Venita, gadis 20 tahun yang harus menderita dikejar beberapa rentenir akibat utang judi ibu sambungnya.
Bukan hanya dikejar dan dipaksa melunasi. Tak sekali dua kali dia hampir dijual agar mereka mendapatkan uang darinya lebih cepat.
Pekerjaannya sebagai kasir mini market dan juga buruh kasar tak bisa menyicil bahkan bunga dari gunungan hutang itu.
Gadis itu tak tahan lagi dengan hidupnya. Lagipula dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Jalan terakhir yang dia pikirkan hanyalah mengakhiri hidup dan menghentikan semua penderitaan ini.
Namun rencananya gagal. Seorang duda anak 1 telah menyelamatkan hidupnya. Tak hanya menyelamatkan, pria itu juga memintanya untuk menikah dan berjanji akan melunasi semua hutang-hutangnya.
Setelah bernegosiasi akhirnya Venita setuju, tanpa mencari tahu alasan apa yang membuat pria itu mau menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lely oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko Kue Selamat Datang
Waktunya liburan akhir minggu. Untuk kali ini Stevan memilih taman bermain sebagai tujuan liburan mereka.
Berbeda dari liburan sebelumnya, Venita kini sudah terbiasa dengan kegiatan rutin keluarga mereka. Tak seperti sebelumnya, dia selalu saja kerepotan dengan barang bawaan.
Sekarang dia sudah tahu mana yang perlu dan tidak perlu dibawa selagi mereka berlibur. Tentu saja, beda tempat berlibur juga akan beda juga barang apa saja yang akan dibutuhkan.
Juga seperti biasa, tempat liburan mereka selalu dipilihkan oleh Stevan. Hebatnya bocah itu tak pernah kehabisan ide untuk mencari tempat berlibur.
Mereka juga tidak hanya pergi bertiga. Namun suster, Ema dan juga asisten rumah tangga yang lain juga ikut.
Beginilah keluarga mereka saat berlibur. Tak ada satupun yang tertinggal di rumah, karena Ergo menganggap semua orang yang bekerja di rumahnya sudah seperti keluarga.
"Mama..."
Pyarr
Stevan yang berlari sambil membawa segelas jus, tiba-tiba saja tersandung. Walaupun dia tak sampai jatuh ke tanah. Namun gelas yang dia bawa terlepas dari tangannya.
"Astaga sayang.. kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya Venita menghampiri anaknya khawatir. Matanya langsung meneliti setiap tubuh anaknya jika saja ada yang terluka.
Stevan menggeleng kecil. "Maaf, Ma, gara-gara Stevan gelasnya jadi pecah." Sesal Stevan menunduk sedih.
"Tidak apa-apa, sayang. Lain kali hati-hati ya. Tidak perlu lari-lari. Mama tidak kemama-mana." Ucap Venita sambil mengelus kepala putranya sayang.
Kemudian dia mulai memunguti pecahan kaca dari gelas agar tak mengenai orang.
"Mama, Stevan mau bantu."
"Jangan sayang. Ini tajam. Nanti tangan Stevan bisa berdarah."
"Tapi tantan Mama baik-baik saja. Kenapa Mama boleh dan Stevan tidak boleh memegangnya?"
"Itu karena kulit tangan Mama jauh lebih tebal dari kulit tangan Stevan. Nanti kalau Stevan sudah besar, baru tangan Stevan akan sama tebalnya dengan tangan Mama."
"Woahh.. horee.. kalau begitu jika Stevan sudah besar, Stevan boleh mengambil pecahan gelas sendiri?"
"Emm.. mungkin kalau Stevan sudah besar, Stevan bahkan tidak mungkin akan memecahkan gelas lagi."
"Bagaimana bisa begitu, Ma?"
"Karena kalau Stevan sudah besar, maka tangan Stevan akan membesar juga. Dengan begitu Stevan bisa memegang gelas lebih baik dari saat Stevan masih kecil."
Stevan mengangguk lucu mendengar penjelasan dari mamanya.
"Maaf, Kak. Biar saya yang bersihkan bekas pecahannya." Ucap seorang pelayan yang sudah membawa peralatan kebersihan dan berdiri di dekat Venita.
"Oh iya. Makasih ya, Mas." Ucap Venita sambil menggeser posisinya dan mulai berdiri.
"Adiknya tidak kenapa-kenapa kan, Kak?"
"Oh ini anak saya. Iya anak saya tidak apa-apa."
"Oh anaknya. Maaf, karena Kakak masih kelihatan sangat mudah. Jadi saya pikir ini adiknya. Saya kira tadi Kakaknya seumuran sama saya."
"Mungkin karena saya menikah muda." Balas Venita kikuk.
"Oh begitu. Habisnya Kakak masih cocok jadi anak kuliahan."
"Masnya memang umur berapa kalau boleh tahu?"
"Saya umur 20 tahun. Masih semester empat."
"Oh masih kuliah. Kok bisa Mas ngatur jam sekolah sama kerja?"
"Saya kerja tidak setiap hari, Kak. Hanya waktu weekend atau tanggal merah saja. Disini saya hanya part time, bukan pegawai tetapnya."
"Oh sudah ada ya sistem penggajian jam di Indonesia?"
"Biasanya saya download aplikasi lowongan pekerjaan, Kak. Disana banyak yang memposting lowongan pekerjaan. Biasanya dicantumkan sedang membutuhkan pegawai tetap atau hanya part time. Biasanya juga ada yang mencantumkan untuk penggajiannya secara jam atau minggu."
Venita mengangguk mengerti. Kemana saja dia, bagaimana bisa dia tidak tahu tentang hal ini.
Mungkin juga karena dulu ponselnya model lama yang membuatnya tak bisa update dengan kecanggihan jaman sekarang.
"Sudah saya bersihkan, Kak. Kalau begitu saya akan kembali ke dalam."
"Oh iya, silahkan."
Venita masih menatap kepergian karyawan tadi. Dia jadi berpikir sejenak dan merasa kalau ini ide yang bagus.
Sepertinya dia akan mencari pekerjaan yang bisa membayarnya per jam. Jadi dia tidak harus kerepotan saat akan menjemput Stevan. Lebih bagusnya lagi adalah jam kerjanya lebih fleksibel dan tidak menuntutnya untuk selalu ada di tempat kerja.
"Baik. Sepertinya aku harus melakukan ini." Ucap Venita mantap.
"Mama mau melakukan apa?" Tanya Stevan polos.
"Bukan apa-apa sayang. Ayo kembali ke tempat Papa."
"Em." Stevan mengangguk lucu dan kemudian membiarkan tangannya digandeng Venita.
#
Setelah pulang dari liburan, Venita langsung mendownload aplikasi yang ditunjukkan karyawan di taman bermain kemarin.
Dia mulai memilih-milih mana pekerjaan yang paling tepat dan sesuai dengan keinginannya. Banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya sangat ingin Venita coba.
Andai saja dulu dia tahu ada aplikasi seperti ini, pasti dia bisa mendapatkan pekerjaan yang memberikannya gaji lebih layak dengan mudah.
Sayangnya karena sekarang terkendala kondisi, Venita harus melewati semua lowongan itu.
Cukup lama dia berkutat dengan gadget pintarnya sampai akhirnya ada sebuah pekerjaan yang membuatnya tertarik dan sesuai dengan apa yang dia cari.
'TOKO KUE SELAMAT DATANG'
Itu nama tempat yang melampirkan lowongan. Venita mencoba mencari letak tempatnya di maps. Beruntung tempat itu tak terlalu jauh dari rumah.
Venita tersenyum lega. Rasanya seperti mendapat jackpot hanya untuk alasan pekerjaan.
"Apa aku harus meminta izin lagi?" Tanya Venita pada dirinya sendiri. Namun kemudian dia menggeleng kencang.
"Tidak. Sepertinya aku harus melakukan pekerjaan ini secara diam-diam. Mas Ergo bersikeras untuk tidak mengizinkanku bekerja."
#
Keesokan harinya tanpa didampingi sopir keluarga, Venita pergi ke toko kue kemarin untuk memberikan surat lamaran pekerjaannya.
Awalnya dia berniat hanya untuk menitipkan surat lamaran, tapi ternyata pihak toko ingin mewawancarai Venita saat itu juga.
"Venita putri? Usia 21 tahun, belum menikah, kan?" Tanya wanita yang ternyata pemilik toko kue tersebut.
"Maaf?"
"Oh, ini hanya pertanyaan umum. Saya mencari karyawan yang belum berumah tangga dan juga belum memiliki anak. Belajar dari pengalaman mereka selalu lebih banyak izin dan akhirnya karyawan lain yang kelabakan."
"Oh begitu. Tapi bukannya jam kerja disini fleksibel?"
"Memang. Karena jam kerjanya fleksibel maka saya harus mencari orang yang lebih bertanggung jawab dengan pekerjaannya."
Disini Venita sangat bingung. Apa dia harus mengatakan sudah menikah atau belum.
"Jadi mau ambil jam berapa jika diterima bekerja?"
"Kemungkinan pagi sampai siang."
Pemilik toko itu mengangguk sambil tersenyum. "Bagus. Kita memang sedang kekurangan orang di jam itu. Karena kebanyakan karyawan toko juga masih mahasiswa. Mereka lebih memilih jam pagi daripada jam sore untuk ke kampus."
Venita hanya bisa tersenyum menanggapi penjelasan dari si pemilik toko.
"Baik. Kalau begitu kamu bisa mulai bekerja besok."
Mata Venita membola. Dia terkejut tak percaya. "Benarkah saya diterima?"
"Benar. Melihat bagaimana kamu mengantarkan lamaran ini secara langsung dan sepagi ini sudah memperlihatkan bahwa kamu bersungguh-sungguh ingin bekerja disini. Biasanya pelamar yang lain hanya akan mengirimkan email saat siang. Aku bahkan tak ada waktu untuk melihatnya."
"Terimakasih banyak. Saya akan bekerja dengan baik."
Pemilik toko itu mengangguk mengerti.
#
semangaaatt thoor.......... next......