Indonesia
NovelToon NovelToon
Pesona Gamer Seksi

Pesona Gamer Seksi

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Teen Angst / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / MLBB
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alrianna

Berawal dari berada dalam lobby yang sama di sebuah game. Aksara, pro player game mobile legend, sekaligus playboy terganteng dan terseksi di kampus, secara aktif mengajak Kirana main bareng di game tersebut. Lalu dengan alasan iseng, Aksara mengajak gadis tersebut untuk menjalin afinitas sebagai pasangan, bahkan sebelum mereka bertemu. Dengan alasan yang iseng pula, Kirana menerima permintaan hubungan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, tanda mawar itu semakin mekar, padahal mereka juga tak pernah bertemu. Sebenarnya, Aksara tau jika gadis itu adalah adik tingkatnya di kampus, sekaligus sahabat dekat adik kandungnya, namun Ia masih menikmati hubungan penuh ketidakjelasan ini. Hingga suatu kali, Aksara datang menemui Kirana, memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang sangat dikenal Kirana.

Arshaka, adik Aksara, sekaligus sahabat Kirana, sudah memperingatkan Kirana agar menjauhi kakaknya itu. Tapi yang Kirana tidak mengerti, kenapa Arshaka harus melarang Kirana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alrianna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The real enemy

Rana masih tak menyadari jika ada yang tengah mengikuti dirinya. Begitu akan berbelok ke toilet wanita, seorang pemuda menariknya, menyeretnya masuk ke toilet pria yang sepi. Mengunci gadis itu bersama dirinya sendiri di dalam salah satu biliknya. 

Rana mendongak. Berusaha mengenali siapa yang membawanya kesini. Tadinya Ia pikir kalau itu Aksa. Meskipun Aksa agak mesum juga, tapi dia percaya kalau Aksa tak akan menyakitinya. Tapi begitu melihat siapa yang membawanya kesini, seketika seluruh tubuhnya menegang, ketakutan. 

Pemuda itu adalah Aldi. Rana ingat, beberapa waktu lalu, pemuda ini pernah terang-terangan mendekatinya. Tapi Rana menolak, karena kabarnya, kata Shaka, dia pernah kena kasus pelecehan seksual, tapi tidak ada yang berani mendepaknya keluar karena dia anak salah satu pejabat kampus. 

Melihat cara pemuda ini yang menguncinya di ruang sesempit ini, Rana semakin yakin kalau apa yang dikatakan Shaka memang benar. 

“Kamu mau apa?” Rana berusaha mendorong pemuda ini. Tapi tenaganya tak cukup kuat untuk ukuran lelaki dewasa seperti Aldi.

“Halo, Sayang. Main-main sebentar boleh lah.” Pemuda itu tersenyum begitu menjijikkan menurut Rana. Ia ingin menyentuh pipi gadis itu, namun Rana segera menepisnya.

“Jangan sentuh! Lepasin aku, kalau nggak aku teriak! Mpph..” Belum sempat Rana melanjutkan kalimatnya, pemuda itu menciumnya dengan sangat kasar, dengan terlebih dahulu memegangi tangan Rana agar tidak melawan. 

Rana tetap tak tinggal diam. Gadis itu memberontak sekuat yang Ia bisa. Ia tak ingin berakhir seperti ini. Kakinya menendang ke sembarang arah hingga Aldi melepaskan ciumannya. Melihat kesempatan, Rana segera beranjak kabur, membuka pintu bilik, lalu segera berlari keluar. 

Sialnya, Aldi bisa dengan mudah mengejarnya. Ia menarik Rana lalu membantingnya ke tembok. Pemuda itu menguncinya di tembok dengan tubuhnya sendiri. Ia masih saja tersenyum. Begitu menjijikkan sekaligus menakutkan. 

"Mau kemana, Cantik? Mau dienakin kok lari?"

Rana begitu takut. Seperti hidupnya akan benar-benar hancur hari ini. 

Kak Aksa… 

Ia menangis. Namun tetap sebisa mungkin menghindari Aldi yang berniat menciumnya lagi. 

“Jangan, Kak.” Rana memohon. Tapi malah terdengar seperti rayuan bagi Aldi. Ia mencari-cari bibir gadis itu yang tengah menunduk. Tangannya sibuk, berusaha meraih bagian dada gadis itu membuat Rana seperti berada di dalam neraka. 

Ayo, Rana, berpikir.

Gadis itu terdiam sebentar. Sesaat, membiarkan Aldi menciumnya kembali. Meski Rana merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri, tapi harus mampu berpikir dengan tenang.

Tiba-tiba, dia seperti mendapatkan ilham. Ide konyol sekaligus menjijikkan. Tapi apa boleh buat, dia tak ingin berakhir disini menjadi wanita kotor tak berdaya.

Gadis itu mengelus lengan Aldi, membuat Aldi yang semula menguncinya dengan rapat, perlahan mengendur, dan mulai menikmati permainan Rana. 

Rana tak ambil kesempatan melihat aldi yang mulai terbawa suasana. Ia menendang sekuat tenaga tepat mengenai bagian paling sensitif pria itu. Aldi tersentak, sedikit oleng.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu segera berlari. Meraih gagang pintu, Ia membukanya. Berharap di luar sana akan ada yang membantunya. Karena kalau tidak, Aldi akan menangkapnya lagi. 

Beruntung, begitu keluar, Rana menabrak seseorang. Gadis itu dengan sisa tenaganya mendongak. Menatap pada pemuda yang sedari tadi ditunggunya, berharap pemuda itu akan menyelamatkannya. 

"Kirana?"

Aksa meraih tubuh Rana yang sepertinya akan limbung. Ia menopang gadis yang kini pucat pasi itu. Menoleh pada kedua temannya yang juga menatapnya heran. 

"Tolong Rana, Kak." Tangisnya kembali tumpah. Ketakutan itu berganti menjadi kelegaan tatkala Aksa memeluknya, menenangkan. 

Hanya sedetik, karena Aldi sudah lebih dulu menyusul. Membuat Rana tersentak dan secara tak sadar menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Aksa. 

Aksa yang melihat ketakutan Rana, menjadi panas hatinya. Ia menggenggam tangan Rana sejenak, mengelus pipinya. Lalu beralih memandang Bella yang memang sedari tadi bersamanya dengan Galen. 

Bella untungnya tanggap. Mengambil alih Rana agar gadis itu tak terus-terusan ketakutan. 

Sementara Aksa, berjalan menuju Aldi yang kini termundur kaku. "Dia incaran gue, Sa. Jangan ganggu lah." Ia berkata sambil masih terus termundur ketakutan. 

"Brengsek. Maju lo! Jangan cuma beraninya sama cewek aja lo! Sini lawan gue!"

Mata Aksa berkobar emosi. Galen ingin menahannya. Namun sesaat merasa ada yang aneh, seperti ada yang berbeda pada Aksa. Seperti pemuda itu benar-benar marah. 

"Gue nggak pernah ganggu lo ya! Lagian lo juga sama brengseknya.” Aldi berusaha menantang. Tapi sebenarnya Ia juga ketakutan. Aksa dengan sisi iblis itu bisa dengan mudah membuat tulangnya patah seketika. 

"Lo berani nyentuh milik gue ya, Njing!" Aksa merasa bahwa seperti darahnya benar-benar mendidih. Ia berlari mengejar Aldi yang terus termundur kebingungan. 

"Brengsek lo. Tolol! Kalo mau jajan, nyewa pur*l sana. Goblok!“ Aksa menghajarnya. Tidak akan ada yang bisa lepas dari emosi Aksa. 

Bella panik. Ia menoleh pada Galen. "Sayang, pisahin!“ bisiknya. 

"Nanti dulu lah, biar kapok." Galen menjawab dengan entengnya. 

Sementara Aksa, masih saja menghajar Aldi. Meskipun Aldi juga berusaha melawan dan memukul Aksa, namun tetap saja, itu tak sebanding. Pada akhirnya Ia terseok-seok saat ada banyak mahasiswa yang mulai berkumpul menonton mereka. Bahkan Nadya dan Intan, teman Rana, juga sudah disini karena mendengar keributan dan juga mereka mulai khawatir menyadari Rana yang tak kunjung kembali. 

Setelah melihat Aldi yang tak berdaya, Galen maju. Menarik Aksa mundur, tak lupa menendang betis Aldi yang kini terkapar. 

"Sekali lagi lo ganggu dia, abis lo!“ Aksa masih bisa mengancam saat dirinya ditarik paksa oleh Galen. 

Kini matanya tertuju pada Rana yang sudah bersama kedua temannya. Aksa menghampirinya. Gadis itu, begitu melihat Aksa yang menatapnya begitu lembut, membuatnya mencebikkan bibirnya, menahan tangis. 

Begitu terlukanya gadis ini. Aksa perlahan mengulurkan tangannya. Ingin memeluknya langsung, tapi khawatir kalau gadis ini malah ketakutan. Walau bagaimanapun, Ia pasti trauma. 

"Sini," tangannya begitu dekat. Tapi Rana masih ragu untuk meraihnya. Butuh waktu beberapa saat hingga gadis itu menghambur ke pelukan Aksa. Lalu Ia mulai terisak lagi. 

"Kamu aman sekarang. Gak usah takut." Ia mengelus lembut rambut Rana yang juga selembut sutra. 

Suasana terasa hening. Tak ada yang berani mengganggu momen ini. Semua tampak heran menyadari Aksa yang ternyata dekat dengan seorang perempuan. Ya meskipun Aksa memang dekat dengan banyak wanita, tapi tak pernah ada interaksi seperti ini. Seperti semua bisa menilai bagaimana perasaan Aksa sekarang. 

Aksa melepas pelukannya. Ia beralih menatap kedua gadis yang tadi menggandeng Rana. "Kalian temennya?"

"Iya. Rana kesini sama kita. Tadi dia pamit ke toilet, aku nggak tau kalau kejadiannya bakal kayak gini." Nadya mewakili bicara. "Sebelumnya terima kasih sudah menolong Rana."

"Rana mau pulang sekarang? Gue anterin ya? Gue bawa motor kok." Intan berbicara pada Rana. 

"Kirana pulang bareng gue. Kalian duluan aja."

Alis kedua gadis ini tertaut mendengar ucapan Aksa. Rana juga sama bingungnya. Ia menoleh pada Aksa dan kedua temannya bergantian. 

"Aku pulang sama dia aja. Kalian langsung pulang aja nggak papa." Akhirnya, Rana memberikan keputusan. 

"Lo yakin, Ran?" Nadya memastikan. Ya meskipun lelaki di sebelah Rana ini menolongnya, tapi tetap saja dia harus memastikan kalau temannya aman. 

"Iya. Kalian pulang gih. Makasih banget udah khawatir." Rana mencoba tersenyum. 

Sesaat setelah kedua temannya akan beranjak, Rana kembali menghentikan mereka. Tadinya mereka pikir kalau Rana akan berubah pikiran dan memilih pulang bersama mereka, tapi ternyata tidak. 

"Jangan bilang siapa-siapa ya, terutama ke Shaka. Dia pasti ngamuk banget kalau tau aku kayak gini."

Mereka berdua tak mengerti. Kalau sama orang lain ya ok, memang tak mungkin bilang. Tapi sama Shaka, kenapa? Biar saja itu pelakunya dihajar sama Shaka sampai mampus biar kapok. Tapi walau bagaimanapun, mereka berusaha menghormati keputusan Rana. 

"Yaudah. Kita pulang dulu. Kamu pulangnya hati-hati. Nanti kalau udah sampe langsung kabarin. Kak, nitip Rana ya. Tolong dijagain bener-bener."

Mereka pun pamit. Kini tinggal Rana, Aksa, dengan kedua temannya. 

Aksa memandang Galen dan Bella bergantian. "Gue anterin dia dulu. Ketemu nanti malam aja."

Bella mengangguk. "Oke. Hati-hati. Langsung pulang. Dan jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." Bella menatap tajam pada Aksa. Lalu pandangan nya melembutkan saat menatap Rana. "Hati-hati ya. Semuanya baik-baik aja, lo nggak perlu takut."

"Makasih banyak, Kak."

Aksa menggandeng tangan Rana, menggenggamnya lalu menuntun gadis itu. 

1
Yani Dyan
ayo dong lanjutin karyanya thorr.. bagus lhoo inii.. semangattt.. peluk jauh dari aku yaaaa... tak tungguin pokoknyaaa semangatt semnggaaaattttttttttt🥰👍👍👍
Yani Dyan
👍
Yani Dyan
semangat thorr,, aku tunggu up nyaaa🥰
Adhienk DHilaislamiah Dibodhibo Ayum
astaga ....lama banget up nya
Widya Pratama
lagi attuhh thorr 😭
Alrianna: yuk yuk sudah ada lanjutannya heheheh
total 1 replies
Widya Pratama
thorr.. masak sehari 1 bab doang 😭😭😭 ayolahh peress otak othorr lagi bikin bab lagi .. 😂😭😭
Alrianna: hehehe jangan lupa dukungannya kak biar makin semangat 😂
ini sedang diusahakan ya ☺
total 1 replies
Mawar_Jingga
halo kak salam kenal💚 like dan komen mendarat ya mampir dan ikuti "sepotong sayap patah" di tunggu k happy reading💚☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!