Sejak kecil, Sarah selalu hidup dalam zona nyaman. Apapun yang ia lakukan, orangtuanya selalu membela, bahkan ketika jelas-jelas ia yang bersalah.
Namun, segalanya berubah ketika ia hamil di luar nikah di usia sekolah. Sekolah tak memberi pilihan—ia harus keluar. Untuk pertama kalinya, orangtuanya kehabisan cara untuk membela dan melindunginya dari kenyataan.
Ditinggalkan oleh sang kekasih, dijauhi oleh teman-teman, Sarah terjebak dalam kebingungan. Bagaimana Sarah melukiskan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raydessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Anton pergi
Hari ini, Anton benar-benar akan pergi meninggalkan keluarganya. Berbagai perlengkapan sudah di siapkan, keluarga Pak Hadi dengan setia mengantar Anton ke bandara, begitupun dengan keluarga besar Jordy dan Gilang yang tampak antusias ketika bertemu dengan keluarga Pak Hadi di bandara.
"Alhamdulillah ya bu, pak. Anak anak bisa mewujudkan impian nya." tutur Pak Indra, ayah Gilang.
"Betul pak, kami juga sangat bersyukur. Ya kami sebagai orangtua hanya bisa mendoakan dan mendukung yang mereka jalani selama itu masih di jalan yang benar." jawab Pak Hadi sambil tersenyum hangat.
"Saya aga khawatir bu, pak. Anak anak nanti di Jepang tinggal dimana? Lalu kalau sakit atau anak anak perlu apa, bagaimana ya bu? Saya khawatir sekali." ucap bu Tuti mengungkapkan kekhawatiran nya.
"Ibu tenang saja, kebetulan tante dan om nya Jordy juga tinggal di jepang sudah 10 tahun. Saya sudah titipkan anak anak untuk tinggal tidak jauh dari rumah mereka disana. Insya Allah bu semua akan baik baik saja." jawab bu Grace, ibu Jordy.
"Apa tidak merepotkan bu? Saya jadi ngga enak." tanya bu Tuti
"Sama sekali tidak bu, mereka justru senang bisa membantu mendampingi anak anak disana. Bu Tuti dan semua nya tenang ya." bu Grace berusaha menenangkan. Ia paham kekhawatiran para orang tua yang anak anak nya akan segera berangkat ini. Tidak lupa perwakilan dari pihak sekolah pun ikut mengantar keberangkatan Anton, Gilang dan Jordy.
Pesawat sudah tiba, anak anak bersiap untuk pergi meninggalkan tanah air. Haru tak dapat di bendung karena untuk waktu yang cukup lama mereka akan terpisah jarak yang jauh.
"Baik baik ya nak. Jangan banyak merepotkan om dan tante nya jordy. Kamu , jordy dan gilang harus saling menjaga ya nak. Doa ibu selalu menyertai kalian." bu Tuti memeluk Anton dengan sangat kencang, begitu pun sang ayah yang hanya sanggup memeluk tanpa berkata banyak.
"Ton, kabarin kita terus ya. Hati hati disana." ucap Rasyid
"Iya bang. Titip Sarah." bisik Anton
"Aman" Rasyid berusaha untuk tetap tersenyum meski sebetulnya ia sangat sedih.
"Abang ngga mau peluk aku?" tanya Sarah polos.
Kali ini Anton tidak bisa menahan emosi nya, seketika ia menangis sambil memeluk Sarah. Ia sangat khawatir, teringat dengan sosok Andi yang gelagat nya menurut Anton mencurigakan.
"De, inget ya. Kamu harus nurut sama bapak, ibu, bang rasyid. Maaf abang sekarang ngga bisa jagain kamu dulu. Belajar yang bener, jangan bikin susah orangtua. Janji ya sama abang."
Untuk pertama kali nya seumur hidup Sarah ia melihat sosok Anton yang sangat kasar, hari ini memohon agar ia merubah perilaku nya. Sarah seolah tak mau lepas dari pelukan Anton, ada dorongan dari dalam diri nya untuk berubah menjadi Sarah yang lebih baik.
"Udah de, abang harus pergi."
"Bang.." Sarah melepaskan pelukan nya dengan terpaksa, lalu menepi ke arah ibu nya
"Anton pamit ya bu, pak, bang, de. Doain Anton disana sehat dan bisa pulang ke rumah bawa sesuatu yang lebih membanggakan kalian semua."
Mereka berpelukan lalu mengantar Anton hingga benar benar pesawat yang di tumpangi nya pergi meninggalkan area bandara. Sarah yang terus menangis membuat bu Tuti bingung karena sehari hari mereka justru jarang sekali akur.
"De, harusnya kamu seneng bang anton pergi. Jadi ngga ada yang marahin kamu." goda Rasyid sambil berusaha mencairkan suasana.
"Aku sayang bang anton." jawab Sarah terisak
"Ya Allah ternyata kamu se sayang itu ya sama abangmu nak. Doakan abang mu disana sukses ya." ucap pak Hadi menenangkan Sarah.
Saat perjalanan pulang, handphone sarah berbunyi. Andi mengajaknya bertemu, rindu katanya. Kali ini sarah menolak dan tidak bisa di bujuk. Ia juga tidak terlalu memperdulikan ancaman Andi yang akan memutuskan hubungan mereka jika Sarah tidak menuruti kemauan nya untuk bertemu. Ia sedang sangat sedih hari ini karena abang kesayangan nya harus pergi jauh demi memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga mereka.
***
Di kantor Rasyid...
"Bro, balik dari sini ngopi yok di kafe depan" ajak Miftah kepada Rasyid
"Gue mau langsung pulang mif, bapak takut nya belum pulang, kasian ibu sama sarah."
"Oh iya gue lupa si anton berangkat ya. Ya udah gue ikut ke rumah lo boleh? Di rumah gue sepi soalnya."
"Boleh laah ayo, mau nginep juga ayo."
"Gue ke rumah dulu ambil baju ya, tar langsung ke rumah."
"Oke mif. Lo hati hati ya."
Rasyid dan miftah pulang menuju rumah masing masing. Sampai lah miftah di lampu merah dekat rumah nya, ia melihat sarah sedang di bonceng oleh laki-laki. Sarah tidak menggunakan helm sementara di ujung lampu merah ada polisi yang sedang patroli. Ketika lampu hijau menyala motor yang di tumpangi sarah melaju dengan kecepatan sangat tinggi hingga tidak bisa di berhentikan oleh polisi yang sedang bertugas. Saat sampai di rumah yang saat itu hanya ada ART dan supir, miftah bergegas mengemas baju jugq perlengkapan lain untuk menginap dan langsung berangkat menuju rumah rasyid. Ayah dan Ibu miftah sering sekali bepergian ke luar negeri untuk bekerja, tidak jarang miftah merasa kesepian dan lebih memilih menginap di rumah rasyid.
"Eh ada mas miftah, masuk mas." seru pak Hadi yang saat itu baru saja pulang kerja.
"Iya pak terimakasih. Bapak sehat?"
"Alhamdulillah sehat nak. Kamu kemarin kata rasyid sakit ya?"
"Puyeng aja sedikit pak, butuh tidur lebih lama sepertinya hahahaha."
"Bisa aja kamu ini. Tuh ibu kayanya udah masak, makan bareng yuk. Rasyid sedang ke warung dulu beli kopi."
"Aduh saya malu sekali sama bapak, ibu, rasyid juga, sering bikin repot"
"Ngga. Nak miftah sudah seperti bagian dari keluarga kami, sudah kami anggap anak sendiri sama seperti rasyid." jawab bu Tuti sambil menghidangkan makanan di atas meja.
Mif tersenyum sambil mengingat kapan terakhir ia makan bersama ayah dan ibu nya. Ia menyadari bahwa orangtua nya adalah sosok pekerja keras yang saat ini sering di butuhkan. Ayah nya bekerja sebagai direktur perusahaan, sementara ibu nya adalah seorang guru besar di salah satu universitas ternama ibu kota. Ingin sekali miftah merasakan kehangatan seperti di keluarga rasyid namun ia juga menyadari bahwa kerja keras orangtua nya saat ini juga untuk keberlangsungan hidup keluarga nya.
"di makan bro, bukan di liatin. Takut nanti ikan nya sama lo." ucap rasyid menepuk pundak miftah.
"eh iya, terlalu enak masakan ibu." jawab mif sambil kembali melahap masakan bu Tuti.
Selama makan malam berlangsung, sarah belum terlihat. Miftah teringat kejadian yang ia lihat di lampu merah. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 sarah belum juga pulang.
"Sarah kemana bro? Udah tidur?" tanya miftah
"Kaga tau gue, dari tadi di telfon ngga bisa." jawab Rasyid
"Coba telfon lagi nak." pinta pak Hadi
Rasyid mencoba menelfon sarah tapi tetap tidak di angkat. Beberapa kali ia menelfon sampai akhirnya di angkat oleh laki laki
"Halo? Siapa?"
Rasyid heran mengapa handphone sarah bisa ada di tangan oranglain. Ia pamit menuju teras dengan alasan susah sinyal kepada ayah dan ibu nya. Rasyid langsung teringat kata kata anton.
"Kamu siapa? Sarah mana?"
"Saya pacarnya. Sarah lagi di kamar mandi."
"Eh kamu bawa adik saya kemana?"
"Oh maaf bang tadi sarah pusing katanya, jadi saya ajak makan dulu di kafe."
"Astagfirullahaladzim kenapa kamu ga anter dia pulang aja? Dimana kalian sekarang? Saya jemput."
"Boleh kalo abang mau jemput, ga jauh dari rumah ko bang ini yg depan deket toko sepatu. Kebetulan saya juga mau pulang sudah malam." sahut Andi
Tanpa pikir panjang rasyid langsung menjemput sarah yang saat itu sudah sendirian di dalam kafe. Andi dengan enteng nya pulang tanpa menemani sarah sampai di jemput.
"Astagfirullah sarah ya Allah abang harus bilang apa sama bapak ibu?"
"Bilang aja aku abis ngerjain tugas bang. Tolong ya bang. Aku takut di marahi."
"Mana pacar kamu?"
"Udah pulang duluan bang, kasian cape."
"Mesti nya dia nungguin abang sampe jemput kamu bukan malah ninggalin kamu sendiri gimana sih?" ucap rasyid emosi.
"Pulang yuk bang ngantuk."
Saat akan meninggalkan kafe...
"Mas, maaf. Meja 9 belum bayar." ucap seorang kasir di kafe tersebut.
"Meja 9? Siapa?" tanya rasyid bingung.
"Aku sama kak andi bang."
"Ya Allah bener bener si sarah astagfirullahaladzim abis kamu de di rumah awas aja."
Rasyid terkejut melihat tagihan makan sarah dan andi yang mencapai 350.000 dengan detail pesanan yang sangat banyak. Rasyid segera membayar tagihan itu dengan uang pribadi nya. Di tarik lah tangan sarah dengan perasaan kesal. Saat sampai di rumah ia tidak bisa memarahi sarah karena segan ada mif yang sedang menginap.
"Darimana kamu nak?" tanya pak Hadi
"Kerja kelompok di rumah nanda pak."
"Sampai malam begini?"
"Iya tugas nya banyak pak. Sudah ya sarah cape ngantuk."
Ia langsung menutup pintu kamar namun tidak langsung tidur. Layaknya remaja sedang jatuh cinta ia terus saja mengobrol dengan andi, kekasih yang sangat ia cintai.
"Nak, sarah di suruh makan dulu. Kasian dia." kata pak Hadi.
"Kalo lapar nanti juga keluar sendiri pak." jawab bu Tuti yang sedari sarah pulang sama sekali tidak berkata apa apa.
"Iya pak sudahlah biarin aja." jawab rasyid.
Setelah pak Hadi dan bu Tuti masuk kamar, mif menceritakan apa yang ia lihat di lampu merah.
"Bro, sorry nih"
"Apaan?"
"Sarah punya pacar?"
"Ngapa emang?"
"Tadi pas gue di lampu merah liat dia boncengan sama cowok. Pasti bukan ojol karena sarah meluk cowok itu."
"Serius?"
"Iya. Terus motor nya kenceng banget itu ade lo ngga pake helm bro. Bahaya banget."
"Gue bingung sama anak ini. Tadi gue jemput di kafe yang depan, itu orang udah balik kata si sarah. Ngga tanggung jawab banget udah bawa anak orang main sampai malem, mana tagihan makan nya malah gue yang bayar, mahal lagi."
"Ah serius lo? Anak mana si? Masih sekolah?" tanya miftah
"Kaga tau gue, ngga jelas. Yang pernah ketemu si Anton. Dia bilang anak kuliahan, kenal sama sarah gara gara jadi mentor di sekolah nya. Gue si ngga percaya bro." jawab Rasyid sambil menyeruput kopi.
"Hati hati bro. Gue takut ade lo cuma di manfaatin, apalagi tadi tagihan nya malah lo yang bayar. Uang jajan ade lo juga sering habis kan?"
"Gue ngga kepikiran sampe sana tapi setelah kejadian ini gue yakin sarah cuma di manfaatin. Gue bakal ketat sama sarah. Enak aja ade gue di manfaatin oranglain, ngga terima gue."
Tanpa sadar ternyata pembicaraan mereka di dengar oleh bu Tuti yang belum tidur. Kamar bu Tuti dan pak Hadi ada di depan dekat teras sehingga pembicaraan mereka bisa di dengar dari dalam kamar. Mendengar seperti itu, bu Tuti tidak kaget karena sedari awal sarah memegang handphone sendiri, gelagat nya sudah berbeda. Pak Hadi yang baru tiba dari kamar mandi langsung di ajak diskusi oleh bu Tuti.
"Jadi bagaimana pak? Baiknya apa yang harus kita lakukan?" tanya bu Tuti
"Bapak bingung, harus diskusi dengan Rasyid ini."
"Apa kita perlu bantuan mif juga?"
"Bapak rasa tidak bu, tapi kalau di perlukan mungkin Rasyid yang akan bicara dengan mif."
"Kita tunggu sampai besok ya pak. Tidur saja dulu sekarang. Ibu sih ngga kaget kalau yang di ceritakan Rasyid dan Mif itu benar. Ternyata Anton lebih dulu tahu ya pak, pantas dia terlihat berat sekali ketika mau pergi." ucap bu Tuti
"Apa kita perlu memberi tahu Anton soal ini?"
"Tidak perlu pak, takut mengganggu konsentrasi nya disana."
"Ya sudah, tidur yuk."
***
Jangan lupa kasi like sama komen👌
Kita sama-sama saling mendukung......