Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MERAGUKAN PERAN

Pagi berikutnya, Sutami bangun jam setengah lima. Suasana masih sepi dan gelap, hanya sorot lampu taman yang kuning redup menembus tirai kamarnya. Sutami duduk sejenak di tepi ranjang, menatap kedua telapak tangannya sendiri, lalu mengepalkannya erat-erat. “Jadilah berguna, Tami!” pekiknya menyemangati diri sendiri.

Di dapur, Mbak Rini juga sudah mulai sibuk dengan persiapan membuat sarapan.

"Mbak Rini," sapa Sutami pelan.

Mbak Rini menoleh, sedikit kaget. "Nyonya….”

Sutami tersenyum canggung lalu berdiri mensejajarkan diri di depan kompor. "Aku... mau bantu masak. Boleh ya?” pintanya disertai senyuman teduh. “Dan juga, jangan panggil aku Nyonya, aku belum terbiasa.”

Mbak Rini mengangguk, tapi sorot matanya menimbang ragu. "Tapi ini tugas saya, dan Nyonya….”

Sutami menepuk pelan pundak Mbak Rini. “Aku butuh Mbak Rini jadi temanku di rumah ini,” ucapnya memohon. “Hm… ijinkan saya menguasai dapur kali ini, boleh?”

Mbak Rini kembali mengangguk Ragu. “Baiklah, Nyonya… eh, Mbak?”

Sutami tersenyum lega, meraih apron yang tergantung di dekat lemari pendingin, lalu memakainya. “Kita bikin sarapan nasi goreng sama telur dadar aja?”

Selama satu jam dapur jadi medan perang kecil bagi Sutami. Memasak bukan hal sulit bagi Sutami, tapi di tempat baru itu, ia harus berhati-hati.

Jam setengah tujuh, aroma nasi goreng sudah mengepul di meja makan. Dara yang pertama turun, matanya langsung berbinar.

"Bau enak apa ini! Ibu yang masak?" ucapnya berjalan pelan mendekati meja makan.

Sutami menoleh, lalu tersenyum lembut menyambut Dara. "Seperti janji Ibu kemarin.” ucapnya lembut. “Dara sudah cuci muka… gosok gigi?”

“Udah dong!” sahut cepat gadis itu kemudian langsung duduk dan menyendok. "Enak! Enak banget!" katanya polos. “Terimakasih ya, Bu.”

Kirana pun muncul dengan piyama sutra, dan rambut yang masih berantakan. Ia melirik meja, lalu melirik Sutami. Tanpa berucap sepatah kata pun, ia melewati Sutami hanya untuk mengambil air putih, menenggaknya cepat, kemudian kembali melangkah meninggalkan dapur.

“Pagi, Kirana… nggak sarapan dulu?” sapa lembut Sutami menahan degup jantung karena gugup dan canggung.

Tapi Kirana tak menyahut ataupun hanya sekedar menoleh.

Sutami tidak berharap pujian, hanya ingin bekerja dan berguna. Tapi hingga Fara hampir menghabiskan sarapannya, Arka tidak turun sama sekali.

Mbak Rini memahami kegundahan Sutami. “Kalau hari libur, mereka kadang bangun agak siang, Mbak,” ucapnya berbohong.

Lima menit kemudian, Waluyo muncul, sudah rapih dengan setelan kemeja dan celana bahan yang simple. Ia duduk, menatap piring berisi nasi goreng itu lama. "Terima kasih, Tami," katanya pelan. Lalu ia makan 3 suap, menghabiskan tehnya, dan bergegas beranjak.

“Ibu habiskan sarapan dulu, biar Dara mandi ditemani Mbak Rini!” seru Dara setelah selesai dengan sarapannya.

“Pak….” panggil Sutami.

Waluyo menghentikan langkahnya, lalu berbalik, menatap ke arah Sutami, menunggu apa yang ingin disampaikan istri mudanya itu.

“Hari ini saya ada sedikit urusan di sekolah, sekaligus mengajukan cuti yang….”

“Dara sudah bilang, kuijinkan dia ikut denganmu!” potong Waluyo cepat. Datar dan dingin, tanpa senyuman atau ekspresi hangat lainnya.

Bahkan tanpa basa-basi lain, Waluyo kembali melangkah tenang, menuju ke garasi.

Tinggallah Sutami duduk sendirian di ujung meja, menatap lesu pada piringnya sendiri.

Sementara itu di kamarnya, Kirana duduk di meja rias, menatap kesal pada pantulan wajahnya sendiri. “Dasar udik! Pagi-pagi udah bikin gue mual!” gerutunya. “Di rumah ini nggak ada yang sarapan nasi, gitu aja dia nggak tahu, sok-sokan nawarin sarapan."

Berkali-kali gadis itu mendengus kesal, "Mas Arka pasti kesel banget sekarang, dia paling benci aroma bumbu di pagi hari."

.

.

.

.

Pukul 09.00 pagi, sebuah taksi berhenti di depan gerbang TK PASTI CERIA. Sutami bersama Dara turun dari dalamnya, lalu berjalan pelan memasuki pelataran sekolah itu.

"Ini sekolah yang ibu ceritakan kemarin ya?” tanya polos Dara, sambil celingak-celinguk mengamati sekitar.

“Iya, yuk kenalan sama anak-anak Ibu di sana!” tunjuk Sutami menggandeng lembut tangan Dara.

TK PASTI CERIA tempat Sutami mengajar sudah hampir 8 tahun. Di halaman depan ada perosotan, ayunan, dan tangga warna-warni. Beberapa murid kelompok B sudah bermain di sana, diawasi oleh Bu Lani, seorang guru pendamping.

“Dara main dulu sama Bu guru temannya ibu, Ya?” Sutami menghampiri rekan kerjanya, untuk menitipkan Dara sebentar. "Bu Lani, titip Dara ya. Saya ke kantor dulu, mau ketemu Kepala Sekolah."

"Siap, Bu Tami," kata Bu Lani sambil tersenyum, disambut dengan anggukan dan senyum ceria di wajah Dara.

Di dalam kantor, Kepala Sekolah, Ibu Wati, menyambut Sutami dengan wajah prihatin.

"Bagaimana, Bu Sutami, apa kabar, bagaimana kondisi Bapaknya?"

Sutami menunduk. "Ya, sudah lebih baik, Bu,” jawab Sutami singkat, namun ekspresi wajahnya tampak sangat ragu. Ia tak bisa mengaku tentang pernikahannya untuk sekarang. “Saya ingin mengajukan cuti, Bu, untuk dua minggu. Ada urusan keluarga yang mendadak."

Ibu Wati menghela napas. "Saya mengerti. Tapi kelas B1 bagaimana?"

"Saya sudah buatkan RPP pengganti dua minggu ke depan. Mbak Rina bisa pegang dulu sementara," jawab Sutami cepat. Ia sudah menyiapkan semuanya sejak semalam.

…….

Di dekat tangga perosotan, di area bermain, Bu Lani tidak ada. Ia sedang di UKS karena salah satu murid mengeluh pusing dan butuh minum.

Tinggal 4 anak sedang bermain. Dan Dara, anak kelas 1 SD itu, ikut memanjat tangga bersama mereka.

Salah satu murid laki-laki, Rafa, 5 tahun, menatap Dara dengan penasaran. "Kamu anaknya Bu Tami?" tanyanya polos.

Dara berhenti memanjat lalu menoleh cepat. "Bukan!" jawabnya cepat dan terdengar ketus. "Ibu kandungku sudah meninggal. Dia hanya seorang ibu yang dibawa ayahku sebagai penggantinya."

Rafa mengerutkan kening, tidak mengerti. "Apa maksudnya?"

"Jadi kamu yang bikin Bu Tami nggak masuk sekolah!” seru Cia berlari cepat lalu berdiri di dekat Dara.

“Dia ibuku sekarang! Memangnya kenapa?” balas Dara semakin ketus.

Rafa tertawa kecil karena kaget. "Ih galak!"

Kalimat itu menjadi pemicu. Wajah Dara memerah. Tanpa aba-aba, ia mendorong dada Rafa dengan kedua tangannya, lalu mendorong Cia juga. Dorongan itu cukup kuat untuk anak seusianya.

"Akh!" Rafa terpelanting dan jatuh terduduk di bawah tangga dan langsung menangis.

"Dara!"

Sutami yang baru keluar setelah hampir 20 menit mengurus dokumen di kantor, langsung berlari. Bu Lani juga berlari dari arah UKS dengan gelas air di tangan.

"Ada apa ini?" tanya Bu Lani panik sambil mengangkat Rafa.

Rafa masih terisak. "Dara dorong aku, Bu..."

Sutami langsung berjongkok di depan Dara. Wajahnya pucat. "Dara, kenapa? Kenapa mendorong teman?"

Dara menunduk. Bibirnya gemetar, tapi ia tidak menangis, melainkan melotot tajam pada Cia dan Rafa yang menangis. “Mereka berisik!” jawabnya.

Dada Sutami serasa ditusuk. Ia menoleh ke Rafa yang sudah dipeluk Bu Lani. Lalu menoleh lagi ke Dara.

Dalam 10 detik, otaknya bekerja cepat. Ia harus minta maaf. Ia harus bertanggung jawab.

"Bu Lani, saya minta maaf sekali. Ini semua salah saya," kata Sutami cepat. "Biar saya yang obati Rafa. Dan saya yang akan bicara dengan orang tuanya."

Bu Lani mengangguk, bingung. "Iya, Bu. Tapi... anak ini siapa?"

Deg!

Sutami terdiam. Dirumah, ia begitu teguh, siap dan menerima kehadiran Dara sebagai putrinya, tapi di sekolah ini, di tempat yang membuatnya merasa hidup, lidahnya tiba-tiba kelu, rasanya sangat berat untuk mengakui situasinya saat ini. 'Apa... aku tidak sanggup jujur... tapi...."

"Bu Tami, Bu Lani.... Ada apa ini?" Melihat ada sedikit kegaduhan, Bu Wati, sang kepala sekolah pun berlari mendekat. "Oh? Bu Tami bersama siapa itu?"

"Ini...."

...****************...

Bersambung....

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!