Kevin seorang mahasiswa semester enam fakultas Kedokteran, penderita penyakit jantung. Impian Kevin, ingin menikah sebelum dia pergi untuk selamanya alias menikah ketika umur 21 tahun.
Mila mahasiswa baru Fakultas Kedokteran, yang harus menerima kesialannya karena terlambat OSPEK dan harus menerima hukuman aneh dari seniornya. "Mencari kakak tingkat yang ulang tahunnya sama dengan dirinya."
Lantas, apakah impian Kevin akan tercapai? Bagaimana kisah keduanya?
Kevin punya satu kelebihan, bisa membaca dan mendengar apa yang ada diotak dan batin siapapun. Termasuk, kalian.
Kevin si penyuka 'kacang almond'.
Kevin si tukang mesum.
Kevin yang suka Mila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oeyfatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandung penuh cinta
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu
Untuk memceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karna tlah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukkmu
Dan telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karna tlah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Untukkmu
Hidup dan matiku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukkmu
Bila habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karna tlah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Karna tlah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Suara lembut nan halus milik Virgoun mengalun indah menemani sepanjang jalan, Kevin dan Mila menuju kota kembang, Bandung.
Keduanya memutuskan untuk mengisi waktu libur semesternya ke kota Bandung, mengunjungi beberapa tempat wisata.
"Kamu tau, setiap saya putar lagu ini, yang ada di pikiran saya cuman satu." Kevin mengulas senyumnya, sambil menggenggam sebelah tangan Mila.
Mila menggeleng. "Apa?"
"Kamu." Wajah Mila memanas.
"Apaan sih?" Mila memukul manja lengan Kevin.
Kevin tertawa berhasil menggoda Mila, ia paling suka melihat wajah semu gadisnya. Para curut sama sekali tidak terganggu, malah diam seribu kata. Mila
langsung kicep melihat ekpresi datar para curut.
"Muka mereka emang nggak bisa dimanisin dikit yak?" Kevin semakin tak bisa menahan tawanya, bahkan Kevin sampai memukul-mukul sandaran kursi.
"Bos jangan terlalu banyak ketawa nanti kelelahan. Ada kemungkinan penyakitnya kambuh, bos." Kevin memelototi Bambang yang seenaknya bicara,
tanpa tahu akibat dari ucapannya.
"Loh kamu sakit?" Mila meletakkan tangannya di jidat Kevin, "kalo sakit, kita nggak usah pergi."
Melihat kekhawatiran Mila, Kevin menaik—turunkan alisnya dengan raut wajah menggoda. "Saya nggak sakit, si curut ini kadang mulutnya nggak pakai
penyaringan," kata Kevin, "mirip ibu-ibu kampung duku."
Lagi-lagi Mila tertawa, Kevin selalu bisa membuat Mila tertawa dengan guyonan tak bermakna miliknya. Curut-curut Kevin sama sekali tidak mengeluarkan ekpresi, entah menjaga image, atau memang pria-pria kaku.
Kevin mengambil ponselnya dari balik saku celana, ponselnya itu berdering tak berhenti. Kevin tanpa melihat pun sudah tahu siapa si penelpon.
"Siapa?" tanya Mila.
"Si mesin uang. Mamah saya, sebentar."
Kevin baru menggeser layar ponselnya sudah di suguhi omelan khas Mamahnya.
"Kak, ini waktunya minum obat jangan sampai telat." Suara Meli melengking nyaring, cepat Kevin menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Iya," jawab Kevin malas-malasan.
"Sudah makan kan? Mamah udah siapin makananya di mobil Dokter. Kamu tunggu di sana biar mobil mereka yang nyamperin kamu."
"Iya, ntar aja, Mah."
"Jangan nanti-nati ah, Kak, ikutin perintah Mamah atau suruh mereka balik ke Jakarta?" tanya Meli tegas.
"Iya, iya, lagi cari rest area. Enak aja main asal suruh balik, ini pasti idenya Papah atau Esa kan?"
Tawa Balder dan Thomas terdengar di ujung sana. "Kamu tau sendiri, gimana kelakuan mereka. Intinya jangan telat makan, kalo melanggar kamu Mamah jemput paksa!"
"Iya ah, pokoknya tenang aja Kevin bakalan tahes. Apalagi di sini Kevin sama bidadari, jadi semangat terus."
"Mamah juga bidadari, Mamah yang paling cantik sendiri di rumah."
"Siapa bilang? Di rumah masih ada Mbok Jum kok, jadi Mamah bukan yang paling cantik." Kevin kembali menggoda Meli, di sambut tawa Balder dan Thomas.
"Awas ya kamu! Mamah nggak kasih restu nih?" ancaman tegas dari Meli, tak membuat Kevin berhenti.
"Yakin nggak kasih restu, orang Mamah udah janji sama Papah terus bilang; apapun yang Kevin minta, kita harus turutin. Kevin lebih berharga dari
hidup kita Pah."
Balder sukses tertawa, rupanya Meli menelepon dengan mengaktifkan speaker. "Elah, kenapa malah lo ingetin lagi? Itu rahasia tau, lagian siapa suruh nguping di kamar gue? Untung lo dengernya yang baik-baik, coba dengernya waktu Emak lo lagi mendesah kenikmatan, berabe kan jadinya."
"Ck, ck, kalo Kevin dengernya itu langsung minta kawinin detik itu juga. Udah ahh, ganggu aja, orang mau honeymoon malah di ganggu." Telepon Kevin putus sepihak.
Mila menikmati interaksi antara Kevin—orang tuanya, berbeda dengan biasanya dan Mila rasa itu cukup aneh.
"Kelihatannya keluarga kamu seru, ya, akrab banget kelihatannya."
Kevin meletakan kembali ponselnya, sedikit bergeser ke arah Mila lalu meletakkan kepalanya di bahu Mila. "Bukan seru lagi, menurut saya tapi kelewat gila."
"Seru dong kalo gitu," Mila memperbaiki posisi duduknya agar Kevin lebih nyaman. "Bisa bercanda terus, jadi hidupnya nggak flat."
"Saya jamin, nanti rumah tangga kita lebih dari keluarga saya. Semuanya saya buat sesuai keinginan kamu, percaya deh."
Mila diam menatap Kevin lama, lalu langsung menepuk-nepukkan tangannya di pipi Kevin. "Pikirin kuliah dulu, perjalanan hidup kita masih panjang,
dibawa santai aja." Tangan Mila yang tadinya menepuk sudah berubah jadi elusan, "lagian aku takut, takut sama komitmen yang di sebut pernikahan."
Kevin langsung mengangkat kepalanya, menatap Mila penuh keterkejutan. "Kamu trauma sama pernikahan? Alasannya?"
"Semua yang tertanam di otakku tentang pernikahan adalah membuat luka. Luka karena buta akan cinta, luka karena harus menentukan pilihan dan luka
karena berpisah dengan orang tua." Mila mengulas senyum getir,vdialihkannya pandangan ke arah jendela. "Siapa pun pasti mau nikah, aku emang takut, tapi, nggak menutup kemungkinan aku nikahnya lama atau dalam waktu dekat. Kita nggak tau, hati bisa terbalik bila ada kemauan."
"Kamu bener, semua orang mau menikah termasuk saya. Saya punya keinginan: menikah secepatnya, kalo bisa tepat diumur 21 nanti, ya tahun depan
mencong sedikit tahun depannya lagi." Kevin membalikan wajah Mila untuk menatapnya, "kalo kamu tanya alasanya kenapa: karena saya nggak pernah tau, apa hidup saya bisa lebih bertahan sampai hari itu tiba."
"Maksudnya?" tanya Mila.
Kevin mengeleng. "Kamu bakalan tau, tapi nanti. Saya nggak siap bicara ke kamu, saya takut, takut kamu malah tambah cinta sama saya."
"Ya ampun!" Mila memukul kepala Kevin, "aku udah serius banget, kenapa kamu malah bercanda sih!"
Kevin tertawa hambar, pupus sudah harapan Kevin menikah di usia ke 21 jika mendengar penuturan Mila. Perasaan sedih dan kecewa terpancar jelas di
wajahnya, namun tanpa Mila sadari dari ucapan Kevin adalah satu: tentang kematian.
Dan bukan berarti Kevin mengalah, malah tekadnya semakin kuat untuk menyembuhkan Mila dari ketakutannya. Itu janjinya.
•••
**Halo semua, terima kasih sudah membaca.
Bantu aku dengan cara Vote, Like dan Komentar ya**...
plisss lanjut!!!!!