Update setiap hari, kalau lagi santai bisa lebih dari satu bab.
Masa SMA adalah masa terindah bagi kebanyakan orang, begitupun dengan masa-masa sekolah seorang gadis bernama Agatha Pricilla.
Karena kelakuannya yang sangat berandalan Cilla di pindahkan ke Bandung oleh orang tuanya, di sana Cilla yang awalnya hidup dengan kemewahan di paksa untuk hidup sederhana dan di titipkan pada keluarga pembantu di rumahnya.
Cilla masuk ke sekolah 1 Bandung dan dari sanalah ia bertemu dengan seorang pria bernama, Yuda Adistira. Pria yang melakukan segala hal untuk mendapatkan uang, pria yang terkenal kasar dan memiliki masalalu yang kelam.
Namun dari sana juga Cilla mendapatkan arti hidup yang sesungguhnya, kebahagiaan yang ia inginkan sejak dulu dapat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Sadar Diri
Esok paginya Cilla berangkat sekolah walaupun dalam keadaan kurang sehat, ia berjalan sendirian di Koridor kepalanya agak pusing. Mungkin ia agak demam karena kemarin kehujanan, Cilla berusaha tidak memperdulikan pusingnya.
Namun apa daya, ia sempat kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya di tahan orang lain.
"Kamu gak papah?" tanya pria yang menahan tubuhnya.
"Gak papah kok, cuman agak pusing dikit. BTW makasih," Cilla kembali berusaha berdiri.
"Gimana kalau ke UKS aja, muka kamu pucat banget loh, takut jadi makin parah kalau di paksa masuk kelas."
"Ya udah deh," Cilla akhirnya pergi ke UKS dengan pria itu, sebab ia belum tau dimana letak UKS sekolah.
Di belakang Cilla ternyata ada Wulan dan kawan-kawan, "Tuh cewek caper banget deh sama semua orang," sinis Wulan yang melihat Cilla dengan pria lain.
"Tumben-tumbenan juga Arhan peduli sama siswa yang bermasalah, diakan ketua OSIS biasanya paling anti kalau deket sama murid yang banyak masalahnya," Timpa Gina.
"Kayaknya seru tuh aduin ke Yuda, kita tahu sendiri bukan Yuda sama Arhan gimana," Ayu tersenyum licik.
"Kadang lu pinter juga ternyata," Wulan setuju dengan usulan Ayu.
Di UKS Cilla tiduran di kasur yang tersedia di sana, "Makasih udah mau nganterin," ucap Cilla.
"Sama-sama, oh iya. Aku panggil petugas yang jaganya dulu yah."
"Gak usah deh, kayaknya gue cuman pusing doang. Nanti juga kalau tiduran bentar sembuh."
"Udah nurut aja, kalau terjadi apa-apa bisa gawat nanti. Gak akan lama kok tunggu bentar," Arhan keluar untuk mencari petugas PMR yang jaga hari ini.
Cilla mencoba memejamkan matanya, tidak lama seorang wanita dan Arhan datang. Wanita itu mengecek kondisi Cilla, dia bilang itu hanya demam biasa jika minum obat demamnya akan segera turun.
Arhan pergi dari sana karena Bel masuk sudah berbunyi, "Cowok tadi siapa?" tanya Cilla penasaran.
"Kak Arhan, dia ketua OSIS di sekolah ini. Aku kaget loh waktu tadi kak Arhan cari aku dan bilang katanya ada yang sakit, dia biasanya gak kayak gitu," balas Rere yang duduk di samping Cilla.
"Arhan? Oh oke, makasih."
"Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja."
"Oke."
Cilla tidur sekarang efek obat membuatnya mengantuk.
___________
Saat jam istirahat Cilla terbangun, ia berusaha memfokuskan pandangannya yang masih buram. Setelah itu ia duduk sambil menatap sekeliling, di meja sampingnya sudah ada dua roti dan segelas air putih, Rere yang menjaga UKS juga masih ada di sana.
"Udah bangun? Tadi kak Arhan datang ke sini dan bawain kamu minum juga roti, di makan yah kamu pasti belum makan apapun dari tadi," jelas Rere yang sudah melihat Cilla bangun.
"Arhan lagi? Yuda gak ke sini?" Cilla malah berharap Yuda yang memperhatikannya.
"Aku gak liat Yuda ke sini sih."
Sementara itu Yuda sedang sendirian di Rooftop sambil memegang botol air mineral dan roti, sebenarnya tadi Yuda memang ingin menemui Cilla sayangnya saat Yuda ke sana Yuda melihat Arhan juga di sana dan membawakan Cilla roti dan minumnya.
Entah apa yang ada di pikiran Yuda hingga membuatnya lebih memilih pergi, Yuda melamun di Rooftop menghirup udara segar yang berhembus ke arahnya.
Kembali pada Cilla, setelah memakan roti itu Cilla memilih untuk masuk kelas karena menurutnya ia sudah agak mendingan. Di perjalanan ia malah kembali bertemu Arhan, "Mau kemana? Bukannya harusnya di UKS," tanya Arhan yang berdiri di hadapan Cilla.
"Gue udah gak papah kok, bosen juga kalau di UKS terus."
"Ya udah mending pulang istirahat, nanti demam lagi kalau kamu masuk kelas."
"Gue beneran udah gak papah."
"Tapi aku gak yakin."
Semua murid di sekitar mereka yang melihat Arhan begitu memperdulikan Cilla langsung pada Menggosip. Cilla yang sadar akan itu langsung menghela nafasnya, "Kenapa lu peduli banget sama gue? Bukannya apa-apa, Rere bilang katanya lu gak suka sama murid yang bermasalah, terlebih lagi lu kan ketua OSIS."
"Entahlah, aku juga gak tau kenapa mau peduli padamu," balas Arhan, memang begitu nya pada kenyatannya.
"Ya udah deh gue pulang aja."
"Mau aku anterin? Kebetulan aku bawa mobil juga. Terlebih lagi abis jam istirahat semua OSIS akan jam kosong, ada rapat soalnya."
"Yah kalau begitu lu harus rapat dong, ngapain nganterin gue?"
"Kan aku ketua OSIS nya jadi terserah aku kapan rapatnya akan di mulai, lagipula sehabis anterin kamu bisa rapatnya ku mulai."
"Ya udah deh, daripada gue harus pulang naik angkot juga. Lagian si Yuda kemana sih?" Cilla masih mencari keberadaan Yuda, kini mereka berdua pergi ke parkiran.
Cilla agak syok melihat mobil milik Arhan, "Ini seriusan mobil lu?" Cilla menunjuk mobil di depannya.
"Iyalah, udah sana naik," Arhan mengeluarkan kunci mobil dari saku bajunya sambil tersenyum.
Cilla naik ke mobil itu dengan girang, setelah mereka berdua masuk Arhan langsung menyalakan gas dan pergi dari parkiran sekolah.
"Ternyata lu anak orang kaya, gue udah lama banget padahal pengen mobil ini," Cilla dengan kegirangan celingukan melihat seisi mobil.
Mobil milik Arhan adalah mini Cooper Clubman berwarna putih.
Arhan tersenyum kecil melihat ekspresi Cilla, "Harusnya kamu bisa beli, bukannya ayahmu kata orang-orang orang kaya juga. Pasti bukan hal yang sulit beli mobil murah ini."
"Gue sempet minta di beliin mobil ini, eh datang malah Ferarri warna merah lagi, gue gak suka mobil begitu," Cilla cemberut.
"Astaga, itu lebih mahal padahal."
"Tapi tetep aja gue maunya mobil ini bukan mobil itu, mau beli sendiri belum mampu."
Tanpa Cilla sadari saat tadi Cilla di parkiran sebenarnya Yuda melihatnya dari atap, ada rasa sakit yang Yuda rasakan saat melihat Cilla begitu kegirangan melihat mobil Arhan.
Yuda sadar berapa hal, "Mereka memang lebih pantas, sama-sama orang kaya," Yuda hanya bisa tersenyum miris pada dirinya sendiri.
Yuda bangkit dari duduknya lalu pergi dari Rooftop, "Udahlah Yuda, cowok miskin kayak kamu mana mungkin bisa miliki cewek yang kehidupannya di penuhi kemewahan. Gak ada yang bisa ku tawarkan padanya untuk bersamamu, palingan kau hanya akan membuatnya semakin hidup susah," gumam Yuda dalam hatinya, ia ingin bolos sekolah saat ini.
Ia terlalu malas untuk masuk lagi ke kelas.
Kembali ke Cilla, saat Cilla akan turun dari mobilnya tiba-tiba Arhan mengeluarkan undangan dari laci mobil, "Ini, hari minggu aku ulang tahun. Jangan lupa datang ke pestanya, aku juga ngundang yang lainnya."
Cilla menerima undangan itu, "Yuda di undang?"
"Enggak, kalau pun aku undang dia mana mau datang ke pesta ku."
"Kenapa emangnya?"
"Entahlah."
"Kalau dia mau datang boleh gue bawa dia?"
"Boleh, siapapun boleh dateng."
Cilla turun dari mobil itu, ia menundukkan tubuhnya sambil melihat Arhan, "Sekali lagi makasih, dadah," Cilla melambaikan tangannya.
"Bey," Arhan pergi dari hadapan Cilla.
Saat Cilla masuk ke rumah ia masih kesal kenapa Yuda tidak memperdulikan dirinya, "Gila, tuh anak kemana sih? Bisa-bisanya dia gak peduli."