Dua orang dengan masa lalu yang rumit, kembali dipertemukan setelah berpisah puluhan tahun. Renoir Abraham Lincoln atau yang biasa dipanggil Rey, merupakan seorang pengusaha muda yang sukses terutama di industri hiburan. Suatu hari dirinya harus berurusan dengan Daniella Anastasia yang merupakan mantan kekasihnya. Beberapa kesalahpahaman di masa lalu menimbulkan konflik baru dalam reuni dan perjalanan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherry_B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran yang Menyakitkan
“Hadirmu seperti senja dengan sejuta keindahannya. Terlalu indah untuk dilupakan, terlalu singkat untuk dikenang. Pada akhirnya, semuanya habis ditelan kegelapan malam—menyisakan rindu yang justru menyesakkan.” – Renoir Abraham Lincoln
Dentuman musik EDM mengguncang ruangan, cahaya lampu neon berpendar menari di atas dance floor. Puluhan orang larut dalam irama, seolah ingin membuang penat bersama malam.
Di meja VIP—cukup jauh dari keramaian tapi tetap bisa melihat kerumunan—seorang pria duduk tenang, nyaris tidak terpengaruh oleh suasana. Segelas minuman ia pegang santai di tangan. Dialah Renoir Abraham Lincoln, atau akrab dipanggil Rey: pengusaha muda yang namanya melambung di lingkaran bisnis papan atas. Dari properti sampai hiburan, ia menguasai banyak lini, bahkan sukses menembus pasar internasional. Tidak heran setiap tahun namanya masuk daftar Forbes 30 Under 30.
“Hei!” seru seseorang.
Datanglah Daren Adi Nugraha, sahabat sekaligus partner bisnis Rey.
“Di mana Vera?” tanyanya sambil menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Masih di perjalanan.”
“Haaah…” Daren menghela napas panjang, lalu menenggak minumannya.
“Yang satu dinginnya kayak kulkas seratus pintu, yang satunya lagi kayak manusia karet. Kenapa orang-orang di sekitarku nggak ada yang normal sih? Hidupku membosankan banget.”
Rey hanya melirik sekilas.
“Aku butuh wanita untuk mewarnai hidupku,” lanjut Daren sambil menepuk meja.
Rey memutar bola matanya, malas menanggapi ocehan sahabatnya itu. Semua orang tahu reputasi Daren—playboy kelas kakap. Tak ada hubungan yang bertahan lebih dari tiga bulan, tapi anehnya, antrean wanita yang ingin dekat dengannya tak pernah habis.
Tiba-tiba Daren membeku, lalu matanya berbinar. “Damn… gimana bisa dia ada di sini? Sepertinya malam ini bakal menarik.”
“Hei, lihat siapa yang datang!” serunya sambil menepuk bahu Rey.
Rey tetap menunduk menatap tabletnya.
“Hei bung, kau nggak dengar aku?”
“Aku tidak tertarik dengan wanita incaran mu,” jawab Rey datar.
Daren menyeringai. “Kau yakin?”
“Hmm.”
“Baiklah… bagaimana kalau aku undang dia ke sini? Merayakan kepulangan Vera bertiga saja membosankan. Tambah orang, lebih seru.”
“Terserah, asal kau yang urus.”
“Tenang saja. Kau pun mengenalnya dengan baik.”
Daren berdiri, melambaikan tangan. “Daniella!”
Nama itu membuat Rey otomatis mendongak. Jantung nya seolah berhenti bekerja untuk sejenak. Tatapan matanya tertuju ke arah pintu masuk.
Seorang wanita berjalan menuruni tangga dengan langkah anggun. Daniella—kecantikan yang tak asing baginya. Dress navy melekat sempurna pada tubuh proporsionalnya, kulitnya seputih salju, sorot matanya tajam sekaligus memesona.
“Tapi siapa pria di sampingnya?” gumam Daren penasaran. “Kekasihnya? Suaminya? Atau tunangannya? Wah, bisa jadi.”
Ia terkekeh sendiri, tak sadar ekspresi Rey berubah.
“Ck ck ck… Daniella memang pantas dijuluki ratu SMA Bina Bangsa. Pantas saja dulu kau sempat jatuh hati, Rey. Cantik, seksi… bodinya beuuh, perfect!”
“Terima kasih, biasa saja,” sahut suara lain.
Daren menoleh. Ternyata Vera sudah tiba, berdiri di samping mereka, tangannya dilipat di dada dan matanya mengikuti pandangan ke dua pria tersebut.
Dengan gaya khasnya, Daren memicingkan mata, menilai Vera dari atas sampai bawah. “Hmmm… memang biasa saja.” ujarnya, wajahnya menampilkan senyum jahil.
“Yaaa! Kau bosan hidup, hah?” seru Vera sambil bertolak pinggang.
“Aku cuma jujur.”
“Diam, atau ku bunuh kau!”
“Baiklah, aku diam,” jawab Daren pura-pura takut, lalu melirik Rey sambil memberi kode kepada Vera.
Vera menyilangkan tangan di dada, menatap Rey penuh tuntutan.
“Tuan Lincoln yang terhormat, bisakah kau sedikit menghargai perasaan tunanganmu?” ujarnya kesal.
Rey akhirnya menoleh dari tablet. “Bisakah kalian berdua berhenti membuat keributan?”
Daren dan Vera kompak saling memberi isyarat ‘mengunci bibir’.
“Aku serius. Bagaimanapun juga aku ini—” Belum sempat Vera melanjutkan, Rey memotong dingin.
“Aku tidak akan menikahi sahabat yang sudah ku anggap sebagai adik sendiri.” Tegasnya
Vera terdiam, matanya berkaca—bukan benar-benar sedih. “Lihatlah! Dia sungguh kejam. Hatiku rasanya disayat-sayat,” ia mengadu pada Daren dengan dramatis.
“Sudah kubilang, tinggalkan saja dia dan menikahlah denganku,” ucap Daren, mencoba terdengar sendu. Meladeni drama Vera.
“Boleh saja… kalau kau sudah sekaya Rey.”
“Heii! Aku ini co-founder Royal Grup, tahu !” sanggah Daren tidak terima.
“Cih.”
Rey berdiri. “Di sini terlalu berisik. Aku pergi dulu.”
Ia meninggalkan mereka tanpa menoleh.
“Kamu sih!” Vera melotot ke Daren.
“Kenapa jadi aku? Kan kamu yang mulai, aku bahkan nggak tahu apa-apa ! Ngomong-ngomong… sejak kapan dia kembali?” gumam Daren masih penasaran.
“Sudahlah. Antar aku pulang saja. Rey sudah pergi, aku nggak mood lagi.”
“Rey lagi, Rey lagi. Hei, kau nggak bisa lihat lelaki tampan di depanmu ini?” Daren memasang wajah memelas.
“Menjijikkan. Simpan ekspresi itu untuk wanita murahan di luar sana.” Vera berbalik pergi.
“Hey! Mau ke mana?” Daren buru-buru mengejarnya.
"Bukannya mau pulang ?" lanjut Daren.
Vera tidak menjawab, ia langkahnya semakin cepat mendekati Daniella yang kini sedang berdiri sendiri, entah kemana perginya pria di sampingnya tadi.
“Hai, Danie," sapa Vera.
Daniella menoleh. Alisnya terangkat, mencoba mengingat. “Vera?”
Vera tersenyum dan menepuk pundaknya. “Kupikir kau benar-benar melupakanku.”
Daniella hanya tersenyum tipis. “Mana mungkin—" suaranya dingin, berbeda dengan Daniella yang dulu ia kenal.
“Hei, apa kau juga mengingatku?” sela Daren.
Daniella melirik sekilas. Senyumnya meremehkan.
“Kurasa semua orang di negeri ini tahu siapa Daren Adi Nugraha. Kalau ada yang tidak— berarti mereka tinggal di pedalaman tanpa internet.”
“Terima kasih, aku memang cukup terkenal,” Daren menepuk dada bangga.
Daniella mengangguk. “Yang tidak mengenalmu justru orang-orang beruntung.”
Vera tertawa kecil puas dengan jawaban Daniella.
Saat itu, pria yang tadi bersama Daniella datang. “Maaf, membuatmu menunggu," ujarnya.
“Tidak masalah,” jawab Daniella lembut—berbeda sekali dengan nada dinginnya tadi.
Pria itu menatap Vera dan Daren. “Temanmu?”
“He'em... kenalan lama,” jawab Daniella singkat.
“Vera.”
“Daren.”
“Dirga.” Pria itu memperkenalkan diri sambil menjabat tangan. “Senang berkenalan. Jadi kalian teman sekelas Daniella dulu?”
“Ya, di SMA,” sahut Daren. “Kebetulan kami juga sedang buat pesta penyambutan untuk Vera. Bagaimana kalau kalian bergabung?”
Dirga tersenyum sopan. “Terima kasih, tapi kami ada urusan lain.”
“Baiklah, semoga kalian menikmati malam.” Vera tersenyum, lalu berbalik pergi. Namun beberapa langkah, ia kembali.
“Oh iya, aku hampir lupa. Minggu depan Royal Grup mengadakan pesta. Aku harap kalian bisa datang.”
Ia menyerahkan kartu undangan burgundy beraksen emas. Elegan, mewah, tak bisa diabaikan.
“Terima kasih atas undangannya. Kami pasti datang,” ucap Dirga.
Vera mengangguk. “Sama-sama.”
***
Saat Daniella melangkah masuk dengan anggun, ingatan lama yang terkubur dalam-dalam seakan menyeruak kembali. Bagi Rey, kehadiran wanita itu bukan sekadar kebetulan. Mereka bukanlah orang asing—dulu, semasa SMA, mereka berempat pernah begitu dekat. Rey, Daren, Vera, dan Daniella dikenal sebagai lingkaran kecil yang selalu bersama.
Namun, ada satu hal yang membuat Daniella berbeda. Ia bukan sekadar teman; ia adalah pacar pertama Rey. Hubungan mereka saat itu membuat Daniella masuk dalam lingkaran sahabat, dan lambat laun ia juga menjadi akrab dengan Vera. Meski dengan Daren hubungannya tidak sedekat itu, tetap saja mereka pernah berbagi banyak kenangan manis remaja.
Sayangnya, semua berakhir pada malam prom. Sebuah malam yang seharusnya menjadi puncak indah masa SMA justru berubah menjadi titik balik. Daniella yang sedikit mabuk malam itu, tak sengaja mendengar percakapan samar antara Rey dan Vera. Kata-kata yang ia dengar tidak pernah jelas sepenuhnya, namun cukup untuk menggores luka yang tak pernah hilang hingga kini. Sejak malam itu, persahabatan mereka hancur perlahan, meninggalkan ruang kosong yang kini terasa sesak saat mereka dipertemukan kembali.
...-Renoir Abraham Lincoln-...
...-Daniella Serene - Lynn/Crystal-...
...****************...