Semua mata tertuju kepada Mella, mereka seolah mencibir Mella. Alangkah bodohnya pertanyaan yang diajukan oleh Mella.
"Silahkan tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan." jawab pria tersebut.
"Apakah hanya dengan ditemukannya bom ditubuh ayah saya terbukti beliau bersalah ?. Apakah dengan beliau mengatakan bahwa beliau sedang berjihad adalah sebuah kesalahan ?." tanya Mella.
"Anda lucu sekali nona. Sudah jelas orang yang hendak melakukan bom bunuh diri bersalah meskipun alasannya adalah jihad." ucap pria itu dan diikuti oleh gelak tawa dari seluruh penghuni ruang sidang.
"Apakah terbukti bahwa ayah saya ingin melakukan bom bunuh diri ?. Jika ia mengapa ia tidak mendatangi dan bergabung dengan kerumunan jemaat dan malah mendekat ke arah polisi ?." tanya Mella.
"Itu hanya ayah anda yang tau jawabnya, mungkin itu adalah strategi beliau." jawab pria itu yang berperan sebagai pembela Jendral Pranoto.
"Jawabannya karena ayah saya sedang berjuang, berjihad demi sebuah kedamaian. Jika memang beliau ingin melakukan bom bunuh diri, dengan mudah beliau meledakkan diri ditengah kerumunan jemaat."
"Anda bisa melihat hal tersebut dari rekaman cctv yang ada didalam Gereja dan sekitarnya. Alangkah mudahnya ayah saya masuk dan bergabung dengan jemaat yang lainnya."
"Beliau bisa masuk tanpa pemeriksaan apapun, bahkan dengan menunjukkan adanya bom dibalik jubahnya."
"Bukankah terlihat jelas dalam rekaman cctv bahwa ada seorang oknum yang malah merapikan jubah ayah saya ?." ucap Mella dengan sangat tenang.
Hening suasana dalam ruang sidang tersebut. Hadirin mulai kasak kusuk dengan argumen dan pemikirannya.
"Jika anda tidak percaya, mari kita lihat video rekaman cctv yang didalam dan sekitarnya." ucap Mella kemudian menyerahkannya kepada yang berwenang.
Tak lama video tersebut diputar, dan terlihat bahwa Pak Harun turun dari sebuah mobil dengan menggunakan sebuah plat yang hanya dimiliki oleh seorang pejabat.
Pak Harun kemudian berjalan memasuki area Gereja, bahkan saat beliau menyiba…
Air Mata Mella
Bab. 14. Sidang Pertama
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 56 Episodes
Comments
Zaqian Laili
Bagus, harusnya semua hakim seperti ini biar cepat kelar urusan
2023-04-15
0