Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Obsesi / Menikah Karena Anak
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Izzati Zah

Sudah lama Heru memendam perasaannya pada Alina. Heru berjuang keras agar bisa setara dan pantas dengan pujaan hatinya. Tapi ternyata segala usahanya tetaplah sia-sia.

Namun disaat Heru telah mengikhlaskan, takdir justru menyatukan mereka dengan jalan yang tak pernah dibayangkannya. Heru harus menikahi Alina yang tengah mengandung benih pria lain.

Pernikahan mereka pun harus mengalami berbagai ujian yang mengoyak harga diri Heru.

Mampukah Heru tetap bertahan dan setia mencintai Alina?

Bisakah Alina membuktikan ketulusan cintanya dengan banyak kekurangan yang dimilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izzati Zah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Setelah selesai menelpon Tiara akhirnya Alina merasa lebih tenang. Sahabatnya yang satu itu memang selalu bisa diandalkan. Alina akhirnya memutuskan untuk tidur siang saja.

Saat terbangun, Alina melihat Mbak Sitha sudah berada di kamarnya sedang membersihkan perabotan.

"Mbak Sitha, tidak usah bersih-bersih, tugasmu hanya disuruh menemani dan mengawasiku kan?", tegur Alina pada pelayannya itu.

"Nggak papa Mbak, saya bosan dan nggak ada kerjaan Mbak...",

Mbak Sitha lalu terus melanjutkan pekerjaannya.

Alina melihat jam di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul empat lebih dua puluh menit. Lama juga tadi dirinya tertidur.

"Mbak Sitha, bisa tolong siapkan air untuk saya mandi?"

"Ya mbak, tunggu sebentar..."

Mbak Sitha lalu mempercepat pekerjaannya, kemudian menyiapkan air mandi sesuai dengan permintaan Alina. Alina kemudian mandi dan menunaikan shalat ashar.

"Mbak Sitha, tolong bawakan alat-alat make up yang ada di meja dan cermin kecil..."

Entah mengapa tiba-tiba saja Alina ingin mengenakan make up agar wajahnya terlihat lebih cantik dan segar. Sore itu pun Alina memilih mengenakan home dress berwarna peach yang lembut, bukan piyama tidur seperti biasanya.

Mbak Sitha pun membawakan satu persatu alat make up yang diminta Alina ke meja kecil yang ada di tempat tidur Alina.

"Ada lagi tidak Mbak?", Tanya Mbak Sita setelah membawakan semua yang diminta Alina.

"Sudah cukup mbak, terimakasih banyak..."

Alina lalu mulai memoleskan make up tipis-tipis ke wajahnya. Alina tidak ingin terlihat mengenakan make up yang berlebihan, Alina hanya ingin menutupi kekurangan diwajahnya, seperti jerawat dan noda hitam yang belakangan semakin membandel. Alina ingin terlihat cantik dan segar tanpa terlihat melakukan effort yang berlebih.

Setelah puas dengan hasil riasan sendiri akhirnya Alina menyuruh Mbak Sitha mengembalikan semua alat make up nya ke meja rias.

Alina lalu melihat jam di dinding.

"Mbak Sitha?"

"Ya Mbak?"

"Biasanya Mas Heru pulang kerja jam berapa ya?"

"Maaf Mbak, saya kurang tahu..."

Alina jadi merasa bodoh sendiri. Untuk apa dirinya menanyakan hal semacam itu pada Mbak Sitha? Dan lagi, sejak kapan dirinya harus perduli kapan Heru akan pulang?

Tapi entah mengapa, nyatanya Alina memang menantikan kedatangan Heru. Waktu pun bergulir, matahari tenggelam dan perlahan hari beranjak gelap. Dan penantian itu berubah menjadi kekhawatiran.

Seharusnya jam kerja Heru berakhir sejak pukul setengah lima sore, ditambah satu jam perjalanan seharusnya sekitar setengah enam sampai jam enam Heru sudah berada di rumah. Tapi saat ini jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam dan Heru belum juga tiba dirumah. Haruskah dirinya menelpon Heru untuk bertanya tentang keberadaannya? Tapi harga diri Alina masih menahannya untuk melakukan hal itu. Atau jangan-jangan Heru sudah berada dikamarnya tanpa berniat menghampirinya? Atau jangan-jangan karena tadi pagi Heru melihat fotonya bersama Dirga membuatnya kecewa?

Entah mengapa prasangka Alina jadi melebar kemana-mana, dan saat kegundahan itu sudah mencapai puncaknya, Alina mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Alina sangat berharap bahwa itu adalah Heru, tapi ternyata itu adalah Bi Siti yang ingin memberitahukan pada Mbak Sitha bahwa makan malam telah siap.

Mbak Sitha segera keluar untuk mengambil makan malam Alina. Tapi saat Mbak Sitha kembali dengan membawa nampan penuh makanan, Alina justru menolaknya.

"Aku belum lapar, Mbak Sitha makan duluan saja, nanti biar saya ambil lagi.."

Entah mengapa Alina benar-benar ingin makan malam bersama Heru.

Alina menunggu sambil terkantuk-kantuk sampai kemudian kembali terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Alina menyuruh Mbak Sitha membukakan pintu dan Alina sangat terharu saat melihat Heru berdiri di depan kamarnya masih mengenakan pakaian kerja.

"Kamu baru pulang?", tanya Alina saat Heru audah masuk dan mendekat di sisinya.

"Ya, tadi ada pasien kecelakaan yang cukup parah di ruang IGD, jadi aku ikut menanganinya..."

"Syukurlah kalau begitu..."

Alina merasa lega mendengar penjelasan Heru. Padahal tadi Alina sempat berfikir macam-macam dan takut ada sesuatu yang buruk menimpa Heru.

"Bagaimana kabarmu hari ini? Apa harimu sangat membosankan?"

"Sedikit, tapi aku sedikit terhibur dengan bernostalgia bersama Totto Chan..."

"Ah, ya, maaf tadi pagi aku lupa memberikannya padamu karena terburu-buru..."

"Tidak apa-apa, aku menemukannya di meja di dekat rak buku, terimakasih banyak..."

"Oh ya, apa kau sudah makan malam?"

Alina menggeleng.

"Kenapa belum makan, seharusnya kamu makan tepat waktu, tidak perlu menungguku!"

"Siapa juga yang menunggumu?"

"Hahaha", Heru teryawa melihat Alina yang salah tingkah.

"Tadi aku mampir beli kwetiau goreng kesukaanmu, ayo kita makan bersama..."

Tanpa menunggu jawaban Alina, Heru sudah melangkah keluar untuk mengambil peralatan makan. Heru lalu membantu menghidangkan makanan untuk Alina.

"Mbak Sitha juga makan ya?"

Ucap Heru sambil menyerahkan satu bungkus kwetiau yang belum di buka. Mbak Sitha hanya menerimanya sambil tersenyum meski dirinya sudah kenyang. Tidak sopan menolak pemberian orang, lagi pula kwetiau itu terlihat menggiurkan, mungkin nanti dia bisa memakannya bersama teman-temannya di belakang.

"Makasih Mas Heru..."

Heru lalu makan bersama Alina. Alina terlihat sangat lahap menyantap makan malamnya.

"Kalau kamu suka, aku akan sering-sering membelikanmu makanan itu..."

"Jangan!"

Potong Alina dengan panik. Heru pun merasa heran dengan reaksi Alina.

"Kenapa?"

"Pulanglah tepat waktu, tidak perlu membelikanku apa-apa..."

Yah, entah mengapa itulah yang diinginkan Alina. Alina merasa tidak membutuhkan apapun selain Heru berada di sisinya. Alina pun tidak mengerti dengan perasaannya. Dirinya seperti perempuan tidak tahu diri yang kecanduan akan kehadiran Heru disisinya.

"Jadi sekarang kamu sedang ngidam untuk berdekatan denganku?", Heru semakin suka menggoda Alina.

"Bukan begitu...aku hanya merasa kesepian...",

Alina memang kerap merasa kesepian belakangan ini. Dan kehadiran Heru memberi warna tersendiri dengan perhatiannya yang terasa tulus.

"Baiklah, besok aku akan usahakan untuk pulang tepat waktu. Sekarang sebaiknya kamu segera tidur. Tubuhmu dan bayimu butuh beristirahat, aku juga mau istirahat dulu..."

Heru lalu membereskan peralatan makan Alina sekalian kembali ke dalam kamarnya.

Sepeninggal Heru, Alina mencuci muka dan bersiap untuk tidur.

Tapi kemudian Ponsel Alina malah berdering. Sebuah telepon masuk dari sahabatnya, Tiara. Tanpa pikir panjang Alina segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum, ada apa Tiara?"

"Walaikum salam, Alina, gue udah dapat informasi yang lo minta. Dirga saat ini bekerja di firma hukum milik ayahnya, Mochtar Effendi and partner yang berada di gedung Astana. Mungkin lo bisa cari di sekitarnya sana saat jam kerja atau jam istirahat. Lo ingat Mia, teman SMA kita? Kebetulan di bekerja disana dan gue juga dapat informasi ini dari dia..."

"Thanks a lot Tir, gue tahu lo emang selalu bisa diamdalin!"

"Sama-sama Lin, lo bisa hubungin ge kapanpun kalau lo butuh bantuan..."

"Yoi, makasih banyak Tiara..."

"sama-sama..."

Sambungan telepon terputus. Alina sudah bertekad, dirinya akan menemui Dirga secepatnya. Tapi paling tidak dirinya harus menunggu sampai kondisi tubuhnya membaik. Biar bagaimanapun juga kesehatan janinnya adalah yang terpenting saat ini.

1
SongbirdGarden
lh kok smpe sini,,,??? thor mna lanjutanx,,,kok kgk ad juga hari updatex,,,?
Wajah Boneka
Thor hayuu kita ke pelaminan aja biar bisa baca ceritamu tiap h
moonstrucktraveller
Thor, i love you!! Aku mau bilang itu karena cerita ini moodbosterku banget!
Garang Anggriawan
Makasih udh berkarya thor! Lumayan banget buat bantu aku ngabisin waktu luang! Semangat terus pokoknya
SquigglyMunchkin
Kalau lagi patah hati, paling tepat emang baca-baca karya author. Bisa melupakan semua kesedihan~
Manah Dabukke
semangat selalu Thor aku suka ceritanya ❤️❤️
kisses and martini
wahhh..bagus banget ceritanya,q suka banget.....cepat lanjutin ceritanya yha mbm.q tunggu kelanjutan ceritanya,seru banget.....
booksandpeonies
Thor udah ga tahan nih pengen baca bab baru hihi
SecretGiggle
Se daebak itu! Aku bakal terus menunggu lanjutannya Thor! Semongko!
Winda Utami
Yoyo lengket diatas motor, yok diupdate thor!
BeautyBabe
lh kok smpe sini,,,??? thor mna lanjutanx,,,kok kgk ad juga hari updatex,,,?
༺Leͥgeͣnͫd༻ᴳᵒᵈ
Kalau lagi patah hati, paling tepat emang baca-baca karya author. Bisa melupakan semua kesedihan~
Muhammad Izam
segera luruskan masalah Meraka jangan sampai masalahnya berkepanjangan
skyeandstaghorn
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
SoftMambo
Semangat kak..., ditunggu lagi up terbarunya😊💪🙏
Emiliana Sudarjati
lanjutkan
Indah Batam: aku mampir Thor, salam dari - Gairah Ayah Tiriku
total 3 replies
Mrs.Q
semangat berkarya author 😍
Mrs.Q
semangat berkarya author 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!