BUKAN CERITA HOROR BIASA, Penggabungan antara horor dan peristiwa di masa lalu yang benar-benar pernah terjadi.
Kejadian mistis dialami seorang CEO tampan bernama Jericho. Semua berawal semenjak kematian sang Papa. Hidupnya yang awalnya baik-baik saja berubah mencekam. Jericho yang baru saja lulus kuliah dari luar negeri, mendapati keganjilan pada perusahaan yang di pimpinannya.
Mulai dari kehadiran sosok lain atau kecelakaan kerja yang dialami karyawan hingga berujung kematian.
Ditengah semua keanehan itu, Jericho mendapatkan sekertaris baru yang ternyata seorang indigo, bernama Elisa. Dia menguak segala rahasia yang menyebabkan semua kejadian ini. Apalagi tentang perjanjian sang papa dengan iblis.
Sedangkan disatu sisi, nyawa keluarga Jericho terutama sang adik, Adelina menjadi incaran iblis-iblis jahat itu. Sanggupkah Jericho dan Elisa menghentikan perjanjian itu? Serta menyelamatkan nyawa keluarganya?
Mari membaca tulisan saya ini, silahkan tinggalkan komentar. Author sangat terbuka dengan kritik saran dari para pembaca yang baik dan budiman. Mohon dimaafkan apabila typo bertebaran. 🙏.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutra Lestara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dapat melihat 'mereka yang tak kasatmata' bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Percayalah, tidak semua kelebihan itu menguntungkan. Tapi Tuhan selalu punya alasan kenapa memberikan kelebihan itu.
***
Hari demi hari berlalu. Elisa sudah beradaptasi dengan baik dan cepat terhadap cara kerja perusahaan serta bosnya, Jericho. Bosnya selalu puas melihat hasil pekerjaan Elisa, dia merasa sangat terbantu dengan kehadiran sekertaris barunya ini dan memang seharusnya begitu. Jericho akui jika sekertarisnya ini punya sikap yang cekatan juga teliti. Itulah salah satu kelebihan Elisa.
Karena sering berinteraksi setiap hari, setiap saat kecuali hari minggu. Sedikit demi sedikit mereka mulai mengerti kebiasaan masing-masing. Bagi Jericho air mineral adalah barang wajib yang harus ada di manapun dia berada, secangkir coklat hangat sebelum jam pulang kantor untuk merefresh pikirannya sebelum pulang ke rumah atau makanan ekstra pedas ketika pesan online food.
Begitu pula Jericho, baginya; Elisa adalah perempuan yang memiliki kebiasaan yang aneh terlepas dari cara kerjanya yang baik. Dia perempuan introvert yang penyendiri dan pendiam.
Pada hari-hari tertentu, office boy yang merupakan karyawan lama selalu membakar semacam dupa di ruang kerja Jericho. Ketika Jericho hendak menghentikan kebiasaan itu, beberapa karyawan termasuk Elisa memberinya saran 'jangan'. Jericho pun mengalah, meski Elisa sendiri tidak mau masuk kedalam ruangan bila dupa itu masih menyala. Alasannya sederhana saja; "Saya sensitif terhadap aromanya, pak. Saya bisa pusing sampai muntah bila mencium aromanya". Padahal yang sebenarnya Elisa lihat ialah mahluk beraneka macam rupa dan bentuk sedang berebut masuk keruangan itu untuk menghirup aroma dupa yang dinyalakan. Karena beberapa mahluk menganggap dupa yang di bakar adalah makanan bagi mereka.
Pernah beberapa kali Jericho melihat Elisa bicara seorang diri. Salah satunya ialah ketika mereka mengunjungi pabrik tekstil, sejak kedatangannya di pabrik, raut wajah Elisa menjadi pucat pasi, entah apa penyebabnya padahal Jericho yakin ketika di mobil tadi dia melihat Elisa baik-baik saja.
"Tidak, kami tidak bawa apa-apa. Tolong jangan ganggu kami. "
Jericho yang mendengarnya merasa ganjil, mereka sedang berkeliling berdua saja di lantai tiga pabrik. Kebetulan di lantai tiga banyak ruangan kosong yang akan ia fungsikan lagi.
"Kamu sedang bicara dengan siapa, El? " Tanya Jericho heran.
"Ha, bicara?? " Tanya Elisa memastikan bahwa bosnya mendengar percakapannya barusan. Yang jelas Elisa bukan bicara dengan manusia. "Emm, saya sedang bernyanyi, pak. " Jawab Elisa cepat berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Bernyanyi??? " Jericho mengeryitkan dahi.
"Iya, pak. Mohon maaf bila suara saya menganggu. " Jawab Elisa sambil tersenyum, padahal dia sekarang sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memasuki portal dimensi lain yang berada di sampingnya.
"Oh, baiklah. Lanjutkan nyanyianmu, El. "
Sungguh, Elisa ingin menepuk jidatnya sendiri lalu berkata; Mampus kau, El.
"Lain kali saja, pak. Saya jadi malu. " Elisa terkekeh.
Jericho hanya diam tak melanjutkan lagi dan itu membuat Elisa sangat lega. Sekarang mereka fokus pada ruangan paling ujung. Menurut manager disini itu adalah ruangan paling luas. Sangat cocok jika hendak di buat ruangan utama. Kemudian beberapa lagi yang kosong akan di buat sebagai ruangan para staf.
Saat Jericho membuka pintu ruangan. Tiba-tiba "Brughh". Elisa pingsan.
(Apa yang terjadi dengan Elisa? Ada yang penasaran tidak kenapa dia sampai pingsan?? Tunggu kelanjutannya ya, kak. Nanti ada pov khusus Elisa, kita akan mengenal kemampuan Elisa lebih jauh lagi. 😉)