Setelah berhari-hari menghilang tanpa kabar Caroline kembali dan meminta Keanu untuk putus.
Tanpa kejelasan apapun dan persetujuan Keanu Caroline kembali pergi dan tidak pernah memberikan kabar apapun kepada Keanu.
Keanu yang merasakan kekecewaan mendalam sehingga dia tidak memiliki semangat lagi, dan disaat itu juga tidak ingin lagi mencari dan ingin melupakan Caroline walaupun sulit.
setalah bertahun-tahun menghilang Caroline kembali dikehidupan Keanu membuat Keanu merasakan. amarah, kebencian yang mendalam kepada Caroline.
Disetiap kesempatan Keanu akan selalu menekan Caroline sehingga gadis itu merasakan kesedihan dan penyesalannya yang memutuskan hubungan keduanya secara sepihak, namun benarkah rasa yang di alami oleh Keanu merupakan Amarah, dan kebencian terhadap Caroline? atau sebaliknya?
Apakah hubungan keduanya benar-benar akan usai disaat SMA atau akan berlanjut?
penuh dengan segala masalah, rasa sedih, dan kecewa, bagaimana kelanjutan kisah mereka?
ikuti kisah mereka berdua~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RiantiMr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Tangisan dalam diam
Reynard meregangkan tubuhnya setelah usai menyelesaikan pekerjaannya. Dia meraih ponselnya lalu mengetik sesuatu sambil tersenyum.
Baru saja dia akan mengirim pesannya pada seseorang, orang itu sudah menelponnya lebih dulu.
"Ekhem..halo Teddy bear!"sapa Reynard kepada orang di sebrang sana.
"..."
"Ayolah, bukankah itu sudah menggambarkan dirimu?"tanya Reynard dengan nada yang sedikit di manja.
Baiklah, jika caroline mendengarnya mungkin dia tidak akan percaya jika pria. Ini ada kakaknya.
"...."
Reynard terkekeh geli sambil memutar kursi kebesarannya menatap ibu kota menjelang malam di balik kaca gedung.
"Baiklah. Bagaimana sebagai permintaan maaf ku, kita makan malam bersama?"tawar Reynard dengan senyum yang senantiasa mengukir di wajahnya.
"...."
"Kalau begitu tunggu aku. Aku akan datang 10 menit lagi!"
Tuttt...
Reynard memutuskan telponnya sepihak dan langsung mengambil jasnya yang menggantung di kursinya, dengan langkah lebar dan senyumnya, dia bersenandung dengan siulannya menelusuri koridor kantor yang sudah mulai sepi dan hanya ada beberapa orang saja.
Setelah menelusuri jalan yang lumayan macet karena, di saat-saat seperti ini adalah jam pulang kantor.
Reynard mengedarkan pandangannya mencari seorang gadis cantik yang lucu di matanya. Reynard menghentikan mobilnya tepat didepan seorang gadis yang tengah menatapnya dengan datar.
Reynard langsung keluar dari mobilnya untuk menyambut gadis itu.
"Hai, Teddy bear ku..."
Gadis itu semakin menatapnya dengan datar. Dia berkacak pinggang menatap Reynard.
"Bukannya Aku sudah bilang jangan memanggilku seperti itu,"kesal Gadis itu. Reynard hanya terkekeh kecil.
"Itu cocok untukmu. Kau itu lucu seperti boneka Teddy bear, tapi kenyataannya bear adalah hewan yang galak. Dan kau juga sama, kau sangat galak,"tutur Reynard. Gadis itu mendengus kesal lalu memasuki mobil Reynard.
Reynard tersenyum kecil lalu memasuki mobilnya, padahal tadi niatnya dia ingin membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Buk...
Reynard tersenyum sambil menyalakan mesin mobilnya, "Kemana kita?"tanya Reynard kepada gadis itu.
"Pulang," ketus gadis itu.
"Oke. Aku punya rekomendasi restoran yang bagus untuk kita." Reynard melajukan mobilnya sedangkan gadis itu hanya memutar bola matanya sambil bersedekap dada.
****
Jeslyn melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Dimana pria itu?" Jeslyn mengedarkan pandangannya menelusuri restoran. Tadi dia membuat kakinya dengan kakaknya yang kebetulan bertugas di kota yang sama dengannya.
"Dimana kau?"tanya Jeslyn dengan sebal karna, tak mendapati pria itu ditambah ini restoran mewah. Seharusnya tadi Jeslyn yang memilih tempat.
"..."
Jeslyn menyipitkan matanya,"oh. Aku sudah melihat mu."
Jeslyn mematikan telponnya sepihak, lalu berjalan kearah dua pria yang tampak berbicara.
"Untung aku menemukanmu jika tidak aku akan langsung pulang," cerocos Jeslyn yang langsung mengambil tempat duduk di samping kakaknya, Alex.
"Dasar.."
Jeslyn mengangkat alisnya menatap seorang pria yang berada di hadapannya lalu, menatap kakaknya lagi.
"Oh. Ini rekan kerja ku disini. Sam? Kenalkan Ini adikku, Jeslyn."
Jeslyn tersenyum sopan sambil mengulurkan tangannya, "Jeslyn."
Pria bernama Sam itu tersenyum dan membalas jabatan tangan Jeslyn,"Sam."
Jeslyn yang memiliki tipikal friendly mudah akrab dengan semua orang tak menunggu lama langsung akrab dengan Sam.
"Hahaha...iya, itu juga sering terjadi dengan ku,"imbuh Jeslyn. Tiba-tiba dering ponselnya membuat dia harus menghentikan sejenak obralan mereka.
"Aku izin mengangkat telpon dulu," pamit Jeslyn mengangkat panggilannya.
Tak sengaja Jeslyn menatap sepasang kekasih yang tampak tak asing di matanya, lebih tepatnya dia melihat Reynard yang duduk tak jauh dengannya bersama seorang gadis.
Melihat itu senyum yang terukir di wajahnya perlahan redup berganti menatap nanar kearah mereka. Terlihat Reynard yang sedang menggoda gadis itu membuat gadis itu sebal, ditambah sikap Reynard yang terlihat sangat manja pada gadis itu.
Bisa ditebak bahwa gadis itu adalah gadis yang di sukai Reynard. Jeslyn yang selama ini menyimpan rasa kepada Reynard merasa sakit.
Rasanya jantungnya ditusuk dengan ribuan jarum, namun Jeslyn sadar Reynard memang tidak menyukainya. Bisa di bilang perasannya hanya bertepuk sebelah tangan.
Jeslyn yang sadar hanya tersenyum nanar. Dia langsung berbalik dengan cepat enggan menatap tatapan cinta Reynard yang selalu diinginkan, namun tatapan itu bukan untuknya.
Jelsyn berusaha menguasai dirinya untuk tidak terlalu sedih dan bersikap seperti awal saat bertemu dengan kakaknya.
Bagaimanapun dia jarang bertemu dengan Alex. Dia tidak ingin merusak hari ini hanya karena perasaanya yang sedari awal memang tidak akan terbalaskan.
Reynard terkekeh kecil melihat raut wajah sebal Gabby. Ya, Gabriela. Akrab dipanggil Gabby. Dia adalah gadis cantik dengan wajah yang imut, namun memiliki karakter jutek yang sangat terlebih pada reynard.
"Rey, bukannya aku sudah berulang kali mengatakannya?! Aku tidak bisa menerima perasaanmu," ucap Gabby terus terang. Reynard menuangkan wine di gelasnya sendiri dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Aku tau, lagipula bukankah sudah berulang kali aku jawab kalau aku hanya ingin kau memberikan aku kesempatan untuk membuatmu menyukaiku."
Gabby melepaskan peralatan makannya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang cukup membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Tapi sayangnya tidak ada yang berubah, Rey. Aku masih tidak bisa menerima dan membalas perasaanmu itu."
Reynard yang tadinya ingin menuangkan wine di gelas Gabby terhenti sejenak.
"Kau hanya harus memberikan aku waktu."
Gabby menggelengkan kepalanya. Dia mengambil ahli botol wine dari tangan Reynard, agar prinitu bis fokus kepadanya.
"Tidak bisa, Rey. Kau harus melepaskanku,"ucap Gabby membuat Reynard menatapnya dengan tatapan nanar.
"Tapi..." Ucapan Reynard terhenti.
"Aku mohon." Gabby memelas menatap Reynard.
"Rey, cinta tak bisa di paksa."
Reynard terdiam mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia enggan menatap Gabby. Saat ini hatinya benar-benar tak karuan mendengar ucapan Gabby.
Apa dia benar-benar harus melepaskan Gabby? Apakah hatinya kuat?
Gabby yang melihat Reynard hanya diam saja bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari sana.
"Aku pergi."
Pikiran Reynard benar-benar kosong. Dia bahkan tidak tau harus bereaksi bagaiman saat Gabby pergi. Apakah dia harus menahannya atau membiarkan dia pergi saja?
Reynard kembali menuangkan wine di gelasnya lalu menegaknya hingga habis. Dia ingin menghilangkan pikirannya mengenai Gabby kali ini.
Jeslyn menatap Reynard dari kejauhan tampak sedih. Jeslyn merasakan kesedihan Reynard. Jeslyn dengar semua yang di katakan gadis itu dan dia tau kalau saat ini Reynard sedang patah hati.
Ternyata Alex dan Sam juga ikut menatap kearah Reynard.
"Jes, kau mengenal pria itu?"tanya Alex menyadari adiknya itu enggan melepaskan pandangannya kearah Reynard.
Jeslyn menganggukkan kepalanya,"iya. Dia kakak temanku."
"Oh. Sepertinya dia mabuk," ucap Sam melihat Reynard yang tampak sempoyongan.
Jeslyn bangkit berdiri dan bersiap untuk pulang.
"Kau mau mengantar pria itu?"tanya Alex melihat adiknya yang sudah bersiap pergi. Jeslyn menganggukkan kepalanya.
"Iya. Lagipula apartemen temanku berhadapan langsung denganku."
"Kau yakin, bisa mengantarnya sendirian. Biar aku bantu,"tawar Sam. Jeslyn menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu. Takutnya merepotkanmu. Aku pergi dulu." Jeslyn melambaikan tangan dan pergi kearah Reynard.
"Rey?" Jeslyn menepuk bahu Reynard membuat pria itu menoleh kearah Jeslyn dengan tatapan sayu.
"Gabby?" amun, detik kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat dia melihat wajah Jeslyn samar-samar.
"Jeslyn?"
Jeslyn menganggukkan kepalanya, "biar aku antar kau pulang."
Reynard hanya patuh saja. Jeslyn memapah Reynard.
****
Jeslyn menaruh atau lebih tepatnya membuang tubuh Reynard di ranjang. Tadinya Jeslyn ingin membawa Reynard ke apartemennya, namun pria itu menolak dan memilih hotel terdekat.
Jeslyn mengangkat kedua kaki Reynard yang tadinya berada di lantai keranjang. Tak lupa dia juga membuka sepatu pria itu.
Jeslyn menghela nafasnya, "kau istirahatlah disini. Aku akan pulang!"
Baru saja beberapa langkah tangan Jeslyn ditahan oleh Reynard.
"Kenapa harus pulang? Disini saja. Lagipula ini masih luas." Reynard menepuk sebelah ranjangnya yang masih kosong.
Jeslyn melepaskan tangan Reynard,"tidak bisa."
Jeslyn berbalik dan beranjak dari sana, namun kali ini Reynard menariknya hingga dia terjatuh tepat di atas tubuh Reynard
"Tidak bisakah kau tidur disini saja? Apakah aku harus memaksamu?"
Jeslyn berusaha bangun dari sana, namun sia-sia. Reynard menahan tubuhnya agar dia tidak bisa bergerak.
"Rey, lepaskan aku!"ucap Jeslyn memberontak, perasaanya tidak enak dengan sikap Reynard yang seperti ini.
"Reynard, lepaskan aku!"pekik Jeslyn.
Reynard terkekeh kecil,"tidak, kau tidak bisa pergi, Gabby!"
Jelsyn membulatkan matanya, saat dirinya dicegat oleh Reynard.
Reynard membalikkan tubuhnya Jeslyn hingga kini Reynard menindih tubuhnya. Jeslyn masih tetap memberontak, namun Reynard lebih sigap menahan tangan Jeslyn .
"Gabby, kali ini saja. Berikan aku kesempatan, ya?" Jeslyn enggan menjawab pertanyaan yang benar-benar menusuk di relung hatinya.
Gabby? Jadi, saat ini Reynard melihat dirinya sebagai Gabby. Gadis yang meninggalkan Reynard. Jeslyn berusaha melepaskan dirinya.
"ReEYNARD, SADARLAH!"berontak Jeslyn, namun sia-sia karena tenaga Reynard yang lebih kuat dibandingkan dirinya.
Reynard mendekat wajahnya dengan Jeslyn, namun Jeslyn berusaha menghindar. Melihat hal itu Reynard bukannya marah malah terkekeh.
"Kau memang menarik, Teddy bear!"
Cup!
"Reymhhhhh---Akuumbb bukanmmmh---"
Reynard tidak memperdulikan ucapan Jeslyn dengan berengseknya dia memperk**a Jeslyn tanpa sadar.
Menyadari situasinya yang sudah tak bisa dicegah Jeslyn hanya menangis dan berusaha mendorong Reynard. Jeslyn memang menyukai Reynard, bukan berarti dia rela melakukan hubungan intim dan mengatasnamakan cewek lain.
"Ssttt, tenanglah. Kau hanya harus diam!"
...****************...
Jeslyn menatap lurus kedepan. Air matanya tak berhenti mengalir. Saat ini keadaanya benar-benar kacau. Kehidupannya kacau, ditambah Reynard yang dengan teganya Reynard menganggapnya dengan sebagai gadis lain, memang Jeslyn tidak bisa menyalakan Reynard yang sedang dalam kondisi mabuk.
Jeslyn mengusap air matanya lagi, namun air mata itu terus mengalir begitu deras.
"Seharusnya aku tidak menolak batuan Sam, seharunya aku menerima bantuannya kalau begini bagaimana Aku harus menghadapi Caroline, dan kakaknya, Alex,"lirih Jeslyn masih dengan posisi yang sama. Dia enggan bergerak karena tubuhnya terasa sakit seluruhnya, bahkan hatinya pun sakit
Jeslyn melirik Reynard yang terlelap setelah hal bejat yang dia lakukan pada Jeslyn. Jeslyn berusaha mengenyahkan kejadian semalam dari pikirannya.
"Lebih baik aku pergi saja, seolah tidak terjadi apapun,"ucap Jeslyn yang berusaha bangun dari ranjang itu, dan memungut kembali pakaiannya yang berserakan.
Walupun dia merasakan nyeri di bagian selangkangannya, perlahan Jeslyn berjalan keluar dari kamar hotel itu. Dia meringis saat merasakan perih di bagian selangkangannya.
Jeslyn menatap sekali lagi Reynard yang terlelap seperti seorang bayi yang sangat polos, dengan tangan gemetar dia membuka pintu hotel itu. Tidak. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan dan akan melupakan hal ini dengan cepat.
Jeslyn berjalan menelusuri koridor hotel sambil memeluk tubuhnya dengan air mata yang mengalir deras. Dia berusaha menutup mulutnya sendiri dengan tangannya sendiri. Walaupun hal itu tidak meredam isak tangisnya.
Tak lama setelah kepergian Jeslyn Reynard bangun sembari meregangkan tubuhnya. Tiba-tiba dia bangkit dari tempat tidurnya terkejut dengan kamar yang asing baginya.
Tak lama kemudian dia kembali tersadar bahwa dia berada di hotel. Dia menatap dirinya yang tak berbusana sehelai pun lalu dia menoleh kesampingnya dan tak mendapati seorang hanya ada bercak darah seseorang.
"Sialan, apa yang terjadi semalam?!"maki Reynard sembari memijat kepalanya yang terasa sakit akibat alkohol.
Reynard memejamkan matanya berusaha mengingat kejadian semalam, namun dia benar-benar tidak mengingat wajah gadis itu. Walaupun dia terus menggumamkan nama Gabby, namun dia yakin gadis itu bukan Gabby.
Tapi siapa?
Semakin Reynard memikirkannya membuat dia semakin pusing.
"Siapa gadis itu?"pikir Reynard jika sesuatu terjadi dengan perempuan itu, bukankah Reynard harus bertanggungjawab, ditambah ini pertama kalinya bagi gadis itu.
"Reynard brengsek,"maki Reynard pada dirinya yang melakukan hal tidak senonoh pada seorang gadis yang tidak tau apa-apa.
***
Caroline melambaikan tangannya pada Jeslyn yang baru memasuki kantin. Jeslyn yang menyadari hal itu hanya tersenyum seadanya dan menghampiri Caroline.
"Bagaimana pekerjaanmu?"tanya Caroline setibanya Jeslyn. Jeslyn mengambil tempat duduk dihadapan Caroline.
"Seperti biasanya. Tak ada yang spesial."
Caroline menghedikkan bahunya, "kau benar. Aku ras sebentar lagi kedua tanganku akan copot karena pekerjaanku sendiri,"gumam Caroline sembari mengurut tangannya secara bergantian.
"beberapa hari yang lalu aku dan sean pergi, dan sean bilang Keanu memata-matai kami, tapi tidak untuk apa,"tutur Caroline menceritakan kejadian saat sean dan Caroline makan siang.
"Aneh sih jika apa Sean bilang benar, tapi apa tujuannya coba menurutmu kenapa dia mengikuti Klin berdua?tanya Jeslyn yang dibalas gelengan oleh Caroline.
"aku tidak tau."
"jangan-jangan dia cemburu?" Caroline membulatkan matanya mendengar ucapan Jeslyn.
"nggak mungkinlah. Kelihatan keanu membenciku tidak mungkin dia cemburu,"elak Caroline dengan alasan yang cukup masuk akal.
"hmm..atau dia takut kamu membocorkan rahasia perusahan, kamukan sekretarisnya." Caroline menganggukkan kepalanya setuju dengan pemikiran Jeslyn yang satu itu.
"benar juga. Oh ya, Tadi pagi aku berpapasan dengan Reynard di depan gedung apartemen, dia pagi ini terlihat aneh sekali. Dia pulang dengan tatapan kosong dan linglung. Aku pikir, dia masih mabuk..." Caroline menggelengkan kepalanya, memikirkan kelakuan kakaknya itu.
"...entah kemana dia semalaman, Bagaimana jika di saat dia mabuk dia melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis lain?! Aku benar-benar akan membunuh pria itu!" imbuh Caroline dengan menggebu-gebu. Jeslyn hanya membalas dengan senyum sekadarnya, bahkan tidak bisa dibilang senyum hanya ujung bibir yang terangkat.
Ucapan Caroline membuat Jeslyn kembali mengingat kejadian semalam. Tanpa sadar dia menggenggam sendoknya dengan kuat. Ada rasa takut yang menguat dibalik matanya dan Caroline menyadari hal itu. Dia menatap Jeslyn yang kini matanya berkaca-kaca.
"Jeslyn?" Caroline memegang bahu Jeslyn membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Ada apa? Sejak tadi kau terlihat tidak seperti biasanya?" tanya Caroline yang dibalas dengan senyum lebar sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat oleh Jeslyn..
"Tidak. Aku hanya sedang merindukan kakakku, Alex,"dusta Jeslyn, namun Caroline tampak meragukan alasan yang dibuat Jeslyn. Terlihat jelas bahwa Jeslyn tengah menyembunyikan sesuatu, tapi Caroline tidak ingin memaksakan. Bagaimanapun Caroline menghargai privasi sahabatnya itu.
"aku ingin ketoilet dulu." Jeslyn berjalan dengan cepat menuju toilet. Dia memasuki salah satu bilik. Dia meringkuk dengan tubuh yang bergetar.
Ingatannya melayang disaat Sam menawarkan untuk membantu Jeslyn mengantar Reynard dan Jeslyn menolaknya.
Seandainya Jelsyn tidak menolak tawaran Sam. Andai Jeslyn berpura-pura tidak mengenal Reynard. Apakah kejadian ini akan menimpah dirinya?
Andai saja. Andai semua ini tidak terjadi mungkin dia akan tertawa bahagia bersama Caroline, namun kali ini berbeda. Setiap dia melihat Caroline, itu mengingatkannya pada kejadian perih yang menimpahnya. Andai...andai semua ini tidak terjadi. Semuanya hanya andai. Waktu tidak bisa diputar lagi.
"Akhhhhh...."pekik Jelsyn frustasi.
****
Reynard berjalan menelurkan koridor saat ini jam pulang. Dia menuju basemant teman-teman di parkiran mobilnya. Baru saja dia memasuki mobilnya dia terdiam sejenak. Biasannya dia akan menjemput Gabby, namun kali ini dia tidak bisa menjemputnya.
Di tambah pikirannya selalu di selimuti perasaan penasaran dengan gadis yang tidur bersamanya semalam. Mungkinkah itu kejadian yang nyata? Atau hanya khayalannya dikala saat mabuk.
Reynard mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Rasa-rasanya dia ingin mencabut rambutnya yang terasa menganggu di kepalanya.
Dia menyalakannya mesin mobilnya dan melakukannya menuju KMA Company untuk menjemput adiknya, Caroline.
Caroline berjalan beriringan dengan Keanu. Di lobby Reynard sudah menunggu Caroline untuk pulang bersama. Melihat Reynard membuat Caroline menghela nafas lega.
Dia tidak bisa berdekatan dengan Keanu lagi. Ada tekanan yang dia rasakan dengan pria itu.
"Itu Reynard. Maaf pak sepertinya saya harus pulang bersama Kakak saya." Caroline berjalan dengan cepat menghampiri Reynard.
Tak lama Jeslyn juga datang dengan Hanna. Hanna yang banyak berbicara benar-benar mengeluhkan sikap atasannya yang semena-mena pada bawahannya. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Keanu.
Jeslyn terdiam saat melihat Reynard yang tak sengaja bertatapan Jeslyn, namun Jeslyn lebih dulu memutuskan aksi pandang-pandangan mereka.
"Jeslyn!" Caroline melambaikan tangan pada Jeslyn.
Jeslyn yang melihat itu berusaha bersikap biasa. Dia menekan semua rasa yang saat ini sedang datang menghampirinya. Rasa gugup, sakit hati, sedih. Jeslyn tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Kau mau pulang bersama?"tanya Caroline menawarkan tumpangan kepada Jeslyn. Jeslyn yang sedang ingin menghindari Reynard, melirik Hanna lalu berganti Reynard yang juga menunggu.
"Engghh...hari ini aku akan pergi bersama Hanna untuk menyelesaikan pekerjaan kita, benarkan Anna?" Hanna yang tidak tau apa-apa hanya menganggukkan kepalanya. Caroline melempar senyumnya sembari menganggukkan kepalanya, memaklumi.
Jeslyn yang tengah di landa gugup, "kalau begitu kami pulang dulu Carol, pak!" Jeslyn menundukkan kepalanya kepada Keanu lalu menarik Hanna dan berjalan dengan cepat.
Caroline menatap punggung Jeslyn dengan tatapan tak bisa diartikan, namun suara Reynard menyadarkan dia.
...****************...
...Bersambung......
hahaha...
sambil menunggu kelanjutan cerita ini...
ayok..
mampir dulu di cerita moonstars...
disana ngga kalah seru loh...
salam dari "SANG PENGACARA"