Karena sekeras apapun aku berfikir tentangmu hanya satu hal yang ku pahami bahwa kau adalah hal terindah yang pernah ku temui dan kumiliki di dalam hidup ini!...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Les07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Ini den pesanannya." ucap mang Ujang, membawa nampan berisi tiga mangkok bakso. Bau harum dari kuah bakso mengepul bersama asap, mencium itu seketika air liur akan menetes tak sabar untuk melahapnya.
"Mang yang aku tidak pakai seledri kan?." tanya Chris, mengambil mangkok bakso yang di berikan mang Ujang.
"Aman den." ucapnya.
"Wih, mantap nih bakso mang Ujang memang ter the best pokoknya." Ferlin menelan kasar air liurnya, ia meracik bumbu memberi saos dan kecap, tak lupa sambal ijo dari campuran cabe rawit dan cabe setan, pelengkap yang tak bisa di tinggalkan.
"Aden kau bisa aja, makan lah sepuasnya nanti kalau kurang nambah." ucap mang Ujang tersenyum menimpali.
"Kalau nambah, gratis nggak mang?." tanya Ferlin.
"Bayar lah." ketus mang Ujang, ia kembali menuju gerobak bakso. Warungnya memang terlihat sederhana, letak yang strategis di pinggir jalan. Namun jangan salah, biasanya sore sore menjelang malam banyak pengunjung yang mengantri membeli bakso mang Ujang.
Soal rasa jangan di tanya, mantap pool pokoknya. Makanya trio serangkaian itu menjadi langganan mang Ujang semenjak masuk SMA, selain enak dan mengenyangkan juga ramah di dompet, murah meriah.
"Lo mah, gratisan mulu nggak malu apa?." tanya Chris jengkel, ia memeriksa bakso apakah ada seledri atau tidak. Karena dia tidak suka dengan bau tumbuhan yang satu itu.
Indra terdiam, tak menimpali kedua sahabatnya ia makan bakso dengan perlahan karena masih panas. Dia tipikal cowok yang tidak suka kecap, lihat lah kuah bakso di mangkoknya berwarna merah karena saos sambal.
"Ndra ngeri gue liat mangkok bakso lo." Chris bergidik, dia lebih suka tidak pakai apa apa, beda halnya dengan Indra dan Ferlin.
"Lo mah hambar mulu, tidak ada rasa." celetuk Ferlin, memang tidak heran lagi dengan Chris. Karena lelaki itu setiap makan bakso tidak pernah di kasih apapun, alias original.
"Lebih baik hambar, dari pada punya rasa yang ujung ujungnya menyakitkan. Apa lagi yang manis di awal, mantan gue juga bisa ngomong gitu."
"Cakep." sahut mang Ujang terkekeh, ia memberi jempol ke arah Chris. Indra dan Ferlin saling pandang dengan wajah yang sulit di artikan.
"Nggak jelas lo item."
"Ya tidak perlu di jelaskan, gue memang item tapi nggak jomblo ya macam kalian berdua." sindirnya.
Ferlin menghempaskan sendoknya tidak terima. "Heh Jamal, lo itu memang tidak jomblo. Ya wajar gonta ganti cewek mulu. Kagak ada setianya, minimal apa setia lah bro kayak barang bekas di buang ganti lagi, heran gue." decak nya.
Entah Chris ini tipikal playboy atau bukan, namun ceweknya sering berganti ganti, bisa ia hitung tiap bulan ganti terus emang sempak apa di ganti mulu. Batinnya.
"Eh Samsul, gue itu setia ya mana ada gue selingkuh."
"Eh setia apaan ganti cewek mulu." belanya tidak terima dengan ucapan Chris, setia macam apa begitu.
Setia itu minimal fokus pada satu perempuan, dia tipikal cowok yang tidak ingin menyakiti perempuan nanti kena karma bahaya lagi.
"Gue memang setia ya, wajar gonta ganti cewek sah sah saja karena gue masih pacaran belum jadi laki bini." ucapnya mulai kesal, karena Ferlin yang nyolot, tau apa Ferlin tentang setia.
"Lah lo juga sering chat cewek sana sini padahal lo punya pacar, namanya itu sudah selingkuh eige apa lagi chat nya lo hapus, itu sudah selingkuh. Selingkuh itu bukan hanya sekedar memiliki pasangan lain di belakang pacar lo." sahut Ferlin, dengan bijak.
Itu memang benar kan, selingkuh tidak harus mempunyai pasangan lain. Berkenalan dan chatingan di belakang pasangan, tanpa pasangan kita tahu itu sama saja dengan selingkuh.
Indra mendengus mendengar pembicaraan kedua sahabatnya yang membicarakan pacar. Apalah daya diri ini yang jomblo tak pernah pacaran. Namun ia tak ambil pusing, tidak penting menurutnya karena pacaran hanya membuang buang waktu.
"Eh itu bukan selingkuh bro, namanya cadangan kalau semisal gue putus masih ada cadangan."
"Ente terkadang kadang ente." gumam Indra, asik mengunyah baksonya.
"Eh gue inget, lo pernah di putusin Suci gara gara selingkuh. Noh mampus lo, ngomongin gue selingkuh." decak Chris kesal sendiri.
Ferlin tersedak kuah bakso mendengar itu, astaga itu khilaf ya salah siapa Suci yang terus posesif masa main bola ke lapangan saja tidak boleh, kemana mana tidak boleh, itu ini tidak boleh. Ya dia cari pacar lain lah.
"Itu khilaf ya." cetus Ferlin.
"Eh selingkuh itu mana ada khilaf, karena ada kesempatan aja. Eh asal lo tau ya, selingkuh itu penyakit sekali lo selingkuh makanya akan terulang lagi."
"Sok tau lo." Ferlin menatap sengit Chris, sok bijak banget mulut sahabatnya satu ini.
Semua mata berpaling melihat suara deringan ponsel yang berada di atas meja. Suara itu berasal dari ponsel Indra.
"Eh Ndra ada yang nelpon tuh, jawab gih siapa tau nyokap lo lagi nyariin." Chris melirik ke arah ponsel Indra.
Indra mengangguk, ia meletakkan sendok ke dalam mangkok. Mengambil ponselnya, matanya membulat melihat nama yang tertera di layar. Anna, kenapa dia menelpon apakah terjadi sesuatu. Dengan cepat Indra menekan tombol hijau.
"Halo Na, ada apa?."
_To Be Continued_