Kanaya Putri adalah mahasiswa semester lima. Saat latihan basket dia terkena lemparan bola yang membuatnya pingsan. Pingsan untuk kedua kalinya dalam masa hidupnya. Namun saat terbangun dia malah melihat tubuhnya yang menggunakan seragam SMA dan dikelilingi oleh pria-pria yang pernah dia sukai atau kagumi saat masih SMA. Kanaya yang kebingungan dan kepalanya yang masih terasa sakit tiba-tiba mendengar suara yang membisiki telinganya, "Kali ini kamu beruntung karena pingsan ditembak bola basket sehingga kamu bisa kembali kemasa SMA dipenuhi dengan orang-orang berkelas."
Sebenarnya apa yang terjadi pada Kanaya? Kenapa dia bisa terbangun menggunakan seragam SMA dan kembali bertemu dengan pria-pria yang dulu pernah dia kagumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keithree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Harus Kuat Nay!
Setelah membaik, Dimas pulang ke rumahnya. Bukannya kamar yang dia tuju seperti biasanya, tapi gudang lama yang ada di rumahnya. Perkataan ibunya yang bilang bahwa seragam SMA-nya masih di simpan di gudang lah membuat Dimas membuka gudang itu lagi. Gudang yang pasti memiliki memori mendalam tentang keluarganya yang masih utuh. Tapi sosok Kanaya yang dia dengar dari dokter dan satpam di sekolahnya yang dulu juga membuat dia penasaran setengah mati dengan sosok Kanaya yang katanya dia cintai sepenuh hati.
Pintu gudang terbuka, kepulan debu yang pertama kali hinggap di tubuh Dimas. Ruangan ini sudah tidak tersentuh sejak ibunya meninggalkan rumah. Terlebih asisten rumah tangganya pernah membuat rumor kalau di gudang ini ada hantunya, makanya asisten rumah tangganya tak pernah mau membersihkan gudang ini.
"Pantas saja bi Minem tidak mau kesini, kondisinya saja sudah seperti sarang hantu," gumam Dimas. Dimas mengeluarkan ponselnya untuk menerangi langkahnya. Dia mencari stop kontak, tapi begitu ketemu, lampu di ruangan itu tidak menyala, mungkin sudah rusak karena sudah lama tidak diganti.
Dimas kembali ke tengah rumah untuk mengambil lampu baru. Karena tanpa lampu pasti akan lebih sulit bagi Dimas mencari barang yang dia inginkan di tempat seperti itu. Dimas mengambilnya di laci meja TV lalu mengganti lampu di gudang dengan lampu yang baru.
Dimas melangkah perlahan, dia berusaha menahan dirinya untuk tidak membuka kotak yang dia tahu adalah kenangan-kenangan manis keluarganya. Dia terus mencari dus yang sekiranya dia tidak tahu apa isinya. Sebagian ada bekas mainan Dimas waktu kecil, ada juga koleksi-koleksi tentang basket yang sudah rusak.
Penglihatannya kini tertuju pada sebuah kotak yang ditaruh di rak dengan kotak berwarna merah yang sudah usang dan tertutup debu. Dimas mengambilnya dan membuka tali yang terpasang di kotak itu. Perlahan dia membuka kotak itu agar debu yang ada diatas tidak menyembur. Walau sudah terbuka sedikit dia bisa melihat bahwa ada seragam di dalam kotak tersebut. Dimas menutupnya kembali setelah mamastikan bahwa kotak itu yang dia cari setelah itu membersihkan kotak tersebut, lantas membawanya ke kamar.
"Itu apa Dim?" tanya seseorang dari arah belakang. Dimas melihat ayahnya tengah menatap kotak yang dia bawa. "Seragam SMA-ku yah," jawab Dimas. Ayahnya hanya mengangguk mengerti.
"Ayah tumben pulang siang?"
"Ada yang tertinggal."
"Oh," kata Dimas. Dimas pun kembali melanjutkan langkahnya.
Di kamar, Dimas langsung duduk dilantai dan membuka kotak itu. Walaupun luarnya sudah sangat berdebu, tapi dalamnya masih sangat rapi dan bersih. Mungkin karena kotaknya yang kuat dan ditutup dengan rapat, sehingga tidak ada satu kotoran pun yang bisa masuk, termasuk serangga.
Dimas meraih almamater berwarna maroon yang ditaruh dibagian atas kotak itu. Teksturnya masih sedikit keras, sepertinya dia jarang memakai almamater itu karena masih terlihat baru. Di dada bagian kanannya ada logo SMA Negeri 1 Pelita Bumi. SMA yang sama dengan yang tadi dia kunjungi.
Selanjutnya ada jersey basket dengan logo sekolah yang sama. Dimas ingat bahwa dia pernah memakai jersey ini ketika dia akan bertanding dengan SMA Negeri 1 Jakarta. Itu adalah pertama kalinya Dimas meninggalkan tempat pertandingan. Ternyata dia melakukan itu untuk Kanaya. Seorang gadis yang sampai detik ini Dimas tidak tahu seberapa cintanya dia pada Kanaya sampai rela meninggalkan tempat pertandingan.
Dimas menumpuk jersey itu diatas almamaternya. Dia kembali meraih sesuatu dari dalam kotak. Kali ini ada kemeja putih polos dengan motif kotak-kotak dibagian dalam kerahnya dan celana bahan berwarna cream, ciri khas dari seragam Pelita Bumi. Seragam ini yang banyak memberikan ingatan kepada Dimas akhir-akhir ini.
Dimas membuka seragam itu, dia melihat seragam itu bolong dibagian kanan. Jika dipakai pasti dibagian perut bagian kanannya. Serta masih ada bekas noda darah di garis-garis baju yang bolong itu. "Sepertinya luka tusuk yang dimaksud pak satpam itu disini. Robekannya cukup panjang. Badanku pasti terluka parah waktu itu," gumam Dimas.
Dimas menyimpan seragam itu ditumpukan baju yang sebelumnya. Kali ini ada sepatu basketnya. Dia tidak ingat pernah punya sepatu basket berwarna Putih merah seperti itu. Dimas hendak mengambil sepatu itu, tapi baru menyentuhnya sebentar saja, kepalanya kembali kesakitan.
21 Desember 2016
Saat pulang sekolah Kanaya membawa Dimas ke rooftop sekolah dan memberikan kado kepada Dimas. Kado kali ini berupa barang, bukan perlakuan manis seperti yang Kanaya lakukan sejak pagi.
"Ini apa Nay?"
"Kado buat kak Dimas."
"Banyak banget ngasih kadonya. Yang tadi udah cukup ko buat aku."
"Aku tahu, tapi bakalan lebih afdol kalau kak Dimas nerima kado dari aku yang satu ini. Diterima yah kak."
Dimas tersenyum lalu mengangguk.
"Boleh aku buka sekarang?"
Kanaya mengangguk mengizinkan.
Dimas membuka kado yang Kanaya bungkus dengan kertas berwarna biru dan juga pita berwarna merah. Dimas terkejut karena dia melihat sepatu basket di dalamnya.
"Nay,,"
"Gimana? Suka nggak?"
"Aku suka Nay, tapi ini kan mahal!"
"Yang penting kak Dimas suka."
"Kanaya, kamu bisa beli handphone dengan uang yang kamu beli buat sepatu ini," kata Dimas.
"Aku belum membutuhkan handphone kak, aku udah seneng bisa berbalas pesan singkat sama kak Dimas lewat hp bapak, kita juga cukup sering chatingan di messenger FB. Lagian aku harus fokus sama nilai aku, dan orang tua aku juga kayaknya belum ngizinin aku buat punya handphone. Jadi uangnya aku beliin ini. Aku seneng banget kak Dimas suka sama sepatunya."
Dimas tersenyum, "Pantesan kamu ngajak aku ke rooftop," kata Dimas. Dia langsung mengikis jarak antara dirinya dengan Kanaya lalu memeluknya.
"Kado apapun yang kamu kasih ke aku, aku pasti suka Nay. Apalagi kamu beli kado buat aku dengan mengorbankan sesuatu, mana mungkin aku nggak suka? Tapi aku nggak mau lihat kamu melakukan hal ini lagi yah! Sepatu yang kamu beli ini mahal banget Nay. Aku nggak mau nyusahin kamu."
"Cuman setahun sekali," bantah Kanaya. "Dasar!" Ujar Dimas sambil menjitak kepala Kanaya. Walaupun tidak keras tapi Kanaya pura-pura kesakitan, Dimas langsung mengeceknya dengan ekspresi yang khawatir, sementara Kanaya sudah menahan tawanya karena berhasil menjaili Dimas.
"Dasar yah kamu!" geram Dimas.
"Maaf, maaf" ujar Kanaya ketika melihat Dimas hendak menggelitik tubuhnya.
22 Desember 2022
Di sore hari, Dimas kembali ke rumah sakit. Kali ini Dimas datang dengan tujuan yang berbeda dari sebelumnya. Dia masih ingat pertama kali dia mengingat tentang masa SMA-nya bersama Kanaya adalah saat dia memegang tangan Kanaya. Jika Dimas beruntung melihat Kanaya sudah sadar, Dimas bisa segera bertanya tentang masa lalunya yang memiliki hubungan yang cukup manis dengan Kanaya.
Tapi begitu sampai, dia dikejutkan dengan ibunya Kanaya yang menangis histeris di depan ruang ICU. Ayahnya Kanaya tengah menenangkan istrinya itu. Elisya juga ada disana tengah menangis sendirian di kursi. Dimas berlari menghampiri Elisya.
"Ada apa El?"
Elisya yang mendengar suara Dimas langsung berhambur memeluknya dan menangis lebih kencang lagi, "Ini gimana kak? Kondisi kak Kanaya makin parah, dokter bilang ada yang salah dengan sistem saraf otaknya. Kak Kanaya lagi dioperasi karena kata dokter itu jalan satu-satunya buat menyelamatkan kak Kanaya. Tapi udah dua jam dokter belum juga keluar," adu Elisya semakin mengeratkan pelukannya pada Dimas.
Dimas membalas pelukan itu dan berusaha menenangkan Elisya dengan mengelus punggung Elisya. "Kakak kamu bakalan baik-baik aja El, kakak kamu orang yang kuat. Kamu berdoa yah semoga tuhan menyelamatkan kakakmu."
Elisya tidak menjawab, dia semakin terisak seolah kini mendapatkan sandaran untuk meluapkan rasa khawatir yang mendalam tentang kondisi kakaknya.
(DIMAS POV: Kamu harus selamat Nay, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Jika benar kamu adalah orang yang aku cintai dulu, kamu harus selamat dan menceritakan semuanya. Aku tidak ingin lagi merasa kosong dengan ingatan yang aku buat selama empat tahun ini. Aku ingin mengingat semuanya, jadi aku mohon Nay, berjuanglah untuk hidup)
~TO BE CONTINUED~
hayolo cemana lanjutannyaa. semangat, ya, Kak.
Ayo, Nay. Ubah masa lalu kamu!
Ayok, Nay, putus dari Dimas!
Well, aku rada kritik tampilan naskahnya, sih, karena isinya bagus, literally, semenarik itu, Kak.
Ah, salam kenal, Nanas-imnida.
Di sini beneran teenager life gitu, aku sukak banget. Di antara cerita 'dewasa' dan sekelumit masalah orang dewasa, mungkin karya ini adalah salah satu dari sekian cerita yang aku temukan berbeda dari yang lain.
Manalagi alurnya maju mundur, menantang banget!
Semangat, Kak. Sukses selalu!