Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : CURIGA YANG KEMBALI TUMBUH
...BAB 15...
...CURIGA YANG KEMBALI TUMBUH...
Setelah hampir seharian bermain di taman hiburan, akhirnya anak-anak mulai kelelahan.
Rana yang sejak pagi paling bersemangat kini sudah bersandar di bahu Wulan. Kelopak matanya terlihat berat meskipun sesekali masih berusaha membuka mata ketika mendengar suara wahana di sekitar mereka.
Astrid juga sudah tidak banyak berlari. Gadis kecil itu duduk di dekat Delon sambil memainkan boneka kecil yang dibelikan Rian.
Sementara Delon masih terlihat paling kuat. “Papa, nanti kita naik yang itu lagi, ya?”
Rian tertawa kecil. “Yang mana?”
Delon menunjuk salah satu wahana. “Yang muter!”
“Tidak.” Jawaban Wulan terdengar cepat.
Delon langsung menoleh. “Kenapa, Ma?”
“Kamu sudah naik tiga kali.”
“Tapi aku belum capek.”
Rian melirik Delon, lalu menahan senyum. “Kalau kamu belum capek, Papa yang capek.”
Delon terkekeh. “Papa berarti kalah.”
“Bukan kalah. Papa sudah tua.”
“Papa belum terlalu tua kok!” ocehnya. Rian tertawa.
Wulan yang mendengar percakapan itu tanpa sadar ikut tersenyum.
Hari itu terasa begitu berbeda. Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya hanyalah seorang perempuan yang bekerja di rumah Rian.
Ia juga lupa pada luka-luka masa lalu yang selama ini selalu berusaha ia sembunyikan. Ia hanya melihat anak-anaknya tertawa riang.
Melihat Rana yang begitu bahagia. Dan melihat Rian yang ternyata tidak keberatan menghabiskan waktunya bersama mereka. Selain itu, Rian juga tak keberatan, jika Delon dan Astrid memanggilnya dengan sebutan Papa. Seperti Rana, memanggil Wulan dengan sebutan Mama.
Awalnya Wulan benar-benar canggung mendengar anak-anak mereka memanggil Rian 'Papa'. Tapi itu ide Rian sendiri.
"Wulan, biar nggak jomplang. Kalau Rana manggil kamu Mama, berarti Delon sama Astrid juga manggil aku Papa..." katanya waktu itu, dengan nada santai.
“Sudah lapar?” tanya Rian.
Wulan tersentak dari lamunannya. "Ah, iya apa?"
Rian terkekeh kecil, ia sadar kalau Wulan sedang melamun. "Aku tanya padamu, apa kamu sudah lapar?"
Wulan mengangguk kikuk. “Anak-anak juga sepertinya sudah lapar.”
“Kalau begitu ayo kita cari makan.”
Mereka kemudian berjalan menuju sebuah rumah makan yang letaknya tidak jauh dari taman hiburan.
Rumah makan itu cukup besar dan ramai. Tempatnya nyaman dengan area keluarga yang dipenuhi meja-meja untuk rombongan.
Rian memilih meja yang cukup luas agar anak-anak bisa duduk dengan nyaman.
Wulan membantu Rana duduk, sementara Delon dan Astrid langsung sibuk melihat daftar menu.
“Ma, aku mau ayam.” pinta Delon.
“Aku juga ayam!” seru Astrid ikut-ikutan.
Rian mengambil menu lain. “Baik, ayam untuk dua orang.”
“Kalau Papa mau apa?” tanya Delon.
Rian sempat berpikir lama. “Emm... Papa ikut kalian saja deh.” akhirnya memutuskan.
"Berarti sama ayam juga!"
Rian mengangguk mengiyakan. Wulan ikut tersenyum, melihat kebahagiaan terpancar dari kedua putra dan putrinya. Selama pernikahannya dengan Handi, tak pernah sekalipun mereka diajak liburan seperti ini.
Handi hanya memikirkan dirinya sendiri.
Dari tempat yang sama... Dan tanpa mereka sadari, beberapa meja dari tempat mereka duduk, seseorang baru saja masuk bersama seorang perempuan.
Handi, Pria itu datang bersama Sinta kekasihnya. Mereka memang sedang berkencan siang itu.
Sinta sibuk bercerita tentang rencana akhir pekannya, sementara Handi hanya sesekali menanggapi.
Namun langkah Handi mendadak terhenti. Ketika tatapannya tertuju ke arah meja di sudut ruangan.
Seorang perempuan sedang membantu seorang anak kecil duduk. Perempuan itu tidak asing baginya. Handi menyipitkan mata. Jantungnya seperti berhenti sesaat.
“Mereka...” gumamnya.
Sinta yang berjalan di sampingnya menoleh. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.” geleng Handi. Lalu ia segera menarik Sinta menuju meja mereka.
Namun sebelum duduk, ia kembali melirik ke arah Wulan. Dan Wulan sama sekali tidak menyadarinya.
Perempuan itu sedang membantu Rana makan sambil sesekali tertawa melihat tingkah Astrid.
Di sampingnya duduk seorang pria. Pria yang terlihat jauh lebih dewasa dan tenang.
Handi menatap pria itu lama. Ada sesuatu yang terasa familiar. Seperti pernah melihat wajah itu. Tapi di mana?
Handi mengerutkan dahi. Namun semakin lama Handi memperhatikan pria tersebut, semakin kuat perasaan aneh di dadanya.
“Sepertinya aku pernah lihat dia.” gumamnya pelan.
“Siapa?” tanya Sinta.
Handi langsung mengalihkan pandangan. “Ah. Tidak ada.”
Sinta tidak curiga. Ia malah sibuk menunjukkan sesuatu di ponselnya.
Sementara itu, Handi kembali melirik ke arah Wulan. Dan kali ini perasaan tidak nyaman mulai muncul.
Wulan terlihat berbeda. Ia tampak jauh lebih tenang. Tidak seperti perempuan yang dulu selalu menunduk takut di hadapannya.
Tidak seperti Wulan yang dulu hidup bersamanya dalam rumah sederhana dan hanya menuntutnya selalu ada bersama keluarganya. Atau meminta harus menafkahi kedua anak mereka.
Sekarang Wulan duduk di sebuah rumah makan bersama pria kaya. Anak-anak juga terlihat dekat dengan pria itu.
Handi mengepalkan tangan di bawah meja. Pikiran buruk mulai muncul di kepalanya. Mungkin selama ini Wulan memang sudah memiliki seseorang. Mungkin itu juga alasan Wulan begitu berani meminta cerai padanya, dan dia baru menyadarinya.
“Jadi karena dia?” sinisnya. Tatapan Handi kembali tertuju kepada Rian. Ada rasa kesal yang sulit dijelaskan.
Padahal dirinya sendiri yang tidak pernah benar-benar mencintai Wulan. Dirinya yang berkali-kali membuat Wulan menangis. Dirinya yang berselingkuh, yang akhirnya mengabulkan permintaan Wulan untuk bercerai.
Namun sekarang, ketika melihat Wulan bersama pria lain, justru dadanya terasa panas. Handi tidak suka melihatnya. Sama sekali tidak suka.
Sementara itu, Wulan tidak menyadari apa pun. Ia terlalu sibuk dengan anak-anak.
“Pelan-pelan makannya Rana,” katanya ketika gadis kecil itu hampir menumpahkan kuah.
Rian langsung membantu memegang mangkuk putrinya. “Biar aku saja yang pegang.”
“Tidak perlu, Pak. Saya bisa.”
“Kalau jatuh bagaimana?” Rian tersenyum kecil. “Sudah, kamu makan saja.”
Wulan akhirnya menurut. Dia mencoba makan dengan tenang tanpa khawatirkan Rana.
Pemandangan sederhana itu justru membuat Handi semakin tidak nyaman.
Ia melihat cara Rian memperhatikan Wulan. Cara pria itu membantu anak-anak. Cara Wulan tidak terlihat takut berada di dekatnya.
Sebuah pikiran semakin kuat di kepala Handi. Jangan-jangan Wulan memang sudah dekat dengan pria ini sejak sebelum meminta cerai.
Setelah selesai makan, Handi dan Sinta meninggalkan rumah makan lebih dulu. Namun sepanjang perjalanan, pikiran Handi tidak bisa lepas dari apa yang dilihatnya.
Sinta beberapa kali mengajaknya berbicara. Tapi Handi hanya menjawab singkat. Sampai akhirnya mereka tiba di rumah Sinta.
“Besok kamu jemput aku lagi?”
Handi mengangguk. “Iya.”
Sinta tersenyum. “Jangan lupa.”
Handi hanya membalas dengan senyum tipis. Setelah Sinta turun, mobil kembali melaju.
Namun Handi tidak langsung pulang. Ia memikirkan satu hal. Wajah pria tadi. Semakin ia mengingatnya, semakin terasa familiar. Tapi Handi masih belum ingat di mana dia pernah bertemu?
Malam harinya, Handi kembali ke rumah orangtuanya. Sejak berpisah dengan Wulan, ia memang tidak lagi mengontrak rumah.
Tidak ada alasan baginya mempertahankan rumah itu. Kini ia hanya tinggal bersama ibunya.
Perempuan tua itu masih cukup sehat untuk mengurus dirinya sendiri, meskipun usianya sudah renta.
Begitu Handi masuk, suara ibunya langsung terdengar. “Kamu dari mana saja?”
“Dari luar.”
“Keluyuran terus. Kalau sudah punya istri nanti bagaimana?”
Handi mendengus. “Sekarang kan sudah tidak punya istri.”
Ibunya langsung diam. Kemudian perempuan tua itu mendekat. “Jangan bicara begitu. Kamu sendiri yang dulu tidak serius dengan Wulan. Mau sampai kapan hidupmu begini Handi?! Ingat usiamu itu sudah tidak lagi muda!" sungutnya. "Gara-gara kau Ibu harus pisah dengan Delon dan Astrid..." lanjutnya terisak sedih, sambil mengusap air matanya dengan ujung baju daster.
Handi terdiam. Kalimat itu seperti membuka pintu lama yang selama ini ingin ia tutup.
Tujuh tahun lalu, Handi yang masih berusia 30 tahun belum juga mendapat jodohnya. Sedang kedua adik laki-lakinya sudah lebih dulu menikah.
Orangtua Handi mulai merasa malu karena anak sulung mereka belum juga menikah.
Kemudian datanglah usulan perjodohan. Wulan. Anak dari sahabat mereka. Saat itu ayah Wulan sedang sakit keras. Keluarga Wulan juga sudah tidak lengkap. Ibunya telah lebih dahulu tiada. Yang tersisa hanya ayahnya.
Handi sebenarnya tidak ingin menikah. Ia masih ingin hidup bebas. Masih ingin menikmati hidup. Tetapi orangtuanya terus mendesaknya.
“Adik-adikmu saja sudah menikah dan punya anak. Kamu mau sampai kapan terus menjomblo?” sungut Ibunya waktu itu.
Akhirnya Handi menyerah. Pernikahan itu pun terjadi. Pada awalnya, Handi masih bersikap baik. Terlebih ayah Wulan masih hidup.
Ia berusaha menjaga sikap karena menghormati orang tua Wulan yang sedang sakit.
Wulan pun percaya bahwa pernikahan mereka mungkin bisa menjadi awal yang baik. Namun ternyata harapan itu tidak berlangsung lama.
Setahun setelah pernikahan mereka, ayah Wulan meninggal dunia. Sejak saat itulah Handi mulai berubah.
Tidak ada lagi orang yang menurutnya perlu ia hormati dari keluarga Wulan. Wulan menjadi perempuan yang menurutnya tidak punya tempat untuk mengadu.
Handi semakin sering pulang larut. Sering mabuk. Sering marah-marah tak jelas hanya karena pertanyaan sederhana.
Dan ketika Wulan meminta penjelasan, Handi justru menganggapnya sebagai gangguan.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, ketika dirinya pulang dalam keadaan mabuk, ia memaksa kedekatan sebagai suami tanpa benar-benar peduli pada perasaan Wulan.
Wulan hanya bisa diam. Bukan karena bahagia. Melainkan karena rasa takut.
Pernikahan yang sejak awal tidak diinginkan Handi perlahan berubah menjadi kehidupan yang membuat Wulan kehilangan dirinya sendiri. Kini semua itu sudah berakhir.
Tetapi malam ini, Handi justru kembali mengingatnya. Ia teringat Wulan yang dulu.
Perempuan yang selalu menunggu kepulangannya. Perempuan yang tetap menyiapkan makanan meskipun dirinya pulang larut malam. Perempuan yang berkali-kali menangis diam-diam. Dan sekarang perempuan itu duduk bersama pria lain. Seorang Pria kaya.
Handi mengepalkan tangan. “Jadi... selama ini dia punya seseorang?”
Ibunya menoleh. “Apa yang kamu bicarakan?”
Handi tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke depan. Untuk pertama kalinya setelah perceraiannya, Handi merasa penasaran dengan kehidupan mantan istrinya.
Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk, dan hanya ada kecurigaan dalam benaknya. Jangan-jangan Wulan memang meninggalkannya demi Rian.
Handi tidak tahu bahwa kesimpulan itu sama sekali belum tentu benar. Tetapi satu hal yang sudah pasti. Mulai malam itu, nama Wulan kembali memenuhi pikirannya.
Bersambung...