Argantara, dosen tampan yang jadi rebutan. Ternyata dia seorang duda anak satu. Abel, nama anaknya. Anak yang cantik dan cerdas.
Kalau mau jadi istri Argantara, harus dengan persetujuan Abel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KB PART 2
"kb aja, kamunya maunya KB kan? Biar gak hamil dulu. Nanti tinggal bilang ke Abel, memang belum di kasih saja. Saya tidak mau membebani kamu, kalau kamu belum siap, saya ikut kamu saja."
Keira masih belum beranjak dari tempat duduknya. Sementara Arga sudah berdiri mau pergi. Dia ada di depan Keira. Keira tak yakin.
"Iya, masih mau kuliah. Selesaiin kuliahnya dulu pak Arga. Gak apa-apa ya aku KB dulu?"
"Em, ayok."
Arga mengulurkan satu tangannya lagi. Keira pun memantapkan hatinya. Dia meraih tangan Arga dan ikut keluar. Arga yang menyetir sendiri kali ini.
Di jalan menuju ke klinik, Keira masih saja gugup dan bimbang. Abel terlihat bahagia sekali kalau membiarkan dia yang mau adik segera. Tapi dirinya?
"Kenapa?"
Arga melirik keira beberapa kali di jalan. Dia meraih tangan Keira. Keira menggeleng. Dia akan memikirkannya sendiri di dalam mobil. Sampai nanti di klinik. Entah keputusan apa yang akan dia ambil.
Mobil Arga sudah sampai di klinik. Mereka mendaftar ke dokter spesialis kandungan. Ibu hamil dan anak.
"Pak."
Mereka masih ada di lobi. Menunggu giliran. Keira yang duduk di samping Arga masih ragu.
"Hemm?" Arga hanya berdehem menatap Keira. Dia masih melihat sekitar. Ada wanita hamil dan suaminya. Anak bayi yang lucu. Anak laki-laki yang main lari-larian dengan papanya.
"Pak Arga sudah mau punya anak lagi ya? Pak Arga dari tadi lihatin anak-anak senyum sendiri."
"Hah?"
Arga tak memperhatikan keira yang ternyata memperhatikan dia. Arga hanya tersenyum.
"Gak kok. Cuma mereka lucu aja."
"Tapi keliatan dari muka bapak. Aku gak jadi aja. Kalau ini beneran jadi, ya udah biarin. Tapi kalau enggak, aku gak mau berhubungan sama pak Arga dulu."
Keira pergi begitu saja dari lobi klinik. Dia melepaskan tangan Arga dan meninggalkan Arga begitu saja.
"Nyonya Arga dirgantara."
Suster memanggil dia. Arga mau menyusul keira. Tapi Keira sudah jauh. Sepertinya sudah memutuskan. Tapi tidak berhubungan sampai tiga tahun ke depan dengan Keira. Ahh...
"Suster, maaf nyonya Arga dirgantara tidak jadi. Silakan ke pasien selanjutnya saja. Saya minta maaf sekali lagi suster."
"Oh iya pak."
Arga menemui susternya. Dia memberitahu sang suster. Suster pun mengerti. Arga segera menyusul keira.
"Keira."
"Sayang."
Arga mencoba mengejar Keira. Keira lari ke parkiran dan berdiri di depan mobilnya. Mobilnya di kunci. Dari jauh Arga membukanya dengan remot kuncinya. Keira langsung masuk ke dalam mobil.
Arga ikut masuk ke mobil. Dia khawatir dengan keadaan Keira. Keira memalingkan muka dari Arga. Dia menangis. Keira terisak didalam mobil.
"Hei, sini liat aku. Aku gak masalah kalau harus nunggu siap. Kan ada Abel. Nanti Abel urusan aku sama mama."
"Tapi kasihan sama Abel pak."
"Ya sudah. Tidak usah KB. Jadi kamu tidak akan merasa bersalah dan berbohong sama Abel kan. Sudah ya. Jangan nangis, nanti kalau Abel lihat, aku yang dimarahi Abel. Katanya nanti mamanya diapa-apapin aku?"
Keira tersenyum. Arga mengusap air mata Keira. Dia kembali menjalankan mobilnya.
"Ini mau pulang atau gimana? Tadi lari itu gak sakit?"
"Pak Arga."
Arga malah menggoda Keira. Keira tersenyum dan kesal memukul lengan Arga di jalan. Arga tertawa. Dia senang melihat Keira tertawa.
Mereka sampai kembali di rumah. Abel ikut membantu masak dengan mamanya Arga dan bibi.
"Selamat datang di rumah kembali mama. Ayo makan yang banyak, biar mama sehat jadi cepet punya adik. Aku yang masak sama nenek loh mama, sama bibi. Tapi aku banyak bantu, mau masakin buat mama soalnya."
Abel masih di ruang makan, tadinya sedang membantu menata makanan. Sampai mendengar suara mobil. Dia keluar dan menghampiri Keira.
Keira baru saja turun dari mobil. Dia langsung dipeluk Abel. Keira makin tak enak kalau dengar ucapan Abel seperti ini. Tapi setidaknya dia lega karena dia tidak jadi KB.
"Hai sayang, gimana?"
Mama Arga keluar untuk melihat keadaan menantu barunya itu. Keira menggeleng.
"Aku masuk dulu ya ma. Aku mau makan masakan Abel."
"Iya masuk sayang."
Abel dengan Keira masuk ke rumah. Mamanya Arga menemui sang anak laki-laki.
"Kenapa Keira?"
"Gak jadi ma. Katanya kasihan sama Abel, merasa bersalah kalau sampai dia sengaja Nunda kehamilannya."
"Emm, bagus deh. Nanti juga kalau sudah hamil, Keira sayang sendiri kok sama bayinya."
"Tapi aku gak boleh gituan lagi sama kei ma. Keinya gak mau. Kalau kali ini jadi, ya biarin jadi. Kalau gak jadi, nunggu dia lulus gituannya ma, masak."
"Haha, sukur!"
Arga curhat dengan mamanya. Tapi dia malah ditertawakan oleh mamanya. Arga pun masuk dengan sang mama. Mereka makan siang bersama. Tak lupa cuci tangan masing-masing lebih dahulu.
Abel sibuk makan siang dengan Keira. Mereka saling menyuapi satu sama lain.
"Sayang, aku ke kamar bentar ya. Pak dekan telepon."
"Ngapain pak dekan telepon, ada masalah sama aku di kampus lagi pak Arga."
"Sayang mama, jangan pak Arga."
"Iya sayang."
"Gak, cuma materi aja. Harus stor. Bentar ya, ma."
"Iya."
Arga ke kamarnya. Dia membuka laptopnya dan melihat-lihat file yang diminta.
Hai, ga. Selamat ya.
Arga membuka ponselnya. Dia melihat ada pesan dari Amelia. Arga tak melihat Amelia di acara kemarin. Dia membalas pesannya.
Iya Mel. Makasih ya. Kemarin gak Dateng?
Enggak. Bikin sakit hati aja.
Dia malah balas pesan dengan Amelia.
***
"Sayang, mama liat papa dulu ya di kamar. Makan siangnya belum habis. Tapi kok gak balik ke sini lagi."
Di ruang makan, Keira mencoba menunggu Arga kembali. Tapi dia tak juga turun.
"Iya mama."
Keira pun naik ke atas. Keira masuk ke kamar Arga. Dia melihat Arga.
"Balas pesan siapa? Pak dekan?"
Keira masuk dan melihat itu. Arga kaget melihat Keira. Keira kan suka cemburu sama Amelia.
"Ini, gak. Gak ada apa-apa. Cek link bener apa enggak buat laporannya."
"Aku mau lihat."
Keira mendekati Arga. Dia meminta ponsel Arga. Arga malah menggeleng dan menyembunyikan di belakang dia.
"Ponsel privasi sayang."
"Oh gitu. Masih aja privasi. Ya udah."
Keira keluar kamar begitu saja. Arga sadar Keira kesal kepada dia. Dia mencoba mengejar Keira. Soal pak dekan sudah selesai.
"Sayang, jangan gitu. Tapi ponsel privasi."
"Iya aku ngerti. Jadi gak usah panggil sayang dan gak usah sentuh aku juga."
Mereka berantem sambil jalan menuruni tangga. Abel dan mamanya Arga yang bingung melihat itu. Keira kembali duduk di samping Abel. Abel menatap papanya dan mamanya secara gantian.
"Ada apa pa? Papa apakan mama?" Tanya Abel dengan kesal kepada sang papa.
"Ga, kenapa? Keinya nangis lagi."
Arga bingung menjelaskan dari mana. Dia sama sekali tak ada hubungan lebih sebatas teman dan sahabat yang perduli saja kepada Amelia, sahabat dia dulu. Tapi kalau dijelaskan juga Keira akan tetap marah. Arga mencoba mencari penjelasan yang tepat.