka memiliki buku hasil imajinasi Pelangi, bahkan mereka merengek meminta tanda tangannya. Mengingat hal itu membuat Pelangi tersenyum.
Drtt drtt
Pelangi mengambil ponselnya yang bergetar, senyumnya kembali terbit saat melihat Raka yang meneleponnya. Tumben, biasanya kakaknya satu ini akan menelepon saat istirahat kedua.
“Hallo abang?”
“Sudah makan?” tanya Raka di…
Rapunzel & Obsesi Dua Pria
17| Liburan Sebelum Waktunya
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 40 Episodes
Comments